NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa bersalah Arka

Begitu pintu depan tertutup dan suara langkah Viona menghilang di koridor apartemen, Arka berdiri beberapa saat di depan pintu. Tangannya masih memegang handel pintu, napasnya berat. Ruangan yang tadi penuh dengan aroma parfum mahal Viona dan ketegangan yang menyengat, kini terasa hampa dan dingin. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, berusaha menenangkan diri.

“Cantika …” gumamnya pelan.

Ia berbalik dan melangkah cepat menuju kamar mandi utama di ujung koridor. Pintu kamar mandi masih tertutup rapat, persis seperti yang ia ingat tadi ketika menyuruh Cantika bersembunyi di sana sebelum Viona datang tiba-tiba. Arka mengetuk pelan dua kali.

“Cantika … aku sudah sendirian. Keluarlah.”

Tak ada jawaban.

Arka mengetuk lagi, kali ini lebih lembut. “Cantika, please … keluar.”

Masih sunyi. Hanya suara air conditioner yang berdengung pelan memenuhi apartemen mewah itu.

Dengan hati yang semakin gelisah, Arka memutar handel pintu. Ternyata tidak dikunci. Ia mendorong pintu perlahan dan masuk.

Pemandangan di dalam membuat dadanya seperti diremas kuat-kuat.

Cantika duduk meringkuk di pojok kamar mandi, tepat di antara bathtub marmer dan dinding kaca. Lututnya ditekuk ke dada, kedua tangannya memeluk kaki sendiri. Tubuh rampingnya terguncang pelan karena isakan yang ditahan. Rambutnya yang biasanya tergerai rapi kini acak-acakan, beberapa helai menempel di pipinya yang basah oleh air mata. Gaun tidur sederhana berwarna krem yang ia pakai tampak kusut dan lembap di bagian bahu karena air mata yang terus mengalir.

Arka berdiri di ambang pintu, hatinya terasa sakit melihat pemandangan itu. Meskipun pernikahan mereka terjadi secara mendadak hanya karena kesepakatan keluarga dan tekanan warga desa,Cantika tetap istrinya di mata hukum agama. Ia memang belum siap menerima pernikahan ini sepenuhnya. Masih ada rasa asing, masih ada dinding yang belum runtuh di antara mereka. Tapi melihat Cantika menangis seperti ini, Arka merasa bersalah yang luar biasa.

“Cantika …” panggilnya pelan.

Cantika tidak mendongak. Ia hanya menunduk semakin dalam, bahunya naik-turun semakin cepat. Isakannya yang tadinya tertahan kini pecah juga.

Arka melangkah mendekat, berlutut di depannya. Jarak di antara mereka hanya sekitar satu meter, tapi terasa begitu jauh. Ia ingin menyentuh bahu Cantika, tapi tangannya terhenti di udara. Akhirnya ia hanya meletakkan tangan di lantai dingin di samping gadis itu.

“Maaf …” kata Arka, suaranya rendah dan berat. “Kamu dengar semuanya, ya?”

Cantika mengangguk kecil tanpa mengangkat wajah. Air matanya menetes ke lantai marmer, meninggalkan bintik-bintik kecil yang mengkilap.

Arka menghela napas panjang. “Aku nggak mau kamu lihat itu. Makanya aku suruh kamu masuk ke sini. Tapi … seharusnya aku nggak biarkan Viona masuk tadi.”

Cantika akhirnya mendongak. Matanya yang biasanya lembut dan tenang kini merah dan bengkak. “Kamu … kamu tunangannya, Mas. Aku tahu itu. Tapi mendengar semuanya … mendengar dia bilang kamu sudah bertunangan enam bulan, mendengar dia memohon supaya kamu sentuh dia … rasanya…” Suaranya pecah. “Aku merasa seperti orang ketiga. Aku merasa kotor, Mas.”

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dada Arka. Ia menggigit rahang, berusaha menahan emosi yang campur aduk. “Kamu bukan orang ketiga. Kamu istriku.”

“Secara agama iya,” balas Cantika dengan suara parau. “Tapi secara hati? Kamu bahkan belum pernah peluk aku sebagai istri. Malam ini … kamu tolak dia dengan sangat tegas. Aku dengar semuanya. Kamu bilang kamu hormati dia karena belum menikah. Lalu aku? Kita sudah menikah, Mas. Tapi kamu … kamu memperlakukan aku seperti tamu yang mengganggu.”

Arka terdiam. Ia tahu Cantika benar. Pernikahan dadakan itu memang belum ia terima sepenuhnya di hatinya. Ia masih terbiasa dengan kehidupan lajangnya, masih terikat dengan Viona yang sudah lama ada dalam hidupnya. Tapi melihat Cantika yang rapuh di depannya, ia merasa bersalah yang dalam.

“Aku … belum siap,” aku Arka jujur, suaranya pelan. “Pernikahan ini terjadi terlalu cepat. Aku nggak menyangka semuanya akan seperti ini. Tapi itu bukan alasan buat aku nyakitin kamu.”

