NovelToon NovelToon
NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Panqeran Sipit

Judul: Napas Terakhir Lumina

Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Gema Masa Lalu

​Bulan-bulan berlalu sejak buku terkutuk itu dihancurkan di puncak Gunung Cermin. Secara fisik, luka-luka akibat pertempuran itu telah mengering, namun kedamaian di Hutan Lumina tidak benar-benar meresap ke dalam tidur Elara. Kedamaian itu terasa semu, seperti kabut tipis yang menyembunyikan jurang di bawahnya.

​Setiap kali Elara memejamkan mata, ia mulai dihantui oleh visi yang sama: langit yang berubah semerah darah, bau anyir asap yang mencekik tenggorokan, dan jeritan-jeritan yang perlahan tenggelam di balik deru api yang melahap segalanya. Dalam mimpi itu, ia melihat bayangannya sendiri sebagai gadis kecil yang ringkih, meringkuk di dalam lemari gelap yang sempit. Melalui celah kayu, ia menyaksikan sepasang sepatu bot hitam besar melangkah angkuh di atas genangan darah yang masih hangat—darah orang tuanya.

​Elara tersentak bangun dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi dahi. Air mata sudah lebih dulu membasahi bantalnya bahkan sebelum ia sepenuhnya sadar. Ia menyentuh dadanya yang berdegup kencang, menyadari bahwa gerbang ingatan yang selama ini terkunci rapat oleh trauma masa kecil, kini mulai retak. Kenangan itu tidak lagi bisa ditekan; mereka menuntut untuk diingat, menuntut keadilan.

​"Aku harus kembali, Sena," ujar Elara suatu pagi di teras pondok mereka, saat kabut pagi masih menyelimuti pepohonan. Suaranya bergetar, namun matanya memancarkan ketegasan yang belum pernah Sena lihat sebelumnya. "Bukan ke Gunung Cermin, tapi ke tempat semuanya bermula. Desa kelahiranku."

​Sena yang sedang menajamkan pedangnya terhenti. Ia menatap mata emas Elara dan melihat lautan kesedihan yang tak tertahankan di sana. Sebagai seseorang yang telah bersumpah melindungi Elara, ia tahu bahwa perjalanan ini bukan tentang mencari harta, melainkan mencari bagian jiwa Elara yang hilang. Tanpa bertanya dua kali atau meragukan keputusan itu, Sena menyarungkan pedangnya dan mulai mengemas perlengkapan mereka.

​"Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi hantu masa lalu itu sendirian, Elara. Jika itu tempatmu bermula, maka itu juga menjadi tujuanku. Kita berangkat sekarang," balas Sena mantap.

​Perjalanan Menuju Reruntuhan

​Perjalanan menuju wilayah terpencil di sudut terdalam Hutan Lumina itu terasa sangat berat. Bukan karena medannya yang terjal atau binatang buas yang mengintai, melainkan karena atmosfernya yang semakin mencekam. Semakin dekat mereka ke lokasi desa, pepohonan seolah-olah membisu. Burung-burung berhenti berkicau, dan angin hanya berdesir lemah, seakan-akan hutan itu sendiri masih menyimpan duka mendalam atas tragedi belasan tahun silam.

​"Desa ini dulunya bernama Aethelgard," bisik Elara saat mereka melewati gerbang desa yang kini hanya berupa dua tiang kayu busuk yang miring. "Aku ingat bau roti gandum yang dipanggang setiap pagi dan suara tawa anak-anak di lapangan tengah."

​Namun, pemandangan di depan mereka sangat jauh dari ingatan itu. Akhirnya, mereka tiba di sebuah lembah yang kini hanya berisi reruntuhan yang dimakan lumut. Desa yang dulu makmur dan penuh kehidupan itu kini hanya menjadi barisan kerangka kayu yang hangus, hitam, dan rapuh. Elara melangkah pelan menyusuri jalanan desa yang kini ditumbuhi rumput liar setinggi pinggang.

​Setiap langkahnya memicu kilatan memori yang menyakitkan: sudut jalan tempat ia dulu mengejar kupu-kupu, sumur tua tempat ibunya biasa mengambil air sambil bersenandung, dan akhirnya... sebuah pondok kecil di ujung jalan yang atapnya sudah runtuh sepenuhnya.

​"Ini rumahku," bisik Elara. Suaranya nyaris hilang ditiup angin, seolah-olah ia takut jika berbicara terlalu keras, sisa-sisa kenangan itu akan hancur menjadi debu.

​Sena melangkah mendekat, memberikan dukungan tanpa kata. Ia membantu Elara menyingkirkan puing-puing kayu yang sudah lapuk di dalam pondok itu. Debu beterbangan saat mereka menggeser reruntuhan meja makan. Di tengah keputusasaan itu, mata jeli Sena menangkap sesuatu yang tidak biasa di sudut ruangan.

​"Elara, lihat ini," Sena menunjuk ke balik lantai kayu yang longgar. Di sana terdapat sebuah peti kayu tua yang diselimuti debu tebal dan sarang laba-laba. Peti itu terbuat dari kayu jati hitam yang tampaknya telah diberi mantra pelindung sederhana sehingga tidak ikut membusuk.

