NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7 Pertemuan Ayah Dan Anak

"Istri anda sudah melewati masa kritisnya, Tuan. Beruntung anda cepat membawanya ke sini."

Dante tersentak, tangannya yang masih memeriksa hasil laporan pemeriksaan seketika membeku. Ia menatap dokter paruh baya di depannya dengan dahi berkerut.

"Dia bukan istri saya, Dokter. Dia adalah rekan kerja saya."

Dokter itu menaikkan kacamatanya, menatap Dante dengan tatapan tidak percaya. "Bukan istri? Maafkan saya, tapi cara anda menggendongnya masuk ke UGD tadi, juga wajah panik. Saya pikir hanya seorang suami yang bisa terlihat setakut itu kehilangan seseorang."

Dante terdiam, lidahnya mendadak kelu. Ia memalingkan wajah ke arah pintu kamar rawat yang tertutup rapat, di mana Venus sedang terbaring lemah.

"Terlepas dari hubungan anda, anda harus sangat berhati-hati, Tuan," ucap Dokter dengan wajah serius. "Pasien memiliki alergi tingkat tinggi terhadap udang dan kacang-kacangan. Sedikit saja terlambat, saluran pernapasannya bisa tertutup permanen. Itu adalah kondisi yang sangat fatal."

Dante mengepalkan tangannya. Alergi detektif Ve itu menghantam ingatannya tentang Venus. "Alergi udang dan kacang?"

"Benar. Usahakan jangan biarkan dia menyentuh makanan itu lagi. Saya menyarankan anda, sebagai orang terdekatnya, untuk selalu membawa suntikan epinefrin ke mana pun kalian pergi. Nyawanya sangat bergantung pada kewaspadaan orang-orang di sekitarnya," tegas Dokter itu sebelum menepuk bahu Dante dan berlalu pergi.

Dante melangkah masuk ke dalam kamar rawat. Suara monitor jantung yang berbunyi teratur menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.

Ia menatap sosok wanita yang terbaring dengan masker oksigen menutupi sebagian wajahnya. Tangan Venus yang tidak terbalut selimut nampak kemerahan karena ruam.

"Hanya kebetulan..." gumam Dante lirih. "Hanya kebetulan yang sangat aneh."

Dante duduk di kursi samping tempat tidur, kepalanya tertunduk di antara kedua tangannya.

Pikirannya melayang pada malam-malam tujuh tahun lalu, saat ia selalu cerewet memeriksa setiap menu restoran sebelum Venus mencicipinya.

Venus memiliki alergi yang persis sama. Udang dan kacang.

"Siapa kau sebenarnya, Ve?" bisik Dante.

Ia memperhatikan jemari Venus yang bergerak halus dalam tidurnya. Ada keinginan kuat untuk meraih tangan itu, namun Dante menahannya. R

Rasa bersalah menghujam dadanya, ia hampir saja membunuh detektif ini karena kecerobohannya sendiri.

"Maafkan aku," ucap Dante tanpa sadar. Kalimat itu bukan hanya untuk detektif di depannya, tapi juga untuk bayangan masa lalu yang kian menghantui. "Aku seharusnya lebih tahu. Aku seharusnya menjagamu."

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka kasar.

"Mama!" Seorang bocah lelaki berlari masuk, diikuti oleh seorang pria berwajah luka yang nampak panik.

Dante berdiri dengan sigap, langkahnya seketika terhenti saat matanya bertemu dengan mata bocah itu.

Sean berdiri di kaki tempat tidur, napasnya memburu, wajahnya yang babak belur terlihat jelas. Ia menatap Dante bukan dengan rasa takut, melainkan dengan kebencian yang murni dan tajam.

"Apa yang kau lakukan pada Ibuku?" tanya Sean sinis. "Jawab!"

Dante terpaku. Ia tidak mendengarkan pertanyaan itu. Ia hanya bisa menatap wajah Seanx struktur rahang itu, tatapan mata itu adalah cermin dari dirinya sendiri dua puluh tahun yang lalu.

"Kau putra detektif Ve?" tanya Dante dengan suara yang nyaris hilang, matanya beralih pada Leo yang kini berdiri mematung di ambang pintu dengan wajah pucat.

"Mampus aku! Kenapa harus bertemu kak Dante di sini?" batin Leo mematung di ambang pintu, jantungnya serasa melompat ke dasar perut.

Leo meraba topeng kulit di wajahnya, memastikan penyamarannya masih melekat sempurna.

Di depannya, Dante berdiri tegak, memancarkan aura penguasa yang membuat napas siapa pun tercekat.

