Setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, ada yang berbakat di olahraga, ada yang berbakat di ilmu pengetahuan, ada juga yang berbakat di seni. Kayla seorang siswa yang membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah asal punya kemauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Geb Lentey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Kepala sekolah naik ke panggung.
"Anak-anak kelas 6… hari ini adalah hari yang istimewa." sambut kepala sekolah
"Hari di mana kalian akan melangkah ke tahap berikutnya." lanjut kepala sekolah
Setelah sambutan dari kepala sekolah, acara perpisahan masih berlangsung. Suasana mulai terasa semakin haru. Pembawa acara naik ke depan.
"Selanjutnya, kita akan mendengarkan sambutan dari perwakilan kelas 6."
Nama yang dipanggil membuat banyak siswa tersenyum.
"Salsa, dipersilakan."
Salsa terlihat sedikit terkejut. Namun ia berdiri dan berjalan ke depan dengan langkah pelan. Tangannya memegang kertas pidato yang sedikit bergetar. Ia berdiri di depan mikrofon. Menatap teman-temannya, guru-guru dan sekolah yang selama ini menjadi tempatnya belajar. Ia menarik napas dalam.
"Selamat pagi semuanya…"
Suaranya sedikit bergetar di awal.
"Hari ini… adalah hari yang sangat berarti untuk kami, siswa kelas 6."
Ia berhenti sejenak. Menahan perasaan.
"Selama 6 tahun… kami belajar, bermain, dan tumbuh di sekolah ini."
Beberapa siswa mulai menunduk.
"Kami pernah tertawa bersama…
pernah juga menangis…
dan bahkan pernah merasa ingin menyerah."
Salsa menatap teman-temannya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi di tempat ini… kami belajar untuk bangkit."
Guru-guru tersenyum haru.
"Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua guru…"
"yang telah sabar membimbing kami…
yang tidak pernah lelah mengajar kami…"
Suaranya mulai bergetar lebih dalam.
"Dan untuk teman-teman…"
Salsa tersenyum.
"Terima kasih sudah menjadi bagian dari cerita kami."
Beberapa siswa sudah mulai menangis.
"Walaupun setelah ini kita akan berpisah…"
Ia menarik napas dalam.
"Kenangan kita… akan tetap ada."
Salsa menunduk sedikit.
"Terima kasih…"
Semua bertepuk tangan. Salsa turun dari panggung dengan mata berkaca-kaca. Kayla langsung memeluknya.
"Kamu keren banget…" bisik Kayla.
Acara berlanjut.
"Selanjutnya, perwakilan dari kelas 5 akan memberikan sambutan."
Seorang siswa kelas 5, bernama Dito, maju ke depan. Wajahnya terlihat gugup.
"Selamat pagi kakak-kakak kelas 6…"
Ia menatap ke arah mereka.
"Hari ini kami merasa sedih… karena harus berpisah dengan kakak-kakak semua."
Beberapa siswa kelas 6 tersenyum kecil.
"Kakak-kakak adalah contoh bagi kami…"
"yang mengajarkan kami tentang semangat belajar… dan kebersamaan."
Dito menggenggam kertasnya.
"Kami berdoa semoga kakak-kakak sukses di jenjang berikutnya."
Ia tersenyum.
"Dan jangan lupakan kami di sini…"
Beberapa siswa kelas 6 tertawa kecil sambil menangis.
"Terima kasih…"
Tepuk tangan kembali terdengar. Suasana semakin emosional. Pembawa acara kembali naik.
"Selanjutnya, seluruh siswa kelas 6 akan mempersembahkan lagu perpisahan."
Semua siswa kelas 6 berdiri. Termasuk Kayla, Salsa, Raka, dan Nadia. Musik mulai diputar.
Pelan…
lembut…
Mereka mulai bernyanyi bersama. Suara mereka tidak sempurna…
tapi penuh perasaan. Beberapa siswa mulai menangis di tengah lagu. Ada yang saling menggenggam tangan. Ada yang saling memeluk. Kayla berdiri di antara teman-temannya.Suaranya pelan, namun hatinya penuh. Ia melihat sekeliling. Tempat yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya. Air matanya jatuh. Namun kali ini ia tidak menyembunyikannya.
Lagu selesai.
Suasana hening beberapa detik. Lalu tepuk tangan meriah memenuhi lapangan. Hari itu bukan hanya tentang perpisahan. Tapi tentang kenangan, persahabatan dan perjalanan yang tidak akan pernah dilupakan. Kayla menatap teman-temannya.
"Kita gak akan lupa ini kan?" kata Kayla dengan pelan.
Salsa menggeleng sambil tersenyum.
"Gak akan."
Dan di momen itu mereka tahu walaupun berpisah cerita mereka akan selalu ada.
Tiba di sesi yang paling menegangkan, setiap siswa kelas 6 masing-masing diberi amplop yang berisikan penentuan kelulusan mereka. Perlahan Kayla membuka amplop itu. Tangannya sedikit gemetar. Matanya membaca angka-angka di dalamnya. Ia terdiam. Beberapa detik, tidak bergerak. Bukan karena kecewa. Tapi karena, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Peringkat 7. Dari 12 siswa, ia tidak lagi di posisi bawah.Kayla menutup mulutnya pelan. Air matanya terus mengalir. Ia teringat masa lalu, saat ia berada di peringkat 9, saat ia merasa tidak mampu, saat ia sering menyerah. Dan sekarang ia berdiri di sini. Dengan hasil dari perjuangannya sendiri.
