NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Pertemuan yang mengguncang Hati.

Setelah cukup lama menangis, akhirnya Liora tertidur dalam pangkuan ayahnya, Heron Wiliam Anderlecht.

Heron mengusap rambut putrinya dengan lembut, tatapannya penuh kasih meski tersimpan luka yang tak mampu ia ungkapkan.

“Mas… sepertinya kita harus terus berada di sisi putri kita,” bisik Wilia lirih. “Melihatnya seperti ini saja sudah membuat hatiku hancur.”

Heron hanya mengangguk perlahan, matanya tetap terfokus pada wajah Liora yang tertidur dengan lemah.

Dalam mimpinya…

Liora berdiri sendirian dalam kegelapan.

Tiba‑tiba, sosok yang sangat ia kenal muncul.

Adrian.

“Mas…” suara Liora bergetar.

Adrian tersenyum lembut padanya.

“Sayang… kenapa wajahmu pucat? Kemana senyummu?”

Air mata Liora langsung jatuh.

“Mas… aku sangat merindukanmu…”

Adrian menggeleng perlahan.

“Liora… bukalah hatimu untuk orang baru. Kamu bisa melakukannya.”

Liora menolak dengan keras.

“Aku tidak mampu… Mas…”

Adrian tersenyum tipis.

“Aku akan selalu mendukungmu dari sini. Akan ada seseorang yang mencintaimu seperti aku dulu mencintaimu.”

Liora menangis.

“Mas… pergilah…”

Adrian menatapnya dalam-dalam sebelum berkata,

“Waktuku sudah habis, sayang…”

Lalu sosok itu memudar perlahan.

“Mas… jangan pergi…” bisik Liora dalam tidur.

Ia terbangun dengan pipi basah.

“Sayang, kamu baik-baik saja?” tanya Heron dan Wilia bersamaan.

Liora menarik napas panjang.

“Aku tidak apa-apa, Ayah… Ibu… Aku sudah merelakan Mas Adrian.”

Ia tersenyum tipis.

“Aku akan mulai dari awal lagi. Aku harus bangkit.”

Pagi Hari di Mansion Wiliam Anderlecht

Seluruh keluarga berkumpul di meja makan, termasuk Henry, adik Heron.

“Ayah,” ucap Liora tenang. “Pagi ini kita harus ke kantor. Ada meeting. Ayah cukup duduk dan mengawasi. Biar aku yang memimpin.”

Heron tersenyum tipis.

“Baik, sayang.”

Sesudah sarapan, semua bersiap dengan agenda masing-masing.

Henry berdiri.

“Kak, aku harus kembali ke Amerika. Ada urusan pekerjaan.”

Ketiga putra Heron juga bangkit.

“Kami juga kembali ke Spanyol, Ayah. Perusahaan menunggu.”

Istri-istri mereka ikut pamit.

“Kakak ipar, kami kembali bersama suami.”

Liora hanya mengangguk.

Tak lama, mansion menjadi jauh lebih sepi.

Hanya tersisa Heron, Wilia, Liora, dan ketiga keponakan Liora yang bersiap kembali ke Amerika untuk kuliah.

Heron menatap istrinya.

“Wilia, kami ke kantor dulu.”

“Baik, Mas,” balas Wilia tersenyum.

Di Kantor Wiliam Anderlecht Group

Kembalinya Heron mengejutkan seluruh karyawan.

Namun yang paling mengagetkan adalah Liora yang berjalan di sampingnya.

Aura dingin dan karismanya membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Heron kembali duduk di kursi pimpinan, sementara kursi khusus untuk Liora disiapkan di sebelahnya.

Pintu terbuka.

Leon, asisten Heron, masuk bersama John, asisten Liora.

John terbelalak melihat Heron.

“T-Tuan Heron Wiliam Anderlecht…?”

Heron menatap datar.

“Ya. Aku ayah Liora.”

John hampir jatuh karena kaget, namun Liora cepat menahan lengannya.

“John, hati-hati.”

Deg.

Jantung John berdebar cepat.

Heron tersenyum tipis melihatnya, sementara Leon hanya menggeleng.

Mereka masuk ke ruang meeting.

Heron duduk tenang dan dingin, persis seperti Liora.

Meeting dimulai.

Liora memimpin presentasi dengan profesionalisme tinggi jelas, terstruktur, dan tanpa celah.

Saat ia selesai, para klien berdiri memberi tepuk tangan.

“Kami sangat puas bekerja dengan kalian.”

Heron mengangguk.

“Kami juga senang bekerja sama dengan kalian.”

Setelah meeting, mereka memutuskan makan siang di kantor.

Namun tiba‑tiba…

“Liora…”

Seorang pria muncul dari belakang.

Liora menoleh.

Javi Alexander.

“Liora, apa kabar?” sapanya dengan senyum hangat.

Heron memperhatikannya.

“Javi? Kamu kembali dari Italia?”

“Iya, Om. Aku ingin bertemu teman lamaku.”

Ia menatap Liora.

“Dan dia… masih sama seperti dulu. Cantik, tapi tetap dingin.”

“Javi…” jawab Liora pelan. “Aku baik.”

Javi tersenyum kecil.

“Senang mendengarnya, honey.”

Ia kemudian pamit, menunduk sopan pada Heron.

Sore Hari

Setelah pekerjaan selesai, mereka kembali ke mansion.

“Jadi Javi pulang, ya…” gumam Heron.

Liora mengangguk.

“Iya, Ayah. Dia teman masa kecil. Kami juga kuliah bersama di Amerika.”

Heron hanya terdiam.

Malamnya, mansion kembali dipenuhi anggota keluarga.

Wilia tersenyum.

“Besok keluarga Bram Alexander akan datang.”

Heron mengangguk.

“Sudah lama tidak bertemu mereka.”

Pertemuan Keluarga Alexander

Bel pintu berbunyi.

Bram Alexander berdiri di depan pintu dengan senyum hangat.

“Heron, lama tidak bertemu.”

Heron menjabat tangannya.

“Apa kabar, Bram?”

“Baik.”

Namun suasana berubah serius ketika Bram berbicara.

“Heron, kedatanganku untuk membahas sesuatu.”

“Apa itu?” tanya Heron.

Bram tersenyum.

“Pernikahan anak kita.”

Liora yang duduk di pojok terdiam.

Javi hanya tersenyum kecil ke arahnya.

Di sisi lain, Wilia berbincang dengan Riana Antonio Valencia.

“Jadi… Liora pernah menikah?” tanya Riana terkejut.

Wilia mengangguk.

“Ya. Ia seorang janda.”

Riana terdiam sebentar sebelum tersenyum lembut.

“Tapi itu tidak mengubah niatku. Aku tetap ingin Liora menjadi bagian dari keluarga Alexander.”

Wilia tersenyum.

“Kita lihat bagaimana keputusan anak-anak nanti.”

Di sudut ruangan, Liora menatap keluar jendela.

Hatinya masih untuk seseorang yang telah pergi.

Namun perlahan… dunia mulai menyeretnya ke arah yang baru.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!