black hole yang menjadi legenda pembunuhan di masanya kini sedang berbaring lemah menahan rasa sakit karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
" dalam hidup ini aku sudah banyak melakukan dosa, dan sudah tidak terhitung berapa nyawa yang aku hilangkan."
" jika sakit ini menjadi menjadi penebus atas dosaku, maka aku bersumpah di kehidupan keduaku aku akan menjadi seorang yang lebih baik dan tidak akan menghilangkan nya orang lagi kecuali itu terpaksa. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iqbal Pertha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ayah dan kakak ipar datang
Gery yang sudah banyak berhadapan dengan hidup dan mati sudah bisa melihat dengan tatapan mata saja jika orang seperti Wira ini tidak bisa di singgung, jika menyinggung orang seperti Wira kamu akan menyesal saat menuju ajalmu.
" urusan kita sudah selesai, aku tidak mau ada hal lain di belakang nanti. Jika orang mu ada yang datang mengusikku, kuharap kau sudah mencuci lehermu sebelum aku memisahkan kepalamu dari tubuhmu." ucap Wira tegas dan di tekankan.
" tuan muda tenang saja semua orangku tidak akan pernah menyentuh siapapun yang terkait dengan tuan muda. " ucap Gery.
" baik aku akan pergi....." ucap Wira bangkit dari duduknya di ikuti firman hanya saja ketika akan lewat jalan itu tidak ada para bawahan Gery sepertinya masih tidak terima.
" buka jalan jangan halangi jalan tuan muda," ucap Gery.
" tapi pimpinan, orang ini sedang menginjak harga diri kelompok kita." ucap salah seorang.
" jika kau merasa pantas menggantikan ku datang kesini dan duduklah lalu beri perintah." ucap Gery geram.
" sekali lagi jika kalian masih menganggap ku pimpinan beri jalan untuk tuan muda." ucap Gery.
Mendengar perintah Gery yang begitu serius orang orang itu mulai membuka jalan dengan mendengus marah merasa tidak puas.
Wira dan firman pun jalan dengan santainya Wira menunjukkan senyum mengejek pada semua orang di sana. Dan pancingan itu berhasil sekitar sepuluh orang datang menyerang nya.
Firman tidak diam dia segera melawan di ikuti Wira juga, tapi nasib sial menimpa mereka 10 orang itu yang berhadapan dengan firman mereka semua mati sedang yang melawan Wira mereka tidak mati tapi akan segera mati karena Wira memutuskan setiap urat nadi mereka.
" jika masih ada yang tidak puas ayo datang aku masih di sini." ucap Wira. Tapi semua orang yang sebelumnya tidak puas itu kini berubah menjadi wajah penuh ketakutan.
" hahaha.... Fery aku tau mereka beberapa dari orangmu, aku sudah melihat ambisimu yang ingin menjadi pemimpin di kelompok ini, kau memanfaat kan momen ini, mengambil simpati semua orang di sini untuk kemudian melakukan kudeta merebut kursi kepemimpinan." ucap Wira membuat Fery gemetar ketakutan.
" Omong kosong." ucap Fery gugup.
" kau pak tua lebih baik hilangkan benalu yang akan membunuhmu kelak jika kau ingin kelompok ini terus ada." ucap Wira lalu pergi begitu saja.
setelah beberapa saat Wira sampai di luar gedung dan saat itu juga suara kencan datang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Gubbbrraaaaakkkk....
itu adalah tubuh seseorang yang jatuh dari salah satu lantai dan menghantam mobil Wira dan firman tau siapa pemilik tubuh itu, itu adalah Fery, salah satu anak buah kepercayaan Gery.
Wira melihat keatas menemukan wajah Gery yang tersenyum dan memberi anggukan kecil, Wira tertawa kecil melihat semua terlalu lucu untuk nya.
...****************...
Ayu yang berada di rumah baru saja selesai makan siang bersama Sasa, ayu tidak memasak makanan itu diantar oleh ojek online, setiap waktu jam makan.
Saat ayu akan membereskan sisa makanan pintu rumah ada yang mengetuk ayu sedikit gugup dan takut, ayu takut itu para penagih hutang atau pun Wira.
" ayu buka pintu ini ayah dan kak mu." ucap suara dari luar.
ayu yang mendengar suara familiar di luar sedikit lega dan bergegas membuka pintu, ayu mendengarkan ucapan Wira untuk mengunci pintu rumah dan tidak keluar serta tidak mengijinkan siapapun masuk jika tidak kenal.
" ayah kakak... Kalian datang...." ucap ayu.
" mana bajingan itu hari ini aku pasti akan membunuhnya...." ucap ayah ayu.
" ayah di sini ada Sasa, tolong ayah jangan bicara kasar." ucap ayu.
