(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Awan Emas
Matahari Benua Pusat bersinar dengan angkuh, menyiramkan cahaya keemasannya ke atas sebuah kota raksasa yang seolah mengambang di lautan awan.
Kota Awan Emas. Ini bukanlah sekadar kota perbatasan seperti Gerbang Langit. Ini adalah jantung perniagaan terbesar di belahan barat Benua Pusat. Tembok kotanya terbuat dari batu pualam kuning yang memancarkan pendaran cahaya abadi. Di atas kota, tidak hanya kapal kayu terbang yang berlalu-lalang, tetapi juga kereta-kereta kencana yang ditarik oleh Naga Bertanduk Emas dan Burung Luan Api.
Hawa murni di kota ini begitu padat hingga membentuk kabut tipis yang menyelimuti jalanan, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menenggak ramuan roh.
Di tengah hiruk-pikuk gerbang utama kota yang dijaga oleh para prajurit di Puncak Penempaan Raga, sesosok pemuda berjubah hitam melangkah masuk dengan tenang. Caping bambunya ditarik rendah, menyembunyikan wajahnya. Ia menggunakan Plakat Pengelana Sementara yang ia dapatkan saat pertama kali menginjakkan kaki di Benua Pusat, lolos dari pemeriksaan tanpa memancing sedikit pun kecurigaan.
"Kepadatan hawa murni di sini bahkan lebih tinggi daripada di lereng Gunung Pilar Langit," batin Shen Yuan, matanya menyapu bangunan-bangunan megah yang menyentuh awan dan memancarkan berbagai macam susunan aksara pertahanan.
"Tentu saja. Kota ini dibangun tepat di atas salah satu dari tiga Urat Nadi Bumi Utama di benua ini," sahut Leluhur Darah dari dalam lautan kesadarannya. "Tapi ingat, Bocah. Di tempat dengan kekayaan sebesar ini, bahaya yang mengintai juga jauh lebih mematikan. Fosil-fosil tua di Ranah Peleburan Jiwa mungkin saja menyamar sebagai pengemis di pinggir jalan."
"Aku tidak datang untuk mencari masalah dengan pengemis," jawab Shen Yuan. Tangannya menyentuh Cincin Giok Pusaka di balik jubahnya. "Aku datang untuk membuang sampah, dan membeli petunjuk."
Shen Yuan tidak membuang waktu menyusuri pasar terbuka. Ia bertanya kepada seorang pelayan kedai arak dengan melempar sekeping emas, dan segera mengarahkan langkahnya menuju pusat kawasan perniagaan tingkat tinggi.
Tujuannya adalah sebuah bangunan berbentuk segi delapan yang menjulang setinggi sepuluh lantai, dibangun seluruhnya dari Kayu Hitam Penangkal Jiwa. Di atas pintu utamanya yang terbuka lebar, terpampang sebuah lambang sembilan buah kuali perunggu.
Kamar Dagang Sembilan Kuali.
Ini adalah kekuatan perniagaan netral yang kekuasaannya setara, bahkan mungkin melampaui, Kuil Dewa Perak. Mereka beroperasi di seluruh Benua Pusat dan menolak tunduk pada Tiga Sekte Penguasa Tertinggi. Semboyan mereka sederhana: Selama kau memiliki Batu Roh, mereka akan membeli dan menjual apa saja—bahkan rahasia para dewa.
Shen Yuan melangkah masuk. Suasana di dalam ruangan sangat sunyi dan anggun. Aroma dupa penenang jiwa langsung meresap ke dalam pori-porinya.
Seorang wanita cantik berpakaian sutra ungu menghampirinya. Meskipun wanita ini hanya seorang penyambut tamu, hawa murni yang memancar darinya berada di Ranah Pembukaan Nadi Tahap Awal!
"Selamat datang di Kamar Dagang Sembilan Kuali. Apa yang bisa kami bantu, Tuan Pengelana?" sapanya dengan senyum terlatih, meski matanya dengan cepat memindai jubah kusam Shen Yuan.
"Aku memiliki barang untuk dilebur. Barang dengan kualitas... yang mungkin tidak ingin dilihat oleh sembarang orang," suara Shen Yuan direndahkan, memancarkan sedikit tekanan dari Inti Emas Iblisnya.
Merasakan tekanan mutlak yang membuat darahnya serasa membeku sesaat, senyum wanita itu sedikit kaku. Ia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam. "S-Saya mengerti, Tuan Senior. Silakan ikuti saya ke Ruangan Penilaian Tingkat Surga."
