NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 : Malam pertama

Di sisi lain, suasana berbeda justru terlihat di lobby sebuah mall besar. Lampu-lampu terang, orang-orang masih ramai berlalu lalang meski waktu sudah malam.

Di dekat pintu masuk, seorang pria berdiri sambil membagikan brosur.

“Promo terbaru, Kak… diskon sampai lima puluh persen,” ucapnya berulang kali.

Wajahnya terlihat lelah, tapi ia tetap tersenyum. Tangannya terus bergerak, memberikan brosur pada setiap orang yang lewat.

“Ambil ya, Kak… lagi banyak promo,” lanjutnya.

Namun tidak semua orang peduli.

“Ck… capek juga,” gumamnya pelan.

Belum sempat ia berhenti, tiba-tiba...

“Angga.”

Sebuah suara wanita memanggil dari samping. Angga menoleh, seorang wanita cantik berdiri di sana, mengenakan seragam yang sama. Ia langsung mengambil beberapa brosur dari tangan Angga.

“Lo dipanggil si bos tuh,” ucapnya santai. “Sini, gue yang lanjutin.”

Angga mengernyit. “Dipanggil? Ngapain?”

Wanita itu mengangkat bahu. “Mana gue tahu. Katanya sih penting.”

Angga menyerahkan sisa brosurnya. “Yaudah, tolong ya.”

Ia lalu berjalan menjauh. Langkahnya santai, tapi pikirannya mulai bekerja. Dipanggil bos?

Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah cerah.

“Asyik… jangan-jangan dapat bonus nih,” ucapnya penuh percaya diri. Ia bahkan tersenyum sendiri. “Lumayan… bisa buat hura-hura lagi,” gumamnya.

Namun saat mendekati pintu kantor, langkahnya melambat. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.

Ia mengetuk pintu.

TOK... TOK.

“Masuk!” Suara berat terdengar dari dalam.

Angga membuka pintu..“Permisi, Pak… Bapak memanggil Saya?”

Di dalam, bosnya duduk dengan wajah serius. “Masuk. Duduk,” ucapnya singkat.

DEG

Senyum Angga perlahan hilang. Ia duduk, tubuhnya sedikit tegang.

“Angga,” ucap pria itu. “Kamu tahu kenapa saya panggil kesini?”

Angga menggeleng pelan. “Nggak, Pak… saya kira soal bonus…”

Namun pria itu langsung memotong.

“Bonus saja yang ada di otak kamu.”

Kata-katanya membuat jantung Angga berdetak lebih cepat.

Pria itu membuka sebuah map di meja. “Kami menerima laporan,” lanjutnya. “Bahwa kamu beberapa kali pergi di saat jam kerja.”

Wajah Angga langsung berubah. “Pak, saya..”

“Dan bukan hanya itu,” potong pria itu lagi. “Ada komplain dari pengunjung. Katanya kamu kurang sopan saat menawarkan brosur.”

“Nggak, Pak! Saya nggak pernah...” Angga langsung panik.

Namun pria itu mengangkat tangan, menghentikannya.“Kami tidak bisa mempertahankan karyawan yang merugikan perusahaan.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Angga seketika membeku.

“Mulai malam ini,” lanjut pria itu dingin. “Kamu tidak perlu masuk lagi.”

Beberapa detik Angga hanya duduk diam. Seolah otaknya berhenti bekerja.

“Pak…” suaranya melemah. “Saya butuh pekerjaan ini.”

Namun pria itu tidak berubah.

“Keputusan sudah dibuat.”

Perlahan, Angga mengepalkan tangannya. Harapan tentang bonus hancur begitu saja.

Ia berdiri dengan langkah berat. “Baik, Pak…” ucapnya pelan. Ia berbalik, lalu keluar dari ruangan.

Di luar, langkah Angga terasa kosong. Suara ramai mall yang tadi terasa biasa, kini terdengar jauh. Ia berhenti di sudut, menatap lantai. Tangannya mengepal.

“Sial…” gumamnya lirih. Ia tertawa kecil, tapi pahit. “Gue kira bonus, ternyata..."

"Ternyata, gue dipecat,” lanjutnya pelan, nyaris seperti mengejek dirinya sendiri.

Angga menunduk, napasnya berat. Tangannya masih mengepal kuat. Namun tiba-tiba, sebuah nama muncul di kepalanya... Nayra.

Wajahnya langsung berubah. Rahangnya mengeras.

“Kurang ajar tuh si Nayra…” desisnya pelan. “Berani banget dia kabur sama laki-laki itu.”

Matanya menyipit, penuh kesal. “Lagian kenapa sih tuh laki-laki mau sama dia?” lanjutnya sinis. “Padahal Nayra udah punya anak.”

