Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — Tidak Lagi Sama
Hari itu Bella tidak berada di rumah saat Dominic bangun.
Hal kecil, sebenarnya.
Namun cukup untuk membuat pagi itu terasa berbeda.
Biasanya, meskipun tidak selalu ada percakapan, kehadiran Bella tetap terasa—entah dari suara langkahnya di dapur, atau sekadar bayangannya yang lewat di ruang tengah. Namun kali ini, rumah itu benar-benar kosong.
Dominic berdiri beberapa saat di depan meja makan yang masih sama seperti kemarin—tanpa sarapan, tanpa secangkir kopi, tanpa sesuatu yang menandakan bahwa seseorang sempat berada di sana.
Ia mengernyit sedikit, lalu mengambil ponselnya.
Tidak ada pesan.
Tidak ada catatan.
Tidak ada apa pun.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam, menatap layar itu seolah berharap sesuatu muncul dengan sendirinya.
Namun tidak ada.
Akhirnya, ia meletakkan kembali ponselnya, mengambil jas, dan keluar seperti biasa.
Hanya saja, ada sesuatu yang tertinggal.
Perasaan kecil yang tidak bisa ia jelaskan.
—
Bella sedang duduk di sebuah kafe kecil di sudut jalan, jendela besar di sampingnya memperlihatkan lalu lintas yang berjalan pelan. Secangkir kopi di depannya sudah hampir dingin, namun ia tidak benar-benar memperhatikannya.
Di hadapannya, seorang wanita duduk dengan senyum hangat.
Livia.
“Aku sampai nggak percaya kamu yang ngajak ketemu duluan,” katanya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Biasanya kamu yang paling susah diajak keluar.”
Bella tersenyum tipis.
“Lagi pengin saja.”
Livia memperhatikan wajahnya beberapa detik. Ada sesuatu yang berbeda, meski sulit dijelaskan. Bella masih terlihat sama, tapi sorot matanya tidak lagi sehangat dulu.
“Kamu baik-baik aja?” tanyanya pelan.
Bella mengangguk.
“Iya.”
Jawaban yang sederhana. Terlalu sederhana.
Livia tidak langsung percaya, tapi juga tidak memaksa. Ia hanya menghela napas kecil, lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kamu masih di rumah terus?”
Bella terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.
“Aku lagi mikir buat mulai kerja lagi.”
Alis Livia terangkat.
“Serius?”
“Iya.”
“Dom setuju?”
Bella tersenyum kecil.
“Belum aku bilang.”
Livia menatapnya lebih lama.
“Kamu berubah, Bel.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan.
Lebih seperti pengamatan.
Bella menunduk sedikit, memainkan sendok di cangkirnya.
“Mungkin.”
Ia tidak menyangkal.
Karena ia juga merasakannya.
—
Sore itu, Bella pulang lebih dulu.
Rumah masih kosong saat ia masuk. Ia tidak merasa aneh lagi. Justru, kesunyian itu terasa… biasa.
Ia meletakkan tasnya, lalu berjalan ke kamar, mengganti baju, dan kembali ke ruang tengah dengan langkah santai. Tidak ada yang ia tunggu.
Namun beberapa menit kemudian, suara pintu terbuka.
Dominic pulang.
Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang ingin ia pastikan.
Ia berhenti saat melihat Bella sudah duduk di sofa.
“Kamu ke mana?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Bella mengangkat wajahnya, terlihat sedikit terkejut—bukan karena pertanyaannya, tapi karena nada di dalamnya.
“Keluar.”
“Ke mana?”
Bella menatapnya beberapa detik.
“Kafe.”
“Sendiri?”
“Enggak. Sama Livia.”
Dominic mengangguk pelan, tapi tidak langsung berkata apa-apa. Ada jeda kecil yang terasa aneh.
“Kamu nggak bilang.”
Bella tersenyum tipis.
“Kamu juga nggak tanya.”
Jawaban itu ringan.
Namun cukup untuk membuat Dominic terdiam.
—
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka makan di meja yang sama.
Tanpa rencana.
Tanpa persiapan khusus.
Hanya karena kebetulan waktu mereka bertemu.
Bella duduk lebih dulu, menyendok nasi dengan tenang. Dominic menyusul beberapa saat kemudian, duduk di seberangnya.
Suasana hening.
Hanya suara sendok dan piring yang sesekali terdengar.
“Aku tadi ketemu Livia,” ucap Bella akhirnya.
Dominic mengangguk. “Kamu sudah bilang.”
Bella berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Aku kepikiran buat kerja lagi.”
Sendok di tangan Dominic berhenti.
Ia mengangkat wajahnya.
“Kerja?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu keluar cepat.
Terlalu cepat.
Bella menatapnya.
“Kenapa nggak?”
Dominic menghela napas pendek. “Kamu nggak perlu kerja.”
Bella tersenyum kecil.
“Bukan soal perlu atau nggak.”
“Lalu?”
Bella meletakkan sendoknya.
“Cuma pengin punya sesuatu buat diri sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun ada makna yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.
Dominic tidak langsung menjawab.
Ia menatap Bella, mencoba membaca sesuatu yang tidak lagi mudah ia pahami.
“Kamu merasa kurang?” tanyanya pelan.
Bella menggeleng.
“Enggak.”
“Terus kenapa?”
Bella menatapnya cukup lama.
Lalu menjawab dengan tenang, “Karena aku nggak bisa terus nunggu.”
Sunyi.
Kalimat itu tidak terdengar seperti keluhan.
Tidak juga seperti tuduhan.
Namun tetap saja… terasa.
Dominic menunduk, kembali pada makanannya.
Tidak ada lagi yang dibicarakan setelah itu.
—
Malam semakin larut.
Bella sudah berada di kamar lebih dulu, duduk di dekat jendela dengan lampu redup. Ia menatap ke luar, membiarkan pikirannya berjalan tanpa arah.
Pintu terbuka pelan.
Dominic masuk.
Ia tidak langsung mendekat, hanya berdiri beberapa langkah dari Bella, memperhatikan dalam diam.
“Aku nggak tahu kamu merasa seperti itu.”
Suara itu membuat Bella menoleh.
“Apa?”
“Soal… nunggu.”
Bella terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Aku juga baru sadar.”
Jawaban itu jujur.
Dan justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
Dominic melangkah mendekat sedikit.
“Kamu bisa bilang dari awal.”
Bella menggeleng pelan.
“Kalau harus diminta, rasanya beda.”
Dominic terdiam.
Ia tidak membantah.
Karena ia tahu… Bella benar.
—
Di tengah keheningan itu, ponsel Dominic bergetar.
Suara kecil yang langsung mengubah suasana.
Bella tidak menoleh.
Namun ia tahu.
Dominic mengeluarkan ponselnya, melirik layar, lalu untuk pertama kalinya… tidak langsung bergerak.
Ia tetap berdiri di tempat.
Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Beberapa detik berlalu.
Ponsel itu masih bergetar.
Namun akhirnya… berhenti.
Tanpa diangkat.
Bella tidak berkata apa-apa.
Namun untuk pertama kalinya…
Ada sesuatu yang berubah.
Kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tapi nyata.
—
Malam itu, mereka tidur dalam jarak yang sama.
Namun untuk pertama kalinya sejak lama…
Dominic tidak langsung memejamkan mata.
Ia menatap punggung Bella.
Diam.
Memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia abaikan lagi.
Sementara Bella…
Sudah lebih dulu menutup matanya.
Bukan karena lelah.
Tapi karena ia sudah tidak ingin melihat ke belakang lagi.
END BAB 8
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