Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Gilang berhenti. Jarak mereka sudah dekat, tapi ia langsung menarik napas dan mundur.
“Maaf,” katanya singkat, lalu memalingkan wajah.
Viona membuka mata. Ia menatap Gilang beberapa detik, tapi Gilang tidak melihat ke arahnya.
Suasana jadi canggung.
“Yaudah,” ucap Viona pelan.
Ia langsung berdiri, lalu berjalan cepat. Langkahnya makin lama makin terburu, seperti ingin segera pergi.
“Viona—” Gilang sempat memanggil.
Tapi Viona tidak berhenti. Ia terus berjalan menjauh, terlihat kikuk tanpa menoleh lagi.
Gilang akhirnya berhasil menyusul. Ia menarik tangan Viona agar berhenti.
“Viona… tunggu.”
Viona berhenti, tapi langsung menunduk. Tangannya cepat mengusap air matanya.
“Maaf,” kata Gilang pelan. “Kalau tadi bikin kamu nggak nyaman. Aku nggak maksud begitu.”
Viona menggeleng kecil.
Gilang melepaskan tangannya, tidak berani menyentuh lagi.
“Maaf,” ulangnya. “Maaf… tadi aku—”
Ia berhenti, lalu menghela napas.
“Maaf.”
Viona masih diam beberapa detik, lalu perlahan mendongak.
Matanya masih basah.
“Kenapa, Kak?” tanyanya pelan. “Kak Gilang anggap aku apa?”
Gilang tidak langsung menjawab.
Viona menatapnya lebih dalam.
“Aku kira tadi… Kak Gilang bakal…”
Kalimatnya menggantung.
Gilang terlihat bingung.
“Bakal apa?” tanyanya, pelan.
Viona menatapnya sekilas, lalu menepis tangan Gilang.
“Udahlah, Kak,” katanya, suaranya tertahan. “Kak Gilang nggak bakal ngerti.”
Ia langsung berbalik.
Langkahnya cepat menjauh, meninggalkan Gilang yang masih berdiri di tempatnya.
Gilang menggaruk belakang kepalanya, lalu bergumam pelan, “Aneh… padahal aku nahan tadi.” Ia menarik napas singkat. “Kalau sampai kesentuh… mungkin dia bakal marah besar lebih dari ini," ucap Gilang bingung.
Ia menatap punggung Viona yang terus menjauh, lalu ikut berjalan di belakangnya. Tidak terlalu dekat, tidak juga jauh. Kali ini ia memilih diam, tidak mencoba bicara lagi.
Mereka sampai kembali di stasiun.
Langit sudah mulai gelap, awan terlihat menumpuk, suasana jadi lebih redup dari tadi.
Peron masih cukup sepi.
Gilang melirik jam tangannya.
Setengah enam.
Ia mengangkat pandangan ke papan jadwal.
Kereta berikutnya masih sekitar jam delapan malam.
Ia diam sebentar, lalu melirik ke arah Viona yang berdiri tidak jauh darinya.
“Hm…” Gilang ragu sejenak. “Mau makan dulu nggak?”
Viona hanya menggeleng kecil, tetap tidak menoleh ke arah Gilang.
Gilang diam sebentar, lalu mencoba lagi.
“Beli minum, yuk,” katanya pelan. “Di sana ada yang jual matcha… mau nggak?”
Viona tetap tidak melihatnya.
“Lagi nggak mood,” jawabnya singkat.
Gilang terdiam.
Ia menggaruk pelan pelipisnya, jelas kebingungan harus bagaimana lagi.
Beberapa detik berlalu, tapi ia tidak menemukan kata lain.
Gilang menarik napas panjang. “Ya udah deh,” katanya pelan, lalu duduk di kursi peron.
Viona ikut duduk agak menjauh. Ia membuka ponselnya dan mencoba main game arcade, tapi dari tadi gagal terus. Ia mengulang lagi,dan gagal lagi, lalu mengulang lagi tapi tetap sama. Pikirannya tidak fokus, tangannya bergerak asal.
Viona tiba-tiba menghela napas kesal, lalu bersuara lebih keras dari sebelumnya.
“Game apaan sih ini!” katanya, kesal. “Yang bikin bodoh banget! Masa ngelag terus!”
Ia menatap layar ponselnya dengan jengkel, lalu menekan tombol berulang kali.
