NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 – Masa Lalu yang Mulai Mengejar

Ruang tengah mansion terasa sangat hening.

Alya berdiri beberapa langkah dari Vanessa sambil mencoba tetap tenang, meskipun firasat buruk terus menghantuinya.

“Tentang keluarga Raka?”

Vanessa mengangguk pelan.

Wajah wanita itu masih terlihat tenang, elegan, dan sulit ditebak, seperti biasa.

Namun kali ini—

Ada sesuatu dalam pandangannya yang terasa lebih serius.

“Aku tahu kedengarannya aneh,” katanya sambil duduk santai di sofa. “Tapi percayalah, aku tidak datang untuk mencari masalah.”

Alya ragu sejenak sebelum akhirnya duduk di sofa di seberangnya.

“Kalau begitu kenapa datang?”

Pandangan Vanessa sejenak beralih ke sekeliling mansion.

“Karena aku pernah ada di posisimu.”

Kalimat itu membuat Alya sedikit menegang.

“Aku dan Raka dulu hampir menikah,” lanjut Vanessa pelan. “Dan selama waktu itu… aku cukup mengenal keluarganya.”

Alya diam.

Meskipun sebagian kecil dirinya merasa tidak nyaman mendengar wanita lain berbicara begitu akrab tentang masa lalu Raka.

Namun ia tetap mendengarkan.

“Keluarga Han terlihat sempurna dari luar,” kata Vanessa. “Kaya, berkuasa, dan elegan.”

“Tapi?”

Senyum tipis tersungging di bibir Vanessa.

“Tapi mereka juga berbahaya.”

Jantung Alya berdegup sedikit lebih cepat.

Ia langsung teringat pria paruh baya saat makan malam keluarga kemarin.

Pandangan menilai.

Komentar sinis.

Dan aura tekanan yang begitu terasa di rumah itu.

“Ayah Raka sangat terobsesi pada reputasi keluarga,” lanjut Vanessa. “Dan beliau tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.”

“Aku masih belum mengerti.”

Pandangan Vanessa kini lurus tertuju padanya.

“Kamu.”

Hening.

“Aku?”

“Kau bukan tipe wanita yang biasanya mereka pilih untuk Raka.”

Kalimat itu terasa menusuk.

Dan Alya membencinya, sebab sebagian dirinya tahu bahwa itu benar.

Vanessa menghela napas pelan.

“Dulu mereka bahkan tidak terlalu menyukaiku.” Ia tertawa hambar. “Padahal aku berasal dari keluarga yang jauh lebih cocok dibanding… yah, kebanyakan orang lain.”

Alya segera memahami maksud tersiratnya.

*Dibanding dirinya.*

Namun anehnya—

Vanessa tidak terdengar sombong.

Justru ia terdengar lelah.

“Kenapa kalian batal menikah?” tanya Alya pelan.

Pandangan Vanessa berubah samar.

“Kami terlalu mirip.”

“Maksudnya?”

“Kami sama-sama lebih suka menang sendiri.” Senyum kecil tersungging di bibir wanita itu. “Dan Raka… dia bukan pria yang mudah membuka hati.”

Hati Alya langsung sedikit menghangat.

Karena kini—

Pria itu mulai membuka hatinya untuk Alya.

“Atau mungkin,” lanjut Vanessa sambil menatap Alya lebih lama, “sampai ia bertemu denganmu.”

Suasana mendadak menjadi hening.

Alya tidak tahu harus menjawab apa.

Karena semakin hari, semakin jelas bahwa hubungan dirinya dan Raka sudah jauh dari sekadar kontrak.

“Dia benar-benar berubah,” gumam Vanessa pelan. “Tadi di rumah sakit, cara dia melihatmu… aku belum pernah lihat itu sebelumnya.”

Jantung Alya kembali berdegup aneh.

Namun sebelum suasana menjadi terlalu pribadi—

Suara pintu depan terbuka.

Langkah kaki yang familiar terdengar mendekat.

Dan detik berikutnya—

Raka muncul di tengah ruangan.

Pandangannya langsung tertuju pada Vanessa, lalu berubah dingin seketika.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Nada suaranya tajam.

Jauh lebih dingin dibandingkan saat ia bersama Alya.

Vanessa tetap santai.

“Aku hanya mengobrol.”

“Saya sudah katakan jangan datang ke rumah ini.”

Pandangan Raka kini benar-benar tajam.

Namun Vanessa hanya berdiri perlahan sambil merapikan tasnya.

“Kau terlalu protektif sekarang.”

“Saya serius.”

“Aku tahu.”

Wanita itu tersenyum kecil lalu melirik Alya sebentar.

“Aku sudah selesai.”

Dan tanpa menunggu jawaban lagi, Vanessa berjalan melewati Raka menuju pintu keluar.

