NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Satu Atap, Dua Rahasia, Satu Godaan

Kalimat itu, meski diucapkan dalam konteks melindungi kesepakatan mereka, terdengar sangat intim dan ambigu. Selena merasa sekujur tubuhnya meremang. Integritasnya yang biasanya kokoh seolah mencair di bawah tatapan Biru yang begitu posesif dan gelap.

Di luar ruangan, Nyonya Widya mungkin sedang bermimpi tentang cucu, namun di dalam ruangan ini, Biru Hermawan baru saja mendeklarasikan sebuah kepemilikan yang jauh melampaui isi kontrak pernikahan mereka. Dan anehnya, jantung Biru yang tadi berdegup kencang karena sentuhan Selena, kini terasa sangat kuat—seolah-olah dorongan untuk melindungi wanita ini telah memberinya kekuatan fisik yang melampaui logika medis mana pun.

Dada Selena berdegup tak teratur sampai-sampai ia lebih ingin bertemu spesialis jantung daripada dokter kandungan.

Sensasi dingin dari alat-alat medis tadi mendadak menguap, digantikan oleh hawa panas yang menjalar dari titik di mana napas Biru menyentuh kulit lehernya. Selena mencengkeram pinggiran kursi pemeriksaan dengan sangat kuat. Jantungnya kini tidak lagi berdetak; ia seolah sedang melakukan maraton di dalam rongga dadanya.

Dug-dug-dug.

Cepat, liar, dan benar-benar tidak profesional bagi seorang wanita yang menjunjung tinggi logika.

"Terima kasih, Mas," bisik Selena, nyaris tidak terdengar. Suaranya bergetar, dan ia benci betapa rapuhnya ia terdengar saat ini.

Biru tidak segera menjauh. Ia justru tetap berdiri di sana, menciptakan perlindungan fisik yang begitu rapat seolah-olah ia sedang menjaga aset paling berharga milik Hermawan Group. Mata elangnya tetap mengawasi setiap gerak-gerik suster yang kini hanya mengambil peralatan untuk tes darah.

Selena memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mendadak pendek. Ini konyol, pikirnya.

Sebagai penulis, ia sering mendeskripsikan adegan seperti ini: sang pahlawan datang menyelamatkan martabat sang putri. Tapi merasakannya secara nyata, dengan aroma maskulin Biru yang mengepung indra penciumannya dan aura posesif yang begitu kental, membuat seluruh teori penulisan di kepalanya mendadak kosong.

"Mas... Biru," panggil Selena lagi, kali ini sedikit lebih tegas meski dadanya masih bergemuruh. "Bisa sedikit... mundur? Aku merasa lebih butuh dokter spesialis jantung sekarang daripada dokter kandungan. Jantungku rasanya mau copot."

Mendengar itu, Biru tersentak kecil. Ia seolah baru tersadar dari trans "mode pelindung" yang menyelimutinya sejak di toilet tadi. Ia perlahan menegakkan punggung, menarik tangannya dari sandaran kursi Selena, namun matanya masih memancarkan intensitas yang sulit dijelaskan.

"Maaf," ujar Biru pendek. Ia berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang sempat goyah. "Aku hanya memastikan tidak ada yang melanggar batasanmu."

Dokter Harun, yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya dengan alis berkerut, akhirnya angkat bicara. "Tuan Biru, jika istrimu merasa ada masalah dengan detak jantungnya karena stres pemeriksaan ini, mungkin kita memang harus melakukan observasi tambahan—tapi bukan di sini."

Biru menatap Dokter Harun dengan tajam, lalu kembali menatap Selena yang wajahnya kini merah padam. Ia sendiri bisa merasakan debaran di dadanya belum juga melambat.

Keajaiban fisik yang ia rasakan pagi ini—tubuh yang bertenaga dan jantung yang kuat—ternyata memiliki efek samping yang tidak terduga: ia menjadi terlalu sensitif terhadap kehadiran Selena.

"Kita selesaikan tes darahnya sekarang, lalu kita pulang," putus Biru. Ia berdiri di sisi Selena, kali ini tidak menyentuh, namun posisinya tetap menunjukkan bahwa ia adalah benteng yang tidak boleh ditembus.

Selena hanya bisa pasrah saat suster mendekat untuk mengambil sampel darahnya. Ia menatap lurus ke depan, berusaha keras tidak melirik Biru yang berdiri tegap di sampingnya.