Shen Yuan diarahkan menuju lantai tiga, masuk ke dalam sebuah ruangan yang dindingnya dilapisi oleh cermin-cermin perak untuk menangkal segala bentuk pengintaian spiritual.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua buta yang mengenakan jubah abu-abu polos. Sepasang matanya hanya berupa selaput putih, namun begitu Shen Yuan melangkah masuk, pria tua itu tersenyum tipis.
"Silakan duduk, Tuan. Saya adalah Master Mu. Mata fana saya memang telah buta, namun mata batin saya tidak pernah gagal menilai harga sebuah benda," ucap Master Mu dengan suara yang sangat lembut.
Shen Yuan duduk di seberang meja kayu cendana. Tanpa basa-basi, ia mengibaskan tangannya ke atas meja.
Klang! Trang!
Tiga buah pedang perak yang patah, beberapa potong zirah dengan lambang matahari perak yang telah dicongkel paksa, dan belasan botol giok berisi pil tingkat tinggi berhamburan di atas meja.
Seketika itu juga, senyum lembut di wajah Master Mu membeku.
Meskipun buta, kesadaran spiritual Master Mu menangkap riak hawa murni dari benda-benda tersebut dengan sangat jelas. Hawa murni keperakan yang tajam dan suci... ini adalah barang-barang pusaka khusus yang hanya dimiliki oleh para Penatua tingkat tinggi dari Kuil Dewa Perak!
"Ini..." Tangan keriput Master Mu meraba salah satu pedang perak yang patah. Ia bisa merasakan sisa-sisa niat membunuh dan keputusasaan dari pemilik aslinya. "Senjata dan pelindung milik Penatua Lautan Qi dari Kuil Dewa Perak. Dan melihat dari potongan rapinya... ini bukan barang curian dari gudang. Ini adalah barang rampasan dari mayat."
Master Mu terdiam sejenak, lalu "menatap" ke arah Shen Yuan dengan mata butanya. Sebuah tawa tertahan perlahan keluar dari mulut pria tua itu.
"Hahaha... Luar biasa. Seluruh penjuru Benua Pusat saat ini sedang diguncang oleh kabar bahwa Puncak Neraka Es milik Pelindung Bai Luo telah diledakkan, dan sang Pelindung tewas terbunuh. Kuil Dewa Perak sedang membalikkan bumi untuk mencari pelakunya. Dan kau... kau justru membawa barang-barang rampasan itu langsung ke jantung kota ini?"
"Apakah Kamar Dagang Sembilan Kuali takut untuk membelinya?" tantang Shen Yuan dengan nada dingin.
"Takut?" Master Mu menggeleng pelan. "Kamar Dagang kami bahkan pernah membeli kepala seorang kaisar fana. Kami tidak mengenal rasa takut, hanya keuntungan. Namun, menukarkan barang-barang panas dari sekte raksasa memiliki risiko. Kami harus meleburnya kembali untuk menghilangkan jejak susunan aksaranya. Harga yang kuberikan tidak akan setinggi harga pasar."
"Berapa?"
"Untuk seluruh senjata, zirah, dan pil ini... seratus ribu Batu Roh Tingkat Menengah. Atau jika kau mau, seribu Batu Roh Tingkat Tinggi."
Mendengar angka tersebut, jantung Shen Yuan berdegup kencang, namun wajahnya tetap datar. Batu Roh Tingkat Tinggi! Satu butir setara dengan sepuluh ribu Batu Roh Tingkat Rendah, dan energi di dalamnya sangat murni hingga bisa digunakan untuk menembus Ranah Peleburan Jiwa!
"Aku ambil seribu Batu Roh Tingkat Tinggi," jawab Shen Yuan. "Tapi dengan satu syarat."
"Silakan katakan, Tuan."
"Aku ingin memotong separuh dari pembayaran itu—lima ratus Batu Roh Tingkat Tinggi—untuk membeli sebuah keterangan."
Master Mu menghentikan ketukan jarinya di atas meja. Wajah tuanya menjadi serius. Membayar lima ratus Batu Roh Tingkat Tinggi hanya untuk sebuah kabar? Itu adalah harga yang pantas untuk mengetahui letak makam dewa kuno!
"Keterangan apa yang bernilai seharga itu bagimu, Anak Muda?"
Shen Yuan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Sepuluh tahun yang lalu, Pelindung Bai Luo dari Kuil Dewa Perak memburu seorang pria fana di Benua Awan Gelap demi Peta Makam Tuan Tanah Hantu. Namun, Bai Luo hanyalah seekor anjing algojo. Aku ingin tahu... siapa majikan yang memberinya perintah itu? Siapa yang sebenarnya menginginkan peta tersebut?"
Keheningan yang luar biasa berat seketika turun menguasai Ruangan Penilaian Tingkat Surga tersebut.
Master Mu tidak langsung menjawab. Udara di sekitarnya terasa mendingin. Ia meraba meja kayu di depannya dengan perlahan, seolah sedang menimbang nyawanya sendiri sebelum mengucapkan sebuah nama.
"Lima ratus Batu Roh Tingkat Tinggi... memang harga yang sepadan untuk membeli rahasia yang bisa membuat lidahku dipotong oleh langit," bisik Master Mu dengan suara serak.
Pria buta itu mencondongkan wajahnya mendekati Shen Yuan. "Dengar baik-baik, Pengelana. Kuil Dewa Perak menguasai Benua Pusat, namun mereka tetaplah manusia. Mereka tunduk pada utusan yang sesekali turun dari Alam Spiritual."
"Alam Spiritual..." mata Shen Yuan menyipit.
"Benar. Sepuluh tahun yang lalu, seorang Utusan dari Alam Spiritual yang disebut sebagai 'Tuan Surgawi Tian Chen' turun ke alam fana kita. Dialah yang menginginkan warisan Tuan Tanah Hantu. Mengapa? Karena Tuan Tanah Hantu di masa lalu adalah seorang pemberontak yang nyaris menghancurkan pintu gerbang Alam Spiritual sebelum ia disegel."
Master Mu menelan ludah. "Tuan Surgawi Tian Chen tidak kembali ke alam atas. Kekuatan penolakan alam fana terlalu besar untuk tubuh aslinya, sehingga ia tertidur dalam pengasingan di sebuah tempat yang disebut 'Lembah Gema Abadi', di ujung utara Benua Pusat. Ia sedang menunggu Makam Tuan Tanah Hantu benar-benar mewujud ke dunia fana untuk merampas pusaka utamanya."
"Lembah Gema Abadi... Tuan Surgawi Tian Chen," Shen Yuan mengeja nama itu berulang kali di dalam pikirannya. Niat membunuh yang sangat purba menggelegak di dalam darahnya.
Jadi, musuh sesungguhnya yang mengatur kematian ayahnya bukanlah sekte rendahan, melainkan keberadaan dari Alam Spiritual yang sedang tertidur!
"Kultivasinya... seberapa kuat dia?" tanya Shen Yuan.
"Meskipun ditekan oleh hukum alam fana, Tuan Surgawi setidaknya memiliki kekuatan di Puncak Ranah Peleburan Jiwa, atau bahkan mungkin menyentuh batas Pemisahan Duniawi," jawab Master Mu dengan suara bergetar. "Anak Muda, siapa pun kau, jika kau berurusan dengan Bai Luo, kau berurusan dengan sekte. Tapi jika kau mencari Tian Chen... kau sedang menantang para dewa."
Shen Yuan perlahan bersandar kembali ke kursinya. Ia menarik napas panjang, menekan gejolak Inti Emas Iblis di dalam Dantian-nya.
"Dewa palsu," ralat Shen Yuan dengan senyuman yang luar biasa dingin. "Terima kasih atas keterangannya, Master Mu. Berikan lima ratus Batu Roh Tingkat Tinggi sisanya padaku."
Pria tua buta itu menghela napas, menyadari bahwa pemuda di depannya ini baru saja menetapkan jalan kematian yang paling mengerikan. Ia segera mengeluarkan sebuah Kantong Qiankun tingkat tinggi dan menyerahkannya kepada Shen Yuan beserta isinya.
Shen Yuan berdiri, mengambil kantong tersebut, dan melangkah menuju pintu.
"Satu pesan dariku, Master Mu," ucap Shen Yuan sebelum melangkah keluar. "Kamar Dagang Sembilan Kuali adalah tempat yang bagus. Jangan sampai kalian salah memilih pihak ketika Sembilan Cakrawala mulai runtuh."
Meninggalkan Master Mu yang mematung dalam kebisuan, sang Iblis Penelan Surga kembali melangkah ke jalanan Kota Awan Emas. Sasarannya kini telah bergeser. Tidak lagi sekadar sekte fana, melainkan utusan dari alam para dewa.
Waktu terus berjalan, dan Shen Yuan tahu, ia harus segera menembus Ranah Peleburan Jiwa sebelum sang Tuan Surgawi terbangun dari tidur lelapnya.