Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan Yang Tak Terjelaskan
Kanaya menatap Viktor perlahan.
“Jadilah ayah Nayara di depan Fatan.”
Sunyi.
Tatapan Viktor berubah pelan.
Kanaya melanjutkan dengan suara berat,
“Dan… buatlah di mata Fatan kita terlihat seperti keluarga bahagia.”
Kalimat itu terdengar begitu rapuh.
Seolah Kanaya sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Viktor memandang wanita itu cukup lama.
Lalu perlahan tersenyum tipis.
“Tentu akan aku lakukan,” jawabnya lembut.
Kanaya menunduk kecil.
“Terima kasih.”
“Namun…” Viktor berhenti sejenak.
Kanaya mengangkat wajah.
Tatapan Viktor kini jauh lebih serius.
“Kenapa harus berpura-pura?”
Kanaya terdiam.
Viktor menggenggam tangan wanita itu perlahan.
“Bagaimana kalau kita benar-benar menjadi keluarga utuh?”
Deg.
Jantung Kanaya seolah berhenti sesaat.
Viktor menatapnya lekat.
“Aku serius.”
Suaranya rendah namun penuh ketegasan.
“Aku menyayangimu. Aku juga menyayangi Nayara.”
Tatapannya beralih pada bayi kecil yang tertidur tenang.
“Aku tidak keberatan menjadi ayahnya.”
Kanaya langsung menggigit bibir pelan.
Sementara Viktor kembali menatapnya.
“Menikahlah denganku.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung lama di udara.
Kanaya membeku.
Bukan karena tidak menyangka.
Ia tahu cepat atau lambat Viktor akan mengatakan itu lagi.
Namun mendengarnya secara langsung…
tetap membuat hatinya bergetar.
Viktor tersenyum kecil.
“Aku tahu ini bukan waktu yang mudah,” katanya pelan. “Tapi aku sudah terlalu lama menunggumu, Kanaya.”
Kanaya menunduk.
Tangannya mulai dingin.
“Aku tidak meminta jawaban sekarang juga,” lanjut Viktor lembut. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku serius.”
Kanaya memejamkan mata perlahan.
Dadanya terasa sesak.
Karena Viktor terlalu baik.
Terlalu tulus.
Dan justru itu yang membuat dirinya merasa bersalah.
“Aku…” suaranya lirih.
Viktor menunggu dengan sabar.
Kanaya membuka mata perlahan lalu menatapnya penuh rasa bersalah.
“Maaf…”
Senyum Viktor perlahan memudar.
Kanaya langsung menggenggam tangannya.
“Bukan karena kamu kurang,” katanya cepat. “Kamu sangat baik.”
“Lalu kenapa?”
Kanaya menelan ludah pelan.
“Aku tidak siap.”
Viktor terdiam.
“Aku tidak siap membina rumah tangga lagi,” lanjut Kanaya jujur. “Setidaknya… untuk saat ini.”
Sunyi.
Tatapan Viktor berubah sendu, namun ia tidak melepaskan genggaman tangan Kanaya.
“Apa karena Fatan?” tanyanya pelan.
Kanaya langsung menggeleng cepat.
“Bukan.”
Namun jawaban itu terdengar lemah.
Bahkan dirinya sendiri tidak yakin sepenuhnya.
Kanaya menghela napas panjang.
“Aku hanya… lelah.”
Suaranya mulai bergetar lagi.
“Aku pernah mencoba memberikan seluruh hidupku untuk sebuah pernikahan.”
Matanya perlahan memerah.
“Dan akhirnya aku hancur.”
Viktor menatapnya diam.
“Aku takut mengulang semuanya lagi,” lanjut Kanaya lirih. “Aku takut berharap terlalu banyak.”
Tangannya mengepal pelan.
“Aku takut suatu hari nanti semuanya kembali runtuh.”
Viktor mengusap perlahan punggung tangan Kanaya.
“Aku bukan Fatan.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa masih takut?”
Kanaya tersenyum kecil.
Pahit.
“Karena luka tidak hilang hanya karena kita bertemu orang baik.”
Kalimat itu membuat Viktor terdiam cukup lama.
Kanaya menunduk lagi.
“Aku masih berusaha berdamai dengan diriku sendiri,” katanya pelan. “Aku masih belajar hidup tanpa rasa takut.”
Ia menarik napas panjang.
“Dan aku tidak ingin menikah hanya karena ingin terlihat utuh.”
