NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Senyum Yang Tersembunyi

Kamis pagi dimulai dengan suasana yang sedikit berbeda di kelas XI MIPA 1. Cahaya matahari yang masuk melalui celah ventilasi tampak menyorot meja paling pojok, tempat Rian sudah duduk dengan tenang sambil membolak-balik buku Matematika. Cinta, yang baru saja meletakkan tasnya, tidak bisa menahan diri untuk tidak mencuri pandang.

Melihat Rian yang begitu asyik dengan bab Logika Matematika membuat Cinta merasa bangga, namun di sisi lain, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sejak kedatangannya, Rian hampir tidak pernah berinteraksi dengan siswa laki-laki lainnya. Ia seperti pulau terpencil di tengah samudera, ada tapi tak terjangkau. Murid laki-laki lain lebih memilih berkelompok di depan kelas, membicarakan game online atau hasil pertandingan bola semalam, sementara Rian tetap pada dunianya sendiri.

"Dia tidak bisa terus-menerus begini," batin Cinta.

Sebagai sekretaris kelas dan orang yang mulai peduli pada Rian, ia merasa bertanggung jawab untuk membantu cowok itu berbaur.

Skip

Saat jam istirahat tiba dan Rian pergi ke toilet, Cinta segera melancarkan aksinya. Ia menghampiri meja Fajar, salah satu teman sekelasnya yang dikenal cukup ramah dan menjadi jembatan pergaulan di kelas.

"Fajar," panggil Cinta dengan nada serius.

Fajar yang sedang asyik mengunyah keripik singkong mendongak. "Ya, Cin? Ada apa? Urusan OSIS lagi?"

"Bukan. Ini soal Rian," bisik Cinta sambil melirik pintu kelas untuk memastikan Rian belum kembali.

"Aku perhatikan dia belum punya teman mengobrol selain aku dan Sarah. Bisa tidak, kamu ajak dia bergabung kalau kalian sedang nongkrong atau main game bareng?"

Fajar tiba-tiba tersedak keripiknya. Ia menatap Cinta dengan mata membelalak, lalu menggelengkan kepala dengan cepat seolah baru saja diminta untuk menjinakkan bom.

"Duh, Cin... kamu kalau minta tolong jangan yang aneh-aneh, dong," sahut Fajar dengan suara rendah yang penuh ketakutan.

"Kenapa aneh? Dia kan teman sekelas kita juga," desak Cinta heran.

"Masalahnya bukan soal teman sekelas atau bukan, tapi auranya itu, lho! Kamu tidak lihat kalau dia sedang diam? Wajahnya itu seperti orang yang siap menghajar siapa saja yang berani menyapa duluan. Galak banget!" Fajar bergidik ngeri.

"Apalagi kemarin ada gosip dia hampir adu jotos dengan Dimas anak basket. Aku masih sayang nyawa, Cin. Lebih baik aku main sama anak-anak lain saja daripada salah bicara sedikit lalu berakhir di UKS."

Cinta menghela napas panjang. "Dia tidak seperti itu, Jar. Dia sebenarnya baik kalau kamu sudah kenal."

"Iya, tapi masalahnya siapa yang berani kenalan duluan?" Fajar mengibaskan tangannya, tanda ia menolak keras.

Cinta tidak menyerah. Ia mendatangi meja Bagas dan Rio di barisan belakang. Hasilnya tetap sama.

"Aduh, maaf ya Cin. Bukannya sombong, tapi tatapan Rian itu intimidatif sekali. Kalau dia melihat ke arah kami, rasanya seperti sedang diinterogasi polisi," ujar Bagas sambil tertawa kaku.

"Mungkin dia memang lebih suka sendiri. Lagipula, dia cuma bicara sama kamu, kan? Biarlah begitu saja."

Cinta kembali ke mejanya dengan perasaan dongkol. Ternyata, tembok yang dibangun Rian bukan hanya dari sisi Rian saja, tapi juga dari prasangka teman-temannya yang ketakutan setengah mati pada aura yang dipancarkan cowok itu.

Beberapa saat kemudian, Rian kembali ke kelas. Ia duduk di samping Cinta, membuka kaleng minuman dingin, dan kembali menekuni catatannya seolah tidak terjadi apa-apa. Cinta memperhatikannya dari samping. Memang benar, jika dilihat dari kejauhan tanpa mengenalnya, garis wajah Rian yang tegas dan sorot matanya yang tajam memang bisa membuat orang salah paham.

"Kenapa melihatku begitu? Ada yang salah dengan wajahku?" tanya Rian tanpa mengalihkan pandangan dari buku.

Cinta terperanjat. "Eh? Tidak. Aku cuma... mau bicara sesuatu padamu."

Rian menutup bukunya, lalu memutar tubuhnya menghadap Cinta. "Bicara saja. Tentang logika matematika lagi? Atau ada aturan sekolah yang baru saja aku langgar?"

Cinta menarik napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaan Rian. "Rian, apa kamu tidak merasa bosan hanya bicara denganku di kelas ini?"

Rian mengerutkan dahi. "Maksudmu?"

