Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Malam mulai turun perlahan, menyelimuti gedung-gedung tinggi dengan bayangan panjang yang terasa dingin dan sunyi. Di dalam ruang direktur utama yang luas dan megah, ayah Erlan masih duduk diam di kursinya. Tatapannya tidak lepas dari selembar berkas di atas meja—surat pengunduran diri Erlan.
Tangannya mengepal pelan.
“Anak itu… benar-benar melakukannya,” gumamnya lirih, suaranya berat dan penuh tekanan.
Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang selama ini menjadi simbol kekuasaan dan pencapaiannya. Kursi itu bukan sekadar tempat duduk—itu adalah hasil dari kerja kerasnya selama puluhan tahun, sejak ia masih seorang pria muda yang belum memiliki apa-apa.
Namun sekarang, semua itu terasa tidak berarti.
Putra sulungnya, pewaris yang selama ini ia banggakan, memilih pergi.
Memilih meninggalkan segalanya.
“Hanya karena seorang wanita…” ucapnya dengan nada dingin, penuh ketidakpercayaan.
Di benaknya, nama Linda bukanlah sesuatu yang layak diperjuangkan. Wanita itu tidak jelas asal-usulnya, muncul begitu saja dalam kehidupan Erlan, lalu membawa perubahan besar yang tidak ia sukai.
Ia menatap berkas itu lagi.
“Tidak… ini bukan keputusan yang rasional,” katanya tegas. “Dia hanya merasa bertanggung jawab karena anak itu.”
Ia menggeleng pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Dan wanita itu… pasti punya tujuan lain. Tidak mungkin tidak.”
Tatapannya mengeras.
“Aku tidak akan membiarkan ini terjadi.”
Ia meraih ponselnya, menatap layar sejenak sebelum meletakkannya kembali. Seolah masih mempertimbangkan sesuatu.
“Aku akan mengurus ini,” gumamnya. “Erlan akan kembali… bagaimanapun caranya.”
Di luar, langit sudah benar-benar gelap. Lampu kota mulai menyala satu per satu, namun pria itu masih tetap duduk di sana, terjebak dalam pikirannya sendiri—antara ambisi, kebanggaan, dan rasa kehilangan yang tidak ingin ia akui.
---
Di sisi lain kota, suasana yang berbeda terasa di sebuah rumah sederhana namun hangat.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam.
Linda baru saja menidurkan Kirana di kamar. Gadis kecil itu terlihat lelah setelah bermain seharian, napasnya teratur, wajahnya tenang dalam tidur.
Linda tersenyum lembut sambil mengusap rambut putrinya.
“Tidurlah yang nyenyak, sayang,” bisiknya pelan.
Ia kemudian keluar dari kamar, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Belum sempat ia melangkah jauh, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Linda menoleh.
“Itu pasti Erlan…”
Pintu depan belum sempat ia buka, ketika tiba-tiba Kirana muncul dari belakangnya dengan langkah kecil yang cepat.
“Ayah pulang!” seru Kirana dengan penuh semangat.
“Kirana, pelan-pelan—”
Namun gadis kecil itu sudah lebih dulu berlari dan membuka pintu.
Di depan, Erlan berdiri dengan jas yang masih rapi, namun wajahnya tampak lelah. Mata yang biasanya tenang kini menyimpan beban yang tidak ringan.
Namun begitu melihat Kirana, ekspresinya langsung berubah.
“Putri Ayah,” ucapnya sambil tersenyum hangat.
Kirana langsung memeluknya.
“Ayah lama sekali…”
Erlan tertawa kecil, lalu menggendongnya.
“Iya, hari ini papa sibuk.”
Tak lama, pandangannya beralih pada Linda yang berdiri beberapa langkah dari sana.
Tatapan mereka bertemu.
Dan tanpa berkata apa-apa, Erlan berjalan mendekat.
Linda belum sempat mengatakan sesuatu ketika Erlan langsung menariknya ke dalam pelukan.
Linda terdiam.
Ia sedikit terkejut.
Tidak biasanya Erlan seperti ini.
“Erlan…?” ucapnya pelan.
Namun pria itu hanya memeluknya lebih erat, seolah mencari ketenangan.
Linda akhirnya membalas pelukan itu.
“Ada apa?” tanyanya lembut.
Erlan melepaskan pelukan perlahan, menatap wajah Linda dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—campuran lelah, lega, dan tekad.
“Kita masuk dulu,” katanya.
Linda mengangguk.
Mereka masuk ke dalam rumah. Kirana turun dari gendongan Erlan dan langsung berlari kembali ke kamarnya.
Linda dan Erlan duduk di sofa.
Linda bangkit sedikit.