Ia tertawa kecil, tapi pahit. “Belum lagi Alea… jajannya banyak."

"Aarrgghh... sial… sial…” Tangannya naik, mengacak rambutnya kasar.

Pikirannya makin kacau.

Semua terasa menumpuk sekaligus, pekerjaan hilang. Uang tidak ada dan hutang menumpuk.

Tubuh Angga langsung menegang.

“Sial…” gumamnya pelan, suaranya mulai goyah. “Gue kan ada utang lagi sama Bang Baron…” Wajahnya langsung pucat.

Bayangan wajah kasar pria itu muncul di kepalanya.

“Kalau gue telat lagi…” bisiknya lirih. Ia menelan ludah. “Bisa gue disate hidup-hidup…”

Hening untuk beberapa detik, Angga hanya berdiri diam di sudut mall. Dunia di sekitarnya seperti tidak ada arti.

Lalu perlahan, tatapannya berubah. Bukan lagi sekadar kesal, tapi penuh perhitungan.

“Nayra…” gumamnya lagi, kali ini lebih pelan.

Matanya menyipit tajam. “Lo pikir bisa kabur gitu aja?” lanjutnya dingin.

Tangannya mengepal lagi. “Kalau hidup gue hancur…” suaranya makin rendah. “Lo juga harus hancur.” Senyum sinis terukir di wajahnya.

***

Nayra masih duduk di tepi ranjang. Tangannya berusaha membuka ritsleting gaun dengan canggung.

Pikirannya masih kacau. Namun tiba-tiba...

Pintu kamar mandi terbuka. Nayra refleks menoleh daan seketika...

“Ahh!” ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Kamu ngapain sih keluar pakai handuk begitu!”

DEG

Arsen berdiri di sana, hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Rambutnya masih basah, tetesan air jatuh perlahan di bahunya.

Ia menatap Nayra dengan alis sedikit terangkat. “Kamu ini kenapa sih?” ucapnya santai. “Saya ini sudah jadi suami kamu.”

Nayra masih menutup wajahnya. “Ya tapi… tidak seperti itu juga."

Arsen melangkah mendekat perlahan. “Biasakan,” lanjutnya datar. “Kamu akan sering lihat saya seperti ini.”

Wajah Nayra langsung memanas. “Ingat…” ucap Nayra pelan, masih menahan gugup. “Saya ini cuma istri kontrak.”

Arsen berhenti tepat di depannya. “Iya, saya tahu,” jawabnya tenang. “Saya juga pernah bilang, saya tidak akan memaksa kamu untuk melakukan hubungan selayaknya suami dan istri.”

Ia sedikit menunduk, mendekat. “Tapi bukan berarti, saya harus jaga jarak sejauh itu dari kamu.”

Jantung Nayra langsung berdetak lebih cepat.

“Apa…” Arsen menyipitkan mata tipis. “Kamu tergoda dengan tubuh saya?”

Nayra langsung membuka tangannya, menatap Arsen kesal. “Kamu apa sih!” ucapnya sambil mendorong dada Arsen. “Nyebelin banget.”

Ia buru-buru bangkit. “Permisi, saya mau mandi.”

Namun saat ia berdiri, kakinya tersangkut gaunnya sendiri.

“Eh...”

Tubuhnya oleng. Arsen refleks menarik tangannya. Namun, bukannya seimbang... Nayra justru jatuh ke atas ranjang.

Dan tiba-tiba…

BRUK

Tubuh Arsen ikut terdorong ke depan. Kini Arsen berada di atas Nayra. Waktu seolah berhenti, mata mereka langsung bertemu. Sangat dekat, napas mereka saling bersentuhan.

Nayra membeku. Tangannya refleks menahan dada Arsen, sementara Arsen menahan tubuhnya agar tidak sepenuhnya menimpa Nayra.

Beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya suara napas yang mulai tidak beraturan. Tatapan Arsen turun sedikit ke bibir Nayra.

Nayra menelan ludah. Jantungnya semakin tidak terkendali.

“Arsen…” suaranya lirih, nyaris berbisik.

Namun Arsen tidak langsung menjawab. Tatapannya masih dalam, terlalu dalam.

Untuk sesaat batas antara akting dan kenyataan benar-benar menghilang. Namun Arsen tiba-tiba menarik napas dan menjauh sedikit, seolah tersadar. Ia segera bangkit dari atas Nayra.

“Maaf,” ucapnya singkat.

Nayra masih terbaring. Matanya menatap kosong ke langit-langit, dadanya naik turun cepat. Beberapa detik kemudian, ia langsung bangkit duduk.

Wajahnya memerah. “Kamu…” gumamnya pelan, tapi tidak melanjutkan.

Arsen membalik badan, mengambil pakaian tanpa menatapnya lagi.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!