Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16: Cetak Biru Masa Depan
Liburan sekolah setelah UAS bukan berarti waktunya bersantai. Bagi Rea dan Luq, ini justru menjadi titik balik. Di bengkel Pak Edi, suasana yang biasanya penuh dengan suara deru mesin kini memiliki ritme baru. Sisi pojok bengkel tempat kami sering duduk, kini berubah menjadi "Pusat Komando Strategi".
Di atas meja kerja yang bersih dari oli, aku menempelkan sebuah kertas karton besar. Aku menyebutnya The Roadmap. Di sana, tertulis garis waktu: bulan-bulan ke depan menuju pendaftaran beasiswa internasional untukku, dan bulan-bulan krusial bagi Luq untuk persiapan tes masuk universitas (UTBK/PTN).
"Gila, Rea. Kamu beneran bikin target per bulan?" tanya Luq sambil menatap karton itu dengan alis terangkat. Dia sedang memegang sebuah buku tebal latihan soal TPS (Tes Potensi Skolastik).
"Kita harus realistis, Kak," jawabku tegas, sambil menunjuk poin-poin yang kutulis dengan spidol warna-warni. "Nilai sekolah kita bagus, itu modal awal. Tapi buat beasiswa luar negeri, aku butuh portofolio proyek teknologi yang lebih kompleks. Dan buat Kakak, nilai sekolah bagus nggak cukup kalau tes masuk universitasnya jeblok."
Luq menghela napas, lalu tersenyum tipis. Dia mengambil spidol hitam, lalu menuliskan target di kolom miliknya: Minimal 600 di Tes Simulasi Pertama.
"Oke, kalau itu target kamu, target gue adalah nggak mau kalah sama kamu," ujarnya bercanda, meski matanya menatap target itu dengan serius.
Bengkel Pak Edi menjadi saksi bisu perjuangan kami. Pak Edi sendiri, yang dulunya hanya memandang kami sebagai "anak-anak yang numpang belajar", sekarang malah sering membawakan air minum atau camilan saat melihat kami serius bekerja. Dia tahu, kami sedang "membedah" masa depan, bukan sekadar motor.
Sore itu, saat hujan rintik-rintik turun, kami memiliki waktu luang. Luq selesai lebih awal karena motor pelanggan terakhir sudah diambil. Kami duduk di depan bengkel, memperhatikan jalanan Jakarta yang basah.
"Kak," panggilku pelan. "Jujur, kadang aku takut. Gimana kalau nanti aku gagal di seleksi beasiswa? Gimana kalau semua usaha kita selama ini ternyata nggak cukup?"
Luq menoleh. Dia tidak langsung menjawab. Dia mengambil sebatang besi sisa, lalu memainkannya di tangan, seolah sedang menimbang sesuatu.
"Rea, kamu liat bengkel ini?" tanyanya sambil menunjuk sekeliling. "Dulu, waktu gue pertama kali kerja, gue cuma liat ini sebagai tempat cari duit. Gue takut tiap hari. Takut kalau motor yang gue malah tambah rusak lagi, takut kalau pelanggan komplain. Tapi sekarang? Gue nggak takut lagi."
"Kenapa?"
"Karena gue tahu cara kerja mesinnya. Gue tahu kalau ada bunyi aneh, gue tinggal cari sumbernya. Hidup itu sama, Rea. Ketakutan itu cuma muncul karena kita belum 'buka mesin' hidup kita. Kita belum tahu masalahnya di mana."
Dia menatapku dalam-dalam. "kamu udah buka mesin impian kamu. kamu udah tahu apa yang harus dipelajari, apa yang harus ditambahin, apa yang harus diperbaiki. Kalau kamu gagal, itu bukan akhir. Itu cuma trial and error. Dan trial and error adalah bagian dari kodingan, kan?"
Kata-katanya memukul telak. Dia benar. Aku selama ini terlalu fokus pada hasil akhir, sampai lupa bahwa prosesnya sendiri sudah menjadi kemenangan.
"Makasih, Kak," ucapku tulus.
"Sama-sama. Sekarang, gilirannya gue," Luq menggeser duduknya sedikit lebih dekat. "Gue sering merasa gue nggak pantas mimpi tinggi. Gue cuma anak SMK yang kerjanya bergelut sama Kerjaan. Tapi pas gue liat kamu—anak kelas 8 yang bisa bikin aplikasi, yang bisa ngatur jadwal belajar—gue ngerasa, kalau kamu bisa, kenapa gue nggak?"
Tanpa sadar, tangan Luq terulur dan merapikan rambutku yang berantakan karena angin. Sentuhan itu tidak seintim kemarin, tapi terasa sangat protektif. Seolah dia ingin memastikan bahwa "partner"-nya ini baik-baik saja dan tetap fokus pada jalur yang benar.
"Kita bakal berhasil, Rea. Gue janji," bisiknya.
"Janji ya? Nggak boleh ada yang nyerah duluan," sahutku, mengangkat jari kelingkingku ke arahnya.
Luq tertawa, lalu menautkan jari kelingkingnya ke punyaku. "Janji. Nggak ada yang boleh nyerah."
Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan simulasi soal ujian. Aku membacakan soal-soal logika untuk Luq, dan dia membantuku membedah struktur esai beasiswaku. Kami bukan lagi sekadar dua orang yang saling bantu, kami adalah sebuah unit.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah notifikasi dari grup sekolah. "Persiapan Kompetisi Teknologi Daerah". Ini dia. Kesempatan yang kutunggu. Kompetisi ini bisa menjadi tambahan poin portofolio yang sangat kuat untuk syarat beasiswaku.
"Kak! Lihat ini!" seruku bersemangat, menunjukkan layar ponsel.
Luq membaca notifikasi itu dengan saksama. "Ini... kompetisi tingkat regional? Ini sulit, Rea."
"Aku tahu. Tapi ini kesempatan emas. Kalau aku menang, ini bakal jadi nilai plus yang besar banget."
Luq menatapku, lalu menatap Roadmap yang tadi kami buat. Dia mengambil spidol merah dan melingkari tanggal kompetisi itu di kalender.
"Oke. Project BengkelLog kita udah bagus, tapi buat kompetisi, kita harus bikin sesuatu yang lebih besar," kata Luq dengan nada penuh tantangan. "Kita upgrade sistemnya. Kita bikin jadi sistem manajemen bengkel berbasis AI untuk prediksi kerusakan mesin."
Aku melongo. "Itu gila! Kita nggak punya banyak waktu!"
"Makanya, kita mulai dari sekarang. kamu yang koding, gue yang cari data kerusakan mesin dari pengalaman gue di bengkel ini. Kita gabungin pengalaman teknis dan coding kamu."
Mata kami bertemu. Di sana, aku melihat percikan api ambisi yang sama. Kami bukan lagi anak-anak yang hanya bermimpi. Kami adalah dua orang yang sedang merancang langkah-langkah nyata untuk menaklukkan dunia.
Malam itu berakhir dengan rencana besar. Kami tidak lagi hanya berjuang untuk nilai sekolah, kami sedang berjuang untuk masa depan. Dan di bengkel Pak Edi, di antara bau oli dan cahaya lampu yang temaram, aku tahu bahwa apa pun yang terjadi nanti, aku tidak akan pernah merasa sendirian lagi.
Besok adalah awal dari sprint maraton kami. Dan aku sudah tidak sabar untuk memulainya.