Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Nisa kaget melihat Ojan memakai kemeja yang dulu ingin ia hadiahkan pada Sandi. Kemeja biru muda lengan panjang, kado yang hampir saja mubadzir, terbuang ke sungai. Pagi ini, Ojan datang untuk mengantarkannya ke kantor setelah semalaman membujuk mati-matian.
"Kenapa Mbak, ganteng ya?" Ojan menahan tawa melihat Nisa bengong menatapnya.
Tak bisa dipungkiri, iya sih, ganteng. Dan tanpa sadar, Nisa mengangguk, namun saat sadar, buru-buru ia menggeleng. "Biasa aja," ralatnya.
"Ah, gak pinter bohong kamu, Mbak. Tatapan kamu sudah membuktikannya kalau kamu sedang terpesona barusan." Ojan tertawa cekikikan.
"Mana jaket kamu?" Aneh saja rasanya melihat Ojan tanpa jaket hijaunya. Terlihat lebih ganteng sih, tapi malah kayak beda orang.
"Disimpen dulu sementara. Lagi mau pamer kemeja mahal, hadiah dari cewek cantik." Menarik sedikit bagian dada kemejanya sambil tersenyum bangga.
Nisa hanya senyum-senyum mendengar pujian Ojan. Kalau berpenampilan seperti ini, Ojan mirip pekerja kantoran. Ia yakin, kalau Ojan jadi staf kantor, pasti banyak cewek yang naksir, karena selain ganteng, dia juga tinggi dan badannya proporsional. Ojan juga ramah dan humoris, tipe-tipe cowok idaman pada cewek.
Ojan menyodorkan helm pada Nisa. Bukan helm hijau seperti biasanya, tapi helm lain. "Biar vibesnya, kayak lagi diantarin pacar. Bener gak, Mbak?" menelengkan kepala ke arah Nisa.
Nisa hanya senyum, setelah memakai helm, langsung naik ke jok belakang. Jika tadi hanya samar-samar, sekarang aroma wangi semakin kian tercium jelas. "Kamu mandi parfum, wangi banget."
"Masa sih, Mbak. Ya biar kamu betah, dan duduknya gak belakang-belakang banget." Ojan tertawa, menyalakan mesin motornya lalu tancap gas.
"Jan, parfum kamu wanginya kayak parfumnya Pak Yapto."
"Hah?" Ojan sedikit kurang dengar, suara Nisa kalah dengan deru motor.
"Wangi parfum kamu kayak Pak Yapto." Nisa bicara sedikit lebih keras, dan dekat telinga Ojan. "Pak Yapto itu bos di perusahaan tempatku kerja. Beneran loh Jan, mirip banget wanginya. Aku kalau gak sengaja papasan sama beliau, ya seperti ini wanginya."
"Ah, masa sih, Mbak?" Ojan merutuki diri sendiri yang tadi malah pakai parfum Papanya. Lupa pakai parfum saat keluar kamar, malas mau naik lagi, alhasil masuk kamar Papanya, minta parfum. "Padahal ini parfum murahan, beli di pasar malam, masa mirip parfumnya CEO."
Nisa tertawa cekikikan. "Mungkin yang bikin versi KW nya terlalu pinter, baunya sangat mirip."
Sepanjang jalan, setiap ada kesempurnaan, Ojan pasti menatap Nisa dari spion. Wajah manisnya gak bikin bosen, yang ada semakin ditatap, semakin bikin jantung jedag jedug. Jadi pengen terus lampu merah, biar natapnya bisa puas.
"Jan, udah hijau tuh." Nisa menepuk bahu Ojan yang malah bengong saat traffic light sudah berganti warna.
Ojan tersenyum lalu menarik gas. Bisa-bisanya ia seperti ini. Setiap ketemu Nisa, jantungnya berdebar, bawaannya pengen natap mulu. Gak ketemu sebentar, udah kangen berat. Padahal sama pacar-pacarnya yang dulu gak terlalu seperti ini. Mungkin karena dulu, dia gak perlu efforts untuk mendapatkan cewek. Rata-rata dia pacaran dengan cewek yang ia taksir, dan cewek itu juga ngasih sinyal yang sama. Nisa beda, ia butuh efforts. Selain itu, banyak sekali hal-hal yang ia kagumi dari seorang Nisa.
"Makanya lihat depan, jangan lihat spion mulu. Lampu udah hijau, gak ngehkan," omel Nisa.
"Mbak."
"Hem."
"Kamu cantik." Menatap Nisa dari spion.
Nisa memutar kedua bola matanya malas. "Masih pagi, Jan, jangan gombal."
"Tapi beneran loh Mbak, kamu cantik."
Nisa hanya bisa geleng-geleng. "Main kamu kurang jauh. Staf perempuan di tempat kerjaku cantik-cantik, aku mah apa."
"Ya mereka cantik di mata cowok lain, tapi di mataku, cantik itu ya kamu."
Nisa tersipu malu. "Jan, helmnya sesek nih, kepalaku makin besar."
"Hahaha." Keduanya tertawa lepas bersama.
"Mbak."
Nisa menatap spion saat dipanggil.
"Kirain kamu cantik pas nangis doang, ternyata kalau ketawa, makin cantik."
Sebelum ke kantor Nisa, Ojan mengajak gadis itu mempir ke warung soto langganannya. Hari ini sengaja mengajaknya berangkat pagi agar bisa mampir dulu. Dua mangkuk soto koya plus 2 gelas jeruk hangat terhidang di depan mereka.
"Aromanya enak banget." Nisa jadi makin lapar. Ia mencicipi sedikit kuah sotonya.
"Gimana, enakkan?"
Nisa mengangguk setuju. "Kamu sering kesini?"
"Sering banget. Disini selain enak, harganya juga terjangkau. Cocoklah untuk profesi kayak kita-kita." Ia mengambil dua buah kerupuk dari dalam toples, menyerahkan satu pada Nisa. "Kalau mau referensi makanan enak daerah sini, tanya aja ke aku. Aku tahu semuanya, mana yang enak, mana yang enggak."
"Yakin deh, secara driver ojol gitu loh."
"Hahaha."
"Eh Jan, hari ini aku yang traktir ya. Aku baru gajian kemarin."
"Apaan sih, Mbak, gak usah, aku aja."
"Gantianlah, masa tiap makan kamu terus yang bayar. Hari ini pokoknya aku yang bayar."
"Gak usah Mbak, biar aku aja. Kamu simpan aja duit kamu."
"Udah, gak usah sok kaya kamu."
Ojan speechless dikata sok kaya, hampir saja ia keselek sedotan.
"Simpan aja duit kamu buat beli bensin dan bayar cicilan motor." Dari plat dan kondisi motor, Nisa bisa tahu kalau motor itu baru setahun dibeli.
"Dih, nyicil. Aku beli cash, Mbak."
Nisa auto tertawa cekikikan.
"Dih gak percaya."
"Percaya kok percaya." Nisa masih aja tertawa.
"Nanti aku bawain BPKB nya, biar kamu percaya."
Selesai sarapan, mereka meneruskan perjalanan ke kantor tempat Nisa bekerja.
Ojan menurunkan Nisa di depan gedung kantor. Bukan di depan lobi, tapi di depan pagar. Bak seorang kekasih, ia ikut turun saat Nisa turun dari motor, lalu membantunya melepas helm.
"Berantakan gak?" Nisa merapikan bagian depan rambutnya yang dikuncir. Biasanya ia bercermin di kaca spion motornya, tapi kali ini malu jika mau bercermin di spion motor Ojan.
"Cantik kok."
Nisa nyengir. Pagi ini, entah sudah berapa kali ia dipuji cantik.
"Entar jam 5 kan pulangnya?" Ojan kembali memastikan agar tak telat menjemput Nisa.
"Iya."
"Ya udah, sampai ketemu nanti."
Nisa melangkah memasuki halaman kantor, sementara Ojan masih tetap disana, menatap hingga wanita itu hilang dari pandangannya. Ia menyimpan helm kedalam jok motornya, lalu tancap gas. Bagaimana kalau Papanya tahu dia naksir OG di kantornya, kira-kira bakal seperti apa responnya. Berharap kedua orang tuanya langsung setuju, kayaknya mustahil. Tapi ia tak akan menyerah. Astaga, kenapa jadi jauh banget mikirnya, sampai restu segala, padahal jadian aja belum. Dapetin dulu hati Nisa, baru berjuang mendapatkan restu.
Saat berdiri di depan lift, menunggu pintunya terbuka. Tiba-tiba, aroma yang tak asing, mengganggu indra penciumannya. Ia melirik, dan ternyata benar, Sandi berdiri tepat di setelahnya.
"Dianter siapa tadi, pacar kamu?"
Nisa memilih tak menjawab. Menurutku sangat tidak penting menjelaskan soal itu pada orang yang telah menjadi mantan.
Saat pintu lift terbuka, Nisa masuk lebih dulu, lalu disusul Sandi. Sesaat kemudian, seorang staf perempuan masuk dengan tergesa-gesa.
apakah akan marah,atau Nisa disuruh ngalah,udaaah terima aja.Sandi mank jodohnya Naina...
kalau seperti itu,ku doain ibu,ayah dan Naina plus Sandi menderita seumur hidup 🤬🤬🤬🤬🤬
🤣🤣🤣