Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Tidur Saja Di Luar!
Keyla mondar-mandir di dalam kamar yang luasnya nyaris menyamai seluruh rumah lamanya itu. Ucapan Dominic di meja makan tadi terus terngiang dan terasa menyakitkan.
"Rahim pengganti? Jadi hanya itu nilaiku di matanya?" bisik Keyla dengan suara bergetar. Ia mengepalkan tangan, menahan sesak yang mendesak di dadanya.
Keyla menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis itu sadar betul siapa dirinya. Dia hanyalah gadis miskin yang terjepit di antara keserakahan Siska dan kekuasaan keluarga Frederick.
Di hadapan orang kaya seperti Dominic, dia tidak lebih dari sekadar bidak catur yang bisa digerakkan sesuka hati. Ia tidak memiliki posisi tawar, tidak memiliki pelindung dan yang paling menyedihkan, ia tidak memiliki rumah untuk pulang.
Pikiran untuk melarikan diri pu tiba-tiba melintas. "Apa aku harus kabur saja malam ini?" batinnya sembari melirik jendela besar yang terkunci rapat.
Namun, sedetik kemudian logikanya menampar kenyataan. Jika ia pergi sekarang, ia akan tinggal di mana? Ia bahkan tidak punya uang simpanan yang cukup untuk menyewa kamar kost kumuh sekalipun.
Dompetnya tipis, sekosong harapan-harapannya.
"Andai saja ayah masih mau menerimaku.am andai saja aku punya orang tua kandung yang mencariku," rintihnya sembari memeluk dirinya sendiri.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga. Keyla merasa luntang-lantung di dunia yang begitu kejam ini.
"Lebih baik aku menelfon Damian." Keyla meraih ponselnya
Bolehkan ia menghubungi Damian? Meminta lelaki itu menjemputnya dan membawanya pergi jauh dari neraka berbalut kemewahan ini?
Damian pernah berjanji akan menjaganya. Seketika, nuraninya berteriak protes.
Melarikan diri bersama Damian sama saja dengan berselingkuh, meskipun secara teknis Keyla belum pernah secara resmi memutuskan hubungan dengan lelaki itu sejak pernikahan dadakan ini terjadi.
"Tapi itu tidak sopan. Kau istri Dominic sekarang, Key. meski status ini sangat menggelikan," gumamnya frustrasi. Ia mengacak rambutnya kasar. "Argh! Kenapa semuanya jadi serumit ini!"
Keyla merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Rasa galau dan merana menyatu, membuatnya merasa sesak napas.
Keyla tidak bisa terus begini. Jika ia tetap tinggal tanpa tujuan, ia hanya akan menjadi boneka pemuas ambisi Dominic untuk memiliki ahli waris.
"Besok aku akan memikirkan rencana lain," tekadnya dalam hati. "Aku harus bekerja. Aku harus punya uang sendiri. Aku tidak boleh bergantung pada pria egois itu."
Keyla mengusap sisa air matanya dengan kasar. Jika suatu saat ia memutuskan untuk pergi, ia ingin pergi dengan martabat yang masih utuh. Lagipula, saat ini ia belum memiliki anak dari Dominic. Belum ada ikatan darah yang mengikatnya di mansion ini. Tidak ada alasan kuat baginya untuk bertahan jika hanya dianggap sebagai alat reproduksi.
Keyla memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan wajah dingin Dominic dan kata-katanya yang setajam silet.
Tok! Tok! Tok!
Dominic berdiri di depan pintu kamarnya sendiri dengan perasaan campur aduk. Ia melonggarkan dasinya, mencoba menyusun kalimat yang tidak terdengar terlalu kaku.
Menghadapi dewan direksi jauh lebih mudah daripada menghadapi gadis berusia sembilan belas tahun yang sedang merajuk.
"Keyla? Buka pintunya. Aku tahu kau belum tidur," panggil Dom dengan nada yang diusahakan selembut mungkin.
Sialnya tidak ada sahutan dari dalam.
