Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayam Pelangi yang Kelebihan Berat Badan
Hamparan Kebun Sayur Spiritual itu membentang seluas lautan bercahaya yang memancarkan pendaran warna-warni neon di bawah langit malam. Udara di dalam lembah tersembunyi ini dipenuhi oleh aroma manis nektar yang berpadu dengan bau tanah basah yang sangat pekat.
Angin malam yang dingin berhembus pelan, menyapu daun-daun kristal hingga menghasilkan suara gemerincing layaknya ribuan lonceng angin. Kabut tipis berwarna keemasan melayang-layang di atas permukaan tanah, memberikan kesan magis yang bisa membuat kultivator manapun berlutut kagum.
Namun, keindahan alam yang luar biasa magis itu sama sekali tidak memberikan kesan apa pun bagi Li Zhen. Pemuda berwajah tirus itu hanya mengusap perutnya dengan kasar, wajahnya meringis menahan rasa perih yang melilit ususnya tanpa henti.
Langkah kakinya yang beralaskan sepatu bolong menembus tanah gembur yang terasa sangat hangat dan dipenuhi energi kehidupan. Setiap langkahnya meninggalkan jejak di atas lumpur beraroma ginseng yang nilainya setara dengan ratusan keping emas murni di dunia luar.
"Tempat ini memiliki sistem pencahayaan yang lebih menyilaukan daripada taman hiburan murahan di pusat kota," gumam Li Zhen dengan nada sangat kesal. Dia menyipitkan matanya, mengibaskan tangan di depan wajah untuk mengusir kabut emas yang terus menempel di kulitnya yang pucat.
Perutnya kembali berbunyi dengan nada yang sangat menyedihkan, menuntut asupan kalori yang nyata dan bukan sekadar energi spiritual abstrak. Dia melangkah gontai menyusuri petak-petak tanah yang tersusun rapi, matanya menyapu sekeliling layaknya seekor burung pemangsa yang kelaparan.
Fokus utamanya saat ini bukanlah mencari pencerahan Dao atau menyerap energi alam untuk memperkuat meridiannya yang baru saja sembuh. Dia hanya ingin mencari sesuatu yang teksturnya empuk, rasanya gurih, dan bisa dimasak di atas perapian sederhana malam ini.
Langkahnya terhenti di depan sebuah petak tanah yang ditumbuhi oleh puluhan bonggol kubis berukuran sebesar kepala manusia dewasa. Kubis-kubis itu memiliki daun berwarna merah darah yang terbuat dari kristal berdenyut, memancarkan suara detakan pelan yang seirama dengan detak jantung.
Sayuran ajaib itu dikenal sebagai Kubis Jantung Darah, bahan utama pembuat pil penyembuh luka dalam yang sangat langka dan mahal harganya. Namun di mata Li Zhen, sayuran itu hanyalah sebuah tanaman aneh yang terlihat sangat menjijikkan untuk dimasukkan ke dalam panci sup.
Dia melipat kedua tangannya di dada, menatap kubis terbesar di petak itu dengan raut wajah yang menunjukkan rasa muak tingkat tinggi. Tepat pada saat itu, layar biru neon dari Sistem Pembicara Sampah Surgawi muncul secara otomatis di depan wajahnya.
[Ting! Target: Kubis Jantung Darah (Tanaman Spiritual Tingkat 3). Kelemahan Mental: Sangat merasa tidak aman dengan suara detakannya sendiri yang berisik, diam-diam ia ingin menjadi sayuran normal yang tenang dan tidak mencolok.]
Membaca informasi rahasia yang tertera di layar transparan itu, sebuah senyuman iblis langsung mengembang di wajah Li Zhen. Matanya berkilat dengan niat jahat yang kental, bersiap untuk menghancurkan harga diri sebuah sayuran elit yang tidak berdosa.
"Hei, kau, sayuran jelek yang berwarna seperti gumpalan daging mentah berpenyakit," tegur Li Zhen dengan suara lantang yang memecah kesunyian kebun. Dia menunjuk tepat ke arah tengah bonggol kubis merah kristal itu dengan jari telunjuknya yang dipenuhi noda tanah.
Kubis Jantung Darah itu seketika bergetar pelan, suara detakannya tiba-tiba meningkat menjadi lebih cepat seolah-olah ia sedang merasa gugup. Daun-daun kristalnya sedikit merunduk, mencoba menyembunyikan diri dari tatapan menghakimi pemuda berbaju compang-camping tersebut.
"Apakah kau tidak punya etika ketenangan sama sekali? Suara detakanmu itu lebih berisik daripada jam weker rusak di telinga orang yang sedang tidur," omel Li Zhen tanpa ampun. "Tidak ada koki waras yang mau memasak sayuran yang terus berdetak di dalam panci seolah-olah ia siap meledak kapan saja."
