Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.
Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.
Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Kafe itu mulai terasa lebih sunyi. Bukan karena orang-orang berkurang namun karena percakapan di meja mereka semakin dalam.
Semakin sulit dihindari.
Fania duduk diam, tangannya masih di sekitar gelas. Namun minumannya sudah lama tidak ia sentuh. Tatapannya turun namun pikirannya tidak berhenti.
Chaerlina dan Livia tidak langsung bicara. Mereka membiarkan Fania tenggelam sebentar dalam pikirannya sendiri. Memberi ruang bukan untuk lari, tapi untuk jujur.
Namun Fania masih bertahan masih menahan dan masih menyangkal.
“Aku tak peduli.” Ia mengulang lagi dengan pelan lebih seperti bisikan daripada pernyataan.
Livia menghela napas tidak lagi langsung menyanggah. Karena ia tahu Fania belum sampai di titik mau mendengar.
Chaerlina menatapnya lebih tenang namun lebih tajam. “Fan,” katanya pelan. “Kalau kau tak peduli… kau tak akan defensif tiap kali kita bahas dia.”
Fania tidak langsung menjawab, ia hanya menelan pelan. Namun tetap tidak mengalah.
“Aku hanya tak suka dihakimi." Alasan lagi.
Chaerlina mengangguk kecil. “Oke.” Ia tidak memperdebatkan. Namun ia juga tidak melepas. “Terus jelaskan ke kita… tanpa defensif.”
Sunyi.
Fania terdiam beberapa detik. Lalu akhirnya ia mengangkat pandangannya. Menatap mereka, dan untuk pertama kalinya sejak tadi ada sesuatu yang berbeda. Lebih jujur namun masih tertahan.
“Dia masih peduli.” Kalimat itu keluar tiba-tiba.
Dan membuat Livia sedikit mengernyit. “Maksud mu?”
Fania menarik napas pelan. Seolah kalimat berikutnya lebih sulit. “Ronald…” Ia berhenti, lalu melanjutkan. “…tak pernah berubah soal itu.”
Chaerlina tidak menyela, ia hanya mendengar.
“Setiap malam,” lanjut Fania, “dia masih… mencium keningku.”
Hening.
Livia langsung menatap lebih serius, tidak menyangka.
Fania tertawa kecil namun pahit. “Lucu kan?” Ia menggeleng pelan. “Kita punya kesepakatan… tapi dia masih sepeduli itu.”
Chaerlina memperhatikan setiap detail ekspresi Fania. Cara ia bicara dan cara ia menahan sesuatu.
“Dan kau merasa itu apa?” tanya Chaerlina pelan namun tepat.
Fania langsung menjawab. “Biasa saja.” Dengan cepat dan refleks namun tidak kuat.
Livia mendesah pelan. “Fan…” Ia menatap Fania. “Orang yang ‘biasa aja’ tak akan ingat detail sekecil itu.” Menusuk.
Fania langsung mengalihkan pandangan, tidak nyaman. “Itu hanya kebiasaan.” Ia mencoba lagi. “Sudah lama.” Masuk akal, namun tidak menjelaskan semuanya.
Chaerlina tidak langsung membantah. Ia justru menggiring lebih dalam. “Lalu kau tak pernah merasa apa-apa?”
Sunyi.
Pertanyaan itu lebih berbahaya. Karena tidak bisa dijawab sembarangan. Fania terdiam beberapa detik. “Tidak.” Pelan namun jelas. Kebohongan, dan ia tahu itu.
Livia menatapnya lekat. “Bahkan waktu dia melakukannya setelah kau melihatnya bersama Valencia?” Langsung tanpa filter.
Fania menelan, dadanya sedikit menegang. Namun ia tetap menjawab. “Tidak.” Lebih cepat kali ini. Seolah ingin segera menutupnya.
Chaerlina menghela napas pelan. Bukan kesal namun lebih seperti melihat pola yang berulang.
“Fan,” katanya lembut. “kau tau apa yang aneh?”
Fania menoleh sedikit defensif lagi. “Apa?”
Chaerlina menatapnya dalam. “Kau mengatakan tak cinta.” Ia berhenti. “Kau mengatakan tak cemburu.” Ia lanjut. “Kau bilang tak peduli.” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Tapi semua yang kau ceritakan justru kebalikannya.”
Sunyi.
Fania terdiam, lagi. Namun kali ini lebih lama, karena ia tidak bisa langsung memotong. Tidak bisa langsung menyangkal. Karena semuanya terlalu jelas.