" ah cucu kakek yang manis...." ucap ayah ayu segera mendekati Sasa dan membawa kehangatan selayaknya seorang kakek.
" kakak ipar, kakak hamil lagi, selamat ya kak." ucap ayu tulus.
" di mana suamimu yang tidak berguna itu, apa dia sudah kabur dan menimpakan semua masalahnya padamu." ucap Santi.
" kakek mengapa kakek mengatakan hal buruk tentang ayah Sasa." tanya Sasa polos.
" orang itu tidak pantas untuk di sebut ayah, mulai sekarang Sasa dan mama ikut kakek saja." ucap ayah ayu.
" Sasa mau tinggal bersama ayah juga mama." ucap Sasa.
" sayang ayahmu itu sangat tidak baik nanti Sasa akan di marahi terus dan bahkan di pukul...." ucap ayah ayu.
" ayah tolong jangan ajari Sasa untuk membenci ayahnya, bagai manapun sifat Wira itu tetap orang tua Sasa." ucap ayu walau Wira begitu buruk ayu masih begitu menjaga etika antara ayah dan anak, tiap kali Wira berulah ayu akan menjelaskan apa yang terjadi pada Sasa, dengan penyampaian yang bisa di terima oleh Sasa.
" orang tua macam apa yang menelantarkan anak dan istrinya, bahkan dengan biadab nya ingin menjadikan istrinya sebagai alat transaksi membayar hutang." ucap ayah ayu emosi.
" kakek jahat kakek selalu mengatakan hal buruk tentang ayah...." ucap Sasa.
" diam.....( dengan suara keras membentak ) ayah sampahmu itu sudah bukan lagi manusia dia itu binatang." ucap ayah ayu. Sasa ketakutan lalu menangis memanggil ayu dengan sebutan mama.
ayu segera mengambil alih Sasa dari ayahnya itu ayu mencoba menenangkan Sasa.
" cucu kakek sayang maaf maafkan kakek, tadi kakek marah sesaat." ucap ayah ayu.
" mama mama, tidak kakek jahat, Sasa tidak mau bersama kakek, mama mama..." Sasa menangis.
" bagai mana kalo kita beli es krim lalu pergi ke taman bermain, ini sebagai tanda permintaan maaf dari kakek." ucap ayah ayu.
" nggak Sasa nggak mau sama kakek kakek jahat." ujar Sasa.
Ayah ayu sudah habis kesabarannya di kembali dengan nada tinggi berucap kali ini ke arah ayu.
" ayah tidak peduli hari ini juga kamu dan Sasa akan ikut pulang, sekarang kemasi barang mu dan biarkan kakak iparmu membatu." ucap ayah ayu.
ayu memang berpikir untuk pulang kerumah ayahnya hanya saja melihat Sasa yang begitu ingin bersama dengan Wira, ayu sedikit mengurungkan niatnya untuk kembali, tapi di kemudian hari hal ini bisa benar benar terjadi jika Wira masih bersikap kasar dan tempramen.
" ayah berhenti, apa ayah akan terus menakuti Sasa,." ucap ayu Sasa sendiri semakin histeris.
Ayah ayu pun serba salah, di satu sisi dia begitu murka pada menantunya di sisi lain dia juga tidak mau kehilangan anak dan juga cucu nya. Sehingga terkadang emosinya suka meledak.
" ayah ayu bukan lagi anak kecil yang bisa tiap kali ayah atur, ayu sudah memiliki keluarga, ayu juga tau cara pulang jika keadaan tidak baik baik saja, tapi cara ayah yang seperti ini salah." ucap ayu.
" ayu ayah ini hanya menjalankan tanggung jawab ayah yang tidak bisa lepas walau kamu sudah menikah, yaitu melindungi kamu, ayah hanya tidak mau kamu kenapa kenapa." ucap ayah ayu berusaha mengontrol intonasi perkataannya.
" ayu tau tapi lihat sekarang bukannya berjalan dengan lancar ayah membuat nya jadi sulit." ujar ayu.
" Halah alasan saja, urusan anak kecil itu gampang, setibanya di rumah nanti juga sudah lupa, sudah sana segera kamu bereskan semu barang mu ayah akan membawa mu pulang." ucap ayah ayu.
" ayah... Ayah tidak bisa egois." ucap ayu.
" ayu apa kamu masih mau tinggal di sini, rumah tangga yang sudah hampir Karan ini kamu masih mau bertahan, apa kamu mau tertimbun sekalian." ucap Santi.
" kak ayu tau kak ayu tau, hanya saya ayu masih memikirkan Sasa yang masih membutuhkan ayahnya." ucap ayu
" apa yang kamu harapkan dari laki laki sepertinya, kamu mengharapkan pada sesuatu yang merupakan 0 besar." ujar Santi kembali.