Suara detakan kubis merah itu mendadak berhenti total, seakan-akan jantung di dalam tanaman itu baru saja mengalami serangan kardiak parah. Warna merah darah pada daun kristalnya perlahan memudar menjadi merah muda pucat yang terlihat sangat tidak sehat dan layu.
"Kau hanyalah sebuah kubis, jadi berhentilah berpura-pura menjadi organ vital monster dan belajarlah diam seperti sayuran pada umumnya," tambah Li Zhen dengan nada merendahkan.
Seluruh daun kristal pada bonggol kubis raksasa itu langsung rontok satu per satu, jatuh berserakan menutupi tanah gembur di bawahnya. Tanaman spiritual yang berharga ribuan batu roh itu hancur lebur secara mental, kehilangan seluruh energi kehidupannya hanya karena tidak tahan dikritik.
[Ding! Target Kubis Jantung Darah mengalami depresi vegetatif. Mendapatkan +300 Poin Sampah.]
Li Zhen mendengus meremehkan, mengusap dagunya saat melihat notifikasi poin yang masuk ke dalam sistemnya dengan sangat mudah. Dia menendang sisa bonggol kubis yang sudah layu itu keluar dari jalan setapak, lalu melanjutkan perjalanannya mencari bahan makanan lain.
Udara di dalam lembah itu terasa semakin dingin, namun panas dari pil esensi darah yang dia minum sebelumnya masih menjaga suhu tubuhnya. Dia terus berjalan menyusuri petak demi petak, menolak mencabut wortel emas atau tomat giok karena bentuknya dianggap tidak simetris.
Pandangannya kemudian tertuju pada sekumpulan lobak putih berkilau yang melayang sekitar setengah meter di atas permukaan tanah. Lobak-lobak itu memancarkan aura angin yang sangat murni, berputar perlahan di udara layaknya gasing kecil yang sedang menari.
Layar biru sistem kembali muncul seketika, memindai sayuran terbang tersebut dan menampilkan kelemahan psikologisnya dalam bentuk teks bercahaya merah.
[Target: Lobak Giok Melayang (Tanaman Spiritual Tingkat 4). Kelemahan Mental: Memiliki phobia ketinggian yang sangat parah (Acrophobia), ia melayang hanya karena paksaan jalur meridian di akarnya dan selalu merasa mual setiap kali angin bertiup.]
Li Zhen tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang keras, memegangi perutnya yang sakit karena kelucuan yang sangat absurd ini. Dia melangkah mendekati salah satu lobak yang berputar paling tinggi, menatap sayuran itu dengan tatapan penuh ejekan yang sangat menyebalkan.
"Jadi kau suka berpura-pura menjadi burung dengan melayang-layang di udara, ya?" ejek Li Zhen sambil menyentil permukaan licin lobak tersebut. Lobak giok itu bergoyang tidak stabil di udara, putarannya menjadi goyah seolah-olah sedang merasa sangat pusing.
"Padahal aku tahu persis, setiap kali kau melihat ke bawah, akar kecilmu itu gemetar ketakutan karena kau takut jatuh dan pecah berkeping-keping," bisik Li Zhen dengan nada yang sangat sinis.
Lobak ajaib itu seketika berhenti berputar di udara, aura angin yang menyelimutinya langsung lenyap tanpa sisa dalam sekejap mata. Sayuran terbang itu jatuh terhempas ke tanah dengan suara debuk yang keras, membenamkan separuh tubuh putihnya ke dalam lumpur.
[Ding! Target Lobak Giok Melayang mengalami syok mental parah. Mendapatkan +400 Poin Sampah.]
Li Zhen memungut lobak yang sudah tidak berdaya itu dari tanah, mengusap kotoran di permukaannya menggunakan lengan jubahnya yang kotor. Dia menggigit ujung lobak itu, mengunyahnya dengan cepat untuk merasakan apakah sayuran ini layak menjadi pengganjal perutnya malam ini.
Rasa pahit yang bercampur dengan sensasi dingin langsung menyebar di dalam mulutnya, membuat alisnya berkerut tajam seketika. Dia meludahkan gigitan pertama itu ke tanah, lalu membuang sisa lobak malang tersebut ke sembarang arah dengan ekspresi sangat jijik.
"Sayuran di dunia ini benar-benar tidak bisa diandalkan, aku butuh daging segar yang nyata sebelum aku mati kelaparan," keluhnya sambil menghentakkan kaki.
Dia kembali berjalan berputar-putar tanpa arah, tersesat di dalam labirin perkebunan raksasa yang seolah tidak memiliki ujung perbatasan ini. Suara serangga malam berderik bersahutan, menambah kesan mistis pada tempat yang seharusnya sangat dijaga ketat tersebut.