Namun tepat sebelum pergi—

Ia berhenti sebentar di dekat pria itu.

“Hati-hati jangan sampai kehilangan dia,” bisiknya pelan.

Pandangan Raka langsung mengeras.

Namun Vanessa sudah pergi lebih dulu sebelum sempat mendapat balasan.

Pintu tertutup.

Ruang tengah kembali hening.

Namun kali ini—

Keheningan itu terasa berat.

Alya perlahan menoleh ke arah Raka.

“Kau marah?”

Raka menghela napas pelan sambil melepas jasnya.

“Saya tidak suka ia datang secara tiba-tiba.”

“Aku rasa ia tidak bermaksud buruk.”

Pandangan Raka langsung beralih padanya.

“Apa yang ia katakan?”

Alya ragu beberapa detik.

Lalu akhirnya menjawab jujur—

“Ia bilang keluargamu berbahaya.”

Ekspresi Raka sedikit berubah, sangat tipis, namun Alya menyadarinya.

“Dan dia benar,” jawab pria itu akhirnya.

Jantung Alya langsung menegang.

“Kau serius?”

Raka berjalan mendekat lalu duduk di sofa di samping Alya.

Wajahnya terlihat lebih lelah dibandingkan biasanya.

“Dunia keluarga saya tidak sesederhana yang Anda kira.”

Nada suaranya rendah.

Tenang.

Namun ada sesuatu di baliknya yang membuat Alya turut terdiam.

“Ayah saya sangat mengontrol,” lanjut Raka. “Beliau telah menentukan hampir semua hal dalam hidup saya sejak kecil.”

Pandangan Alya perlahan melembut.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia mulai melihat sisi lain dari kehidupan Raka.

“Kau membenci itu?”

Raka tertawa kecil tanpa humor.

“Saya sudah terbiasa.”

Jawaban itu justru terdengar lebih menyedihkan.

“Alya.”

“Hm?”

Pandangan pria itu kini fokus padanya.

“Jika suatu saat nanti semuanya menjadi sulit…” suara Raka sedikit melemah, “…saya tidak ingin Anda terluka karena saya.”

Hati Alya langsung terasa sesak.

Karena ini pertama kalinya Raka terdengar benar-benar takut akan sesuatu.

Dan hal yang ia takutkan adalah Alya terluka.

“Aku bukan orang yang mudah menyerah,” jawab Alya pelan.

Pandangan Raka berubah sedikit.

“Anda belum tahu seberapa buruk semuanya bisa terjadi.”

“Aku juga belum tahu seberapa keras kau mencoba melindungiku.”

Hening.

Pandangan mereka bertemu.

Dan sekali lagi—

Suasana di antara mereka berubah menjadi terlalu dekat.

Terlalu pribadi.

Raka perlahan mengangkat tangannya lalu menyentuh pipi Alya dengan lembut.

Sentuhan itu kini terasa begitu alami.

Seolah memang seharusnya berada di sana.

“Kau terlalu percaya pada saya,” gumamnya rendah.

Alya tersenyum kecil.

“Mungkin karena kau terus membuatku ingin percaya.”

Pandangan Raka langsung berubah lagi.

Menjadi lebih dalam.

Lebih hangat.

Dan Alya sadar—

Ia benar-benar sudah terperosok terlalu jauh untuk mundur sekarang.

Namun sebelum suasana berubah menjadi semakin intim—

Ponsel Raka berdering.

Pria itu langsung mengernyitkan dahi saat melihat layar.

“Ayah saya.”

Suasana langsung berubah dingin.

Alya dapat melihat jelas perubahan ekspresi Raka.

Pria itu menerima panggilan telepon dengan wajah datar.

“Ya.”

Suara berat seorang pria terdengar samar dari seberang sambungan.

Meskipun Alya tidak bisa mendengar jelas isi percakapan itu, satu hal langsung terasa: nada pembicaraan itu tidak ramah.

Pandangan Raka perlahan mengeras.

“Saya sudah bilang, saya yang menentukan hidup saya sendiri.”

Hening.

Lalu suara pria itu terdengar lagi lebih keras kali ini, bahkan sampai Alya samar-samar mendengarnya.

Ekspresi Raka langsung berubah sangat dingin.

Dan beberapa detik kemudian—

Sambungan telepon itu terputus.

Suasana ruang tengah mendadak sangat hening.

Alya menatap Raka hati-hati.

“Ada apa?”

Raka terdiam cukup lama.

Lalu akhirnya berkata pelan, “Ayah saya ingin bertemu dengan Anda.”

Jantung Alya langsung berhenti berdetak sesaat.

Dan dari cara Raka memandangnya saat ini—

Alya tahu satu hal: pertemuan itu tidak akan berjalan mudah.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!