"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7
"Umm?" suara Anya pelan yang keluar secara spontan, ketika matanya menatap bingung pak Adiwijaya. Anya merasa tidak enak, jika terlalu lama memandang sang majikan. Apalagi, ini pertemuan pertamanya dengan orang seperti Adi yang terkenal berwibawa.
"Apa kamu sudah makan Anya?" tanya Adi dengan ramah. Di pertemuan pertama mereka, Adi sudah merasa bahwa Anya adalah anak yang baik.
Di umurnya yang sepantaran dengan Bianca, ia harus bersusah payah bekerja menjadi pembantu seperti saat ini. Pasti, kehidupannya tidaklah mudah. Begitu yang Adi pikirkan ketika sekarang melihat kepolosan dari wajah Anya yang lugu.
Terlihat amat ketidak senangan yang menumpuk di hati Bianca sekarang, ketika sang ayah malah seperti sangat perhatian kepada Anya. Pembantu baru di rumah besar ini.
"Apa-apaan, sih ini ... Kok malah kayak papih lebih khawatir kepada anak kampung! Ini dari pada aku? ..." ucap Bianca dalam hati, yang tidak bisa berbuat apa-apa selain memendam amarahnya kepada Anya saat ini.
Terlihat beberapa kali juga Laras melirik dan memperhatikan tingkah Bianca yang sangat tidak senang dengan kondisi seperti ini.
"Anu ... Sudah Tuan, saya sudah makan tadi di kasih sama Bi Inah ..." ujar Anya, yang merasa tekanan udara di sekelilingnya menjadi sangat kuat. Ia merasa seperti sedang di perhatikan oleh dua harimau.
"Ah, begitu ... Tapi jika mau, kamu boleh Anya ikut makan malam bersama kami," sambung Adi, yang merasa sangat perhatian kepada Anya di banding Bianca yang sedang duduk di sebelahnya.
"Sudah pih ... Mungkin Anya sekarang sudah merasa terlalu kenyang ... Iyaa, kan Anya? ..." kata Laras bersikap manis di depan suaminya, namun ketika melihat Anya, ia seperti melotot ingin segera Anya pergi cepat-cepat dari meja makan ini sekarang.
Tekanan yang di berikan Laras semakin membuat perasaan Anya tidak nyaman, dan ingin segera cepat-cepat meninggalkan meja makan keluarga ini.
"Ah, i-iya Nyonya ... S-saya sudah merasa kenyang sekarang ..." ucap Anya pelan, dengan perasaan ragu dan di penuhi rasa takut dari kedua majikan wanitanya ini.
"Ah ... Begitukah? ... Baiklah," sahut Adi sedikit merasa kecewa, seraya melihat Laras yang langsung mengambilkan nasi dan beberapa lauk di depannya untuk Adi makan.
"Hmm ... Kalau gitu, saya permisi dulu ..." kata Anya pelan dengan sopan, seraya terus menunduk menjatuhkan sebelah lengannya ketika hendak berbalik badan.
Ketika Anya hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, Bianca yang berada di sebelah Anya dan merasa sangat kesal sekali dengannya saat ini, sengaja mencegah kaki Anya agar ia tersandung.
Tek!
Anya yang sekarang kehilangan keseimbangan 'pun harus terjatuh di samping Bianca sambil memegang nampan saat hendak pergi.
Bruk!
Semua mata kini tertuju kepada Anya yang sudah jatuh tersungkur akibat perbuatan Bianca.
"A-aduh ... Aw!" suara Anya yang keluar secara tiba-tiba, berusaha bangkit kembali berdiri lagi dengan rasa sakitnya.
Namun ketika hendak berdiri, Bianca yang memang sengaja ingin moment jatuh itu terjadi, langsung berpura-pura baik dengan menolong Anya. Agar mendapat perhatian lebih dari ayahnya yang juga terlihat kaget.
"Anya?!" kaget Bianca pura-pura, langsung meletakan kedua tangannya di pundak Anya dan spontan mendekat ke arah nya. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Bianca, berpura-pura khawatir seraya membantu Anya kembali berdiri.
Anya yang tahu bahwa ini perbuatan sengaja yang Bianca lakukan, hanya bisa sabar ketika berusaha melirik Bianca yang kini berada di sebelahnya.