"Soal tadi... maksudku bukan begitu. Aku hanya... aku belum pandai bicara soal masa depan," lanjut Dom lagi. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Jujur saja, Dom bingung. Perasaan bernama cinta itu untuk gadis itu masih terasa asing baginya. Yang ia tahu, ia hanya ingin Keyla tetap di sana, di jangkauan pandangannya.
"Pergi saja ke kamar kak Clara! Jangan mengetuk pintuku!" teriak Keyla dari dalam.
"Clara di Paris. Dan ini kamarku juga. Ayo, buka. Jangan bersikap seperti anak kecil!" bujuk Dom.
Kalimat itu rupanya menjadi bensin di dalam api. Pintu mendadak terbuka dengan sentakan keras.
Keyla berdiri di sana dengan mata sembap dan wajah merah padam. Tanpa aba-aba, ia melemparkan bantal bulu angsa tepat ke wajah Dominic, disusul dengan selimut tebal yang mendarat di kepala pria itu.
"Memang aku anak kecil! Aku baru sembilan belas tahun, pak tua! Puas?!" semprot Keyla. "Tidur saja di luar atau di mana pun! Asal Jangan masuk ke sini!"
Brak!
Pintu ditutup tepat di depan wajah Dominic yang masih tertutup selimut.
Dom mematung, mengerjapkan mata beberapa kali sambil memegang bantal di pelukannya.
Ia diusir? Dari kamarnya sendiri? Di mansion miliknya sendiri?
"Pfftt!" suara tawa kecil yang melengking membuat Dominic menoleh.
Tak jauh darinya, Zoey berdiri sambil memegangi perut. Bocah itu mengenakan piyama dinosaurus dan memegang boneka beruang.
"Paman Dom lucuuu cekali! Diusil ya? Kacian dech!" ledek Zoey sembari berjalan mendekat dengan langkah yang menggemaskan.
"Zoey? Kenapa belum tidur? Ini sudah malam," gerutu Dom, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah jatuh ke lantai.
"Zoey lapal. Mau cali cucu cama biskuit," jawab Zoey polos, lalu ia menatap bantal di tangan pamannya. "Paman mau tidul dimana? Di kandang guguk ya? Atau di telas?"
"Paman tidak diusir, Zoey. Paman hanya sedang... ingin suasana baru," kilah Dom asal. "Lebih tepatnya mencari angin!"
"Halah! Paman bohong! Tadi bibi Key teliak pak tua. Belalti Paman cudah kakek-kakek dong? Makanya bibi Key ndak mau bobo cama Paman." Zoey menarik-narik ujung selimut yang disampirkan di bahu Dom. "Paman payah! Buat dede bayi ndak bica, malah diculuh tidul di lual."
Dominic memijat pelipisnya. Tekanan batinnya meningkat dua kali lipat setelah bertemu keponakannya ini. "Zoey, diamlah. Pergi ke dapur dan minta pelayan buatkan susu."
"Ndak mau! Zoey mau Paman yang buatkan! Cebagai gantinya, nanti Zoey kacih tahu lahacia gimana calanya bial bibi Key ndak malah lagi," tawar Zoey dengan wajah licik yang sangat mirip dengan Diego.
Dominic menghela napas pasrah. "Rahasia apa?"
Zoey berjinjit, memberi isyarat agar pamannya membungkuk.
Saat Dom mendekatkan telinganya, Zoey berbisik dengan lantang, "Pelempuan paling cuka cokelat dan pelukan lama-lama! Tapi Paman kan bau celutu, makanya bibi ndak cuka! Mandi lagi cana!"
Dominic mendengus kesal, namun ia tidak bisa menahan senyum tipisnya mendengar ucpan Zoey.
Jika Keyla adalah Clara, mungkin dia akan menyukai apapun yang Dom berikan. Sayangnya kedua perempuan itu punya sifat yang berbeda.
"Baiklah, Bos Kecil. Kita buat susu. Setelah itu, kau harus memberitahu rahasia lainnya agar bibi-mu itu mau memaafkan Paman," ucap Dom dengan pasrah, membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh bocah lima tahun dan istri sembilan belas tahun dalam satu malam yang sama.