Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Bintang Jatuh Dan Logika Langit
Kabar tentang keberhasilan Permaisuri Alessia menggagalkan sabotase sumber air menyebar secepat api yang tertiup angin di musim kemarau. Di pasar-pasar, di kedai tuak, hingga ke pelosok desa, rakyat mulai membicarakan sosok "Permaisuri Ajaib" yang bisa melumpuhkan pengkhianat tanpa pedang. Namun, di balik kemeriahan itu, sebuah bayangan gelap merayap dari balik tembok Biara Suci di Pegunungan Utara.
Ibu Suri Beatrice tidak sedang duduk diam meratapi nasibnya. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan kuno yang ia curi dari perpustakaan rahasia biara—gulungan yang berisi ramalan tentang "Bintang dari Langit Lain".
"Jika Magnus tidak bisa disadarkan oleh cinta masa lalu, maka biarlah rasa takut akan bencana yang menggerakkan rakyatnya," desis Ibu Suri sembari menyerahkan surat rahasia kepada seorang utusan. "Kirim ini pada Pendeta Agung. Katakan padanya, takhta Orizon sedang diduduki oleh entitas yang akan memanggil amarah Dewata."
Pagi itu, Aula Sidang tidak dihadiri oleh para menteri, melainkan oleh para tetua Kuil Agung yang berjubah abu-abu. Di tengah mereka, Pendeta Agung yang kemarin bersujud saat cermin pecah, kini berdiri dengan wajah tegang. Di tangannya terdapat kitab ramalan setebal bantal.
"Yang Mulia Raja," suara Pendeta Agung bergetar namun tegas. "Kami datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memperingatkan. Ramalan kuno menyebutkan: 'Apabila jiwa yang bukan dari rahim dunia ini menduduki singgasana mawar, maka tujuh bencana akan turun menyapu bumi Orizon.'"
Alesia yang duduk di samping Magnus merasa telinganya gatal. "Waduh, Pak Tua. Kemarin bilang saya jiwa yang dipilih tak destiny, sekarang kok malah jadi pembawa sial? Konsisten dikit dong, kayak harga sembako!"
"Mohon ampun, Permaisuri," sahut Pendeta Agung dengan dahi berkerut. "Hancurnya Cermin Kebenaran adalah tanda pertama. Munculnya kemampuan Anda yang... tidak lazim, adalah tanda kedua. Ibu Suri telah mengirimkan saksi-saksi dari biara yang melihat tanda-tanda alam mulai berubah di Utara. Mata air mengering, dan hewan-hewan hutan berlarian masuk ke pemukiman."
Magnus menggebrak kursi singgasananya. "Itu fenomena alam biasa, Pendeta! Jangan biarkan provokasi Ibu Suri mengaburkan akal sehatmu!"
"Namun rakyat mulai gelisah, Yang Mulia," timpal seorang tetua kuil lainnya. "Mereka mencintai Permaisuri, namun mereka lebih takut pada kutukan Dewata. Jika Permaisuri tidak bisa membuktikan bahwa keberadaannya membawa berkah, maka kami harus melakukan upacara pengembalian jiwa."
Alesia mengerutkan dahi. "Upacara pengembalian jiwa? Maksudnya gue mau diusir balik ke Depok pake ritual?"
"Itu adalah upacara pemisahan jiwa dari raga, Yang Mulia," bisik Lily yang berdiri di belakang Alesia dengan wajah pucat.
"Buset, itu mah namanya pembunuhan halus!" seru Alesia. Ia berdiri, menatap tajam ke arah barisan pendeta. "Oke, Pak Pendeta yang terhormat. Lu bilang ada tanda-tanda alam kan? Mata air kering dan hewan lari ke kota?"
"Benar, Permaisuri."
"Boleh gue kasih tau logika sederhana?" Alesia melangkah turun. "Mata air kering di Utara itu bukan karena kutukan, tapi karena menteri-menteri lu yang korupsi itu nebangin pohon di atas gunung buat dijadiin kayu gelondongan! Kalau pohon abis, air kaga ada yang nahan, ya keringlah!"