Livia menambahkan pelan. “Kau bukan tak merasakan apa-apa, Fan…” Ia berhenti, memilih kata. “…kau sedang berusaha mati rasa.”
Kalimat itu tidak keras namun dalam. Dan entah kenapa itu yang paling terasa.
Fania tertawa kecil, namun kali ini benar-benar lelah. “Mati rasa?” Ia mengulang. Seolah mempertimbangkan lalu menggeleng.
“Ya, aku memang mati rasa.” Pelan. “Tapi kenapa aku harus merasa selelah ini.”
Hening.
Chaerlina menangkap itu, detail kecil namun penting. “Lelah karena apa?” tanyanya.
Fania menatap meja lagi. Jari-jarinya kembali bergerak gelisah. Namun kali ini ia tidak langsung menutup. “Lelah karena harus menekan dan menahan segala perasaanku, mungkin.”
Akhirnya keluar pelan namun jujur. Dan setelah kalimat itu semuanya terasa lebih sunyi dan lebih nyata.
Livia melembutkan wajahnya. “Kenapa kau merasa begitu?”
Fania tersenyum tipis dan kosong.
“Karena kalau aku tak menahannya." Ia berhenti, menelan ludah. “…berarti aku salah.”
Sunyi.
Chaerlina langsung menangkap arah itu. “Salah… karena?”
Fania menatap mereka, matanya tidak lagi setenang sebelumnya. Ada retakan kecil namun jelas.
“Karena aku yang mengatakan aku sudah tak mencintai.” Akhirnya, kalimat itu keluar. Dan di sanalah inti semuanya.
Livia menarik napas pelan, mengerti. “Jadi sekarang kau sedang berusaha membuktikan kalau keputusan mu benar?”
Fania tidak menjawab namun diamnya sudah cukup menjawab.
Chaerlina menyimpulkan pelan. “Bukan karena kau sudah tak cinta” Ia berhenti, menatap Fania dalam. “…tapi karena kau sudah mengatakan tak cinta.”
Sunyi.
Dan kali ini Fania tidak menyangkal. Tidak membantah dan tidak juga menghindar. Ia hanya diam. Karena untuk pertama kalinya ia melihat kebenaran itu dengan jelas. Namun tetap ia belum siap menerimanya sepenuhnya.
“Aku tak cemburu,” ucapnya lagi dengan pelan.
Namun kali ini lebih lemah. Lebih rapuh dan kedua sahabatnya tahu kalimat itu bukan lagi penyangkalan yang kuat. Melainkan sisa pertahanan terakhir yang perlahan mulai runtuh.
"Lalu apa maumu sekarang, Fan? Kau akan membiarkan semuanya seperti ini, menggantung tak pasti?" tanya Chaerlina melanjutkan.
"Apa salahnya mengakui segala rasa cemburu atau bahkan apapun itu pada suamimu, Fan. Rasanya itu sangat masuk akal." Tambah Livia.
Fania menggeleng pelan. "Karena aku yakin sudah tak mencintainya. Semua hal yang ku ingat tentang mencintainya, hanya seperti luka yang membuatku sesak." Jelas Fania.
Keduanya mengernyit bingung, seperti mulai menemukan akar permasalahan yang sesungguhnya.
"Mengapa kau harus merasa sesak?" Tanya Chaerlina.
Terdengar helaan nafas panjang Fania. "Aku ...aku sulit memahami ini. Tapi aku butuh melampiaskan semua yang ku rasakan, supaya aku merasa lega." Jelas Fania yang juga bingung dengan perasaan yang dirasakannya.
"Aku juga merasa hambar dengan pernikahanku, dan semua getaran-getaran di awal dulu tak pernah ku rasakan lagi." Lanjut Fania menjelaskan.
"Apa kau merasakan sesuatu, saat Ronald mencium keningmu akhir-akhir ini?" Tanya Livia untuk memastikan sesuatu.
"Sudah aku katakan sebelumnya, aku biasa saja saat dia melakukannya" ujar Fania berusaha yakin dengan jawabannya sendiri.
Mengundang tawa sinis Chaerlina dan Livia. "Kau biasa saja, atau kau berusaha merasa biasa saja?" Sarkas Chaerlina.
Fania hanya mampu terdiam, merasa terpojok dengan pertanyaan itu.
"Fan, kau sudah terlihat jelas sedang menyangkal semuanya. Kau bahkan tak bersedia jujur pada dirimu sendiri. Jika begini, kami tak bisa membantu apapun. Kau sendiri yang harus belajar jujur kada dirimu sendiri." Jelas Chaerlina merasa perlu menekankan ini pada sahabatnya itu.
NEXT .......