Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
POV: RIANI
Riani membaca pesan terakhir Wahyu tiga kali sebelum bisa memproses artinya.
"Kamu yang pertama ingin aku ceritakan."
Dia duduk di kasurnya, ponsel di tangan, jantung berdegup dengan ritme yang tidak normal.
Bukan karena kabar tentang saksi itu—meskipun itu juga membuat dadanya terasa penuh dengan sesuatu yang hangat dan lega. Tapi karena kalimat itu.
Wahyu memberitahunya sebelum ibunya. Sebelum siapa pun.
Riani tahu betapa besar artinya itu untuk seseorang seperti Wahyu.
Dia mengetik balasan dengan tangan yang sedikit tidak stabil.
Riani: "Aku di sini. Apapun yang terjadi selanjutnya, kamu tidak sendirian."
Send.
Balasan Wahyu tidak datang segera—mungkin dia sedang menelepon ibunya, atau membaca email Pak Hendra lagi, atau sekadar duduk dengan berita besar itu.
Riani meletakkan ponsel dan merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit.
Dia pikir perasaan ini akan lebih mudah dikelola kalau dia tidak memberikannya nama. Kalau dia terus menyebutnya "peduli" atau "perhatian teman" atau "empati", mungkin bisa tetap di tempatnya—aman, tidak berantakan, tidak mengubah dinamika yang sudah berjalan dengan baik.
Tapi setelah malam ini, setelah kalimat itu, Riani tidak bisa lagi pura-pura.
Ini bukan sekadar peduli.
Ini bukan sekadar empati.
Ini adalah sesuatu yang lebih besar, lebih dalam, dan lebih rumit dari keduanya.
Keesokan paginya, Selasa, Riani pergi ke kelas dengan pikiran yang lebih jernih tapi hati yang lebih penuh.
Dia sudah membuat keputusan semalam—setelah Wahyu mengirim satu pesan terakhir sebelum tidur ("Sudah telepon ibu. Dia menangis.") dan Riani membalas dengan emoji hati kecil yang dia kirim sebelum bisa menahan diri—bahwa dia tidak akan terburu-buru.
Wahyu sedang di tengah momen yang sangat penting dalam hidupnya. Kasus ayahnya mendekati resolusi setelah delapan tahun. Dia baru saja mulai belajar percaya lagi. Dia baru saja mengambil komitmen baru di BEM dan mulai kerja sama dengan firma hukum.
Terlalu banyak yang sedang bergerak sekaligus.
Menambahkan "ngomong soal perasaan" ke dalam campuran itu bukan waktu yang tepat.
Tapi Riani juga tidak bisa terus pura-pura.
Jadi dia memutuskan untuk berada di tengah—tetap ada, tetap jujur dalam sikap, tapi tidak memaksa percakapan yang belum waktunya.
Sampai nanti.
Kapan pun "nanti" itu.
Selasa siang, Riani sedang makan siang sendirian di kantin kampus satu ketika Karin datang dengan nampan makanan dan langsung duduk tanpa bertanya.
"Cerita," kata Karin tanpa basa-basi.
Riani mengangkat alis. "Cerita apa?"
"Ekspresimu dari tadi pagi aneh. Aku lihat kamu waktu keluar dari kelas Manajemen Pemasaran. Kamu senyum-senyum sendiri sambil pegang HP."
Riani terdiam.
"Dan tadi Dinda chat aku, bilang kamu kemarin malam balas pesannya dengan emoji hati ke orang yang salah."
Riani menutup wajah dengan kedua tangan. "Ya ampun."
"Jadi siapa yang dapat emoji hatinya?"
"Bukan siapa-siapa—"
"Riani."
Riani menurunkan tangan. Menatap Karin yang menunggu dengan sabar dan ekspresi yang tidak akan menerima jawaban menghindar.
"Wahyu," akui Riani akhirnya.
Karin diam beberapa detik.
Lalu, dengan nada yang sangat hati-hati: "Dan dia... bagaimana responnya?"
"Dia tidak balas apa-apa soal emoji itu. Mungkin tidak sadar." Riani mengaduk-aduk makanannya. "Tapi semalam dia dapat kabar bagus tentang kasus ayahnya, dan dia—Kar, dia bilang aku adalah orang pertama yang ingin dia ceritakan."
Karin menatap Riani.
"Serius?"
"Serius."
Karin meletakkan sendoknya. Bersandar ke kursi. Ekspresinya berubah menjadi campuran antara terharu dan khawatir yang sangat khas Karin.
"Ri," ujar Karin pelan, "aku perlu bilang sesuatu, dan aku minta kamu dengar dulu sebelum bereaksi."
Riani mengangguk.
"Aku kenal Wahyu lebih lama dari kamu. Aku tahu dia dari sebelum dia jadi seperti sekarang." Karin berhenti sebentar. "Apa yang dia lakukan semalam—memilih kamu sebagai orang pertama yang diceritai—itu bukan sesuatu yang dia lakukan dengan mudah. Itu sangat berarti dari dia."
Riani mendengarkan.
"Tapi aku juga tahu bahwa Wahyu itu butuh waktu yang jauh lebih panjang dari orang biasa untuk benar-benar membuka diri. Dan dia sekarang sedang di titik yang kritis—kasus ayahnya, kerjaan baru, BEM, kuliah." Karin menatap Riani. "Aku tidak bilang kamu salah kalau punya perasaan itu. Tapi aku minta kamu sabar. Bukan karena perasaanmu tidak layak diungkapkan, tapi karena timing-nya penting."
Riani menarik napas. "Aku tahu, Kar. Aku sudah berpikir tentang itu semalam."
"Dan?"