Dante menyipitkan mata, menatap Leo dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Siapa kalian? Dan kenapa wajahmu dan detektif Ve sama?" tanyanya seraya menatap luka bakar di wajah Leo yang sangat mirip dengan milik Venus.

Leo berdehem, mencoba menstabilkan suaranya agar tidak terdengar seperti adik yang ketakutan. "Saya rekan hidup semati detektif Ve. Dan bocah ini..." Leo merangkul bahu Sean, "Dia putra kami."

Dante tersentak. "Putra kalian?"

"Iya. Namanya Sean," jawab Leo dengan bangga. Ia melirik kakaknya yang nampak kaku, lalu sebuah ide jahat muncul di kepalanya. "Kau sudah menikah lagi dan melupakan istri setiamu, Kak? Rasakan balasan dariku," batinnya.

Leo melangkah mendekati ranjang Venus, mengabaikan Dante yang menatapnya tajam. Ia meraih tangan Venus yang lunglai, lalu mengecup punggung tangannya dengan sangat lembut dan lama.

"Sayang, maafkan aku terlambat datang. Aku gagal menjagamu," bisik Leo dengan nada penuh kasih sayang seolah mereka adalah pasangan yang saling mencintai.

Rahang Dante mengeras. Entah kenapa, pemandangan itu membuat darahnya mendidih. "Tuan, ini rumah sakit. Jaga sikap anda."

Leo mendongak, menatap Dante dengan tatapan menantang di balik topengnya. "Kenapa? Dia istriku. Aku bebas menunjukkan rasa cintaku, bukan? Oh, saya lupa. Tuan Dante ini klien istri saya, ya? Terima kasih sudah membawanya ke sini, tapi sekarang keluarga aslinya sudah ada di sini. Anda bisa pergi."

"Istri?" Dante mengulang kata itu dengan nada rendah, seolah kata itu terasa pahit di lidahnya. "Kalian sudah menikah berapa lama?"

"Cukup lama untuk membuat putra secerdas Sean," sahut Leo santai.

"Benar kan, Nak?"

Sean, yang sejak tadi diam mengamati, menatap Dante dengan tatapan sedingin es. "Paman yang memberi mama ku udang?"

Dante berjongkok agar sejajar dengan Sean. "Itu kecelakaan, Kecil. Aku tidak tahu dia alergi."

"Di duniaku, ketidaktahuan adalah kecerobohan yang mematikan," balas Sean tenang, membuat Dante terdiam seribu bahasa. "Jika Paman tidak bisa menjaga rekan Paman sendiri, mungkin Paman tidak layak mempekerjakannya."

Dante terpaku. Kata-kata bocah enam tahun itu menghantamnya telak. Ada sesuatu tentang Sean, dari cara bicaranya dan keberaniannya yang membuat Dante merasa seperti sedang bercermin.

"Dengar, Tuan!" Leo menyela, menikmati ekspresi bingung dan kesal di wajah kakaknya. "Kami menghargai bantuanmu, tapi istriku butuh istirahat bersama suaminya. Bukankah istrimu juga menunggumu di rumah? Nyonya Bianca, kalau tidak salah? Jangan sampai dia cemburu karena suaminya terlalu lama bersama wanita lain."

Dante tidak bisa berkutik. Ia merasa terusir dari ruangan itu oleh seorang pria berwajah rusak dan seorang bocah yang baru ia temui.

"Baiklah. Aku akan pergi," ucap Dante dingin. Ia melirik Venus sekali lagi sebelum berbalik. "Tapi tugas Detektif Ve belum selesai. Aku akan kembali besok."

Saat pintu tertutup, Leo langsung melepaskan tangan Venus dan bernapas lega. "Gila! Jantungku hampir copot!"

Sean menatap pamannya dengan datar. "Paman aktingnya payah sekali. Kenapa malah mencium punggung tangan? Menggelikan."

"Dengar, Bocah! Itu demi keselamatan kita!" protes Leo sambil mengusap bekas keringat dingin di dahinya. "Tapi lihat wajahnya tadi? Dia terbakar cemburu meski dia sendiri tidak tahu kenapa. Rasakan itu, kakak Brengsek!"

1
🅰️Rion bee 🐝
👍👍👍👍👍..
Kinara Widya
😂😂😂😂😂
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Nice1808: 🤣🤣iya kak
total 4 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
Jungkookieeeeeee97🐰
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
Jungkookieeeeeee97🐰
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Jungkookieeeeeee97🐰
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
Jungkookieeeeeee97🐰
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
Jungkookieeeeeee97🐰
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
Jungkookieeeeeee97🐰
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!