Tatapan Kanaya perlahan beralih pada Naraya.
“Aku ingin benar-benar siap.”
Viktor mengikuti arah pandangnya.
Lalu tersenyum tipis.
“Dan kalau aku tetap menunggu?”
Kanaya langsung menatapnya.
Viktor tersenyum kecil.
“Aku sudah menunggumu bertahun-tahun,” katanya ringan meski matanya menyimpan kesedihan. “Beberapa waktu lagi bukan masalah.”
Kanaya merasa dadanya kembali sesak.
“Jangan terlalu baik padaku…” bisiknya lirih.
Viktor tertawa kecil.
“Sayangnya aku memang seperti ini kalau mencintai seseorang.”
Kanaya langsung memalingkan wajah karena air matanya kembali jatuh.
Viktor menghela napas pelan lalu berdiri.
“Aku tidak akan memaksamu,” katanya lembut.
Kanaya mengangkat wajah perlahan.
“Namun satu hal yang harus kamu tahu…”
Viktor menatapnya begitu dalam.
“Aku tidak ingin hanya menjadi pria yang berpura-pura menjadi keluarga untukmu.”
Jantung Kanaya berdetak pelan.
“Aku ingin benar-benar menjadi rumah untuk kalian.”
Sunyi kembali memenuhi ruangan.
Dan malam itu
Kanaya semakin sadar bahwa hidupnya kini berada di antara dua pria yang sangat berbeda.
Satu pria menghancurkannya di masa lalu.
Dan satu lagi…
sedang berusaha mencintainya dengan cara paling utuh.
Hari-hari berlalu dengan ritme yang mulai terasa… stabil, setelah permintaan Kanaya pada Viktor
Fatan kembali menjalankan tugasnya seperti biasa mengantar Kanaya ke kantor, menjemput, memastikan semuanya berjalan sesuai kebutuhan majikannya. Ia tidak lagi menginap di rumah itu, hanya datang dan pergi sesuai waktu kerja.
Dan perlahan… satu hal mulai menguat dalam pikirannya.
Kanaya dan Viktor.
Keduanya benar-benar tampak seperti keluarga.
Terlebih sejak kejadian malam itu.
Kini Viktor semakin sering datang. Bahkan tidak jarang ia sudah berada di rumah ketika Fatan datang pagi hari.
Dan selalu
Nayara ada di tengah mereka.
Bayi kecil dengan mata bulat dan senyum yang entah kenapa… terasa begitu dekat.
Hari itu, seperti biasa, Fatan datang lebih pagi.
Ia baru saja memarkir mobil ketika langkah kecil seorang pelayan mendekatinya.
“Pak Fatan, Ibu Kanaya masih di dalam. Pak Viktor juga ada,masuk saja dalam,nanti saya buatkan kopi”
Fatan mengangguk pelan.
“Baik.”
Ia berjalan masuk dengan langkah tenang, meski dalam hati ia sudah bisa menebak pemandangan apa yang akan ia lihat.
Dan benar saja.
Begitu sampai di ruang keluarga
Viktor duduk santai di sofa, sementara Kanaya berdiri di dekatnya sambil menggendong Naraya.
Suasana itu terasa… hangat.
Terlalu hangat untuk seseorang seperti Fatan yang hanya berdiri di ambang pintu.
“Selamat pagi, Bu,” ucap Fatan sopan.
Kanaya menoleh sekilas.
“Pagi.”
Sementara Viktor hanya melirik singkat.
Naraya tertawa kecil saat Viktor menggerakkan jari-jarinya di depan wajah bayi itu.
“Lihat ini, Nak,” ujar Viktor lembut. “Om,,,,,”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum.
“Ayah belikan mainan baru.”
Fatan membeku.
Ayah.
Kata itu terdengar jelas.
Dan entah kenapa…
langsung menghantam dadanya.
Nayara menggerakkan tangannya kecil, seolah merespons suara Viktor.
Kanaya tersenyum tipis melihatnya.
“Dia suka,” ucap Kanaya pelan.
Viktor tersenyum puas.
“Tentu saja. Anak kita memang pintar.”
Kalimat itu terdengar begitu alami.
Begitu… nyata.
Fatan menunduk pelan.
“Aku memang tidak punya hak apa pun, seandainya aku tidak menghancurkan segalanya mungkin kebahagiaan itu,aku rasakan sekarang…” batin Fatan,
Semua sudah jelas.
