NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Suara nada dering telepon tiba-tiba memecah keheningan kamar hotel. Valeria terbangun, matanya masih setengah terpejam. Ia baru sadar kalau sejak tadi tidur dengan tangan melingkar di dada Gilang.

Valeria langsung tersentak, dan menjauh dari dada bidang pria itu, Gilang masih terlelap tenang, seolah semalam dia sudah kehabisan tenaga.

Valeria meraih ponselnya dengan cepat, berusaha menutupi rasa gugup yang muncul.

Dengan cepat ia menekan tombol hijau, mencoba mengatur suara.

“Halo, Mas…”

Suara dari seberang langsung terdengar kesal.

“Velly, kamu di mana? Semalam nggak pulang. Aku tunggu sampai pagi!”

Valeria menelan ludah, melirik sekilas ke arah Gilang yang masihtertidur tenang di sisi ranjang. Ia menggenggam erat ponsel, mencoba terdengar tenang.

“Maaf, Mas… aku ada urusan mendadak. Nanti aku jelasin."

Suara Valeria yang sedang berbicara di telepon membuat Gilang terbangun. Ia membuka mata perlahan, lalu terduduk ketika mendengar nada suara Valeria yang serius.

Sambil menoleh ke meja samping, pandangannya langsung tertuju pada jam digital yang menyala terang. Gilang terperanjat.

“Sudah setengah sembilan?!” ucapnya kaget.

Ia segera bangkit, kepalanya masih sedikit pening. Hari ini ia seharusnya presentasi kelompok bersama Viona. Dan kenyataannya, ia sudah terlambat setengah jam.

Dengan tergesa, Gilang meraih kemejanya yang terlipat seadanya di kursi. Jantungnya berdegup kencang, penuh rasa panik.

"Duh nanti Viona ngambek lagi," ucap Gilang sambil pergi berlalu meninggalkan Valeria yang masih mencoba memberi penjelasan ke suaminya.

Gilang baru saja membuka pintu kamar dengan langkah terburu-buru ketika suara Valeria tiba-tiba memotong.

“Woy! Pakai bajunya dulu!” teriaknya tanpa sadar, masih memegang ponsel di telinga.

Gilang langsung terhenti di ambang pintu. Baru sadar dirinya hanya memakai celana, dada telanjang. Wajahnemanas. Ia buru-buru mundur kembali ke dalam kamar, menutup pintu sambil merutuki kebodohannya.

Di seberang sana, suara laki-laki di telepon terdengar curiga. “Val, kamu sama siapa sih? Tadi aku dengar ada yang nggak pakai baju. Maksudnya apa?”

Valeria membeku sejenak, lalu menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdegup cepat.

"Eum... anu mas, nanti aku jelasin disana aja ya, aku kesana sekarang, bye..." Valeria langsung menutup teleponnya sepihak.

Gilang dan Valeria sama-sama keluar hotel dengan buru-buru bahkan mereka tak sempat menyisir rambutnya. "Sumpah lengket banget nih badan." keluh Gilang sambil berjalan cepat menuju lobby.

****************

Valeria menahan napas panjang sebelum melangkah masuk ke kantor suaminya. Ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya, entah karena AC atau karena tatapan suaminya yang langsung menembus ke arahnya.

“Kenapa semalam kamu nggak pulang?” suara Dimas terdengar datar, tapi jelas penuh curiga.

Valeria berusaha tersenyum tipis, meski

tangannya gemetar di balik tasnya. “Aku ketiduran setelah rapat sama klien, Mas. Maaf kalau bikin kamu khawatir.”

"Aku kan udah bilang, kamu istirahat aja dirumah, masalah kantor biar aku yang handle, kita bisa merger perusahaan kita, jadi kamu gak usah repot ropot lagi mikirin perusaahaan sendirian, sayang," ucap Dimas lembut.

Valeria menggeleng, "nggak mas, ini perusahaan yang udah aku impikan dari dulu, dan setelah papa ngasih aku kebebasan buat ngelola dan aku merasa bertanggungjawab penuh atas kesuksesan perusahaan itu."

Dimas menarik napas panjang, lalu menatap Valeria dengan sorot mata serius. “Aku ngerti kamu sayang sama perusahaan itu, Vel. Tapi kamu juga harus mikir realistis. Dunia bisnis keras. Kalau kita merger, posisi kamu bakal jauh lebih aman. Kamu tetap bisa jadi pemimpin, cuma bedanya… kita jalan bareng.”

Valeria menggeleng lagi, kali ini lebih tegas. “Bukan soal posisi, Mas. Ini soal prinsip. Aku nggak mau semua yang aku bangun jadi sekadar cabang dari perusahaanmu.”

Dimas terdiam menatap istrinya yang begitu keras kepala. Helaan napas berat lolos dari bibirnya. “Ya sudah, kalau itu maumu… aku nggak akan paksa.”

