Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Satu bulan telah berlalu sejak malam di arena tinju, dan bagi Audrey Hepburn, satu bulan itu terasa seperti sebuah pengepungan tanpa henti.
Hidupnya yang dulu tenang, yang hanya diisi oleh diktat hukum dan aroma kopi kantin, kini terganggu oleh kehadiran konstan seorang Kensington Valerio.
Kensington tidak datang dengan bunga atau puisi romantis yang klise. Dia datang dengan caranya sendiri yang menjengkelkan: muncul di perpustakaan hanya untuk duduk di depan Audrey sambil membaca buku sejarah militer, mengirimkan pesan singkat berisi kritik pedas terhadap novel yang sedang Audrey baca, atau sekadar berdiri di koridor fakultas dengan tatapan yang seolah-olah bisa menelanjangi semua rahasia Audrey.
Siang itu, matahari Los Angeles bersinar terik, menembus dinding kaca kafetaria kampus yang modern. Audrey membanting bukunya ke atas meja, tidak tahan lagi dengan tatapan Kensington yang sejak tadi hanya memperhatikannya dari meja seberang sambil menyesap espresso.
"Kau serius mendekatiku?" tanya Audrey ketus, suaranya menarik perhatian beberapa mahasiswa di sekitar mereka.
Kensington tidak terkejut. Ia meletakkan cangkirnya perlahan, lalu berdiri dan berjalan mendekat. Ia duduk di kursi depan Audrey, melipat tangan di atas meja dengan santai. "Apa kau pikir aku pria pengangguran yang tidak punya pekerjaan lain selain mengikutimu, Audrey? Aku serius mendekatimu."
Audrey mendengus, menyandarkan punggungnya dengan sisa-sisa pertahanan yang ia miliki. "Oh ya? Jika kau memang seserius itu, apa kau pernah berpikir di setiap rencana masa depanmu atau di setiap ceritamu... ada aku di dalamnya?"
Kensington menatap Audrey tanpa berkedip. Mata peraknya yang biasanya dingin kini tampak lebih dalam, lebih gelap. "Tentu," jawabnya rendah. "Kau ada di setiap lembarannya. Bahkan di halaman-halaman yang belum sempat kutulis."
Audrey terdiam. Ia mencari kebohongan di mata itu, mencari tanda bahwa ini hanyalah bagian dari permainan besar sang pewaris Valerio. Namun, yang ia temukan hanyalah keseriusan yang membuatnya sesak napas.
Ingatannya kembali pada predikat Kensington: si Raja Pesta, pria yang rumornya telah meniduri setengah populasi mahasiswi di sini. Ketakutan itu kembali muncul—ketakutan akan menjadi sekadar statistik lain dalam hidup Kensington.
"Sesuai dengan reputasimu sebagai playboy dan pemuja pesta, Ken..." suara Audrey sedikit bergetar, namun ia tetap mencoba terdengar kuat. "Apa setelah tidur denganku, kau akan pergi? Apa kau akan meninggalkanku seperti perempuan-perempuan itu? Seperti yang Sander lakukan setelah dia mendapatkan apa yang dia mau?"
Audrey memajukan tubuhnya, matanya berkilat penuh harga diri. "Aku bukan perempuan murahan. Jangan pernah samakan aku dengan mereka yang hanya menjadi pelampiasan nafsumu dalam semalam."
Kensington terdiam sejenak, lalu sebuah kekehan kecil lolos dari bibirnya. Ia menggelengkan kepala, menatap Audrey dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau benar-benar luar biasa, Audrey." Ia berhenti sejenak, lalu suaranya merendah menjadi bisikan yang menantang. "Kalau begitu... mau tidur denganku malam ini?"
PLAK.
Audrey hampir saja melayangkan tangannya jika Kensington tidak menangkap pergelangan tangannya lebih dulu.
"Kau brengsek!" desis Audrey marah. "Kau baru saja bilang kau serius, dan sekarang kau mengajakku tidur?"
Kensington melepaskan tangan Audrey, wajahnya kembali datar namun matanya berkilat nakal. "Aku bukan brengsek. Aku hanya memberimu pilihan. Jadi, malam ini kita tidak akan bercinta. Deal?"
Audrey menarik napas panjang. Amarahnya memuncak, bercampur dengan rasa frustrasi karena dikhianati Sander dan rasa lelah karena terus-menerus dicap sebagai gadis "suci" yang kaku. Ia ingin membuktikan bahwa ia tidak selemah itu. Ia ingin menghancurkan label yang melekat pada dirinya.
"Mari bercinta," ucap Audrey tiba-tiba. Suaranya lantang, meski jantungnya berdegub kencang hingga terasa menyakitkan. "Aku benci dikatakan suci. Aku benci dianggap sebagai porselen yang mudah pecah. Jika itu yang kau inginkan untuk membuktikan keseriusanmu, ayo lakukan."
Giliran Kensington yang terdiam. Ia menatap Audrey dengan saksama. Ada gejolak di wajahnya—sebuah perjuangan antara hasrat dasar seorang pria dan sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang ia coba bangun.
"Tidak," jawab Kensington tegas. "Aku tidak ingin bercinta denganmu malam ini."
Audrey terbelalak. Ia merasa seperti ditampar dua kali. "Kau mempermainkanku?! Kau baru saja mengajakku, dan sekarang kau menolak? Kau ingin membuatku merasa rendah, hah?"
"Bukan begitu, Audrey—"
"Pergi dari hadapanku, Kensington!" Audrey berdiri, tangannya gemetar karena malu dan marah. "Kau benar-benar pria paling tidak konsisten yang pernah kutemui!"
Kensington ikut berdiri. Ia tidak pergi. Ia justru melangkah mendekat hingga dada bidangnya hampir bersentuhan dengan bahu Audrey. Ia tidak peduli dengan bisik-bisik orang di kafetaria.
"Aku menolak karena aku tidak ingin kau melakukannya sebagai bentuk balas dendam pada mantanmu atau untuk membuktikan sesuatu pada dunia," ucap Kensington dengan nada yang penuh penekanan. "Aku ingin kau melakukannya karena kau menginginkanku. Karena kau percaya padaku."
Ia menyentuh pipi Audrey dengan jemarinya yang hangat. "Aku benar-benar serius padamu, Audrey. Dan serius bagiku berarti menunggumu sampai kau tidak lagi merasa perlu bertanya 'apakah aku akan pergi' setelah malam itu berakhir."
Malam harinya, Audrey tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon asramanya, menatap lampu-lampu kota yang seolah mengejek kesendiriannya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Kensington.
“Turunlah ke lobi. Aku punya sesuatu untuk menunjukkan apa artinya pengorbanan dalam ceritaku.”
Audrey ragu, namun kakinya melangkah juga. Di lobi, Kensington sudah menunggu dengan mobilnya.
Mereka berkendara dalam diam menuju sebuah Apartemen Mewah.
"Ken? Apa yang kita lakukan di sini?" tanya Audrey mulai waspada.
"Kau ingin tahu apakah aku akan meninggalkanmu seperti yang lain?" Kensington keluar dari mobil, wajahnya mengeras. "Malam ini, aku akan mengakhiri satu bab yang selama ini mengikatku."
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