"Dan aku memutuskan untuk tidak terburu-buru. Aku tetap akan ada. Tapi aku tidak akan memaksa."
Karin tersenyum—senyum yang lega dan hangat. "Itu... keputusan yang sangat dewasa, Ri."
"Jangan dipuji. Aku sudah cukup susah payah sampai ke keputusan itu."
Karin tertawa kecil.
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman untuk beberapa menit.
Lalu Karin berkata pelan: "Tapi Ri... aku perlu kamu siapkan diri untuk satu kemungkinan."
"Kemungkinan apa?"
"Bahwa Wahyu mungkin... tidak bisa merespons dengan cara yang kamu harapkan. Bukan karena dia tidak peduli. Tapi karena bagian dari dirinya yang sudah terluka itu mungkin tidak akan pernah sepenuhnya sembuh. Dan ada orang yang, meskipun mereka menyukaimu, tidak bisa memberikan apa yang kamu butuhkan karena mereka terlalu takut."
Riani menatap meja.
"Aku tahu."
"Dan kalau itu yang terjadi—"
"Aku tahu, Kar." Riani mengangkat kepala, menatap sahabatnya. Matanya tenang meskipun ada sesuatu yang berat di sana. "Aku sudah memikirkan itu juga. Dan aku masih memilih untuk ada. Karena apapun yang terjadi setelah ini, aku tidak akan menyesal sudah mencoba."
Karin menatap Riani lama.
"Kamu berani banget, Ri."
"Bukan berani. Aku cuma... tidak mau menyesal seperti dulu."
Rabu sore, Riani pergi ke perpustakaan kampus satu untuk mengerjakan tugas review jurnal yang sudah menunggunya terlalu lama.
Dia memilih meja yang biasa—sudut dekat jendela, lantai dua.
Empat puluh menit berlalu dengan produktif.
Lalu seseorang menarik kursi di sebelahnya.
Wahyu.
Riani mengangkat kepala. Wahyu menaruh ranselnya, mengeluarkan laptop, duduk—semuanya dengan gerakan yang sudah sangat Riani kenal. Tidak ada permisi, tidak ada "boleh duduk di sini", hanya... duduk. Seperti sudah biasa.
"Kamu tidak ada kuliah sore?" tanya Riani.
"Sudah selesai jam dua." Wahyu membuka laptopnya. "Translation project. Bisa dikerjain di sini."
"Oh." Riani kembali ke layar laptopnya. "Oke."
Mereka bekerja berdua dalam diam.
Dua puluh menit kemudian, Wahyu berbicara tanpa mengangkat kepala dari layarnya.
"Tadi aku telepon ibu lagi. Pak Hendra sudah ketemu ayahku dan menjelaskan perkembangan terbaru."
Riani menghentikan pengetikan. "Bagaimana reaksi ayahmu?"
"Dia menangis waktu dengar nama Hendra Kusuma mau bersaksi jujur." Wahyu tetap menatap layarnya. Tapi suaranya sedikit berbeda—lebih pelan, lebih dalam. "Ayahku tidak pernah nangis di depan kami sebelumnya. Selama delapan tahun, aku tidak pernah lihat dia nangis."
Riani tidak berkata apa-apa. Hanya mendengarkan.
"Ibu bilang tadi malam setelah telepon dari Pak Hendra, ayahku duduk di teras sampai larut malam sendirian. Ibu mau temenin tapi dia bilang nggak apa-apa, dia cuma butuh waktu."
"Itu wajar," ujar Riani pelan. "Delapan tahun menahan semuanya. Kalau ada tanda bahwa akhirnya mau selesai... pasti ada yang terlepas."
Wahyu akhirnya mengangkat kepala, menatap Riani dari samping.
"Kamu tahu hal-hal seperti itu dari mana?"
"Dari melihat orang. Dari mendengarkan." Riani tersenyum kecil. "Dan sedikit dari buku."
Wahyu menatapnya beberapa detik lagi.
Lalu, dengan nada yang sangat pelan—nyaris hanya terdengar oleh Riani dan meja di antara mereka: "Aku tidak pernah ada seseorang yang bisa aku ceritakan hal-hal seperti ini sebelumnya."
Riani menahan napas.
"Orang tua?" tanyanya hati-hati.
"Aku tidak ingin membebani mereka. Mereka sudah cukup berat." Wahyu melihat ke depan—ke arah jendela, ke taman di bawah yang terlihat dari lantai dua. "Teman? Aku tidak punya. Karin... sudah lama hilang. Dan siapa pun yang coba deket waktu SMA atau SMP, aku dorong pergi."
"Sampai sekarang."
Wahyu menoleh.
Riani menatapnya langsung. "Sampai sekarang kamu masih mendorong, Wahyu. Tapi sekarang kamu juga membiarkan beberapa orang tetap ada."
Wahyu tidak menjawab.
Tapi dia tidak mengalihkan pandangan.
Mereka saling menatap dalam diam yang penuh dengan hal-hal yang belum terucap—di perpustakaan yang sunyi, di bawah cahaya sore yang masuk miring melalui jendela, dengan suara halaman buku yang sesekali dibalik oleh orang lain di meja-meja sekitar mereka.
Wahyu yang akhirnya berbicara.
"Terima kasih," ujarnya. "Karena tidak pergi."
Tiga kata sederhana yang, dari mulut Wahyu, terasa seperti sesuatu yang sangat mahal.
Riani menahan dirinya untuk tidak mengatakan apa yang sebenarnya ingin dia katakan.
Bukan sekarang.
"Sama-sama," jawabnya, dengan senyum yang dia harap cukup menyampaikan sisanya.
Bersambung.....