Ia mencoba tersenyum, meski jelas ada kekecewaan di matanya. “Aku cuma pengen yang terbaik buat kamu, Vel. Tapi kalau kamu yakin bisa jalan sendiri, ya sudah, aku percaya.

"

Belum sempat Valeria menanggapi, seorang wanita paruh baya dengan dress hitam elegan dengan perhiasan berkilau dileher melangkah masuk, wanita itu adalah Bu Bertha, ibu Dimas.

" Val, Mama gak ngerti sama kamu," ucapnya tanpa basa basi. "kamu sibuk sama perusahaanmu terus, suami kamu malah sering nungguin. Kalo kamu gini terus, gimana mau hamil?"

Valeria menghela nafas malas. "Ma, perkara hamil itu takdir tuhan, kalo kita udah berusaha tapi tuhan nyuruh kita buat sabar, ya mau gimana lagi? Lagian buru-buru amat sih, mau ngapain?"

Bu Bertha mengernyit, jelas tidak puas dengan jawaban itu. “Tapi Val, kamu tuh udah menikah. Mama cuma nggak mau nanti orang ngomong macam-macam. Masa’ istri Dimas sibuk kerja terus, lupa sama kewajiban?”

Valeria menegakkan punggungnya, menatap langsung ke arah ibu mertuanya. “Ma, aku nggak lupa kewajiban. Aku tetap istri Mas Dimas, aku tetap ada di rumah. Tapi aku juga punya impian. Papa kasih aku kepercayaan buat urus perusahaan, masa’ aku tinggalin gitu aja? lagian mama sendiri kan yang mau anaknya nikah sama aku? Harusnya mama tau kalau aku dari dulu gila kerja, ya ini konsekuensi yang harus diterima."

Wajah Ibu Dimas langsung berubah, sedikit tersinggung dengan ucapan Valeria. “Kamu ngomong sama mama kayak gitu?!” suaranya meninggi.

Dimas cepat-cepat berdiri, menenangkan ibunya. “Sudah, Ma, jangan diambil hati. Velly cuma lagi capek.”

Valeria menghela napas keras, menahan diri agar tidak terpancing lebih jauh. “Aku ngomong apa adanya, Mas. Aku nggak mau terus-terusan disalahin cuma karena aku kerja. Seolah-olah kalau aku sibuk, aku jadi istri yang buruk.”

Bu Bertha mendengus kesal, wajahnya memerah. Ia meraih tas tangannya dengan kasar lalu berdiri. “Ya terserah deh! Anak sekarang bisanya cuma ngelawan sama orang tua. Mama ngomong juga percuma!”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melangkah pergi, sengaja membanting pintu agak keras.

Valeria memejamkan mata sebentar, berusaha menahan emosinya. Sementara Dimas hanya bisa menghela napas panjang, wajahnya menegang melihat ibunya sudah tersinggung berat.

"Kamu lihat kan, mas? lagi-lagi aku yang disalahin, udah berapa kali aku disalahin gara-gara kamu? padahal kamu yang bermasalah tapi seolah-olah aku yang gak becus jadi istri cuma karena gak hamil-hamil."

Dimas menunduk, wajahnya tampak tertekan. “Val, jangan gitu… Mama memang suka ngomong seenaknya. Aku juga capek dengernya, tapi dia orang tua, mau gimana lagi?”

Valeria mendengus, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. “Capek? Yang capek itu aku, Mas. Aku yang harus terima sindiran tiap kali ketemu. Selalu aku yang jadi kambing hitam, seakan-akan semua ini salahku. Padahal kamu juga nggak pernah mau periksa diri kamu sendiri, kan?”

Dimas tak terima merasa disalahkan. " Lho kok kamu malah jadi salahin aku? Aku sehat- sehat aja lho, punyaku juga gak ada masalah, jangan seenaknya nuduh aku begitu."

Valeria menatap tajam ke arah suaminya, suaranya meninggi. “Kamu dengar sendiri kan barusan? Kamu ngomong seolah-olah aku yang bermasalah. Kalau emang kamu yakin nggak ada masalah, kenapa nggak pernah mau ikut periksa? Atau jangan-jangan kamu cuma takut hasilnya nggak sesuai sama keyakinanmu itu?”

Dimas menghela napas panjang, mencoba menurunkan nada suaranya. “Sudahlah, Vel. Ini memang perkara takdir. Mungkin Tuhan tahu kita sama-sama sibuk, jadi belum dikasih kesempatan buat punya keturunan.”

Bukannya tenang, Valeria justru merasa makin panas. Rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca. “Kamu selalu begitu, Mas. Selalu berlindung di balik kata takdir, padahal kamu sendiri nggak pernah mau benar-benar hadapi masalahnya.”

Tanpa menunggu jawaban, Valeria berdiri dan melangkah pergi begitu saja. Tumit sepatunya beradu keras dengan lantai, meninggalkan Dimas yang hanya bisa terdiam. Hatinya perih—kesal karena suaminya selalu menolak, dan lebih sibuk membela dirinya sendiri.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!