NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Plester Luka dan Sebungkus Siomay Bumbu Kacang

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar terasa seperti jarum yang menusuk retina mata Rama. Cowok itu mengerang pelan, mencoba menggeliat di atas kasur king size-nya, dan seketika itu juga seluruh alarm tanda bahaya di tubuhnya menyala serentak.

"Anjir..." umpatnya lirih, suaranya parau dan tertahan.

Tubuhnya terasa seperti baru saja digilas mesin giling aspal Wana Asri. Punggung kanannya yang semalam dihantam balok kayu oleh anak buah Tora kini kaku dan nyeri luar biasa, persis seperti dicor semen. Tulang rusuk kirinya berdenyut setiap kali ia menarik napas terlalu dalam. Tapi yang paling parah adalah wajahnya. Saat Rama menyeret langkahnya dengan gontai menuju kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di cermin, ia nyaris tidak mengenali wajahnya sendiri.

Kantung matanya menghitam parah akibat defisit tidur yang sudah masuk tahap kronis. Ujung bibir kanannya robek dan membengkak kemerahan, menyisakan kerak darah kering yang perih. Di pelipis kirinya juga terdapat goresan ungu kebiruan yang sangat kentara. Sisa-sisa pertarungan brutal di gudang rongsokan semalam tergambar jelas di wajah sang dewa sekolah.

Rama membasuh wajahnya dengan air dingin, meringis tertahan saat air menyentuh luka di bibirnya. Otaknya berputar cepat mencari alasan. Bagaimana caranya dia melewati radar interogasi Bundanya di meja makan pagi ini? Dan yang lebih penting, bagaimana caranya dia menyembunyikan wajah babak belur ini dari ratusan pasang mata di SMA Taruna Citra yang memujanya layaknya idol Korea?

Dengan langkah gontai, Rama mengobrak-abrik kotak P3K di laci kamarnya. Ia menempelkan plester warna kulit di pelipisnya, lalu mengambil sebuah masker medis berwarna putih. Hanya ini satu-satunya cara.

Saat turun ke ruang makan, suasana sudah rapi. Ayahnya sedang membaca berita di tablet, sementara Bundanya menyesap teh kamomil hangat. Kemeja seragam Rama sudah disetrika selicin mungkin, rambutnya diklimiskan, dan kacamata minusnya bertengger rapi. Namun, masker putih yang menutupi setengah wajahnya langsung mengundang tanya.

"Rama? Kamu kenapa pakai masker di dalam rumah?" tegur Bundanya dengan kening berkerut, meletakkan cangkir tehnya.

Rama berdehem, sengaja membuat suaranya terdengar serak. "Tenggorokan Rama gatal, Bun. Sepertinya mau radang dan agak flu. Rama pakai masker biar nggak nularin Ayah sama Bunda. Apalagi Ayah kan hari ini ada meeting direksi."

Ayahnya mengangguk setuju tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet. "Keputusan yang tepat. Minum vitaminmu yang banyak. Jangan sampai sakit di masa-masa krusial menjelang ujian. Ayah tidak mau dengar alasan kamu absen try out karena alasan sepele seperti flu."

"Iya, Ayah. Rama berangkat dulu."

Rama mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim, lalu bergegas keluar menuju mobil jemputan. Di balik masker medisnya, ia mengembuskan napas lega yang panjang. Lolos tahap satu. Sekarang, ia harus menghadapi rintangan tahap dua yang jauh lebih mengerikan daripada ayahnya: sang majikan berjilbab ungu.

Sesampainya di sekolah, alih-alih langsung menuju kelas untuk menaruh tas, Rama justru membelokkan langkahnya ke arah kantin. Jam masih menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Kantin belum terlalu ramai, tapi stan Siomay Mang Udin sudah mengepulkan asap. Rama berjalan menghampiri stan itu dengan langkah sedikit pincang yang berusaha ia tutupi sekuat tenaga.

"Mang, siomay satu porsi. Bumbu kacangnya dipisah, perasan jeruk nipisnya yang banyak, nggak pakai saus, nggak pakai kecap," pesan Rama dengan suara teredam masker.

