NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Suasana ruang makan keluarga Widjaja malam itu terasa begitu formal. Gemerincing sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal menjadi satu-satunya melodi di ruangan berplafon tinggi tersebut. Anggara Widjaja duduk di kepala meja dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara Melati—sang istri—duduk di sisi kanan dengan senyum anggun yang selalu terjaga. Elang dan Haura makan dengan tenang, tipikal anak-anak Widjaja yang tahu persis bagaimana cara bersikap di depan sang kepala keluarga.

Kecuali satu orang.

Aurora duduk dengan gelisah. Nasi di piringnya hanya diaduk-aduk tak tentu arah. Pikirannya masih tertinggal di teras samping, pada sentuhan singkat Langit di telinganya dan kotak susu cokelat yang kini sudah kosong.

"Pa," panggil Aurora tiba-tiba, memecah kesunyian.

Anggara meletakkan garpunya, mengusap sudut bibirnya dengan serbet kain. "Ya, Ra? Ada apa? Tadi Papa dengar kamu sempat agak rewel pas pulang?"

Aurora mengabaikan sindiran halus ayahnya. "Besok Mas Langit boleh anterin aku lagi kan, Pa? Aku ada pemotretan di Bogor, lokasinya agak jauh. Aku ngerasa lebih aman kalau dia yang pegang kemudi."

Anggara menggeleng pelan, ekspresinya tidak berubah. "Dia ada tugas, Aurora. Besok Papa mau ada kunjungan ke istana untuk rapat terbatas. Langit itu ajudan utama, dia harus melekat dengan Papa."

"Yah..." Aurora mendesah kecewa, bahunya merosot. "Nggak bisa diganti siapa gitu? Pak Bambang kek, atau Bintang? Kan mereka juga jago nyetir."

"Aurora," suara Elang terdengar berat dan memperingatkan. "Masalah pengamanan Papa itu bukan soal siapa yang jago nyetir, tapi soal protokol. Langit itu personil paling kompeten untuk mendampingi Papa di acara kenegaraan. Kamu jangan egois."

"Bukannya egois, Kak. Aku cuma nanya," bela Aurora ketus.

Melati, sang Mama, mengelus lembut tangan Aurora. "Ra, Mama perhatikan belakangan ini kamu terlalu sering bergantung pada Langit. Kamu harus ingat posisi kamu, Nak. Kamu itu publik figur, putri seorang pejabat. Kedekatan yang terlalu intens dengan staf bisa memancing spekulasi yang tidak perlu."

"Spekulasi apa sih, Ma? Orang cuma minta anter kerja," Aurora mulai merasa terpojok.

"Spekulasi kalau kamu punya 'hubungan' khusus," sambung Elang tanpa basa-basi. "Ingat kasta, Ra. Kita ini keluarga Widjaja. Langit itu orang baik, dia prajurit yang disiplin, tapi dia tetap saja... bawahan Papa. Jangan buat dia dalam posisi sulit karena tingkah petakilan kamu."

Haura ikut menyahut sambil mengunyah saladnya. "Iya Kak, tadi aja Kakak udah bikin dia keki di depan pintu mobil kan? Aku denger dari Bi Ijah, Kakak marah-marah sampai banting pintu."

"Diem ya, Cil!" Aurora melotot ke arah adiknya. Ia kemudian menatap ayahnya kembali. "Pa, emangnya kenapa kalau aku deket sama dia? Dia hebat, dia sopan, dia jagain aku dengan bener. Apa yang salah?"

Anggara menghela napas panjang, menatap putri tengahnya itu dengan tatapan dalam. "Tidak ada yang salah dengan kepribadian Langit, Ra. Tapi dunia tidak sesederhana perasaanmu. Ada martabat yang harus dijaga, ada pandangan mata publik yang harus kita pertimbangkan. Papa tidak mau karir Langit rusak hanya karena kamu menggodanya, dan Papa tidak mau nama kamu tercemar karena dianggap tidak punya kelas."

Aurora meletakkan sendoknya dengan dentingan keras. "Bodo amat sama status itu! Bodo amat sama kelas atau kasta! Aku nggak peduli dunia mau bilang apa."

"Aurora, jaga bicaramu!" tegur Elang keras.

"Enggak! Aku capek dengerin soal martabat terus!" Aurora berdiri dari kursinya, matanya berkaca-kaca karena amarah yang campur aduk. "Liat aja nanti. Aku bakal jadiin Mas Langit suami aku. Mau Papa larang, mau Kak Elang ceramah sampai mulut berbusa, aku bakal dapetin dia. Liat aja nanti!"

Tanpa menunggu balasan dari keluarganya, Aurora berbalik dan berlari menuju kamarnya di lantai atas, meninggalkan suasana meja makan yang mendadak beku seperti es.

Di dalam kamar, Aurora mengunci pintu dengan kasar. Ia melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, menyambar ponselnya dengan gerakan cepat. Emosinya masih meluap-luap.

"Oke, kalau besok nggak bisa ketemu di mobil, kita lewat jalur udara," gumamnya dengan senyum miring yang menantang.

Ia membuka aplikasi WhatsApp dan mencari kontak Pak Bambang.

