NovelToon NovelToon
DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

DIBALIK NAMA DAN SKANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: Nanda Amalia

Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Belum Selesai

Pagi itu tidak benar-benar datang sebagai awal yang baru bagi Elora, melainkan hanya menjadi kelanjutan dari malam yang belum sempat ia selesaikan secara utuh di dalam pikirannya. Tubuhnya memang terbangun ketika cahaya matahari mulai menembus celah tirai kamar hotel, tapi kesadarannya tidak pernah benar-benar beristirahat sejak kejadian semalam, seolah ada bagian dari dirinya yang terus berjaga, terus mengingat, dan terus menolak untuk percaya bahwa semuanya sudah berakhir. Bahkan dalam kondisi setengah sadar, bayangan itu tetap muncul dengan jelas—langkah kaki yang mengikuti tanpa suara, ruang kosong yang tiba-tiba terasa terlalu sempit, dan perasaan bahwa ia tidak pernah benar-benar sendiri, bahkan ketika tidak ada siapa pun yang terlihat di sekitarnya.

Ia duduk perlahan di tepi ranjang, dengan gerakan yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah tubuhnya masih menyimpan sisa ketegangan yang belum sempat dilepaskan. Tangannya bergerak hampir otomatis mencari ponsel di sampingnya, bukan karena ia benar-benar membutuhkan sesuatu dari sana, tapi lebih karena kebiasaan untuk mencari distraksi—sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya dari rasa tidak nyaman yang terus menempel sejak semalam. Namun begitu layar menyala, sesuatu di dalam dirinya langsung berhenti, seperti refleks yang muncul sebelum ia sempat memahami apa yang ia lihat.

Satu notifikasi.

Dari nomor yang tidak dikenal.

Elora tidak langsung membuka pesan itu, tapi jemarinya berhenti tepat di atas layar, menggantung di antara rasa ingin tahu dan sesuatu yang lebih dalam—insting yang perlahan memperingatkannya bahwa ini bukan sekadar pesan biasa. Ada jeda kecil yang terasa jauh lebih panjang dari beberapa detik, sebelum akhirnya ia menekan layar dengan gerakan yang sedikit kaku, seperti seseorang yang sudah bersiap menerima sesuatu yang tidak ingin ia lihat.

Sebuah foto muncul.

Dan dalam satu detik itu—

segala sesuatu yang sempat ia coba yakini sebagai “sudah selesai” runtuh sepenuhnya.

Itu dirinya.

Diambil dari jarak yang cukup dekat untuk menangkap detail wajahnya, ekspresi kecil yang bahkan ia sendiri tidak sadar ia tunjukkan, dan pakaian yang masih sama seperti malam sebelumnya. Sudut pengambilan gambar itu tidak terlihat seperti kebetulan, tidak seperti foto yang diambil secara acak, tapi lebih seperti sesuatu yang sengaja direncanakan—dipilih, ditunggu, dan diambil di momen yang paling tepat untuk memastikan bahwa ia terlihat jelas, tanpa ruang untuk menyangkal.

Tangannya langsung terasa dingin.

Napasnya terhenti sejenak.

Dan pikirannya, yang sejak tadi sudah tidak sepenuhnya tenang, kini benar-benar kehilangan arah.

Pesan kedua masuk.

—Kamu kelihatan lebih cantik kalau takut.

Kalimat itu tidak panjang.

Tidak kompleks.

Tapi justru karena kesederhanaannya, maknanya terasa lebih tajam, lebih personal, dan lebih mengganggu dari yang seharusnya. Tidak ada ancaman langsung yang eksplisit, tidak ada kata-kata kasar, tapi ada sesuatu yang jauh lebih buruk dari itu—pengakuan bahwa seseorang melihatnya, memperhatikannya, dan menikmati rasa takut yang ia rasakan tanpa ia sadari.

Elora berdiri terlalu cepat, seolah tubuhnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat memproses apa yang sedang terjadi. Langkahnya menjauh dari ranjang tanpa arah yang jelas, sementara tangannya masih menggenggam ponsel itu dengan erat, seperti benda kecil itu tiba-tiba menjadi pusat dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya. Kepalanya dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin ia pikirkan—berapa lama ia sudah diawasi, seberapa dekat orang itu tadi malam, dan yang paling mengganggu… apakah ini berarti semua yang terjadi sebelumnya hanyalah awal.

Jawabannya tidak perlu diucapkan.

Karena semuanya sudah terlalu jelas.

Pintu kamar terbuka tanpa peringatan.

Dan kali ini, Elora bahkan tidak sempat merasa terkejut.

Arshaka masuk dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, tanpa basa-basi, tanpa jeda, seolah ia sudah tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres bahkan sebelum ia melihat langsung situasinya. Tatapannya langsung mencari satu titik di ruangan itu, dan berhenti tepat pada Elora, membaca keadaan dalam hitungan detik tanpa perlu penjelasan panjang.

“Ada apa?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan yang tidak terlihat.

Elora tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya mengangkat ponselnya perlahan, tangannya sedikit gemetar, dan menunjukkan layar itu tanpa perlu menjelaskan apa pun.

Arshaka mengambilnya.

Dan dalam sekejap—

suasana di ruangan itu berubah sepenuhnya.

Matanya membaca pesan itu dengan cepat, tapi berhenti sedikit lebih lama pada foto yang ada di layar. Tidak ada ekspresi berlebihan, tidak ada reaksi yang terlihat dramatis, tapi perubahan kecil di wajahnya cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ini bukan sesuatu yang bisa ia anggap sepele. Rahangnya mengeras, tatapannya menjadi lebih tajam, dan untuk pertama kalinya, ia tidak benar-benar menyembunyikan apa yang ia pikirkan.

“Ini dari siapa?” tanyanya pelan.

Elora menggeleng, suaranya hampir tidak keluar.

“Aku nggak tahu…”

Keheningan yang muncul setelah itu terasa lebih berat dari sebelumnya, bukan karena tidak ada suara, tapi karena ada sesuatu yang bergerak tanpa terlihat—sebuah kesadaran bahwa situasi ini tidak lagi berada di titik yang sama seperti sebelumnya. Ini bukan sekadar kejadian acak. Ini bukan sesuatu yang akan berhenti dengan sendirinya.

Arshaka menurunkan ponsel itu perlahan.

Lalu berkata dengan suara yang lebih dalam—

“Ini belum selesai.”

Bukan dugaan.

Bukan kemungkinan.

Itu kepastian.

Elora menatapnya, dan di titik itu, rasa takut yang sejak tadi ia tahan mulai terasa lebih nyata. Bukan lagi hanya bayangan atau perasaan samar, tapi sesuatu yang benar-benar ada, yang bisa menyentuh kehidupannya kapan saja tanpa peringatan.

“Aku pikir… semuanya udah lewat,” katanya pelan, hampir seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Arshaka menatapnya lebih lama, sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang tidak berubah—

“Orang kayak gini nggak berhenti.”

Tidak ada penenang.

Tidak ada kalimat yang dibuat lebih ringan.

Hanya kenyataan.

Beberapa detik berlalu.

Dan dalam jeda itu—

Arshaka membuat keputusan.

“Kamu nggak keluar hari ini.

Kalimat itu keluar tanpa ragu, tanpa diskusi, tanpa memberi ruang untuk penolakan.

Elora langsung menatapnya.

“Kamu serius?”

“Iya.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Terlalu pasti.

“Aku ada jadwal—”

“Batalin.”

Satu kata.

Pendek.

Tapi mutlak.

Dan di titik itu—

Elora akhirnya merasakan sesuatu yang selama ini hanya ia curigai.

Bahwa apa yang Arshaka lakukan sekarang…

tidak lagi sepenuhnya bisa ia kendalikan.

Sementara di sisi lain—

Arshaka sudah tidak melihat ini sebagai situasi yang bisa dinegosiasikan.

Karena sekarang—

ini bukan hanya tentang seseorang yang mengikutinya di jalan.

Tapi seseorang yang berani melihat lebih dekat.

Berani mengambil.

Berani menunjukkan bahwa ia masih ada.

Dan itu—

cukup untuk membuat Arshaka berubah.

“Aku nggak akan ambil risiko lagi,” katanya pelan, tapi lebih dalam dari sebelumnya.

Elora menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak tahu mana yang lebih membuatnya tidak tenang.

Ancaman yang datang dari luar…

Atau seseorang yang sekarang berdiri di depannya—

dan mulai mengambil alih segalanya dengan cara yang tidak bisa ia hentikan.

Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌

See you di bab selanjutnya...

1
T28J
hadiir kk 👍
T28J
aw.. aw.. aw👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!