​Sena menggunakan sedikit kekuatan birunya—aliran energi yang berpendar lembut—untuk merusak gembok yang sudah berkarat itu. Peti itu terbuka dengan suara derit yang memecah kesunyian lembah.

​Di dalamnya, terbungkus kain sutra yang sudah kusam namun masih utuh, terdapat sebuah buku harian dengan sampul kulit berwarna cokelat tua. Elara mengambilnya dengan tangan yang sangat bergetar.

​"Ini... ini tulisan tangan ibuku. Lyra," ucapnya lirih saat jemarinya menyentuh guratan tinta di halaman depan.

​Halaman-halaman awal buku itu berisi tentang kebahagiaan sederhana yang membuat air mata Elara mengalir: tentang bunga-bunga yang mekar di musim semi, resep sup kesukaan ayah Elara, dan betapa Lyra sangat mencintai putri kecilnya, Elara. Namun, seiring lembaran dibalik, nada tulisannya berubah drastis. Tulisannya menjadi lebih berantakan, penuh dengan ketakutan yang tersirat.

​Lyra menuliskan tentang bayangan-bayangan hitam yang mulai terlihat mengintai di pinggiran desa saat senja. Tentang orang-orang asing yang bertanya tentang "Garis Keturunan Cahaya".

​“Pasukan itu... mereka tidak mencari emas, ternak, atau tanah. Mereka mencari sesuatu yang mengalir di dalam darah keluarga kita. Sesuatu yang mereka anggap sebagai ancaman sekaligus kunci. Aku harus menyembunyikan Elara. Apapun taruhannya. Jika kau membaca ini suatu hari nanti, aku berdoa kau telah selamat, putriku. Maafkan ibu yang tidak bisa menemanimu tumbuh dewasa.”

​Catatan itu berakhir dengan coretan tinta yang tidak rapi, seolah-olah pena itu terjatuh karena panik. "Mereka datang! Pintu depan sudah—" adalah kata-kata terakhir yang tertulis sebelum bercak noda hitam menutupi sisa kertasnya.

​Rahasia di Balik Dinding

​"Ibu menyebutkan tentang tempat persembunyian di bawah sini dalam catatan ini," Elara menutup buku itu dan mulai meraba dinding batu di sudut dapur yang masih berdiri tegak.

​Intuisi Penjaganya mulai bekerja. Ia merasakan ada aliran udara tipis yang dingin keluar dari balik retakan batu yang tersembunyi di balik lemari tua yang sudah hancur. Sena mendekat, ia memeriksa struktur batu tersebut dengan teliti. Setelah beberapa saat, ia menemukan sebuah bagian batu yang menonjol secara tidak alami. Dengan dorongan kuat, Sena menekan batu itu.

​Krrreeekkk...

​Sebuah pintu rahasia bergeser dengan suara gesekan yang berat, mengungkapkan sebuah lorong sempit yang pengap dan gelap gulita. Mereka masuk dengan waspada. Elara mengangkat tangannya, membiarkan cahaya emas dari telapak tangannya berpendar terang sebagai obor, menerangi dinding lorong yang lembap.

​Di ujung lorong, terdapat sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali tiga meter. Ruangan itu lebih mirip sebuah bunker perlindungan daripada kamar. Ada beberapa persediaan makanan yang sudah menjadi debu dan sebuah tempat tidur kecil. Namun, alangkah terkejutnya mereka saat menemukan bahwa ruangan itu tidak kosong.

​Seorang wanita tua duduk di atas kursi goyang yang sudah rusak di sudut ruangan. Tubuhnya sangat kurus hingga tulang-tulangnya terlihat menonjol, kulitnya seputih kertas karena tidak pernah terkena sinar matahari, dan matanya tertutup selaput putih—ia buta.

​"Siapa...?" suara wanita itu parau, nyaris seperti suara gesekan amplas di atas kayu.

"Lyra? Apakah kau akhirnya kembali untukku? Aku sudah menunggu sangat lama..."

​Elara jatuh berlutut di depan wanita itu, hatinya hancur melihat kondisi sosok di depannya. "Bukan... ibuku sudah tiada. Aku Elara."

​Wanita itu tersentak. Ia meraba-raba udara dengan tangan yang gemetar hebat, mencari arah suara itu. Saat jemarinya yang dingin menyentuh liontin kuno yang selalu dikenakan Elara, wanita itu terisak. Tangisannya terdengar pilu di dalam ruangan yang sunyi itu.

​"Elara? Putri kecil Lyra? Ya Tuhan... kau masih hidup," isaknya. "Aku bibimu, Maya. Ibumu mendorongku ke dalam lorong ini sesaat sebelum pintu depan hancur oleh ledakan sihir. Ia memintaku untuk tetap hidup, untuk menjaga rahasia ini agar bisa menceritakan kebenaran padamu suatu hari nanti jika kau berhasil kembali."

​Maya menceritakan malam jahanam itu dengan detail yang menyayat hati, seolah kejadian itu baru terjadi kemarin. Ia bercerita bagaimana langit malam itu bukan berubah hitam, melainkan merah karena api. Pasukan kegelapan itu dipimpin oleh seorang pria bernama Zarthus—seorang penyihir hitam yang menjadi tangan kanan Penguasa Kegelapan yang hampir terlupakan.

