Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kencan Di Gudang Senjata Dan Goyang Golok Seliwa
Pagi itu, suasana koridor menuju gudang senjata bawah tanah Kerajaan Orizon terasa mencekam. Biasanya, tempat ini hanya dimasuki oleh para jenderal dan ksatria pilihan. Namun hari ini, Raja Magnus berjalan berdampingan dengan seorang wanita yang mengenakan setelan pakaian latihan yang sangat "ajaib"—gaun sutra lama yang dipotong ujungnya hingga selutut agar kakinya bisa bergerak bebas, dipadukan dengan korset kulit yang diikat kencang.
"Bang, lu yakin kaga ada hantunya di bawah sini? Gelap bener, kayak kolong jembatan Ancol," celetuk Alesia sambil menatap obor-obor yang berjejer di dinding batu.
Magnus melirik penampilan istrinya yang nyeleneh itu. Meskipun aneh, ia harus mengakui kalau kaki jenjang Alesia yang terekspos itu membuatnya berdehem berkali-kali untuk mengalihkan fokus. "Ini gudang senjata kerajaan, Alessia. Bukan tempat uji nyali. Jaga sikapmu, para penjaga sedang memperhatikan."
"Dih, mereka mah merhatiin karena gue cakep aja. Ya kan, Bang?" Alesia mengedipkan sebelah matanya ke arah seorang penjaga yang langsung menunduk dengan wajah merah padam.
Begitu pintu besi raksasa itu dibuka, denting logam dan bau minyak pelumas senjata menyapa hidung mereka. Beribu-ribu pedang, tombak, dan kapak tertata rapi di rak-rak raksasa.
"Wah... gila! Ini mah surganya barang antik!" mata Alesia berbinar. Ia berlari kecil ke arah rak pedang panjang. Ia mencoba mengangkat satu pedang besar milik ksatria Barat, tapi langsung mengernyit. "Berat bener! Ini mah bukan buat berantem, tapi buat ngebajak sawah. Kagak cocok sama gaya gue yang gesit."
Magnus berjalan menuju sebuah peti kayu hitam di sudut ruangan. Ia membukanya perlahan, mengeluarkan sebuah senjata yang dibungkus kain beludru hitam. "Kemarilah. Ini adalah rampasan perang dari negeri timur jauh puluhan tahun lalu. Tidak ada ksatria kami yang bisa menggunakannya karena bentuknya yang melengkung dan pendek."
Alesia mendekat. Begitu Magnus membuka kainnya, mata Alesia langsung melotot. Di sana terbaring sebuah golok dengan bilah baja yang berkilau kebiruan. Bentuknya melengkung sempurna, gagangnya terbuat dari tanduk kerbau hitam dengan ukiran macan yang gagah.
"Buset... ini mah Golok Seliwa!" teriak Alesia girang. Ia menyambar senjata itu. Begitu telapak tangannya menyentuh gagangnya, ia merasa seperti ada aliran listrik yang menyambar. "Pas bener di tangan gue! Beratnya, keseimbangannya... ini baru namanya senjata, Bang!"
Alesia mengayunkan golok itu ke udara. Wush! Wush! Suara bilah yang membelah angin terdengar sangat tajam.
"Hati-hati, Alessia. Senjata itu sangat tajam. Kau bisa melukai dirimu sendiri," peringat Magnus dengan nada khawatir.
"Melukai diri sendiri? Bang, gue udah bisa muter-muter golok sebelum gue bisa pake lipstik!" Alesia menyeringai miring. "Eh, para prajurit di pojokan itu... ngapain pada ngintip? Sini kalau mau liat atraksi!"
Beberapa prajurit penjaga gudang senjata memang sedang mengintip di balik pilar, penasaran melihat sang Permaisuri yang memegang senjata "aneh" itu. Jenderal Alaric, panglima tertinggi kerajaan, juga ada di sana dengan tangan bersedekap.
"Yang Mulia Raja, mohon maaf," Jenderal Alaric melangkah maju. "Bukan bermaksud meremehkan, tapi senjata itu membutuhkan teknik khusus. Kami khawatir Yang Mulia Permaisuri hanya akan mempermalukan diri sendiri."
Alesia menaikkan sebelah alisnya. "Oh, jadi Pak Jenderal yang jenggotnya panjang ini meragukan gue? Oke, Bang Magnus, pinjemin gue lapangan tengah gudang ini bentar."
