Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pakaian dan Barang Baru
Pagi itu, Cassia hampir tersandung ketika membuka pintu apartemennya. Dia baru mendapat pesan dari Max bahwa barang-barang baru miliknya sudah ada di depan pintu.
Sepuluh paperbag besar berjejer rapi di lorong, persis di depan pintu kamarnya.
Cassia mengusap mata. Baru saja pukul 05.30. Rambutnya masih kusut, wajahnya masih mengantuk, dan dia hanya mengenakan kaus oblong lusuh serta celana pendek.
“Sebanyak ini?” gumam Cassia, dan kemudian mengangkut bergantian paperbag itu ke dalam rumahnya.
Lalu dia langsung membuka satu per satu paperbag itu.
Ada blazer krem dengan potongan sempurna. Sebuah tas kulit berwarna caramel. Sepatu pantofel hitam dengan sol tipis yang empuk saat diinjak.
Blouse kain sutra yang terasa dingin di telapak tangannya. Sebuah jam tangan dengan angka Romawi, mungil, elegan.
Lalu pakaian-pakaian lain yang bahkan dia sendiri tidak berani memilih di toko karena melihat harganya saja sudah membuat perutnya mulas.
‘Dia menghabiskan banyak uanhmg untuk ini,’ pikir Cassia, tapi senyumnya tidak kunjung padam.
*
*
Pukul 08.15, Cassia berdiri di depan cermin walk in closet.
Riasannya tetap sama, bedak tipis, sedikit lip tint di bibir, hanya itu saja. Rambutnya tetap diikat ekor kuda—bukan sanggul elegan atau gelombang.
Tapi pakaiannya berbeda. Blazer krem itu, kemeja putih polos dengan bahan sutra yang lembut, celana panjang hitam yang jatuh persis di mata kaki, dan sepatu elegan yang haknya tak terlalu tinggi membuat langkahnya terasa lebih ringan.
Cassia menatap bayangannya sendiri. Dia masih Cassia. Wajah yang sama, rambut yang sama, riasan yang sama.
Tapi apa yang dipakainya kini berubah, tampak lebih modern dan classy. Dia kemudian tersenyum.
*
*
Di pintu putar gedung kantor, security yang biasa menyapanya dengan datar mengangkat alis. "Pagi, Nona Cassia. Kau terlihat lebih bersinar,” ucapnya sambil melirik tas di tangan Cassia.
"Pagi. Terima kasih," jawab Cassia sopan, meskipun dia merasa tersanjung dengan hal itu.
Lift berhenti di lantai 11. Pintunya terbuka.
Efeknya begitu cepat. Brenda, yang duduk di meja resepsionis, hampir menjatuhkan gelas kopinya. "Cassia? Oh my God."
Cassia tersenyum canggung. "Pagi, Brenda."
"You look so amazing today,” ucapnya ikut senang melihat penampilan Cassia.
Cassia tidak sempat menjawab karena suara-suara lain sudah berdatangan. Dari ruangan lain, dari lorong, dari meja-meja yang dilewatinya—semua suara berbisik atau tidak sama sekali tidak berbisik, telinganya menangkap potongan-potongan kalimat yang semuanya bermuara pada pertanyaan yang sama. “Apa yang terjadi pada Cassia?”
Padahal dia masih Cassia yang sama. Wajah polos tanpa polesan tebal. Rambut kuda yang diikat rapi.
Tapi apa yang dipakainya hari ini, membuat mereka seperti melihatnya untuk pertama kalinya.
Tuan Joe dari divisi keuangan yang biasanya tidak pernah menyapanya ketika tak ada Max, tiba-tiba mengangguk dan berkata, "Cassia, ada yang berbeda hari ini. Beginilah seharusnya. Self reward. Semangat, ya," sambil tersenyum.
Kate dari tim kreatif yang terkenal dingin, memandangnya lebih lama dari biasanya. "Warna blazernya cocok dengan tone kulitmu. Aku suka kau yang seperti ini. Pertahankan," katanya, datar, sebelum berbalik pergi.
Tapi bagi Cassia, itu sudah seperti kalimat terpanjang yang pernah Kate ucapkan padanya dalam satu tahun bekerja bersama.
Cassia mulai berpikir. ‘Apakah selama ini aku terlalu kejam pada diriku sendiri? Aku tak memperhatikan diriku sendiri, itulah kenapa orang-orang enggan mendekatiku, termasuk Max. Self reward, benar kata Tuan Joe, aku tak pernah memberi penghargaan pada dirimu sendiri atas kerja keras yang telah kulakukan selama ini.’
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