Aula itu mendadak sunyi. Para pendeta saling pandang.
"Soal hewan yang masuk pemukiman," lanjut Alesia, "ya iyalah mereka masuk kota! Rumah mereka, alias hutan itu, lu babat semua! Mereka mau makan apa? Masa mau pesen ojek makanan? Mereka ya nyari makan ke tempat manusia!"
"Itu... itu hanya asumsi Anda!" bantah salah satu pendeta.
"Bukan asumsi, itu ekologi! Ilmu tentang hubungan makhluk hidup sama lingkungannya," Alesia berkacak pinggang. "Lu semua ini pinter baca kitab, tapi kaga pinter baca alam. Dewata kaga marah sama gue, Dewata marah sama orang-orang yang ngerusak ciptaannya!"
Magnus menatap istrinya dengan binar kagum. Ia tidak pernah menyangka logika dari dunia lain ini begitu tajam membedah masalah yang selama ini dianggap mistis di dunianya.
"Jika memang begitu," kata Pendeta Agung, "buktikan. Ramalan itu mengatakan bencana ketiga adalah 'Wabah yang Tidak Terlihat'. Saat ini, di desa perbatasan utara, penduduk mulai jatuh sakit dengan bintik-bintik merah dan demam tinggi. Jika Anda bisa menyembuhkan mereka tanpa sihir, kami akan mengakui bahwa Anda bukan pembawa bencana."
Alesia terdiam sejenak. Bintik merah? Demam tinggi? Wah, jangan-jangan ini campak atau demam berdarah.
"Oke, gue terima tantangannya," sahut Alesia mantap. "Gue bakal ke sana. Tapi gue minta satu hal: kasih gue akses ke gudang obat kuil dan ijin buat bawa tim 'Mata-Mata Mawar' gue."
"Alessia, itu berbahaya," Magnus memperingatkan.
"Bang, lu percaya kan sama gue? Gue kaga bakal mati konyol karena bintik merah. Gue punya senjata rahasia namanya... kebersihan," bisik Alesia pada Magnus.
Perjalanan ke perbatasan Utara memakan waktu dua hari. Alesia, Magnus, Lily, dan tim Mata-Mata Mawar tiba di sebuah desa yang tampak sangat lesu. Bau amis dan sampah yang menumpuk di parit-parit desa langsung menyambut hidung Alesia.
"Pantesan sakit semua," gumam Alesia sambil menutup hidungnya. "Ini mah sarang kuman, bukan kutukan."
Alesia langsung mengumpulkan para penduduk yang masih sehat. Ia berdiri di atas sebuah kotak kayu bekas.
"Warga sekalian! Dengerin gue! Nama gue Alesia, Permaisuri kalian!" teriaknya. "Lu semua pengen sembuh kagak?!"
"Pengen, Gusti!" sahut mereka lemah.
"Oke! Syarat pertama: Berhenti nyalahin setan atau bintang jatuh! Syarat kedua: Bersihin ini semua got! Jangan ada air menggenang! Bakar semua sampah! Dan yang sakit, pisahin di satu barak khusus, jangan dicampur sama yang sehat!"
"Tapi Gusti... Pendeta bilang kami harus berdoa di kuil sepanjang hari," ucap seorang tetua desa.
"Doa itu bagus, tapi Dewata juga kasih lu tangan buat bebenah!" balas Alesia. "Lily! Bagikan sabun yang kita bikin kemaren! Mita! Rebus semua air minum, jangan ada yang minum air mentah dari sungai!"
Selama tiga hari berikutnya, Alesia benar-benar turun ke lapangan. Ia tidak takut kotor, ia ikut menyapu, ia ikut menggosok lantai barak, dan ia mengajarkan cara mencuci tangan yang benar. Magnus sendiri ikut membantu mengangkat batu-batu untuk memperbaiki saluran air yang tersumbat.
Rakyat terpana melihat permaisuri mereka bekerja lebih keras dari buruh kasar.