Kanaya telah melanjutkan hidupnya.
Dan Viktor
pria itu benar-benar mengisi posisi yang seharusnya diisi seseorang yang lebih pantas.
Fatan menarik napas dalam.
Ia mencoba bersikap biasa.
Namun saat ia kembali mengangkat wajahnya
tatapannya bertemu dengan Nayara
Bayi kecil itu menatapnya.
Lama.
Tanpa berkedip.
Fatan terdiam.
Ada sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Tatapan itu…
terasa terlalu dekat.
Terlalu… akrab.
Seolah ia pernah melihatnya sebelumnya.
Fatan mengernyit kecil.
“Kenapa aku merasa seperti ini…” bisiknya dalam hati.
Naraya tiba-tiba tersenyum kecil.
Dan jantung Fatan berdetak lebih cepat.
Tanpa sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.
Senyum kecil.
Refleks.
Viktor yang melihat itu langsung mengalihkan pandangan.
Tatapannya sedikit mengeras.
Sementara Kanaya terdiam.
Ia melihat momen itu.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa sesak.
Fatan segera menunduk kembali, menyadari posisinya.
“Maaf,” ucapnya pelan. “Mobil sudah siap.”
Kanaya mengangguk.
“Sebentar.”
Ia mengalihkan Nayara ke pelukan pelayan.
“Aku ke kantor dulu,” katanya pada Viktor.
Viktor berdiri.
“Aku antar sampai luar.”
Kanaya menggeleng.
“Tidak perlu.”
Namun Viktor tetap berjalan mengikutinya.
Fatan melangkah lebih dulu menuju pintu.
Namun pikirannya masih tertinggal di dalam.
Pada bayi kecil itu.
Nayara
Sepanjang perjalanan menuju mobil, Fatan terus memikirkan hal yang sama.
Kenapa setiap melihat bayi itu
dadanya terasa… berbeda?
Bukan sekadar rasa suka melihat bayi.
Bukan sekadar rasa iba.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Seolah ada ikatan yang tidak terlihat.
Fatan membuka pintu mobil untuk Kanaya.
“Silakan, Bu.”
Kanaya masuk tanpa berkata apa-apa.
Fatan kembali ke kursi pengemudi.
Mesin mobil dinyalakan.
Namun sebelum mobil benar-benar bergerak
Fatan sempat melirik ke kaca spion.
Dan dari sana
ia melihat Nayara yang kini berada di pelukan Viktor.
Bayi itu masih menghadap ke arah mobil.
Seolah… mencari sesuatu.
Fatan langsung mengalihkan pandangan.
Jantungnya berdegup tidak normal.
“Apa ini…” gumamnya dalam hati.
Mobil mulai melaju.
Keheningan kembali mengisi ruang di antara mereka.
Namun kali ini
pikirannya tidak lagi tentang Kanaya.
Melainkan tentang Nayara
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Fatan memberanikan diri bertanya.
“Bu…”
Kanaya yang sejak tadi diam menatap jendela sedikit menoleh.
“Ada apa?”
Fatan tampak ragu.
Sangat ragu.
Namun pertanyaan itu terlalu mengganggu untuk disimpan.
“Anak itu…” ucapnya pelan.
Kanaya langsung menegang.
Fatan menelan ludah.
“Anak Ibu dan Pak Viktor?”
Sunyi.
Kanaya tidak langsung menjawab.
Tangannya mengepal pelan di pangkuannya.
Namun ia tetap menjaga wajahnya tetap tenang.
“Iya,” jawabnya singkat.
Jawaban itu…
seolah menutup semua kemungkinan.
Fatan mengangguk pelan.
“Dia sangat… menggemaskan,” katanya lirih.
Kanaya tidak menanggapi.
Namun matanya perlahan memejam.
Sementara Fatan kembali fokus ke jalan.
Namun di dalam hatinya
sesuatu tetap tidak bisa ia abaikan.
Perasaan itu.
Perasaan aneh yang selalu muncul setiap melihat Nayara
Seolah…
ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
Dan entah kenapa…
ia merasa bayi kecil itu adalah bagian dari sesuatu yang tidak bisa ia gapai lagi.
Fatan tersenyum tipis.
Pahit.
“Mungkin aku hanya terlalu terbawa perasaan…” gumamnya.
Namun jauh di dalam dirinya
ada satu hal yang terus berbisik pelan.
Bahwa ikatan itu…
tidak sepenuhnya kebetulan.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?