Mang Udin yang sedang memotong kol rebus menoleh keheranan. "Eh, Den Rama. Pagi bener udah jajan siomay. Sakit, Den? Pucat amat itu mata kelihatannya, pakai masker segala."

"Iya Mang, lagi nggak enak badan," kilah Rama sekenanya.

Lima menit kemudian, dengan menenteng bungkusan plastik berisi siomay yang masih panas, Rama berjalan melintasi koridor menuju area taman belakang sekolah. Di gazebo kayu langganan mereka, Nayla sudah duduk manis. Gadis itu mengenakan kardigan rajut berwarna peach yang menutupi seragam putihnya, jilbab ungu pastelnya menjuntai rapi menutupi dada. Di tangannya terdapat sebuah buku novel tebal, tapi matanya langsung terangkat begitu mendengar suara langkah sepatu pantofel Rama yang berat.

Rama meletakkan bungkusan siomay itu di atas meja tanpa banyak bicara. Ia menarik kursi di seberang Nayla dan mengempaskan tubuhnya perlahan, berusaha agar ringisannya tidak terdengar saat punggungnya bersentuhan dengan sandaran kayu.

Nayla meletakkan novelnya. Matanya yang bulat menyipit tajam, memindai penampilan Rama dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Tatapannya berhenti pada masker putih dan plester luka yang menyembul dari balik gagang kacamata cowok itu.

"Gue pesannya siomay, bukan nyuruh lo ikut cosplay jadi dokter bedah," sindir Nayla santai, meski nada suaranya terdengar sedikit menuntut. "Buka masker lo. Suara napas lo kayak orang asma dari balik kain itu."

"Gue lagi flu berat," tolak Rama mentah-mentah, memalingkan wajahnya menatap pohon beringin. "Kalau gue buka, nanti lo ketularan virus gue. Ribet urusannya kalau babu sama majikan sakit barengan."

Nayla mendengus sinis. "Alasan lo basi. Buka maskernya, Rama Arsya Anta, atau gue yang bakal narik paksa tali masker lo sampai kuping lo putus."

Ancaman itu diucapkan dengan nada datar, tapi Rama tahu cewek di depannya ini tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan helaan napas pasrah bercampur kesal, Rama mengangkat tangannya yang terasa berat dan melepas pengait masker dari telinganya.

Begitu kain putih itu terbuka, Nayla terkesiap pelan. Matanya sedikit melebar melihat kondisi wajah Rama. Luka robek di sudut bibir cowok itu terlihat basah dan sangat menyakitkan, ditambah memar di rahang yang mulai membiru.

Hening menyelimuti gazebo itu selama beberapa detik. Rama sudah bersiap menerima rentetan omelan, ceramah panjang lebar, atau mungkin ejekan pedas soal bagaimana dewa aspal Wana Asri bisa babak belur seperti preman pasar. Namun, yang terjadi justru di luar dugaannya.

Nayla tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu membuka ritsleting ransel kecilnya, merogoh ke dalam, dan mengeluarkan sebuah kotak P3K mini berwarna transparan. Ia membuka kotak itu, mengeluarkan sebotol cairan antiseptik kecil, kapas, dan sebuah salep luka.

"Majuin muka lo," perintah Nayla, suaranya tiba-tiba melembut, kehilangan nada nyinyir yang biasanya menjadi ciri khasnya.

"Nggak usah repot-repot. Ini cuma luka kecil. Kena ranting pohon pas gue lagi..."

"Rama. Majuin. Muka. Lo," potong Nayla dengan penekanan di setiap kata, tatapannya mengunci manik mata Rama hingga cowok itu tak berkutik.

Seperti dihipnotis, Rama mencondongkan tubuhnya ke depan melintasi meja kayu. Nayla menuangkan sedikit antiseptik ke atas kapas, lalu dengan sangat hati-hati, ia menempelkannya pada ujung bibir Rama yang robek.

"Aw! Shhh..." desis Rama spontan, bahunya berjengit ke belakang. Rasa perih yang tajam langsung menyengat kulitnya.