Aurora: Pak Bambang!!!

Aurora: P

Aurora: P

Aurora: P

Aurora: Pagi, siang, sore, malem!

Aurora: Pak, bagi nomernya Mas Langit dong 💃

Di tempat lain, Pak Bambang yang sedang duduk santai di pos penjagaan hampir menjatuhkan ponselnya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tahu ini adalah perintah berbahaya, tapi ia juga tahu Aurora tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang ia mau.

Beberapa saat kemudian, sebuah kartu kontak dikirim oleh Pak Bambang.

Pak Bambang: Ini Non. Tapi tolong ya Non, jangan bilang saya yang kasih kalau Mas Langit nanya. Saya masih mau kerja di sini sampai pensiun.

Aurora tertawa kecil. "Aman, Pak Bam. Bapak emang pengawal terbaik sedunia."

Aurora segera menyimpan nomor itu dengan nama: "Mas Masa Depan 🔒❤️". Tanpa membuang waktu, ia langsung mengirimkan pesan pertama.

Mas Masa Depan 🔒❤️

Aurora: Halo Mas Langit!

Aurora: Lagi apa? Sudah tidur?

Aurora: [Stiker Beruang Joget-Joget]

Aurora: [Stiker Kucing Kedip-Kedip]

Aurora: [Stiker Tulisan 'I LOVE YOU' Warna-Warni]

Sepuluh menit berlalu. Tidak ada balasan. Status Langit menunjukkan 'Online', tapi centangnya tetap dua abu-abu. Aurora tidak menyerah.

Aurora: Mas, kok dibaca doang? Sombong banget sih.

Aurora: Tadi sore kan udah janji mau longgarin protokol.

Aurora: Ini protokol chat juga harus kaku ya?

Aurora: [Stiker Kelinci Nangis Bombay]

Aurora: [Stiker Gambar Orang Marah Sampai Keluar Asep]

Aurora: [Stiker Tulisan 'BALES ATAU AKU TERIAK']

Di paviliun, Langit Ardiansyah duduk di pinggir tempat tidurnya sambil menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan. Ia belum pernah melihat rentetan stiker sebanyak itu seumur hidupnya. Layar ponselnya terus bergetar tanpa henti karena ulah Aurora.

Ia menghela napas, jemarinya yang terbiasa memegang senjata kini gemetar kecil saat hendak mengetik balasan.

Langit: Selamat malam, Non Aurora. Dari mana Anda mendapatkan nomor saya?

Aurora langsung membalas dalam hitungan detik.

Aurora: Dapet dari jin penunggu taman!

Aurora: Nggak penting dari mana. Yang penting sekarang aku punya nomor Mas.

Aurora: Mas, tadi di meja makan aku didebat satu keluarga gara-gara Mas.

Aurora: Mereka bilang aku nggak boleh deket sama Mas karena kasta.

Aurora: Tapi aku bilang ke mereka: 'Aku bakal jadiin Mas Langit suamiku!'

Langit yang sedang minum air mineral langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk kecil, matanya melotot membaca pesan nekat itu.

Langit: Non, tolong jangan bicara sembarangan. Itu bisa membahayakan posisi saya dan reputasi Non sendiri. Mohon beristirahat, ini sudah larut.

Aurora: Tuh kan, bahas posisi lagi! Bahas reputasi lagi!

Aurora: Mas, aku nggak butuh ajudan di chat. Aku butuh temen ngobrol.

Aurora: Besok Mas mau ke istana ya sama Papa?

Aurora: Hati-hati ya. Jangan liatin staf cewek di sana. Awas aja kalau aku dapet laporan Mas lirik-lirik.

Aurora: [Stiker Cewek Pake Kaca Pembesar]

Aurora: [Stiker Tulisan 'MONITORED BY AURORA']

Langit menggelengkan kepala. Ia meletakkan ponselnya di nakas, mencoba mengabaikan getaran yang masih terus berlanjut. Namun, setiap kali layar itu menyala dan menampilkan stiker konyol dari Aurora, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.

Aurora: Mas, tidurnya yang nyenyak ya.

Aurora: Mimpiin aku, jangan mimpiin protokol.

Aurora: Good night, calon suamiku yang paling kaku sedunia! 💋

Aurora: [Stiker Cium Jauh]

Langit tidak membalas lagi, tapi ia tidak mematikan ponselnya. Ia membiarkan ponsel itu berada di dekat bantalnya. Sebelum memejamkan mata, ia sempat bergumam pelan.

"Benar-benar cegil..."

Sementara di kamarnya, Aurora memeluk ponselnya ke dada sambil berguling-guling di tempat tidur. Amarahnya di meja makan tadi sudah menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa kemenangan yang manis. Bagi Aurora, mendapatkan nomor telepon Langit adalah langkah awal untuk meruntuhkan tembok kasta yang dibangga-banggakan keluarganya.

Ia akan membuktikan bahwa di hadapan cinta, kasta hanyalah susunan kata yang tak punya daya. Dan Langit Ardiansyah, suka atau tidak, sudah masuk ke dalam radar sang badai Aurora yang tak mungkin bisa dihindari.

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!