Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om CEO Menunjukkan Sikap Dingin & Dominan
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri?"
Zahra langsung memasang muka datar. "Gue nggak senyum."
"Zah." Suara Sinta di telepon terdengar tidak percaya. "Gue kenal lo dari SMA. Gue tau bedanya, suara lo yang biasa sama suara lo yang lagi nahan salting."
"Lo kebanyakan imajinasi."
"Lo baru nyebut nama dia tiga kali dalam lima menit."
Zahra membuka mulut. Menutupnya. Menatap langit-langit kamar baca yang sekarang sudah resmi jadi tempat favoritnya.
"Gue cuma cerita," kata Zahra defensif.
"Iya. Cerita tentang dia. Tiga kali. Lima menit." Sinta jedain. "Zahra Aldiva Hendra, jangan sampe lo jatuh cinta sama suami lo sendiri sebelum kalian—."
"Gue nggak jatuh cinta." potong Zahra.
"Gue nggak bilang lo jatuh cinta. Gue bilang jangan sampe."
Zahra menutup telepon dengan alasan baterai mau habis padahal baterainya masih delapan puluh persen.
.
.
.
Dua hari setelahnya, Rafandra berubah. Bukan drastis. Bukan tiba-tiba dia jadi jahat atau kasar. Tapi ada sesuatu yang seperti termostat yang tadinya di angka biasa tiba-tiba diturunkan beberapa derajat.
Biasanya jam segini dia sudah pergi. Tapi pagi itu dia masih di meja makan, laptop terbuka, telepon di telinga, berbicara dengan suara yang rendah dan cepat dalam bahasa yang terlalu teknis untuk Zahra mengerti.
Zahra masuk pelan, berusaha tidak mengganggu, langsung ke mesin kopi. Rafandra melirik sekilas ke arahnya lalu kembali ke laptopnya.
Zahra membuat kopi, duduk di island counter, membuka laptopnya sendiri. Diam. Tapi diam yang terasa berbeda dari biasanya, lebih tegang, entah dari mana asalnya.
Rafandra menutup teleponnya. Mengetik sesuatu dengan cepat. Lalu tanpa mendongak—
"Jangan pakai ruang baca hari ini."
Zahra menoleh. "Hah?"
"Ada yang perlu aku kerjakan di sana." Masih tidak mendongak. "Pakai ruang tamu atau kamarmu."
Bukan minta tolong. Hanya pernyataan datar dan final seperti keputusan rapat. Zahra menatap punggung laptopnya sebentar.
"Oke," jawabnya pelan.
Rafandra tidak merespons. Jarinya sudah kembali mengetik.
Zahra pindah ke ruang tamu dengan laptopnya dan menghabiskan dua jam berikutnya bergulat dengan bab tiga skripsinya yang tidak mau kooperatif bahkan di hari-hari terbaiknya, apalagi hari ini ketika kepalanya tidak sepenuhnya di sana.
Dia tidak tahu kenapa percakapan tadi mengganjal. Rafandra tidak salah. Rumah ini rumahnya. Dia berhak pakai ruang apapun kapanpun dia mau. Dan Zahra sendiri yang bilang ingin berkontribusi, bukan menyusahkan.
Tapi caranya bilang tanpa tanya, tanpa "boleh nggak", hanya instruksi, itu yang membuat sesuatu di dada Zahra terasa tidak nyaman.
"Ini yang orang-orang maksud waktu bilang dia dominan."
Selama ini Zahra belum benar-benar merasakannya karena Rafandra tidak pernah mengatur hal-hal yang menyangkut Zahra secara langsung. Tapi ternyata begini rasanya... bukan marah, atau takut. Lebih ke... diingatkan bahwa di rumah ini, ada hierarki yang tidak pernah diucapkan tapi selalu ada.
.
.
.
Makan siang, Rafandra tidak muncul. Mbak Reni bilang Bapak minta makan di studio saja. Zahra makan sendirian di meja panjang itu, dengan lauk yang terlalu banyak untuk satu orang dan keheningan yang terlalu penuh.
Sore harinya, Zahra iseng ke dapur untuk bikin teh dan hampir menabrak Rafandra yang berdiri di depan kulkas dengan ekspresi lelah.
Zahra berhenti di ambang dapur. Rafandra belum menyadari kehadirannya.
Dia menuangkan air putih, meminumnya berdiri di sana, menatap ke arah jendela dapur dengan tatapan yang tidak fokus ke mana-mana.
Zahra mempertimbangkan untuk mundur pelan-pelan dan berpura-pura tidak melihat apapun. Tapi kakinya tidak mau.
"Om udah makan siang?" tanyanya.
Rafandra menoleh. Sesuatu di matanya langsung kembali ke posisi default, terkontrol, terjaga.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Mbak Reni masak sayur asem sama ayam goreng. Masih ada banyak kalau Om mau tambah."
"Tidak perlu."
Zahra mengangguk. Masuk ke dapur, mengambil cangkir, menyalakan ketel. Hening beberapa detik.
"Skripsimu berjalan?" tanya Rafandra tiba-tiba.
Zahra menoleh, sedikit terkejut dia yang mulai percakapan.
"Lumayan. Bab tiga memang selalu paling susah." Zahra mengangkat bahu. "Om ada masalah hari ini?"
Rafandra menatapnya. "Kenapa?"
"Kelihatan capek."
Ekspresi Rafandra tidak berubah tapi ada sesuatu yang bergerak di baliknya.
"Urusan kantor," katanya akhirnya.
"Yang bikin Om minta gue nggak pakai ruang baca tadi?"
Diam sebentar.
"Ada konferensi video yang perlu privasi," jawabnya. Bukan meminta maaf. Tapi penjelasan dan dari Rafandra, penjelasan sudah berarti lebih dari yang dia sadari.
Zahra mengangguk pelan. Mengaduk tehnya.
"Lain kali bilang aja, Om. Gue ngerti kok." Zahra menatapnya sebentar.
"Nggak harus langsung instruksi gitu. Gue bukan karyawan Om." Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang dia rencanakan.
Zahra langsung bersiap untuk dingin yang lebih dalam untuk ekspresi yang menutup rapat atau kata-kata yang memotong pendek.
Tapi yang terjadi adalah Rafandra diam.
"Kamu benar," katanya akhirnya.
Zahra menatapnya.
"Itu kebiasaan yang sulit diubah," lanjut Rafandra. Nadanya bukan membela diri, lebih ke mengakui. "Tapi kamu benar."
Zahra tidak tahu harus merespons apa. Karena dia tidak menyangka Rafandra akan bilang itu.
.
.
.
Malam itu makan malam berlangsung lebih sunyi dari biasanya. Di tengah makan, Rafandra berbicara.
"Besok ada acara. Malam. Kamu perlu hadir."
Zahra berhenti mengunyah. "Acara apa?"
"Gala dinner. Relasi bisnis." Rafandra akhirnya menatapnya. "Sebagai istri, kehadiranmu akan diperhatikan."
"Sebagai istri."
Kata-kata itu mendarat dengan cara yang aneh di telinga Zahra bukan menyakitkan, tapi mengingatkan. Bahwa di luar dinding rumah ini, ada dunia yang melihat mereka sebagai pasangan. Dan Zahra harus bisa memainkan peran itu.
"Gue harus pakai apa?" tanya Zahra.
"Formal. Gelap lebih baik." Rafandra kembali ke makanannya.
"Aku minta tim dikirimkan besok pagi. Untuk persiapan."
"Tim?"
"Stylist. MUA."
Zahra menatapnya. Lalu menatap meja. Lalu menatapnya lagi.
"Dia sudah atur semua itu tanpa tanya gue dulu." batin Zahra sedikit kesal.
Zahra menarik napas pelan.
"Om," katanya dengan nada yang dijaga sebaik mungkin.
"Gue appreciate. Tapi lain kali, tanya dulu sebelum atur sesuatu yang menyangkut gue. Gue mungkin punya pilihan sendiri."
Sendok Rafandra berhenti sedetik.
"Kamu punya preferensi untuk besok malam?" tanyanya.
"Belum tau. Tapi setidaknya gue mau dikasih kesempatan buat punya preferensi."
Hening tiga detik.
"Baik," kata Rafandra. Singkat. Tapi bukan penolakan, melainkan penerimaan yang datang dari seseorang yang tidak terbiasa menerimanya.
Zahra mengangguk. Melanjutkan makannya. Di dalam dadanya ada sesuatu yang berdegup lebih kencang dari seharusnya.
"Mungkin," pikir Zahra pelan, "pria ini lebih bisa diajak bicara dari yang gue kira."
"Atau mungkin gue yang terlalu cepat mengambil kesimpulan."
"Dua-duanya mungkin. Dan gue belum cukup kenal dia untuk tau yang mana."
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