Alesia melangkah ke tengah ruangan yang luas. Ia mengambil posisi kuda-kuda rendah. Kakinya kokoh menapak bumi, badannya miring, dan goloknya ia sandarkan di bahu dengan santai.
"Neng Lily! Kasih musik dong! Eh, lupa... di sini kaga ada gendang," gumam Alesia. Ia mulai mengetukkan kakinya ke lantai batu, menciptakan irama sendiri. Dug... dug... pak!
Tiba-tiba, Alesia bergerak. Tubuhnya melesat seperti kilat. Golok di tangannya berputar menyelimuti tubuhnya, menciptakan lingkaran perak yang mematikan. Ia melakukan gerakan salto ke belakang, lalu menusuk ke depan dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Ini namanya Jurus Golok Seliwa!" seru Alesia di sela-sela gerakannya.
Ia berputar, merunduk, lalu seolah-olah menghilang dari pandangan sebelum muncul kembali di belakang sebuah manekin latihan dari kayu. Dengan satu tebasan horizontal yang sangat halus... CRAK! Kepala manekin kayu itu terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi.
Alesia berhenti mendadak, mengakhiri gerakannya dengan posisi golok di depan wajah, lalu menyarungkannya kembali dengan sekali sentakan jempol yang keren. Ia mengatur napasnya yang sedikit memburu, wajahnya tampak segar karena adrenalin.
Keheningan total melanda gudang senjata. Jenderal Alaric sampai lupa menutup mulutnya. Magnus terpaku. Jantung sang Raja berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena ia baru saja melihat keindahan yang mematikan. Alesia saat bertarung terlihat seribu kali lebih mempesona daripada saat ia sedang diam.
"Bagaimana, Pak Jenderal? Masih mikir gue bakal malu-maluin?" tanya Alesia sambil berkacak pinggang menatap Alaric.
Alaric langsung berlutut satu kaki. "Hamba mohon ampun, Yang Mulia Permaisuri. Hamba benar-benar buta. Gerakan Anda... hamba belum pernah melihat teknik secepat dan sedinamis itu. Itu bukan sekadar bertarung, itu adalah seni kematian."
Magnus berjalan mendekati Alesia, ia mengambil sehelai kain dan mengusap keringat di dahi istrinya dengan lembut. "Kau benar-benar penuh kejutan, Alessia. Di mana kau belajar menari dengan maut seperti itu?"
"Udah gue bilang, titisan dewi silat!" Alesia menyenggol lengan Magnus. "Gimana, Bang? Bangga kaga punya bini jagoan?"
Magnus menatap mata Alesia dengan dalam, mengabaikan tatapan semua orang di sana. "Aku bangga. Tapi aku juga cemas. Sekarang seluruh istana akan tahu bahwa kau adalah ancaman nyata bagi siapa pun yang mencoba menyakitimu."
"Biarin aja! Biar mereka tahu, kalau main-main sama Permaisuri Alessia, taruhannya nyawa, bukan cuma denda administratif!"
Magnus tersenyum tipis—kali ini senyum yang penuh dengan kebanggaan yang sulit disembunyikan. "Simpan golok ini. Mulai sekarang, ini adalah senjatamu. Dan Alaric... siapkan tempat latihan khusus untuk Permaisuri. Tidak ada yang boleh mengganggunya."
"Baik, Yang Mulia!" sahut Alaric patuh.
Namun, di tengah kegembiraan Alesia mendapatkan "mainan" baru, seorang pelayan kecil berlari masuk dengan napas tersengal-sengal.
"Yang Mulia Raja! Permaisuri! Gawat! Selir Rose... Selir Rose ditemukan pingsan di kamarnya dengan mulut berbusa! Dan di sampingnya ditemukan boneka kain yang tertusuk jarum dengan nama Permaisuri tertulis di sana!"
Alesia langsung meludah ke samping. "Cih! Baru juga dapet golok, udah ada drama santet-santetan. Klasik bener cara mainnya si Uler Kadut!"
Magnus merangkul bahu Alesia, wajahnya kembali dingin. "Jangan khawatir. Aku ada di sampingmu."
"Gak perlu khawatir, Bang," Alesia menarik kembali goloknya sedikit dari sarungnya, menunjukkan kilauan bilahnya. "Kalau dia mau main mistis, gue kasih dia realitas. Ayo kita liat, dia mau akting apalagi!"
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii