NovelToon NovelToon
NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Panqeran Sipit

Judul: Napas Terakhir Lumina

Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Jejak Sang Penyihir

Sena mengangguk mantap. Sorot matanya yang tajam mengunci pandangan Elara, memberikan semacam jangkar di tengah badai kecemasan yang sedang melanda gadis itu. Ada keyakinan yang tak tergoyahkan di sana, sebuah janji yang lebih kuat dari sekadar sumpah prajurit.

“Apapun yang terjadi, aku akan berada di sampingmu, Elara. Sampai napas terakhir,” suara Sena berat namun lembut, seolah hanya ditujukan untuk telinga Elara saja.

“Bukan sebagai bayang-bayang yang mengekor, tapi sebagai tameng yang akan menerima hantaman pertama sebelum menyentuhmu.”

Elara hanya bisa tersenyum tipis, meski ia bisa merasakan jemarinya sedikit bergetar.

Dadanya masih berdegup kencang setelah mendengar penuturan Maya tentang kekejaman Zarthus yang tak berperikemanusiaan—tentang desa-desa yang rata dengan tanah dan jeritan yang dibungkam oleh sihir hitam. Udara di sekitar mereka terasa lebih berat, seolah oksigen perlahan digantikan oleh debu keputusasaan. Mereka sadar, tekad membaja saja tidak akan cukup untuk menembus kabut kegelapan yang dibawa penyihir itu.

“Kita tidak bisa menyerang membabi buta seperti banteng yang terluka,” Sena memecah keheningan, suaranya kini merendah, penuh perhitungan. “Zarthus bukan sekadar musuh dengan otot yang kuat; dia adalah teka-teki yang belum terpecahkan. Setiap langkahnya adalah jebakan, dan setiap kata-katanya adalah racun. Jika kita bertindak tanpa rencana yang matang, kita hanya akan mengantarkan nyawa ke tangannya secara Cuma-Cuma.”

Elara secara tidak sadar menyentuh liontin kristal yang menggantung di lehernya. Ia bisa merasakan denyut energi yang dingin, seolah kristal itu sedang memperingatkannya akan bahaya yang mendekat. “Kau benar. Kita harus tahu di mana dia bersembunyi, siapa yang berdiri di belakangnya, dan yang paling penting... apa yang bisa membuatnya bertekuk lutut. Pasti ada celah, Sena. Tidak ada kekuatan yang sempurna di dunia ini.”

Penyelidikan di Kota yang Mati

Penyelidikan membawa mereka ke sebuah kota tua yang nyaris dihapus dari peta oleh waktu. Kota itu tampak seperti kerangka raksasa; bangunan-bangunan batu yang runtuh ditumbuhi lumut hitam, dan angin yang bertiup di sela-sela reruntuhan terdengar seperti rintihan jiwa yang tersesat. Di jantung kota itu, berdirilah sebuah perpustakaan kuno yang entah bagaimana masih berdiri kokoh, seolah-olah sejarah itu sendiri menolak untuk tumbang.

Selama berhari-hari, mereka mengurung diri di sana. Mereka tenggelam dalam tumpukan debu kertas yang membuat dada sesak dan bau apek perkamen rapuh yang sudah berabad-abad tidak tersentuh tangan manusia. Jari-jari Sena menghitam karena sisa tinta kuno yang mengering, sementara mata Elara mulai memerah karena terus memaksakan diri membaca catatan sejarah Hutan Lumina yang tintanya sudah memudar dimakan usia.

Punggung mereka pegal, perut mereka hanya diisi ransum kering yang terasa seperti tanah, namun pencarian itu tidak sia-sia. Hingga akhirnya, sebuah nama muncul dalam sebuah legenda yang hampir terhapus sepenuhnya dari lembaran sejarah: Jantung Kegelapan.

“Sena, lihat ini,” bisik Elara dengan suara parau. Jemarinya yang gemetar menunjuk sebuah ilustrasi yang mengerikan—sebuah artefak berbentuk kristal hitam legam yang dikelilingi oleh pusaran kabut merah darah.

Sena mendekat, membaca teks kuno yang tertulis di pinggiran halaman dengan suara berat yang bergema di ruangan sunyi itu.

“Jantung Kegelapan... sebuah anomali yang diciptakan oleh Penguasa Kegelapan terdahulu dari sisa-sisa kemarahan para dewa yang terbuang. Ia bukan sekadar senjata, tapi sumber kekuatan murni yang bisa melipatgandakan sihir pemiliknya hingga seribu kali lipat.”

Sena terhenti sejenak, tenggorokannya terasa kering saat membaca baris berikutnya. “Namun, kekuatannya datang dengan harga yang sangat mengerikan: jiwa sang pemilik akan perlahan terkikis, digantikan oleh kekosongan yang hanya bisa dipuaskan oleh kehancuran.”

“Legenda ini menyebutkan bahwa Zarthus sedang memburu artefak ini,” lanjut Elara, wajahnya memucat hingga seputih kapas.

“Jika dia mendapatkannya sebelum kita, Hutan Lumina bukan lagi satu-satunya yang akan jatuh. Seluruh dunia akan menjadi panggung kegelapannya, dan kita semua hanyalah penonton yang menunggu giliran untuk mati.”

Pertemuan di Perbatasan Cahaya

Tanpa membuang waktu sejenak pun, mereka segera meninggalkan perpustakaan itu dan memulai perjalanan ke pedalaman Hutan Lumina yang paling terpencil—wilayah yang bahkan para Penjaga pun enggan menginjakkan kaki di sana. Di sana, pepohonan memiliki wajah yang sedih dan akar-akarnya bergerak seperti ular.

Mereka bertemu dengan sosok-sosok yang hidup di garis batas, orang-orang buangan yang tidak diterima oleh cahaya namun menolak tunduk pada kegelapan. Salah satunya adalah seorang penyihir tua yang matanya telah buta dan tertutup selaput putih, namun ia bisa ‘melihat’ aliran sihir seperti aliran sungai di matanya. Dari bibirnya yang pecah-pecah dan mengeluarkan bau ramuan pahit, ia membisikkan koordinat tempat Zarthus memusatkan kekuatannya.

“Hati-hati, Nak,” bisik si penyihir tua itu sambil memegang pergelangan tangan Elara.

“Kegelapan itu tidak hanya di luar sana, ia juga mencari lubang kecil di dalam hatimu.”

Mereka juga berpapasan dengan sekelompok pemburu bayangan yang terlihat lebih mirip monster daripada manusia. Dari mereka, Sena mendapatkan rute patroli pasukan Zarthus—pasukan mayat hidup yang tidak mengenal rasa sakit maupun rasa takut.

Namun, pertemuan yang paling menentukan adalah ketika mereka menemukan seorang pria yang meringkuk di balik gua sempit.

Namanya Kael. Wajahnya dihiasi luka parut yang dalam, melintang dari dahi hingga dagu—sebuah kenang-kenangan dari Zarthus sendiri. Kael adalah mantan tangan kanan sang penyihir kegelapan yang kini hidup seperti tikus dalam pelarian.

“Zarthus bersembunyi di Benteng Serigala,” Kael meludah ke tanah, matanya berkilat penuh dendam yang mendarah daging. “Tempat itu bukan lagi benteng biasa. Setiap batu batanya telah diolesi darah. Benteng itu dikelilingi oleh sihir pelindung yang akan menghisap energi kehidupan siapa pun yang mencoba masuk tanpa izin. Pasukannya? Mereka bukan lagi manusia. Mereka adalah cangkang kosong, boneka daging yang digerakkan oleh kebencian murni Zarthus.”

“Apa kelemahannya? Pasti ada sesuatu yang bisa menembusnya!” tanya Elara dengan nada tajam, mendesak.

Kael tertawa pahit, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan amplas.

“Kesombongannya. Zarthus merasa dia sudah melampaui dewa. Dia meremehkan setiap musuh yang dianggapnya ‘kecil’ seperti kalian. Dia sangat bergantung pada aliran sihir kegelapan dari pusat benteng. Jika kalian bisa memutus koneksinya dengan sumber kekuatannya, meski hanya untuk beberapa detik, dia akan menjadi rapuh dan lemah... layaknya manusia biasa yang bisa berdarah dan mati.”

Malam Sebelum Badai Besar

Setelah mengumpulkan potongan-potongan informasi yang berharga itu, mereka kembali ke kamp persembunyian untuk menemui Rhys dan para Penjaga Cahaya yang tersisa. Suasana kamp yang biasanya tenang dengan suara kicauan burung kini berubah riuh dan tegang. Bau besi yang ditempa memenuhi udara, bercampur dengan aroma minyak senjata dan mantra-mantra pelindung yang dirapal oleh para tetua.

“Kita harus menyerang sekarang, sebelum bulan mencapai puncaknya,” tegas Sena di hadapan para pejuang yang wajahnya tampak letih namun penuh determinasi. “Setiap detik yang kita buang untuk berdiskusi, Zarthus melangkah selangkah lebih dekat menuju Jantung Kegelapan. Jika artefak itu jatuh ke tangannya, semua persiapan kita akan menjadi sia-sia.”

Rhys mengangguk perlahan, meletakkan tangannya yang besar di atas peta strategis yang terbentang di meja kayu. “Aku setuju dengan Sena. Kita akan menyerang Benteng Serigala saat fajar menyingsing, ketika energi kegelapan berada di titik terendahnya. Ini bukan hanya tentang memenangkan pertempuran, kawan-kawan. Ini tentang mengakhiri teror ini dan merebut kembali rumah kita.”

Malam itu, di bawah naungan pohon-pohon raksasa Hutan Lumina yang seolah ikut berdoa, Elara berjalan sendirian menjauh dari keramaian kamp. Ia menatap rembulan yang sesekali tertutup awan tipis, seolah langit pun enggan melihat apa yang akan terjadi esok hari.

Pikirannya melayang jauh. Ia teringat senyum orang tuanya yang kini hanya menjadi bayang-bayang dalam mimpinya. Ia teringat desanya yang dulu penuh tawa, kini hanya menjadi tumpukan abu. Ia memikirkan ribuan orang yang menggantungkan harapan terakhir mereka pada pundaknya yang mungil.

Ia meremas kalung pemberian bibinya erat-erat, hingga sudut-sudut kristal itu terasa menusuk telapak tangannya. Energi hangat yang familiar mengalir dari kristal itu, merambat ke lengannya dan menenangkan badai di dalam dadanya. Kalung itu seolah membisikkan sebuah rahasia kuno: bahwa dia tidak pernah benar-benar sendirian. Ada Sena yang selalu menjaganya, ada Rhys yang memimpin jalannya, dan ada kekuatan cahaya di dalam dirinya yang kini mulai bangun dari tidurnya.

Elara membalikkan badan, menatap api unggun yang berkobar di kejauhan. Langkah kakinya kini terasa ringan, tidak ada lagi keraguan yang menggelayuti setiap gerakannya. Matanya berkilat dengan tekad yang murni, secerah bintang utara. Besok, fajar tidak hanya akan membawa matahari, tapi juga akan menjadi saksi sejarah: apakah kegelapan akan menelan dunia dalam keheningan abadi, ataukah cahaya akan membakar habis sisa-sisa kejahatan Zarthus hingga tak berbekas dari muka bumi.

1
Alia Chans
semangat✍️👈😍
T28J
terimakasih 👍
Alia Chans
semangat thor😍





jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
T28J
lanjuuuut ✍️
Dindinn
makasiiihhh💪😍
T28J
ceritanya agak cepat, cocok buat platform online👍
T28J
wiih udha bertahun tahun aja 👍
T28J
stasiun senen, jangan jangan authornya tetangga saya ni 👍
T28J
semoga lebih cepat update nya thor
BOS MUDA
next buat yg lebh seruu lg ya
BOS MUDA
panjangnya💪🙏🙏😄
BOS MUDA
mantap ceritanya, panjang bener💪🤭😍
LAMBE TURAH
bagus kali ceritanya
NANDA'Z OFFICIAL
🧐😮😧😱
T28J
cocok dikasih like👍cocok dikasih hadiah💪
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.
Dindinn: makasih kak semangat 💪💪💪💪😍🤭🙏
total 1 replies
absurd
semangat💪
absurd
🤠
absurd
semoga lebih baik dan seru lagi ya ceritanya 🤩
bagus
💪👍
bagus
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!