NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 Generasi Penebus

9 TAHUN KEMUDIAN. 22 APRIL 1988. PURNAMA.

Solo. Langit bersih. Tidak ada mendung, tidak ada bau anyir. Cuma ada petasan. Karena hari ini 2 ulang tahun sekaligus.

Laras Sinta 9 tahun.

Ardi Anugerah 9 tahun. Anak gue.

Iya, anak gue namanya Ardi. Bukan buat tumbal. Buat nebus nama Ardi yg dulu jadi korban pertama. Istri gue, Sari, yg minta. “Biar Ardi tau, namanya bisa jadi pahlawan, bukan korban.”

Rumah Dina rame. Dia punya anak juga. Perempuan. Umur 8 tahun. Namanya Lestari Kiran. Kiran artinya sinar. Lestari... lu tau lah.

Kami ngumpul. Reuni keluarga besar. Rendi bawa istri + 2 anak. Bayu bawa istri + 1 anak. Fajar? Masih bujang. Katanya, “Gue nikahnya sama korps.” Dia udah jadi Serma Polisi. Tapi dia paling sayang sama anak-anak kita. Om favorit.

Laras Sinta udah gede. Rambut dikepang dua, matanya... satu coklat, satu merah. Tapi merahnya sekarang kayak bara api di tungku. Anget. Tidak nakutin. Dia pinter. Juara kelas. Tapi dia aneh. Dia bisa ngomong sama kucing. Beneran. Kucing garong di pasar nurut kalo dia suruh diem.

Ardi, anak gue, beda. Dia hyperaktif. Suka bongkar radio rusak kayak Rendi kecil. Tapi tiap dia mimpi buruk, dia selalu ngigau satu kalimat: “Om Ardi... lari...”

Kiran, anak Dina, paling kalem. Dia suka gambar. Gambarnya... bagus. Pake krayon. Tapi objeknya selalu sama: 5 orang dewasa jagain 1 anak kecil di pantai. 1 orang lagi, badannya setengah anjing, duduk di belakang.

“Itu siapa, Nduk?” tanya Dina.

Kiran jawab enteng. “Om Min, Om Rendi, Om Bayu, Om Fajar, sama Mama. Yg jagain Sinta. Yg anjing itu... bapaknya anjing baik.”

Kami berlima langsung diem. Merinding.

Laras Sinta, Ardi, Kiran. 3 anak. Generasi Penebus.

Jam 8 malem. Potong kue bolu. Listrik masih sering mati, jadi pake lampu petromak.

Laras tiup lilin. 9 lilin. Matanya merem. Bibirnya komat-kamit.

Selesai tiup, dia buka mata. Langsung liat gue.

“Om Min,” katanya. Suaranya... campuran suara Sinta dewasa sama suara anak kecil. “Loncengnya bunyi.”

Gue kaku. “Lonceng mana, Nduk?”

Dia nunjuk ke atas. Ke langit.

Kami semua noleh.

Purnama. Bulet sempurna. Tapi di pinggir bulan... ada titik hitam. Kecil. Kayak noda.

Kling...

Pelan. Tapi semua denger. Bahkan istri-istri kami.

Dari lemari, kotak kayu jati gue geter. Taring Asu Kober di dalam... nyala. Biru. Tapi kali ini kedip-kedip. Kayak kode morse.

Fajar langsung berdiri. Insting polisi. “Semua ke dalem. Sekarang.”

Terlambat.

Listrik mati.

GELAP.

Terus dari TVRI 14 inch yg mati, nyala sendiri. Semut.

Srekk... srekk...

Terus muncul gambar.

Rekaman CCTV. Hitam putih. Lokasi: Hutan Jati.

Tugu lonceng berdiri lagi. Utuh. Tidak pecah. Di bawahnya, papan nama:

“DS. LARANGAN ANYAR”

“Resmi Dibuka: 22 April 1988”

“Kepala Desa: ARDI WIJAYA”

Ardi Wijaya. Nama almarhum. Nama anak gue.

Di depan tugu, berdiri orang. Pake kemeja KKN. Nametag-nya: “Laras Sinta - Univ. Sebelas Maret”.

Laras Sinta versi 18 tahun. Pake almamater biru. Senyum ke kamera.

Terus dia ngomong. Suaranya tembus dari TV.

“Om... Tante... KKN kelompok kami mulai hari ini. Mohon doa restu. Desa Larangan Anyar nunggu kami.”

Terus TV mati. Meledak. Kebakar.

Lampu petromak aja yg nyala.

Laras Sinta yg 9 tahun... pingsan.

Ardi sama Kiran... nangis kejer. Tanpa sebab.

Dina langsung cek nadi Laras. “Trauma. Syok. Tapi fisik normal.”

Istri gue gendong Ardi. “Ssshh... pantesan dari tadi gelisah.”

Rendi nendang kursi. “JANCUK! KAN UDAH LUNAS! KAN PENAGIHNYA PALSU!”

Bayu buka buku tebel. Buku Induk Desa. Dia kerja di Kelurahan sekarang. Tangan gemeter. “Gue cek... gue cek arsip...”

1 menit.

“Masuk, Min,” bisiknya. Pucat. “Desa Larangan Anyar... statusnya berubah. Dari ‘Desa Fiktif’ jadi ‘Desa Aktif’ per... hari ini. Jam 00.00 tadi. Stempel camat.”

