NovelToon NovelToon
Satu Nama, Selamanya

Satu Nama, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rea Sayne

Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20: Jarak Bukanlah Bug

Zhejiang, China. Musim gugur mulai menyapa, mengubah warna dedaunan di luar jendela asrama menjadi oranye keemasan. Aku duduk di meja belajarku, menatap buku HSK Level 4 yang tampak menakutkan dibandingkan buku Level 1 yang dulu kupelajari di bengkel Pak Edi.

Di sini, segalanya terasa cepat. Standar akademiknya tinggi, dan bahasa Mandarin yang dulu kupelajari untuk dasar, kini menjadi napas sehari-hari. Aku merasa seperti script yang sedang dikompilasi ulang; ada banyak kesalahan di awal, banyak syntax error saat aku mencoba beradaptasi, tapi perlahan, sistemku mulai berjalan.

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Notifikasi video call dari Luq.

Aku segera menekan tombol terima. Wajah Luq muncul di layar, dengan latar belakang sebuah kamar yang rapi namun dipenuhi buku-buku tebal. Dia terlihat lebih dewasa, dengan rambut yang sedikit lebih rapi daripada saat dia masih bekerja penuh waktu di bengkel.

"Rea! Nǐ hǎo!" sapanya dengan aksen Mandarin yang... jujur saja, sedikit kaku tapi berusaha keras.

Aku tertawa. "Wah, udah belajar Mandarin, nih? Nǐ hǎo ma, Kak Luq?"

Luq terkekeh. "Lumayan buat modal kalau nanti gue nyusul lo ke sana pas wisuda."

Kami terdiam sejenak. Ada rasa rindu yang tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata. Jakarta dan Zhejiang punya perbedaan zona waktu, tapi saat kami bicara seperti ini, rasanya seperti tidak ada jarak sama sekali.

"Gimana di sana? Sulit?" tanya Luq lembut.

"Sulit, Kak. Kadang aku ngerasa stuck. Kayak lagi ngerjain kodingan yang logikanya nggak ketemu-ketemu," aku jujur. "Tapi... aku inget gantungan kunci mesin motor yang Kakak kasih. Setiap kali aku liat itu, aku inget bengkel, kafe inget Kak Hazel, inget perjuangan kita."

Luq mengangguk, lalu dia mendekatkan kamera ke meja belajarnya. Tumpukan kertas coding dan buku latihan soal persiapan PTN terlihat di sana. "kamuu lihat? Gue juga lagi berjuang di sini, Rea. Kerja di kafe pagi, sekolah siang, belajar malam. Kadang gue mau nyerah. Tapi gue inget janji kita."

"Janji apa?"

"Bahwa kita bakal sukses di jalur kita masing-masing. kamu jadi programmer hebat di sana, gue jadi mahasiswa Teknik Informatika di sini."

Luq menatap layar dengan intensitas yang familiar. "Rea, dengerin gue. Jarak ini cuma delay sinyal. Nggak akan ngerusak koneksi kita."

"Kakak puitis banget hari ini," ledekku untuk menyembunyikan rasa haru.

"Bukan puitis, ini logika," balasnya sambil tersenyum. "Kalau kamu bisa debugging kodingan gue dari jarak jauh waktu kita di Jakarta, kenapa kita nggak bisa jaga hubungan ini dari jarak jauh sekarang?"

Kami menghabiskan dua jam berikutnya seperti biasa—bukan dengan romansa yang berlebihan, tapi dengan saling membantu. Aku membantunya menjelaskan konsep algoritma melalui layar, dan dia memberikan semangat saat aku frustrasi dengan tata bahasa Mandarin yang rumit.

Malam itu, setelah video call berakhir, aku berjalan menuju balkon asrama. Aku menatap langit malam China yang dingin. Di sini, bintang-bintangnya terasa lebih jauh.

Aku memegang ponselku. Di galeri, ada foto terakhir kami berdua di depan bengkel Pak Edi sebelum aku berangkat. Di sana, kami terlihat seperti dua orang yang sedang memulai misi mustahil. Sekarang, misi itu berjalan.

Aku bukan lagi gadis kelas 8 yang hanya bisa bermimpi. Aku adalah seorang siswi beasiswa yang sedang berjuang membangun masa depan. Dan di Indonesia, ada seseorang yang juga sedang berjuang sekuat tenaga hanya agar suatu saat nanti, dia bisa berdiri sejajar denganku.

Aku membuka buku harianku dan menulis satu kalimat:

"Jarak ribuan kilometer hanyalah variabel kecil dalam hidup. Algoritma kita sudah terkunci: berjuang, berkembang, dan bertemu kembali di garis finis."

Aku menutup buku itu, menarik napas dalam-dalam, dan bersiap untuk esok hari. Ujian Bahasa Mandarin besok menanti, dan aku tidak akan membiarkan satu pun error menghambat jalanku.

1
Andrea Zye
Lucu banget Luq
Andrea Zye
nooo Dia Berubah.
Andrea Zye
LUQ APAKAH ITU KAMUU? :(
Andrea Zye
Duh Mau jadi Reaaa
Andrea Zye
Kasian banget... luq nya
Andrea Zye
semangatt Kak luq yang gantengg
Andrea Zye
Keren kakk, Aku sukaaa
Andrea Zye
seruu banget alurnyaa
Rea
cerita remaja menginspirasi, semangat othor
Andrea Zye: Terimakasih authorr sudah Membuat novel Ini, Saya sangat sukak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!