​"Zarthus-lah yang secara pribadi mencabut nyawa orang tuamu, Elara. Aku mendengarnya dari balik pintu ini... ia tertawa saat mereka menolak menyerahkan rahasia garis keturunan Penjaga Cahaya. Ia tidak mencari kemenangan perang, ia mencari keabadian melalui darah kalian."

​Warisan yang Tersisa

​Beberapa minggu kemudian, setelah Sena dan Elara berhasil membawa Maya keluar dari reruntuhan dan membawanya ke desa utama untuk dirawat oleh tabib, kondisi Maya mulai membaik meskipun ia tetap lemah. Suatu sore, Maya memanggil Elara ke samping tempat tidurnya. Dengan tangan yang gemetar, ia menyerahkan sebuah kotak kayu kecil yang telah ia simpan di balik pakaiannya selama belasan tahun di kegelapan bunker.

​"Ini milik ibumu yang paling berharga," kata Maya sambil memberikan sebuah kalung perak dengan kristal murni di tengahnya yang berbentuk seperti tetesan air. "Zarthus menginginkan kristal ini lebih dari apapun, tapi Lyra lebih memilih mati daripada membiarkan kegelapan menyentuhnya. Kristal ini bukan hanya sekadar perhiasan atau pelindung, Elara. Ini adalah kunci untuk membangkitkan kekuatan sejati Lumina."

​Elara menerima kalung itu. Begitu kristal itu menyentuh kulit telapak tangannya, ia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, meresap hingga ke tulang dan dadanya. Itu adalah rasa hangat yang sangat akrab, seolah-olah roh sang ibu sedang memeluknya untuk terakhir kali, membisikkan kata-kata kekuatan.

​Namun, di balik rasa hangat yang

menenangkan itu, sebuah api kemarahan yang murni mulai menyala di dasar hati Elara. Api itu bukan lagi tentang ketakutan, melainkan tentang tekad.

​"Zarthus masih hidup, Maya?" tanya Sena yang berdiri di dekat jendela, nada suaranya rendah dan berbahaya.

​Maya mengangguk lemah, air mata menetes dari matanya yang buta. "Ia tidak pernah berhenti mencari. Aku mendengar bisikan dari angin dan para pengungsi yang sesekali lewat di dekat hutan... ia sedang membangun benteng besar di Pegunungan Utara yang beku. Ia sedang mengumpulkan kekuatan, menunggu saat yang tepat untuk mengambil apa yang gagal ia dapatkan belasan tahun lalu."

​Sena menatap Elara. Ia melihat sosok Elara yang baru di depannya. Gadis itu bukan lagi Elara yang sering terbangun karena mimpi buruk, bukan lagi gadis yang ragu akan kemampuannya. Di bawah cahaya senja, Elara berdiri sebagai seorang Penjaga yang memiliki tujuan hidup yang jelas dan tak tergoyahkan.

​"Zarthus telah mengambil cukup banyak dari kita semua," ujar Elara sambil menggenggam erat kalung kristal di tangannya hingga buku jarinya memutih. "Kematian orang tuaku, masa kecilku yang hilang, dan kedamaian Hutan Lumina yang dikotori oleh bayang-bayangannya. Sena, kita tidak akan duduk di sini menunggu dia datang membawa kehancuran lagi. Kita yang akan menjemputnya di utara."

​Sena mengangguk mantap, sebuah senyum tipis penuh keberanian muncul di wajahnya. Ia meletakkan tangannya di bahu Elara, menunjukkan bahwa beban itu kini dipikul bersama.

​"Apapun yang terjadi, ke manapun jalan ini membawamu, aku akan berada di sampingmu, Elara. Sampai napas terakhir, sampai semua hutang darah ini terlunasi."

​Mereka berdiri di sana, menatap ke arah utara di mana awan hitam mulai menggumpal di kejauhan. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Alia Chans
semangat✍️👈😍
T28J
terimakasih 👍
Alia Chans
semangat thor😍





jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
T28J
lanjuuuut ✍️
Dindinn
makasiiihhh💪😍
T28J
ceritanya agak cepat, cocok buat platform online👍
T28J
wiih udha bertahun tahun aja 👍
T28J
stasiun senen, jangan jangan authornya tetangga saya ni 👍
T28J
semoga lebih cepat update nya thor
BOS MUDA
next buat yg lebh seruu lg ya
BOS MUDA
panjangnya💪🙏🙏😄
BOS MUDA
mantap ceritanya, panjang bener💪🤭😍
LAMBE TURAH
bagus kali ceritanya
NANDA'Z OFFICIAL
🧐😮😧😱
T28J
cocok dikasih like👍cocok dikasih hadiah💪
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.
Dindinn: makasih kak semangat 💪💪💪💪😍🤭🙏
total 1 replies
absurd
semangat💪
absurd
🤠
absurd
semoga lebih baik dan seru lagi ya ceritanya 🤩
bagus
💪👍
bagus
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!