"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Arlan masih berdiri mematung di koridor rumah sakit yang dingin. Kata "cerai" itu terus terngiang di telinganya, menghantam egonya yang selama setahun ini ia rawat dengan kemarahan palsu. Ia terbiasa melihat Maya yang memohon, Maya yang menangis, dan Maya yang selalu ada meski ia injak-injak.
Namun, punggung Maya yang menjauh masuk ke kamar rawat ibunya terlihat begitu asing. Tidak ada lagi beban keraguan di sana.
" Kak Arlan..." suara Sarah yang manja tiba-tiba terdengar di ponselnya yang bergetar.
Arlan mengangkatnya dengan gerakan mekanis. "Ya, Sarah?"
" Kak, kepalaku pusing sekali. Dion juga terus menanyakan Mbak Maya karena dia lapar. Kapan kak Arlan pulang bersama Mbak Maya? Aku tidak sanggup ke dapur sendirian..."
Untuk pertama kalinya, rengekan Sarah yang biasanya terdengar seperti melodi kesedihan yang harus ia lindungi, kini terdengar seperti beban yang menyesakkan. Arlan melihat ke sekeliling ,orang-orang di lobi menatapnya dengan pandangan sinis pria berpakaian mahal yang baru saja dibentak habis-habisan oleh istrinya.
"Pesan makanan lewat aplikasi saja, Sarah. Aku masih ada urusan," jawab Arlan pendek, lalu mematikan telepon tanpa menunggu balasan.
Dua jam kemudian, Arlan kembali ke kantor dengan perasaan kacau. Ia mencoba fokus pada laporan keuangan, namun bayangan Maya yang mengenakan celemek pelayan di tengah pesta semalam terus menghantuinya. Ia baru sadar, di depan semua kolega bisnisnya, ia telah terlihat seperti pria picik yang menyiksa istrinya sendiri.
Pintu kantornya diketuk. Sekretarisnya masuk dengan wajah ragu-ragu.
"Pak Arlan... ada seseorang yang ingin bertemu. Beliau mengatakan ini urusan pribadi yang mendesak."
Arlan menghela napas. "Siapa?"
"Bramasta, Pak. Dari firma hukum Bram & Co."
Jantung Arlan berdegup kencang. Ia tahu siapa Bram. Dia adalah pengacara perceraian yang tidak pernah kalah dan sangat selektif memilih klien. Arlan mempersilakannya masuk dengan sisa-sisa wibawa yang ia punya.
Bram masuk dengan aura dingin, meletakkan sebuah map biru di atas meja kerja Arlan. "Saya rasa klien saya, Maya, sudah cukup jelas tadi pagi di rumah sakit. Ini adalah draf gugatan cerai dan kesepakatan pembagian aset yang mana, klien saya menyatakan tidak menginginkan sepeser pun harta Anda."
Arlan tertawa getir, meski tangannya gemetar saat membuka map itu. "Dia pikir dia bisa mengancamku dengan ini? Dia tidak punya apa-apa, Bram. Tanpa aku, dia bahkan tidak bisa membayar biaya makan ibunya besok."
"Maya memang tidak punya harta Anda, Arlan. Tapi dia punya harga diri yang baru saja ia ambil kembali," sahut Bram tenang.
Setelah Bram pergi,Arlan mengambil ponselnya di dalam saku jasnya,ia lalu menekan nomor yang sangat jarang ia hubungi,nomor istrinya.
Arlan menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Nama "Maya" yang selama ini ia abaikan kini terasa begitu berat untuk ditekan. Panggilan pertama hanya berakhir dengan nada sibuk. Panggilan kedua dialihkan ke kotak suara. Maya benar-benar telah menutup pintu untuknya.
Ia mencoba lagi, kali ini dengan harapan yang kian menipis. Namun, suara operator yang dingin terus memberitahu bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Arlan melempar ponselnya ke atas meja kerja, lalu menyandarkan punggungnya dengan lemas. Ruangan kantor yang mewah itu mendadak terasa seperti penjara yang hampa.
" Kau ingin bermain-main dengan meminta cerai? Baiklah aku ingin melihat sampai dimana kau bisa hidup tanpaku dan tanpa uang ku" bisiknya pada keheningan.