Gilang yang di samping hanya melirik sebentar.
“HP kamu kali,” katanya pelan.
Viona langsung menoleh tajam.
“Apaan sih!” balas Viona cepat.
Ia langsung keluar dari game, lalu membuka aplikasi lain. Jarinyaswipe layar tanpa benar-benar fokus, sampai berhenti di satu video. Dari suaranya terdengar seseorang sedang membahas soal laki-laki yang tidak peka.
Viona mendengus pelan.
“Laki-laki tuh emang sama aja,” gumamnya.
Gilang yang mendengar langsung melirik, lalu sedikit mendekat.
“Apanya yang sama?” tanyanya, ikut mengintip ke layar ponsel Viona.
Viona langsung kesal. Ia mendorong bahu Gilang menjauh.
“Apaan sih! Kepo deh!” katanya, masih jutek.
Gilang mengerutkan kening, jelas tidak paham.
“Kamu kenapa sih? Tiba-tiba marah nggak jelas… lagi PMS?”
Ucapan itu langsung membuat Viona menoleh cepat. Wajahnya berubah, kesalnya makin kelihatan.
“Nah kan!” katanya dengan nada tinggi. “Emang cowok tuh di mana-mana sama aja, nggak peka!”
Gilang diam, sedikit kaget.
“Tau ah, capek,” lanjut Viona singkat.
Ia langsung berdiri, mengangkat tasnya, lalu pindah ke kursi lain yang lebih jauh tanpa melihat Gilang lagi.
Gilang menghembuskan napas kasar, lalu mengacak rambutnya frustasi. Ia berdiri tanpa berkata apa-apa, lalu berbalik dan pergi begitu saja.
Viona melirik dengan ujung matanya, tapi kepalanya tetap menunduk seolah sibuk dengan ponsel.
Ia tidak memanggil.
Tidak juga menoleh.
Sampai langkah Gilang benar-benar hilang dari pandangan.
Beberapa detik hening.
Lalu—
Viona menghentak-hentakkan kakinya pelan.
“Ih! Ngeselin banget, deh!” gumamnya kesal.
Ia mengacak rambutnya sendiri sedikit.
“Padahal kan tadi tinggal sedikit lagi…!” lanjutnya, makin kesal.
“Ahhh!”
Beberapa saat kemudian, dari arah lain, Gilang muncul lagi. Di tangannya ada dua botol air mineral dingin dan dua roti cokelat.
Ia berjalan mendekat seperti tidak terjadi apa-apa.
“Ngomong apa tadi?” tanyanya santai.
Ia menyodorkan satu botol ke arah Viona.
“Rasa apa?” tambahnya, seolah hanya menangkap potongan kalimat barusan.
Viona langsung meraih roti di tangan Gilang.
“Rasa coklat!” jawabnya singkat.
Ia langsung menggigit cukup besar, mengunyah cepat, lalu menelannya begitu saja. Setelah itu ia membuka botol air dan minum panjang, hampir setengah botol habis.
Gilang melihatnya, sedikit mengernyit.
“Pelan-pelan dong,” katanya.
“Berisik!” potong Viona cepat, tanpa menoleh.
Gilang langsung diam.
Ia menarik sedikit kepalanya ke belakang, lalu duduk tanpa komentar lagi.
Beberapa saat kemudian, dari arah jalan di dekat stasiun terdengar suara gaduh.
Orang-orang mulai berteriak.
“Heh! Ada kecelakaan!”
“Ya ampun, tabrakan!”
Orang-orang berlari ke arah luar stasiun. Beberapa bahkan langsung panik, mencoba melihat dari kejauhan.
Gilang refleks berdiri.
“Ada apa sih?” gumamnya.
Viona ikut menoleh, alisnya mengernyit.
Dari arah jalan, seseorang berteriak lagi—lebih keras dari sebelumnya.
“Mobilnya nabrak orang! Parah!”
Gilang dan Viona saling pandang sebentar.
Tanpa banyak pikir, Gilang langsung melangkah mendekat ke arah kerumunan.
Viona ragu sepersekian detik, lalu ikut menyusul.
Semakin dekat, suara orang-orang makin tidak jelas—campur aduk antara panik dan kaget.
Sampai—
Gilang tiba-tiba berhenti.
Wajahnya berubah.
“...itu…”
Suaranya pelan.
Seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.