"Gusti Permaisuri," panggil Lily suatu sore, "ajaib! Penduduk yang tadinya demam tinggi mulai turun panasnya setelah kita kasih larutan gula garam dan air rebusan sirih yang Anda sarankan."
"Itu namanya rehidrasi dan antiseptik alami, Ly. Bukan ajaib, itu cuma teknik bertahan hidup dasar," sahut Alesia sambil mengelap keringat.
Tiba-tiba, Pendeta Agung muncul dari balik tenda medis. Ia melihat dengan matanya sendiri bagaimana desa yang tadinya "terkutuk" kini menjadi bersih dan penduduknya mulai kembali beraktivitas.
"Bagaimana mungkin..." gumam Pendeta Agung. "Tanpa mantra, tanpa upacara darah..."
"Pak Pendeta," Alesia menghampiri pria tua itu, tangannya masih basah karena baru saja mencuci kain. "Dunia ini luas. Dewata itu kasih kita akal buat nyari solusi, bukan cuma buat nunggu nasib. Penyakit ini bukan bencana dari langit, tapi bencana dari selokan yang mampet."
Pendeta Agung menunduk dalam, kali ini bukan karena takut, tapi karena rasa hormat yang amat sangat. "Hamba telah buta oleh tulisan kuno, hingga mengabaikan kenyataan di depan mata. Permaisuri... Anda benar. Anda bukan bintang bencana. Anda adalah cahaya yang membawa akal sehat ke kerajaan ini."
Malam terakhir di perbatasan, Magnus dan Alesia duduk di depan api unggun kecil di luar tenda mereka. Udara pegunungan yang dingin membuat mereka duduk merapat.
"Lu keren, Bang. Ikut nyangkul got tadi siang," goda Alesia sambil menyandarkan kepalanya di bahu Magnus.
"Aku belajar darimu, Siti. Bahwa seorang pemimpin tidak hanya duduk di atas takhta, tapi juga harus tahu bau lumpur rakyatnya," Magnus merangkul pundak Alesia. "Pendeta Agung sudah mengirim surat ke seluruh kuil. Mereka menarik kembali ramalan itu. Ibu Suri gagal total."
Alesia menghela napas lega. "Syukurlah. Gue kaga siap kalau harus dideportasi ke Depok sekarang. Masih banyak yang pengen gue lakuin di sini."
"Apa misalnya?" tanya Magnus lembut.
"Gue pengen bangun sekolah. Bukan cuma buat baca tulis, tapi sekolah logika, sekolah kesehatan, sama sekolah beladiri buat perempuan. Biar kaga ada lagi yang gampang dibohongin pake ramalan palsu," jawab Alesia penuh semangat.
Magnus mengecup kening Alesia. "Aku akan mendukungmu. Apapun yang kau butuhkan. Tapi untuk sekarang..."
"Apa?"
"Bisa kita bicara soal 'Bintang dari Langit Lain' itu?" Magnus menatap mata Alesia dalam-dalam. "Aku tidak peduli dari langit mana kau jatuh, tapi aku bersyukur kau jatuh tepat di pelukanku."
Alesia merona merah, ia menyembunyikan wajahnya di dada Magnus. "Gombalan lu makin ngeri ya, Bang. Belajar dari menteri mana sih?"
Magnus tertawa, suaranya menyatu dengan suara jangkrik di pegunungan Utara. Di kejauhan, bayangan Ibu Suri mungkin masih mengintai, tapi malam itu, Orizon tahu bahwa mereka memiliki permaisuri yang tidak hanya memiliki kekuatan fisik, tapi juga kekuatan pikiran yang bisa meruntuhkan tradisi kolot sekalipun.
"Bang," panggil Alesia lagi.
"Hmm?"
"Ntar kalau kita balik ke istana, gue mau pesen nasi goreng spesial pake telor ceplok dua. Gue laper bener abis kerja bakti tiga hari."
Magnus terkekeh. "Tentu, Siti. Apapun untukmu."
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii