Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Sembilan
Pintu itu tertutup cukup keras. Hana bersandar di baliknya, napasnya naik turun. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, seolah memastikan tidak ada yang bisa masuk begitu saja.
“Tidak,” gumamnya pelan, lebih seperti menegaskan pada dirinya sendiri. “Aku nggak akan ikut.”
Di luar, suasana sempat hening beberapa detik. Namun kemudian, ketukan kembali terdengar.
Hana memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras.
“Bu …,” suara Han terdengar dari luar, lebih pelan, lebih hati-hati. “Tolong buka pintunya. Kita bisa bicara baik-baik.”
Hana tidak menjawab. Ia justru menjauh beberapa langkah dari pintu, mencoba mengabaikan. Tapi ketukan itu datang lagi.
“Bu Hana, saya mohon …,” lanjut Han. “Saya cuma menjalankan tugas. Saya nggak bisa pulang kalau Ibu belum ikut.”
Hana menahan napas. Dadanya terasa sesak. Kesal, takut, bingung—semuanya bercampur jadi satu.
“Bukan urusanku,” balas Hana akhirnya dari dalam, suaranya cukup keras agar terdengar. “Saya nggak pernah minta dijemput.”
Di luar, Han terdiam sebentar. Lalu kembali mencoba. “Bu, tolong dipikirkan lagi. Ini untuk kebaikan Ibu juga .…”
Hana langsung tertawa kecil, terdengar sinis. “Kebaikan?” ulangnya. “Kebaikan macam apa maksa orang ikut tanpa penjelasan?”
Tak ada jawaban langsung. Tapi Han tidak pergi. Beberapa detik kembali mengetuk pintu rumahnya Hana. Kali ini lebih pelan, tapi terasa lebih mendesak.
Hana menggigit bibirnya. Kesabarannya mulai habis.
“Bu, saya mohon … jangan seperti ini. Saya cuma disuruh menjemput—”
“Cukup!”
Suara Hana memotong, tegas dan cukup keras hingga membuat suasana di luar langsung hening. Ia melangkah mendekat ke pintu lagi, wajahnya serius.
“Dengar ya, Pak,” ucapnya, kali ini tanpa ragu. “Kalau Anda nggak pergi dari rumah saya sekarang juga … saya bakal teriak.”
“Dan saya serius,” lanjut Hana. “Saya akan panggil warga. Biar semua orang tahu ada orang asing maksa masuk ke rumah saya.”
Kalimat itu membuat Han terdiam cukup lama. Kali ini benar-benar tidak ada ketukan lagi.
Han menunggu Hana keluar lagi. Tak ada suara. Perlahan, ia mundur lagi. Namun jantungnya masih berdetak cepat. Ia belum benar-benar yakin pria itu sudah pergi.
Di luar, Han berdiri dengan wajah tegang. Ia menatap pintu itu lama. Rahangnya mengeras, tapi tubuhnya tidak bergerak.
Ancaman Hana barusan bukan hal sepele. Di kampung seperti ini, satu teriakan saja bisa mengundang banyak orang. Dan kalau itu terjadi … situasinya bisa jadi jauh lebih rumit.
Han menghembuskan napas panjang.
“Maaf, Bu …,” gumamnya pelan, meski tahu tidak akan terdengar.
Akhirnya Han berbalik. Langkahnya terasa berat saat meninggalkan rumah itu. Ia berhenti beberapa meter dari sana, lalu merogoh ponselnya.
Satu nama langsung ia hubungi. Tak butuh waktu lama.
“Ya?” suara di seberang terdengar dingin dan singkat.
Han menelan ludah. “Pak …,” ucapnya hati-hati. “Saya sudah sampai di rumah Bu Hana.”
“Lalu?” potong suara itu.
Han menghela napas pelan. “Beliau menolak ikut, Pak.”
Suasana menjadi sunyi. Beberapa detik yang terasa sangat panjang.
“Menolak?” ulang suara itu, rendah, tapi jelas berubah.
“Iya, Pak. Saya sudah coba membujuk, tapi—”
“Kamu nggak bisa menangani satu orang perempuan?”
Nada suaranya tajam sekarang. Han langsung menegang. “Pak, situasinya—”
“Cukup.”
Satu kata itu cukup membuat Han terdiam. Di seberang, Arsaka menarik napas pelan. Tapi bukan menenangkan—lebih seperti menahan amarah.
“Akhir-akhir ini kerjamu makin nggak becus, Han.”
Kalimat itu menusuk. Han menunduk, meski tak terlihat.
“Saya—”
“Ini sudah yang kedua kalinya kamu gagal.”
Jantung Han berdegup lebih cepat.
“Kalau sampai tiga kali,” lanjut Arsaka, suaranya dingin dan tanpa emosi, “kamu tahu sendiri apa yang akan terjadi.”
Han menelan ludah keras. Tentu ia tahu. Dipecat.
Dan itu bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Bagi Han, bekerja untuk Arsaka bukan hanya soal gaji. Itu soal hidupnya.
“Saya minta maaf, Pak,” ucapnya cepat. “Saya akan coba lagi—”
“Tidak perlu," ucap Arsaka. Han terdiam.
“Aku yang akan datang.” Sambungan terputus.
Han menatap layar ponselnya beberapa detik. Wajahnya pucat. Perasaannya campur aduk—takut, cemas, dan sedikit lega.
“Semoga … tidak makin buruk,” gumamnya.
**
Sementara itu, di dalam rumah Hana masih belum benar-benar tenang. Ia duduk di kursi ruang tengah, tapi tubuhnya kaku. Pikirannya terus berputar. Tentang Arsaka. Tentang Han. Dan yang paling mengganggu—tentang bayinya.
Bagaimana bisa pria itu tahu?
Ia memegang perutnya pelan. Napasnya kembali tidak teratur.
“Ini nggak benar …,” bisiknya.
Beberapa saat kemudian, kembali terdengar suara ketukan pintu. Hana langsung menoleh. Matanya membesar.
“Lagi?” gumamnya.
Namun kali ini, ketukan itu berbeda. Lebih tegas. Hana berdiri perlahan. Kali ini ia tidak langsung membuka. Ia berjalan pelan mendekat ke pintu, lalu mengintip dari celah kecil di samping.
Dan di sana tampak Arsaka. Pria itu berdiri tegap, wajahnya datar seperti biasa. Seolah tidak ada yang bisa menggoyahkan posisinya.
Hana langsung mundur sedikit. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dari luar, Arsaka jelas menyadari.
“Hana,” ucap Arsaka, suaranya cukup keras untuk terdengar. “Buka pintunya.”
Hana diam. Ia tidak bergerak. Beberapa detik berlalu.
Lalu kembali terdengar suara Arsaka, “Kalau kamu tidak buka .…”
Nada suara Arsaka berubah. Masih tenang, tapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.
“Aku akan katakan pada tetanggamu kalau kamu adalah selingkuhanku.”
Hana langsung membeku. “Apa?” bisiknya tak percaya.
Di luar, Arsaka melanjutkan tanpa ragu. “Aku akan bilang kamu pergi dari rumah karena diusir suamimu. Ketahuan selingkuh denganku.”
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Hana mundur satu langkah. Pikirannya langsung kacau.
Tidak … ini tidak bisa. Tapi … bagaimana kalau dia benar-benar melakukan itu?
Hana menelan ludah. Ia tahu bagaimana orang-orang kampung berpikir. Satu cerita saja bisa menyebar seperti api. Dan jika itu keluar dari pria seperti Arsaka—yang terlihat jelas bukan orang sembarangan—banyak yang akan percaya.
Apalagi Farhan, suaminya tak pernah terlihat di kampung ini sejak ia datang. Pertanyaan-pertanyaan akan muncul.
Dan Hana tidak punya jawaban yang bisa menjelaskan semuanya tanpa membuka luka yang lebih dalam.
Tangannya mengepal. “Dia gila …,” gumamnya.
Tapi ancaman itu terlalu nyata untuk diabaikan. Beberapa detik berlalu. Hana akhirnya melangkah maju lagi. Ia akhirnya membukakan pintu.
Arsaka langsung menatapnya. Tatapan yang sama seperti tadi—tenang, tapi penuh kendali.
“Akhirnya,” ucap Arsaka pelan.
Hana tidak menjawab. Wajahnya tegang.
“Apa sebenarnya maumu?” tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
“Aku ingin kamu ikut denganku. Aku tidak akan mencelakaimu,” lanjutnya. “Aku hanya ingin memastikan kamu dan bayimu dalam keadaan baik.”
Hana terdiam. Kalimat itu kembali menyentuh bagian yang paling ia jaga.
“Apa kamu mau melahirkan di sini?” lanjut Arsaka, suaranya tetap tenang. “Di kampung kecil ini … dan jadi bahan omongan orang?”
Hana menggigit bibirnya. Kata-kata itu menyakitkan. Tapi tidak sepenuhnya salah.
Pikirannya mulai berjalan ke arah yang tidak ingin ia akui. Orang-orang kampung…
Mereka pasti akan bertanya. Suaminya mana? Kenapa sendirian? Kenapa hamil tapi nggak ada suami?”
Dan kalau ia bilang cerai, pertanyaan lain akan datang.
“Kenapa diceraikan saat hamil? Anaknya siapa?"
Hana memejamkan mata sejenak. Semua itu terlalu berat untuk ia hadapi sendirian.
Tangannya kembali menyentuh perutnya.
“Aku cuma ingin kamu aman,” suara Arsaka terdengar lagi, kali ini sedikit lebih rendah. “Itu saja.”
Hana membuka mata. Menatap pria di depannya. Ia masih tidak sepenuhnya percaya..Masih ada rasa takut. Masih ada curiga.
Tapi, di antara semua itu, ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan. Kenyataan bahwa ia tidak akan sendirian lagi menghadapi pertanyaan sinis orang saat melihat ia hamil tanpa suami.
Bahwa ada kehidupan lain yang harus ia lindungi. Dan mungkin Arsaka benar tentang satu hal, ia butuh tempat yang lebih aman.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Hana menarik napas panjang. Perlahan ia mengangguk.
“Bagus,” ucapnya singkat.
Hana menunduk sedikit. Dalam hatinya, ia hanya bisa berharap keputusan ini bukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....