Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIAGNOSA CEMBURU DAN RITME YANG HILANG
Pagi di fakultas hukum biasanya riuh, tapi bagi Kania, riuh itu terasa hampa. Sudah tiga hari Devan menghilang dari radar. Tidak ada pesan "Bangun" atau email berisi koreksi skripsi yang menyebalkan itu. Kania tahu Devan sedang menangani operasi maraton untuk kasus tumor otak yang sempat ia ceritakan di perpustakaan, tapi tetap saja, keheningan ini membuat dadanya sesak.
"Kan, lo kayak zombi. Makan tuh baksonya, keburu dingin," Bianca menyikut lengan Kania.
"Gue nggak nafsu, Bi. Gue kepikiran... gimana kalau operasinya gagal? Terus dia sedih? Terus dia makin nutup diri?" Kania mengaduk kuah baksonya tanpa minat.
"Atau gimana kalau dia lagi ngerayain keberhasilan operasinya bareng dr. Sarah? Secara kan mereka satu tim," timpal Bianca tanpa filter.
Kania langsung berdiri, membuat kursi kantin berderit nyaring. "Gue nggak bisa diem aja. Gue harus ke rumah sakit."
"Heh! Lo ada kelas Pak Hendra sepuluh menit lagi!"
"Titip absen, Bi! Bilang aja gue lagi ada urusan... darurat medis!" Kania menyampirkan tasnya dan berlari menuju parkiran motor.
Rumah Sakit Medika Utama terasa sangat mencekam hari ini. Saat Kania sampai di depan unit bedah saraf, ia melihat suasana yang tidak biasa. Beberapa suster tampak berbisik-bisik dengan wajah tegang. Kania mempercepat langkahnya menuju ruang kerja Devan, namun langkahnya terhenti di dekat taman dalam rumah sakit.
Di sana, di bawah pohon kamboja yang rimbun, ia melihat Devan.
Pria itu masih memakai baju *scrubs* biru tua, rambutnya berantakan, dan bahunya tampak merosot pemandangan yang sangat asing bagi sosok Devan yang biasanya tegak sempurna. Di sampingnya, berdiri dr. Sarah. Wanita itu sedang mengusap bahu Devan dengan lembut, sementara Devan hanya menunduk, memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Kania membeku. Ia ingin mendekat, tapi pemandangan itu terasa begitu privat. Begitu "dewasa". Ia merasa seperti penyusup di dunia yang tidak ia mengerti.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Devan. Post-op complications itu di luar kendali kita," sayup-sayup suara Sarah terdengar.
Kania berbalik dengan cepat. Perasaannya campur aduk antara sedih melihat Devan hancur dan sesak melihat betapa serasinya Sarah yang bisa memberikan ketenangan profesional di saat seperti itu. Ia berlari keluar dari rumah sakit, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menghabiskan tiga puluh menit perjalanan untuk sampai ke sana.
Malam harinya, Kania duduk di balkon kamarnya, menatap ponselnya dengan ragu. Ia ingin menelepon, tapi ia takut mengganggu. Namun, jika ia diam saja, ia merasa akan meledak.
Akhirnya, ia memberanikan diri mengirim pesan singkat.
Kania: Dok... aku di depan rumah. Aku bawa es krim cokelat. Katanya cokelat bisa naikin dopamin. Aku nggak bakal berisik, aku cuma mau naruh ini di pagar kalau Dokter capek.
Sebenarnya Kania berbohong, ia masih di kamar. Tapi lima menit kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah telepon masuk.
"Kania." Suara Devan terdengar serak, sangat lelah, tapi entah mengapa terasa lebih hangat dari biasanya.
"Eh, iya Dok? Dokter udah pulang?"
"Saya di depan pagar. Mana es krimnya?"
Kania terperanjat. Ia langsung lari turun tangga secepat kilat, hampir terjatuh di anak tangga terakhir. Saat ia membuka gerbang, ia melihat mobil Devan terparkir. Pria itu berdiri di samping pintu mobil, wajahnya terlihat kuyu di bawah lampu jalan yang temaram.
Kania mendekat dengan tangan kosong karena memang ia belum membeli es krimnya. "Anu... Dok, soal es krimnya... sebenarnya aku belum beli. Aku cuma mau tahu Dokter udah pulang atau belum."
Devan menghela napas panjang, lalu ia melakukan sesuatu yang membuat napas Kania terhenti. Devan melangkah maju dan menyandarkan kepalanya di bahu Kania. Tidak ada pelukan, hanya kepala pria itu yang terasa berat bersandar di sana.
"Lima menit saja. Biarkan saya begini," bisik Devan.
Kania mematung. Bau antiseptik dan lelah menguar dari tubuh Devan. Tanpa ragu, Kania mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk punggung Devan dengan lembut, seperti yang biasa ia lakukan pada Kenzie anak kecil di cerita-cerita yang sering ia dengar saat sedang sedih.
"Operasinya... nggak lancar ya, Dok?" tanya Kania pelan.
"Pasiennya selamat, tapi ada defisit motorik yang tidak saya duga. Saya merasa gagal sebagai dokter saraf," jawab Devan, suaranya teredam di ceruk leher Kania.
"Dokter bukan Tuhan," ucap Kania tegas. "Dokter itu manusia yang dikasih kelebihan buat bantu orang. Kalau ada yang di luar kuasa Dokter, itu bukan gagal, itu artinya Dokter harus belajar lagi bareng aku. Aku emang nggak tahu saraf, tapi aku tahu kalau Dokter itu dokter terbaik yang pernah ada."
Devan menarik kepalanya, menatap Kania lurus-lurus. Retakan es di matanya kini benar-benar terlihat. Ada kerentanan di sana yang hanya ia tunjukkan pada gadis di depannya ini.
"Kenapa kamu selalu tahu apa yang harus dikatakan, Kania?"
"Karena aku berisik, Dok. Orang berisik itu punya stok kata-kata banyak buat situasi apa pun," Kania nyengir, mencoba mencairkan suasana.
Devan tersenyum tipis kali ini bukan senyum kaku, tapi senyum yang tulus sampai ke mata. "Terima kasih. Dan mana es krim saya? Saya butuh dopamin itu sekarang."
"Eh? Hehe, ayo ke minimarket depan! Aku yang traktir pake uang tabungan skripsi!" Kania menarik tangan Devan.
Saat tangan mereka bertaut, Devan tidak melepaskannya. Ia menggenggam jemari Kania dengan erat, seolah-olah gadis kecil yang ceroboh ini adalah satu-satunya jangkar yang membuatnya tetap waras di tengah badai pekerjaannya yang berat.
Di bawah langit malam, dr. Devan menyadari satu diagnosa baru: Kehadiran Kania bukan lagi sebuah anomali, melainkan tanda vital yang paling ia butuhkan untuk hidup.