Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja bulanan.
Berbagai macam tumpukan barang yang tersusun rapi membuat Steve dan Leon mudah mencari barang keperluan yang mereka butuhkan saat ini, Leon yang mendorong troli belanja tengah asik berjalan di belakang Steve.
“Kak… kita beli mie instant untuk stok seminggu kedepan ya? Sepertinya masih ada sisa tiga bungkus mie di lemari dapur.” Steve menghentikan langkah kakinya di tumpukan mie instant.
“Hmm… oke terserah kamu, belanja apa yang menurutmu perlu. Aku juga jarang makan di rumah.”
Steve terdiam mendengar ucapan Leon, dia menatap Leon tajam sebelum mengambil barang yang di inginkan nya.
merasa tatapan Steve tidak biasa dengan perlahan Leon mendekati Steve, dia membalas tajam tatapan mata Steve.
“Ada yang ingin kamu katakan…?” Tanya Leon dengan suara berat dan terasa dalam.
“Bisakah kita makan bersama selama aku ada di sini…?” Pinta Steve yang membuat Leon specles.
Leon akui jika dia terlalu sibuk dengan kekasihnya, sampai dia melupakan jika Steve juga membutuhkan perhatian dari Leon.
seperti biasa Leon dengan gemas mengacak rambut Steve, bibir Steve tampak mengerucut sempurna. Dia kesal tiap kali Leon selalu mengacak rambut Steve yang sudah tertata rapi.
“Bisa nggak kamu tidak mengacak rambutku…?” Ucap Steve kesal.
“Boleh, tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi.” Bisik Leon di telinga Steve.
“Apa itu…?” Balas Steve seakan menantang ucapan Leon.
“Cium pipiku.” Bisik Leon yang membuat wajah Steve berubah memerah.
Leon yang melihat reaksi Steve tersenyum geli, dia sukses membuat pemuda tampan itu terlihat salah tingkah. Ucapan Leon tidak serius, dia hanya ingin menggoda Steve.
tapi apa yang Steve lakukan kali ini di luar prediksi BMKG, secepat kilat Steve mencium pipi Leon.
Kini giliran Leon yang berubah wajahnya semerah tomat rebus, dia tidak menyangka jika Steve akan sangat berani melakukannya di depan umum. Beruntung di lorong itu tampak sepi, jadi Leon tidak akan kawatir jika ada yang melihat.
“Kak Leon sudah janji, tidak akan mengacak rambutku jika aku mencium pipi kak Leon.” Ucap Steve sambil berlalu dari depan Leon.
Senyum Leon terulas sempurna melihat tingkah pemuda tampan yang kini hidup bersamanya dalam satu atap, Leon mengikuti langkah Steve dari belakang, kini dia tak ubahnya seperti suami yang tengah mengikuti istrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga.
“Apa kamu selalu pake hand bodygard itu Steve…?” Tanya Leon saat Steve mengambil hand body yang bergambar kan buah jeruk di kemasannya.
“Sebenarnya aku memakainya saat aku tinggal di negara ini, soalnya aku tidak menemukan hand body yang biasa aku pake. Jadi aku memutuskan memakai ini, not bad sih kak. Aku suka wanginya, dan ternyata setelah aku pake di kulitku juga cocok.” Steve mengambil satu kemasan yang paling besar.
Leon mengangukan kepalanya, dia berfikir jika memang setelah Steve mandi dia mencium bau segera jeruk di tubuh Steve dan membuat Leon sedikit merasa rileks saat tak sengaja mencium aroma tubuh Steve.
“Oh iya, hand body yang kakak pake apa…? Boleh aku tahu…?” Tanya Steve berbalik melihat ke arah Leon.
“Di sini tidak menjual hand body yang aku pake, aku sengaja memesan dan membelinya dari luar.” Jawab Leon sambil mengambil sabun mandi cair yang selalu dia pake.
“Kakak juga pake itu…? Wah… kita sama dong.” Ucap Steve tampak histeris melihat Leon yang mengambil sabun cair berwarna coklat.