Arlan lalu menelfon asistennya dan memberikan perintah untuk mencabut semua biaya perawatan ibu mertuanya.
"Pastikan semua akses asuransi dan dana deposit atas nama Ibu Retno di rumah sakit dicabut detik ini juga," perintah Arlan melalui telepon, suaranya dingin dan tajam. "Biarkan Maya tahu bagaimana rasanya dunia tanpa perlindungan dari nama Dirgantara."
Arlan menutup telepon dengan napas yang memburu. Ada kepuasan pahit di dadanya. Ia yakin, dalam hitungan jam, Maya akan meneleponnya sambil terisak, memohon ampun agar pengobatan ibunya tidak dihentikan. Itulah Maya yang ia kenal lemah dan mudah dipatahkan.
Namun, satu jam berlalu. Dua jam. Ponsel Arlan tetap sunyi.
Di sisi lain ,Maya yang di kejutkan dengan informasi bahwa biaya perawatan ibunya telah di hentikan, membuatnya sedikit panik dan gelisah.Ibunya masih butuh perawatan dan biaya yang tak sedikit .
Maya yakin suaminya lah orang yang berada di balik semua ini, ia mengambil ponselnya berniat menghubungi Arlan,tapi sisi lain hatinya menolak.
Maya menatap layar ponselnya dengan ibu jari yang gemetar di atas nama Arlan. Ia tahu, satu panggilan saja akan membuat Arlan merasa menang. Pria itu pasti sedang menunggu di singgasananya, siap mendengar suara tangisnya, siap menerima permohonan maafnya, dan siap memaksanya kembali menjadi pelayan di bawah kaki Sarah.
"Tidak," bisik Maya pada dirinya sendiri. "Jika aku meneleponnya sekarang, aku akan menjadi budak selamanya."
Maya menarik napas dalam, mencoba meredam detak jantungnya yang liar. Ia memalingkan wajah ke arah ruang pemulihan tempat ibunya terbaring. Ibunya adalah segalanya, tapi kehancuran martabatnya bukan jalan keluar yang diinginkan ibunya.
Ia teringat sesuatu. Maya merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang kusam. Di dalamnya terdapat sebuah bros berlian antik dan cincin zamrud satu-satunya warisan peninggalan almarhumah neneknya yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Arlan bahkan tidak tahu keberadaan perhiasan ini karena Maya menyimpannya di bank sebelum mereka menikah.
Dengan langkah tergesa namun pasti, Maya meninggalkan rumah sakit menuju sebuah toko perhiasan langganan keluarganya dulu. Setengah jam kemudian, ia kembali ke rumah sakit dengan wajah yang jauh lebih tenang.
Ia berjalan menuju bagian administrasi dengan tatapan yang tajam.
"Selamat sore. Saya ingin melunasi seluruh biaya perawatan Ibu Retno, termasuk biaya pemulihan untuk dua minggu ke depan secara tunai," ucap Maya sambil meletakkan segepok uang di atas meja kasir.
Petugas administrasi itu tertegun. "Tapi, Bu... baru saja pihak Bapak Arlan mencabut deposit dan asuransinya. Kami pikir..."
"Gunakan uang ini. Dan tolong pastikan, mulai detik ini, jangan terima satu rupiah pun dari pihak Arlan Dirgantara. Jika dia datang atau mencoba membayar, katakan padanya bahwa Ibu Retno tidak butuh sedekah dari orang asing," potong Maya tegas.
Di kantornya, Arlan terus melirik jam dinding. Pukul lima sore. Harusnya Maya sudah menelepon. Harusnya wanita itu sudah histeris. Kenapa ponselnya tetap bisu?
" Raka!" Arlan menekan tombol interkom dengan kasar. "Bagaimana dengan rumah sakit? Apakah Maya sudah menanyakan soal biaya?"
"Pak... pihak rumah sakit baru saja melapor," suara asistennya terdengar ragu. "Biaya Ibu Retno sudah dilunasi sepenuhnya. Secara mandiri. Pasien bahkan sudah dipindahkan ke ruang VIP atas permintaan Ibu Maya sendiri."
Arlan ternganga. "Mandiri? Dari mana dia punya uang sebanyak itu?"