"Tahan sedikit, cengeng banget sih jadi berandal," omel Nayla pelan, namun gerakan tangannya sama sekali tidak kasar. Jari-jemari gadis itu menopang rahang bawah Rama dengan lembut agar cowok itu tidak terus mundur.

Jantung Rama mendadak berdegup dua kali lipat lebih cepat. Bukan karena perihnya antiseptik, melainkan karena jarak mereka yang kini sangat dekat. Begitu dekat hingga Rama bisa mencium aroma stroberi dari napas Nayla, dan bisa melihat dengan jelas bulu mata gadis itu yang lentik saat ia sedang fokus membersihkan luka. Rama menelan ludah dengan susah payah, berusaha keras mengatur napasnya agar tidak terdengar memburu.

"Tuh kan, apa gue bilang," rutuk Nayla sambil membuang kapas kotor ke dalam plastik kresek bekas siomay. Ia lalu mengambil cotton bud dan mengoleskan salep tipis-tipis di atas luka itu. "Lo itu nggak punya nyawa sembilan kayak kucing, Ram. Sok-sokan keluyuran nyari ribut. Udah pingsan di lapangan, sorenya malah ngajak baku hantam. Kalau Tora semalam bawa pisau, lo udah tinggal nama doang."

"Lo... tahu soal gudang rongsokan semalam?" tanya Rama terkejut, suaranya terdengar canggung karena ia tidak berani menggerakkan bibirnya terlalu banyak.

"Yogyakarta ini nggak seluas benua Amerika, asal lo tahu," sahut Nayla acuh tak acuh, menutup kembali botol salepnya. "Teman-teman tongkrongan lo yang mulutnya pada bocor itu ngebahas kemenangan lo di warung depan gang sekolah. Nyampe deh ceritanya ke kuping gue pas tadi pagi gue jalan kaki ke mari."

Rama kembali terdiam. Ia menatap lekat-lekat wajah gadis di depannya yang kini sibuk merapikan kotak obatnya. Ada perasaan hangat yang perlahan mengaliri rongga dadanya, mengusir rasa sakit di sekujur tubuhnya. Cewek ini cerewet, menyebalkan, dan hobi menjadikannya pesuruh. Tapi di sisi lain, tangan mungil gadis inilah yang pertama kali sudi menyentuh dan mengobati lukanya tanpa penghakiman atau tuntutan untuk menjadi sempurna.

"Nayla," panggil Rama pelan.

"Apa? Mau ngeluh sakit lagi? Udah gue obatin juga," balas Nayla tanpa menoleh, memasukkan kotak P3K itu kembali ke dalam ransel.

"Makasih." Suara Rama kali ini terdengar sangat mantap dan tulus, tidak ada lagi gengsi yang menyertainya. "Makasih karena lo nggak ngaduin keadaaan gue ke guru piket kemarin, dan... makasih buat plester sama salepnya hari ini."

Nayla akhirnya menengadah. Matanya bertemu dengan mata Rama di balik lensa kacamata cowok itu. Terlihat ada rona merah tipis yang tiba-tiba menjalar di pipi Nayla, meski gadis itu buru-buru memalingkan wajah dan berdehem canggung.

"Biasa aja kali. Gue cuma ngerawat inventaris babu gue biar kerjanya tetap maksimal. Kalau lo cacat, siapa yang mau beliin gue siomay jam segini?" elak Nayla dengan nada angkuh yang sengaja dibuat-buat, lalu buru-buru menarik bungkusan siomay di depannya dan mulai memakannya dengan sedikit gelisah.

Rama tersenyum. Bukan senyum sinis atau senyum palsu khas anak teladan, melainkan senyum yang benar-benar lepas. Ia menyandarkan punggungnya perlahan, membiarkan rasa ngilu di tulang rusuknya bercampur dengan desiran halus di hatinya. Pagi itu, di bawah rindangnya pohon beringin dan di temani aroma bumbu kacang yang menguar di udara, Rama menyadari dengan sangat jelas. Sandiwaranya sebagai anak baik-baik mungkin bisa menipu seluruh dunia, namun di hadapan gadis berjilbab ungu ini, Rama tidak perlu lagi memakai topeng apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!