“Aku suka wanginya, terasa maskulin jika di pake pria aktif sepertiku.” Balas Leon mengambil beberapa sabun di atas rak.
“Kenapa banyak sekali kamu mengambilnya…?” Tanya Steve penasaran.
“Tadi kamu bilang kalau kamu memakainya juga, jadi kita bisa membaginya jika sampai di rumah nanti.” Leon melangkahkan kakinya melewati steve yang masih terpaku mendengar ucapan Leon.
Kini tibalah Leon di depan tumpukan alat cukur yang tersusun rapi, dia mencari alat cukur yang menurutnya bagus. Steve yang melihat Leon segera berjalan dan berhenti tepat di samping Leon.
“Menurutku ini bagus kak, di sini juga sudah ada pengganti pisaunya. Jika sudah tumpul kita bisa menggantinya.”
Leon menatap alat cukur yang di ambil Steve, tanpa bertanya dan berfikir lama Leon mengambil beberapa untuk dirinya dan juga Steve.
“Kenapa kamu ambil empat..?” Tanya Steve penasaran.
“Untukmu satu dan untukku satu, sisanya untuk stok.” Balas Leon terdengar ringan dan santai.
“Terserah kamu aja.” Steve segera pergi meninggalkan Leon, dia akan mengambil beberapa mie instant kesukaannya sebelum dia mencari beberapa ikan dan sayuran.
“Setelah ini kita kemana, troli juga masih terlihat belum penuh.” Leon menarik pegangan troli untuk dia bawa mengikuti Steve yang berjalan ke arah di mana deretan daging segera berada.
“Aku ingin membuat steik untuk makan malam kita nanti.” Lirih Steve yang dapat Leon dengar dengan jelas.
“Rasanya aku sednag mengikuti kekasihku belanja bulanan.” Gerutu Leon tampak lelah mengikuti langkah Steve.
“Apa tadi kamu bilang…?” Tanya Steve yang masih dapat dia dengar ucapan Leon walau terdengar samar.
“Oh enggak, oke malam ini kita malam steik buatanmu.” Kilah Leon berharap Steve tidak menanyakan gerutuan nya.
“Aku bisa dengar apa yang kamu bilang tuan Leon yang terhormat, yah… anggap saja kamu sedang berbaik hati mengantarkan kekasihmu berbelanja kali ini.”
Leon terdiam dia menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Steve, tanpa Steve sadari Leon segera menautkan satu tangannya menggenggam tangan Steve erat.
“Kak…! Apa yang kamu lakukan….” Ucap Steve dengan nada sedikit meninggi.
“Katamu, anggap saja aku sedang mengantarkan kekasihku berbelanja, jadi aku akan memegang tanganmu selama kita berbelanja.” Senyuman tengil Leon tunjukan ke depan Steve.
“Lepas, aku malu kak. Bagaimana jika ada orang lihat, nanti di kira kita ada hubungan yang tak biasa.” Steve berusaha melepaskan tangannya, tapi sayang Leon menggenggam tangan Steve dengan begitu erat.
“Jika mereka tanya, aku akan bilang kamu adik kesayanganku.” Leon tidak peduli Steve menolak gengaman tangan Leon, memegang tangan Steve membuat Leon merasa tenang dan hangat.
“Terserah kamu.” Steve sengaja mempercepat langkahnya menuju ke tumpukan daging segar di ujung lorong.
“Kamu bisa memilih daging untuk di buat steik…?” Leon melihat beberapa jenis daging sapi, dia melihat apa yang akan di ambil Steve nanti.
“Tenang aku sudah sering membuat steik, kamu tidak usah kawatir jika stik buatanku nanti terasa alot saat kamu makan.” Steve tersenyum samar, dia sengaja ingin mengerjai Leon.
Mata tetanus melirik tajam melihat tangan Leon yang akan mengacak rambutnya, tiba tiba Steve teringat akan ucapan Leon tadi. Dia segera mencium pipi Leon, Steve tahu pasti Leon akan mengurungkan niatnya tidak jadi mengacak rambut Steve seperti biasa.
“Pintar juga kamu.” Ucap Leon tertawa sinis melihat tingkah Steve.