"Kayla?! Gimana?!" tanya Salsa panik.
Kayla menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Juara 7…" ucapnya pelan.
Salsa langsung tersenyum lebar.
"Itu bagus banget, Kay!"
Raka ikut mendekat.
"Wah naik jauh itu! Keren!"
Nadia mengangguk bangga.
"Aku tahu kamu bisa."
Kayla tersenyum. Untuk orang lain mungkin itu biasa saja. Tapi untuk Kayla itu adalah kemenangan besar. Ia tidak harus menjadi nomor satu. Ia hanya perlu menjadi lebih baik dari dirinya yang dulu. Dan hari ini ia berhasil. Kayla menghapus air matanya. Namun senyumnya tidak hilang.
Acara perpisahan akhirnya selesai. Satu per satu siswa mulai pulang. Masih dengan mata yang sedikit sembab, tapi juga dengan senyum yang hangat. Kayla berjalan pulang bersama Mama. Tangannya memegang amplop hasil ujian dengan erat. Di dalam hatinya ia masih mengulang momen tadi. Juara 7. Bukan yang terbaik, tapi jauh dari yang dulu. Sesampainya di depan rumah, mereka bertemu dengan seorang tetangga.
"Eh, Kayla!" sapa Ibu Tata tetangga depan rumah Kayla.
"Udah pembagian hasil ya?" tanyanya penasaran
Kayla berhenti.
"Iya, Bu…" jawab Kayla
"Jadi, dapat juara berapa?" tanya tetangga itu langsung.
Kayla sedikit ragu. Namun ia tetap menjawab jujur.
"Juara 7, Bu." sambil menunduk Kayla menjawab.
Tetangga itu mengangkat alisnya.
"Juara 7?"
Ia tertawa kecil.
"Loh, kirain kamu bisa masuk 3 besar…" kata bu Tata
"Teman-teman kamu banyak yang lebih bagus ya?" lanjutnya
Kayla terdiam.
Kata-kata itu terasa menusuk.
"Ya… lumayan sih," lanjutnya,
"tapi masih kurang ya kalau dibandingkan yang lain."
Suasana tiba-tiba terasa sunyi.
Kayla semakin menunduk. Tangannya yang memegang amplop sedikit mengeras. Perasaan yang tadi hangat perlahan berubah. Rasa bangga yang ia rasakan seperti dipatahkan begitu saja. Mama yang berdiri di sampingnya mulai berbicara.
"Bu, setiap anak punya prosesnya masing-masing," kata Mama dengan tenang.
Tetangga itu hanya tersenyum tipis.
"Iya sih… tapi ya tetap harus lebih ditingkatkan ya."
Setelah itu, ia pergi begitu saja. Kayla masih berdiri diam. Mama menatapnya.
"Kayla…" panggil Mama
Namun Kayla tidak langsung menjawab. Sesampainya di dalam rumah, Kayla langsung masuk ke kamar. Menutup pintu pelan. Ia duduk di tempat tidur. Menatap amplop itu. Air matanya jatuh.
"Kenapa sih…" bisik Kayla.
"Aku udah usaha…" lanjutnya dengan nada sendu
Ia memeluk lututnya. Untuk sesaat ia kembali merasa seperti dirinya yang dulu. Yang tidak cukup baik. Yang selalu tertinggal. Di luar, Mama berdiri di depan pintu. Tidak langsung masuk. Memberi Kayla waktu. Beberapa menit kemudian, Mama masuk perlahan. Duduk di samping Kayla.
"Sedih ya?" tanya Mama lembut.
Kayla mengangguk sambil menangis.
"Dia bilang aku masih kurang…" Jawab Kayla sembari menahan tangis
Mama mengusap kepala Kayla.
"Orang lain boleh berkata apa saja…"
"Tapi yang tahu perjuangan kamu… itu kamu sendiri."
Kayla terdiam. Mama melanjutkan,
"Dulu kamu ada di posisi berapa?"
Kayla menjawab pelan,
"9…"
"Sekarang?" tanya mama dengan nada yang lembut.
"7…"
Mama tersenyum.
"Itu bukan ‘kurang’, Nak…" kata mama d ngan begitu lembut mencoba menenangkan Kayla.
"Itu namanya berkembang." lanjutnya sambil tersenyum hangat.
Kayla menatap Mama. Air matanya masih mengalir.
"Tidak semua orang bisa melihat proses…"
"Tapi Mama melihatnya."
Kayla langsung memeluk Mama.Tangisnya pecah mendengar kata demi kata yang mama sampaikan. Namun kali ini bukan karena sakit hati semata. Tapi karena ia mulai mengerti. Bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh omongan orang lain. Malam itu, Kayla membuka amplopnya lagi.Ia menatap angka itu. Dan kali ini ia tersenyum.
"Ini hasil dari usahaku."
Dan tidak ada yang bisa mengambil itu darinya.