“Kepala desanya?” tanya Fajar.

Bayu nunjukin foto.

Foto 4x6. Ardi. Ardi Wijaya yg KKN 18 tahun lalu. Masih muda. Umur 21. Senyum. Pake seragam SMA.

Status: Hidup.

Gue jatuh terduduk.

Asu Kober Asli bilang utang lunas. KKN dibubarkan. Tapi... dia tidak bilang Desa-nya ikut bubar.

Desa itu hidup lagi. Dan butuh warga.

Butuh KKN.

Butuh... Lonceng.

Taring di kotak gue... berhenti kedip. Sekarang nyala stabil. Terus dari taring, keluar asep. Ngebentuk peta.

Peta Jawa Tengah. Ada titik merah di perbatasan Solo-Klaten. Digambar pake asep.

Di bawah peta, tulisan asep:

“GENERASI PENEBUS: 3”

“TUMBAL PENJAGA: 5”

“KKN 1988: WAJIB”

“KALAU TIDAK: DESA MUNCUL DI SOLO”

Maksudnya? Kalau Laras, Ardi, Kiran tidak KKN ke sana, Desa Larangan Anyar bakal “muncul” di Solo. Nge-replace satu kecamatan. Isinya... kita tau lah. Kenong, pocong, lonceng.

Ini bukan utang. Ini pemerasan.

Dari Desa. Desa itu sendiri yg jadi entitas. Kayak... Asu Kober versi geografis.

Laras Sinta sadar. Dia duduk. Matanya... dua-duanya merah sekarang. Tapi dia tidak serem. Dia sedih.

“Om,” katanya. “Mimpi aku... aku KKN. Sama Ardi, sama Kiran. Kita ber-3 doang. Tidak ada kakak tingkat. Naiknya... colt.”

“Terus?” tanya Dina. Suaranya ibu-ibu yg anaknya terancam. Geter.

“Kita disambut... rame. Tapi... yg nyambut... bukan manusia. Badannya... bayangan. Mukanya... Om Ardi yg di TV. Semua.”

Satu desa isinya Ardi. Copy-an.

Kloning tumbal.

Fajar dobrak meja. “Gue ke Polsek. Gue minta pasukan. Gue bakar itu desa.”

“Gak bisa, Jar,” potong gue. “Lu bakar, dia pindah. Kayak dulu. Desa itu... bukan tempat. Dia... kutukan yg punya Letter C.”

Rendi nyalain kretek. Tangannya gemeter. “Terus? Kita kirim anak-anak kita ke sana? GILA LU, MIN!”

“Enggak,” jawab gue. Cepet. “Kita ikut.”

Hening.

“Kita berlima,” lanjut gue. “Kita jadi Dosen Pembimbing Lapangan. Kita ikut KKN. Umur 32. Bodo amat. Kita jaga dari dalem.”

Bayu ketawa. Histeris. “Lu gila. DPL umur 32. KKN sama anak sendiri. Zaman segini mana ada.”

“Daripada anak kita mati,” sahut Dina. Dingin. “Aku ikut. Aku yg bakal jadi DPL-nya. Sarjana Psikologi. Alasan kuat. Buat program desa.”

Istri gue ngangkat tangan. “Aku juga. Aku lulusan SPK. KKN butuh cek kesehatan warga. Aku masuk.”

Fajar angguk. “Aku izin. Bilang pengamanan wilayah rawan G30S/PKI. Koramil pasti acc.”

Rendi matiin kretek. “Bengkel gue tutup sebulan. Alasan: survei lokasi UMKM desa. Kelar.”

Bayu nutup buku. “Kelurahan gue ada program Inpres Desa Tertinggal. Gue yg pegang. Acc.”

Kami berlima + istri gue. 6 orang. DPL semua.

Tinggal gue.

“Gue...” Gue liat Laras, Ardi, Kiran. Mereka liat gue. Mata mereka... percaya. “Gue yg nulis laporan KKN-nya. Pake mesin tik. Dari dulu tugas gue nulis.”

Selesai. Tim.

Laras Sinta senyum. Matanya balik. Satu coklat, satu merah. Dia ngacungin jempol.

“Om Min... kayak dulu. Om yg nulis. Kami yg jalan. Bedanya... sekarang... kami pulang bawa nama. Bukan tinggal nama.”

Kami pulang bawa nama. Bukan tinggal nama.

Judul novel kita jadi doa.

Jam 12 malem. Purnama masih ada. Titik hitam di bulan... hilang.

Tapi taring di kotak... masih nyala.

Tulisan asep terakhir sebelum padam:

“9 TAHUN LAGI. 22 APRIL 1997.

KKN GENERASI PENEBUS DIMULAI.

JANGAN TELAT.

- DS. LARANGAN ANYAR”

9 tahun lagi. Waktu kita nyiapin mereka. Nyiapin diri.

Gue liat anak gue, Ardi. Dia udah tidur di pangkuan istri gue. Ngiler. Damai.

Gue liat Laras. Dia gambar. Pake krayon. Gambar 6 orang dewasa ngelilingin 3 anak kecil. Di belakang mereka, anjing gede item jagain. Di langit, lonceng pecah.

Di bawah gambar, dia tulis:

“KKM 1988: KAMI KEMBALI MEMBAWA NAMA”

KKM. Kuliah Kerja Menebus.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!