“Aku siapkan air hangat dulu untuk kamu mandi—”
Namun Erlan langsung menahan tangannya.
“Tidak perlu sekarang.”
Linda menatapnya.
“Ada yang ingin aku katakan.”
Nada suara Erlan membuat Linda kembali duduk.
“Apa itu?”
Erlan terdiam sejenak, seolah menyusun kata-kata.
“Aku… sudah berhenti dari perusahaan.”
Linda membeku.
“Berhenti?” ulangnya pelan.
Erlan mengangguk.
“Aku mengundurkan diri dari posisi wakil direktur utama.”
Linda menatapnya tidak percaya.
“Erlan… kamu serius?”
“Iya.”
“Bagaimana dengan… keluargamu?”
Erlan menarik napas dalam.
“Aku juga sudah memutuskan hubungan dengan mereka.”
Linda benar-benar terdiam.
Ia menatap pria di depannya, mencoba memastikan bahwa ini bukan mimpi.
“Kamu… melawan keluargamu?” tanyanya pelan.
Erlan tersenyum tipis.
“Aku tidak ingin kehilangan kalian lagi.”
Linda menunduk.
“Erlan… kamu tidak harus melakukan ini semua…”
“Aku harus,” potong Erlan tegas.
Ia menggenggam tangan Linda.
“Aku sudah terlalu lama hidup sesuai keinginan orang lain. Kali ini… aku ingin memilih sendiri.”
Linda menatapnya.
“Dan pilihanku adalah kamu… dan Kirana.”
Mata Linda mulai berkaca-kaca.
“Tidak ada yang aku sesali,” lanjut Erlan. “Aku hanya ingin hidup sederhana… tapi penuh cinta. Bersama kalian.”
Air mata Linda jatuh tanpa bisa ditahan.
“Kamu… meninggalkan semuanya demi aku?” bisiknya.
Erlan menggeleng pelan.
“Bukan hanya kamu. Kalian berdua adalah alasan aku bertahan.”
Linda menutup mulutnya, mencoba menahan tangis.
Namun Erlan belum selesai.
Ia perlahan berdiri.
“Linda…”
Wanita itu menatapnya dengan bingung.
Erlan memasukkan tangan ke dalam kantong jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Linda terdiam.
“Erlan…?”
Tanpa ragu, Erlan berlutut di hadapannya.
Linda membeku.
Jantungnya berdetak cepat.
“Aku mungkin tidak punya semuanya lagi,” kata Erlan pelan. “Tapi aku punya hati yang sepenuhnya untukmu.”
Ia membuka kotak itu, memperlihatkan cincin yang sederhana namun indah.
“Linda… maukah kamu menikah denganku?”
Air mata Linda mengalir deras.
Momen yang selama ini ia impikan… kini benar-benar terjadi.
Dulu, ia berpikir semua ini mustahil.
Perbedaan dunia, keluarga Erlan, dan segala hal yang memisahkan mereka.
Namun sekarang…
Erlan berdiri di hadapannya, memilihnya.
“Aku…” suara Linda bergetar.
Ia menangis sambil tersenyum.
“Iya… aku mau.”
Erlan tersenyum lebar, sesuatu yang jarang terlihat darinya.
Ia segera mengambil cincin itu dan memasangkannya di jari manis Linda.
Linda menatap cincin itu dengan mata berkaca-kaca.
“Ini… nyata ya…” bisiknya.
Erlan berdiri, lalu memeluknya erat.
“Nyata.”
Linda menangis dalam pelukannya.
Tangisan yang bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan yang selama ini ia pendam.
“Aku pikir… aku tidak akan pernah bisa bersamamu seperti ini…” katanya terisak.
Erlan mengusap rambutnya lembut.
“Kita di sini sekarang.”
Linda mengangguk.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Erlan.
“Aku tidak akan meragukanmu lagi,” ucapnya tegas meski suaranya masih bergetar. “Aku percaya… kamu mencintaiku.”
Erlan tersenyum.
“Aku memang mencintaimu.”
Ia menyentuh pipi Linda.
“Dulu aku tidak mengerti apa itu cinta.”
Linda terdiam, mendengarkan.
“Tapi sejak mengenalmu… aku mengerti.”
Ia menatap Linda dalam-dalam.
“Dan sekarang… aku tahu, cintaku hanya untukmu.”
Linda kembali menangis, namun kali ini dengan senyum yang lebih tenang.
Ia memeluk Erlan.
“Aku juga mencintaimu.”
Di rumah sederhana itu, tanpa kemewahan dan kekuasaan, mereka berdiri bersama.
Dua orang yang memilih satu sama lain, melawan dunia jika perlu.
Dan untuk pertama kalinya, Erlan merasa…
Ia benar-benar memiliki segalanya.