"Maksudku, kamu harus mulai bergaul dengan yang lain. Dengan Fajar, Bagas, atau anak-anak cowok lainnya. Mereka sebenarnya asyik kalau diajak bicara," jelas Cinta.

"Mereka tidak menghampiriku, jadi kenapa aku harus repot-repot menghampiri mereka?" jawab Rian acuh tak acuh.

"Masalahnya mereka takut padamu!" seru Cinta sedikit gemas. "Mereka bilang auramu terlalu galak. Kamu jarang tersenyum, Rian. Kamu selalu terlihat seperti sedang bersiap untuk perang. Bagaimana orang mau menyapa kalau wajahmu terus-terusan seperti itu?"

Rian terdiam sejenak. Ia tampak sedikit terkejut mendengar alasan itu. "Takut? Aku tidak pernah melakukan apa-apa pada mereka."

"Justru karena kamu diam itu yang menakutkan," Cinta mencondongkan tubuhnya, suaranya melembut. "Coba deh, sekali-kali kamu yang sapa mereka duluan. Atau setidaknya, cobalah untuk lebih sering tersenyum. Senyum tipis saja sudah cukup untuk menunjukkan kalau kamu tidak akan menggigit mereka."

Rian mendengus, tawa pendek yang terdengar skeptis. "Tersenyum tanpa alasan itu terlihat bodoh, Cinta."

"Bukan tanpa alasan! Tersenyum itu bentuk keramahan. Kamu di sini bukan lagi murid pindahan yang bermasalah di Jakarta. Kamu di sini adalah bagian dari XI MIPA 1. Kamu punya teman-teman baru yang sebenarnya ingin mengenalmu, tapi mereka butuh 'lampu hijau' darimu."

Cinta menatap mata Rian dengan penuh permohonan. "Tolonglah, Rian. Cobalah untuk lebih terbuka sedikit saja. Aku tidak mau kamu dianggap sombong atau ditakuti hanya karena mereka tidak tahu betapa menariknya pemikiranmu."

Rian menatap Cinta cukup lama. Ia melihat ketulusan yang terpancar dari mata gadis itu, sebuah kekhawatiran yang murni untuk kebaikannya. Perlahan, kekakuan di bahu Rian sedikit mengendur.

"Kenapa kamu begitu peduli padaku?" tanya Rian lirih.

Cinta sempat terdiam, mencari jawaban di dalam benaknya. "Karena aku tahu rasanya dianggap hanya berdasarkan label yang orang berikan. Orang pikir aku hanya si kutu buku yang kaku, padahal aku punya sisi lain. Dan aku tahu kamu juga begitu."

Rian memalingkan wajahnya ke arah jendela, menyembunyikan ekspresi yang sulit dibaca. Namun, Cinta bisa melihat sudut bibir Rian bergerak sangat sedikit.

"Baiklah. Akan aku usahakan," gumam Rian hampir tak terdengar.

"Janji?" tagih Cinta sambil menjulurkan jari kelingkingnya dengan gaya kekanak-kanakan yang spontan.

Rian melihat jari kelingking Cinta, lalu beralih ke wajah Cinta yang sedang tersenyum penuh harap. Dengan gerakan yang ragu namun pasti, Rian menautkan jari kelingkingnya yang besar ke jari kelingking Cinta yang mungil.

"Janji," ucap Rian pendek.

...****************...

Sore harinya, saat jam sekolah berakhir, Cinta sedang merapikan jadwal piket di papan tulis. Dari sudut matanya, ia melihat Rian sedang berdiri di depan mejanya, tampak sedang berperang dengan batinnya sendiri.

Fajar lewat di depan Rian sambil membawa tasnya, berjalan cepat seolah ingin segera kabur.

"Fajar," panggil Rian.

Langkah Fajar terhenti seketika. Ia menoleh dengan wajah pucat. "Y-ya, Rian? Ada apa?"

Rian menarik napas panjang. Ia mencoba mengendurkan otot-otot wajahnya yang biasanya kaku. Kemudian, dengan gerakan yang terlihat sangat dipaksakan namun tulus, Rian menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.

"Besok... kalian mau main game bareng lagi? Aku mungkin bisa ikut," kata Rian. Suaranya masih terdengar berat, tapi tidak lagi mengintimidasi.

Fajar tertegun. Ia menatap Rian seperti baru saja melihat keajaiban dunia kedelapan. Senyuman Rian meski canggung ternyata mampu menghapus kesan angker yang selama ini menghantuinya.

"Wah... beneran?" wajah Fajar langsung berubah cerah. "Tentu saja boleh! Kami biasanya main di warung depan sekolah habis ashar. Kamu harus ikut, Rian! Skill-mu pasti jago, kan?"

"Kita lihat saja besok," jawab Rian, kali ini senyumnya terlihat sedikit lebih alami.

Fajar menepuk bahu Rian dengan akrab sebelum berlari keluar kelas dengan perasaan senang. Rian berdiri di sana, mengembuskan napas lega seolah baru saja menyelesaikan tugas berat.

Ia menoleh ke arah Cinta yang sedang memperhatikannya dari depan kelas. Cinta memberikan dua jempol dan sebuah senyuman paling manis yang pernah ia miliki. Rian hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis ke arahnya.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!