Cantika tersenyum getir, air matanya masih mengalir. “Kamu nggak perlu bohong, Mas. Aku tahu kamu masih mencintai dia. Aku hanya … aku hanya berusaha menjalani peran ini dengan baik. Tapi malam ini … rasanya sakit sekali.”

Arka tidak tahan lagi. Ia meraih tangan Cantika yang dingin dan memegangnya erat. “Dengar aku, Cantika. Aku memang belum bisa bilang aku mencintaimu seperti suami mencintai istrinya. Tapi aku nggak mau menyakitimu. Aku merasa bersalah sekarang. Melihat kamu menangis di sini … hatiku sakit.”

Cantika menatapnya dengan mata yang basah. “Kalau sakit, kenapa kamu tadi ketus sama aku waktu aku mau keluar? Kamu bilang diam di situ dengan suara dingin. Aku takut, Mas. Aku merasa seperti beban.”

Arka mengusap wajahnya sendiri dengan tangan yang bebas. “Itu … aku panik. Aku takut kalau Viona tahu kamu ada di sini, semuanya akan hancur. Bisnis keluarga, hubungan dengan keluarga Viona, semuanya. Aku menutupi rasa bersalahku dengan bersikap ketus. Maaf. Itu salah.”

Cantika menarik tangannya pelan dari genggaman Arka. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Aku mengerti. Kamu sedang terjepit di antara dua perempuan. Satu yang kamu cintai, satu yang terpaksa kamu nikahi.”

“Bukan begitu,” bantah Arka cepat. “Aku awalnya terpaksa menikahimu, tapi aku janji nggak akan menyakiti kamu ,Aku cuma … butuh waktu.”

“Berapa lama, Mas?” tanya Cantika lirih. “Berapa lama aku harus menunggu sampai kamu melihat aku sebagai istri, bukan sebagai orang asing yang tinggal di apartemenmu?”

Arka tidak langsung menjawab. Ia duduk di lantai dingin di depan Cantika, punggungnya bersandar ke bathtub. Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat istrinya dengan benar. Wajah Cantika yang polos, mata yang lembut meski sekarang sembab, bibir yang bergetar menahan tangis. Ia bukan tipe perempuan yang agresif seperti Viona. Cantika selalu tenang, selalu berusaha memahami, selalu menahan diri.

“Aku nggak tahu berapa lama,” jawab Arka akhirnya. “Tapi aku janji, aku akan berusaha. Aku nggak mau kamu menangis seperti ini lagi. Aku nggak mau kamu merasa seperti orang ketiga di rumahmu sendiri.”

Cantika menunduk lagi. “Tadi … waktu dia melepas bajunya, waktu dia memaksa kamu sentuh dia … aku tutup telinga. Tapi tetap terdengar. Aku bayangin kamu pasti tergoda. Dia cantik sekali, tubuhnya sempurna. Aku … aku nggak ada apa-apanya dibanding dia.”

Arka menggeleng tegas. “Jangan bandingkan dirimu dengan dia. Kamu berbeda. Kamu … lebih murni. Aku tolak Viona bukan karena aku nggak tergoda. Tapi karena aku tahu itu nggak benar. Aku nggak mau melakukan itu sebelum semuanya jelas.”

“Termasuk dengan aku?” tanya Cantika pelan.

Arka terdiam sejenak. “Ya. Termasuk dengan kamu. Aku nggak mau sentuh kamu hanya karena kita sudah menikah di kertas. Aku mau … kalau sudah ada perasaan yang tulus.”

Cantika tersenyum kecil, tapi senyum itu penuh kepahitan. “Kamu baik sekali, Mas. Terlalu baik. Sampai-sampai aku merasa semakin kecil.”

Arka meraih selimut kecil yang tergantung di dekat wastafel dan menyelimutinya ke bahu Cantika. “Kamu nggak kecil. Kamu istriku. Malam ini aku sudah menyakitimu tanpa sengaja. Aku minta maaf.”

Mereka diam cukup lama. Hanya suara isakan Cantika yang pelan dan napas Arka yang berat yang memenuhi kamar mandi.

Akhirnya Cantika berbicara lagi, suaranya hampir seperti bisikan. “Mas … boleh aku tanya satu hal?”

“Ya.”

“Kalau suatu hari nanti kamu harus memilih … antara aku dan Viona … kamu akan pilih siapa?”

Arka menatap Cantika lama. Pertanyaan itu berat. Ia merasa dadanya sesak. Di satu sisi ada Viona yang sudah lama bersamanya, penuh gairah dan kenangan. Di sisi lain ada Cantika yang sekarang duduk di depannya, rapuh tapi tulus

1
Alex
semoga segera kebongkar kebusukan mu viona dan Cantika gak sedih lagi arka gak bngung lagi 🥰
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!