"Ti-tidak, aku baik-baik saja ..." ucap Anya pelan, ragu dan penuh dengan perasaan cemas akan dirinya. Rasa sakit itu kini semakin terasa ketika Bianca sedikit mencengkram dengan kuat kedua pundak Anya.
Terlihat sebuah senyuman di wajah Laras yang masih duduk di depan Adi, sedangkan Adi sendiri, menatap Anya dengan rasa cemas sekarang. Dan hal itu di perhatikan Laras.
"Hati-hati Anya ... Nanti, jatuh lagi ..." kata Bianca, mendekatkan wajahnya ketika membantu Anya berdiri. "Lain kali ... Jangan bicara terlalu banyak di depan papih gua! ... Ngerti!?" sambungnya dengan ancaman, pelan berbisik di telinga Anya agar tidak terdengar oleh Adiwijaya.
Anya hanya bisa pelan mengangguk, karena masih merasakan sakit di lengan dan kakinya saat ini. "I-iyaa Non ... Terimakasih ..." kata Anya, berterimakasih kepada Bianca yang tidak berani ia tatap.
Kemudian, Anya pergi melangkah meninggalkan keluarga itu untuk mereka makan malam. Ketika di tinggal Anya pergi, sebuah senyum terukir di wajah Bianca saat melihat Anya yang terlihat susah untuk berjalan. Bahkan, tangan satunya Anya yang lain, memegang bahunya sendiri sambil terus melangkah pergi ke arah dapur.
Bianca kembali dengan rasa tidak bersalahnya duduk di samping ayahnya lagi. Ia terlihat puas atas kemenangan dari kecemburuannya terhadap Anya.
Celentang ... !!!
Suara Adiwijaya ketika berhenti makan, menjatuhkan sendok dan garpunya ke piring yang masih tersisa makanan. Sontak hal ini mendapat perhatian dari Bianca dan Laras yang merasa kaget berkat bunyi alat makan itu.
"Kamu mau kemana, pih? ... Kok, nggak di habiskan makanan nya?" tanya Laras, merasa heran karena hal seperti ini jarang terjadi.
Bianca terus menatap ayahnya, merasakan perasaan yang sama dengan ibunya saat ini. Namun, ia tidak berani bertanya, melihat dari ekspresi yang di tunjukan ayahnya seperti sedang kesal.
"Tiba-tiba ... Aku merasa kenyang. Aku ingin tidur lebih dulu," kata Adiwijaya dengan cepat, tanpa melihat kedua keluarganya. Ia beranjak dari kursinya lalu pergi begitu saja meninggalkan Laras dan Bianca yang belum sempat menikmati hidangannya.
Tap ...
Tap ...
Tap ...
Suara langkah dari orang yang paling berkuasa di rumah ini. Laras dan Bianca hanya bisa terdiam melihat punggung sang ayah sekaligus suami dari Laras itu pergi berjalan menjauh menaiki tangga.
Tiba-tiba saja juga Bianca kembali memasang ekspresi kesalnya. Terlihat deru nafasnya kini semakin agak sedikit cepat dari biasanya.
"Pasti ini gara-gara anak kampung itu!" kata Bianca dengan kesal, ketika pandangan anak dan ibu ini saling bertatapan.
"Sabar sayang ... Kamu harus bisa mengendalikan emosi kamu. Kalau hal seperti tadi di lihat papih kamu, bagaimana?" ujar Laras, memberi Bianca sedikit nasihat agar tidak terlalu menunjukan kebenciannya kepada Anya.
"Kok mamih jadi nyalahin aku sih? ... Yang harusnya di salahin tuh, Anya! Kenapa dia sok cari perhatian kaya tadi di depan papih?" kata Bianca, merajuk kesal atas apa yang terjadi kini.
Laras langsung berjalan, mendekat ke arah Bianca dan memeluknya dari belakang dengan perlahan.
"Iyaa, sayang ... Mamih tahu persis apa yang kamu rasakan tadi. Maka dari itu, mamih kasih tahu kamu, jangan sampai ... Papih malah membenci kita jika tahu, kita tidak bersikap baik kepada Anya ..." ucap Laras pelan, di samping telinga Bianca agar anak itu dapat mengerti maksudnya.
Ekspresi kemarahan Bianca kini semakin terlihat, di saat ia sekarang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menerima masukan yang di berikan ibunya sekarang di samping wajahnya.
Bersambung ...