Dalam hati, Selena mengutuk integritasnya sendiri yang mulai goyah. Bagaimana ia bisa tetap bersikap skeptis terhadap cinta jika detak jantungnya sendiri sudah berkhianat sehebat ini?

Widya tampak sangat senang setelah menerima hasil bahwa keduanya sehat dan juga subur. Selena bahkan mempunyai pinggul yang bagus hingga bisa mendapatkan banyak anak, biru semakin tak nyaman karena tiba-tiba memperhatikan pinggul istrinya

Nyonya Widya keluar dari ruang konsultasi dengan langkah ringan, seolah baru saja memenangkan tender terbesar dalam hidupnya. Ia menggenggam lembaran hasil laboratorium itu seperti sebuah piala suci. Senyumnya lebar, matanya berbinar menatap bergantian ke arah anak dan menantunya yang masih tampak kaku.

"Dokter Harun bilang semuanya sempurna! Kalian berdua sehat, subur, dan tidak ada alasan untuk menunda lagi," seru Widya, suaranya memenuhi koridor VVIP yang sunyi.

Ia kemudian beralih pada Selena, menatap menantunya dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang baru. "Mama sudah bilang, kan? Pilihan Mama tidak pernah salah. Lihat dirimu, Selena. Kau punya struktur tulang yang kuat dan pinggul yang bagus. Dokter bahkan bilang tipe panggulmu sangat ideal untuk melahirkan banyak anak dengan mudah. Keluarga Hermawan akan sangat ramai sebentar lagi!"

Mendengar kata "pinggul" disebut secara gamblang oleh ibunya, Biru merasakan sebuah sengatan aneh yang mendadak menyerang sistem sarafnya. Refleks yang tidak bisa ia kendalikan membuat matanya—yang biasanya hanya fokus pada angka dan dokumen legal—turun menatap bagian tubuh Selena yang dimaksud ibunya.

Selena mengenakan terusan baby pink yang pas di pinggang. Dan untuk pertama kalinya dalam satu bulan pernikahan mereka, Biru benar-benar melihatnya. Ia menyadari lekuk tubuh Selena yang selama ini tersembunyi di balik kaos lusuh atau daster longgar saat di rumah.

Dada Biru mendadak sesak. Tapi bukan sesak napas karena penyakit jantungnya yang kronis. Ini adalah sesak yang panas, sebuah debaran yang jauh lebih menghentak daripada saat Selena menyentuh tangannya di toilet tadi.

"Ma, hentikan. Itu memalukan," tegur Biru, suaranya kini terdengar lebih rendah dan serak. Ia memalingkan wajah dengan cepat, namun bayangan lekuk tubuh Selena seolah sudah tercetak di kornea matanya.

Selena sendiri merasa ingin menghilang dari muka bumi. Wajahnya merah padam hingga ke leher. Integritasnya sebagai wanita terdidik merasa sangat terganggu dengan pembicaraan tentang "reproduksi" yang begitu terbuka di depan umum.

"Kenapa memalukan? Ini fakta medis, Biru!" Widya tertawa renyah, sama sekali tidak menyadari ketegangan seksual yang mulai merayap di antara anak dan menantunya.

"Pokoknya, Mama ingin kabar baik dalam waktu dekat. Tidak ada lagi alasan sibuk kerja!"

Selena melirik Biru, berharap suaminya akan membelanya, namun ia justru mendapati Biru sedang menatap ke arah lain dengan rahang yang mengeras dan jakun yang naik turun—tanda pria itu sedang menelan ludah dengan susah payah.

"Ayo pulang," ajak Biru ketus, hampir menyeret Selena untuk segera menjauh dari ibunya.

Di dalam mobil perjalanan pulang, suasana menjadi sangat canggung. Keheningan itu terasa berat dan "berisik" oleh suara detak jantung masing-masing. Biru terus mencengkeram kemudi dengan sangat erat, berusaha keras tidak melirik ke arah samping kiri, ke arah pinggul istrinya yang kini menjadi pusat perhatian pikirannya yang mulai liar.

Satu atap, dua rahasia, dan satu godaan yang mulai melanggar batas kontrak. Biru heran, mengapa di hari ia merasa sangat sehat ini, pertahanan dirinya justru terasa sangat lemah di depan wanita yang seharusnya hanya menjadi "rekan bisnisnya" saja?

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!