NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6

Suara keributan sudah terdengar jelas bahkan sebelum mereka sampai di depan pintu. Tawa renyah, obrolan keras, dan suara benda yang bergeser memenuhi ruangan, menunjukkan betapa akrab dan bebasnya para siswa di kelas elit ini.

Namun, begitu tangan Guru Li memutar kenop pintu dan mendorongnya terbuka lebar...

SUUT!

Suasana di dalam seketika mati total. Seolah ada tombol mute yang ditekan, semua kepala serentak menoleh, semua mulut terhenti di tengah kalimat.

Xin Yi melangkah masuk dengan tenang, mengikuti di belakang gurunya. Ia tidak menunduk, tidak menunjukkan rasa gugup. Wajahnya datar, tatapannya tenang namun tajam, menyapu seluruh isi kelas dalam sekali pandang.

Gadis berkulit kecokelatan dengan rambut di kuncir kuda itu berdiri tegak di samping Guru Li. Kontras yang sangat kuat tercipta di antara dirinya dengan siswa-siswi lain yang mayoritas berkulit putih dan berpakaian modis.

"Anak-anak, tolong tenang," suara Guru Li memecah keheningan yang canggung itu."Hari ini kita punya teman baru. Dia pindahan dan akan bergabung di kelas kita mulai hari ini."

Guru Li menoleh ke samping, memberi isyarat. "Silakan perkenalkan dirimu, Nak."

Xin Yi melangkah maju selangkah, berdiri tepat di depan papan tulis hitam yang luas. Ia menatap dua puluh pasang mata yang menatapnya dengan berbagai ekspresi—penasaran, meremehkan, sinis, hingga yang hanya diam menilai.

Dengan suara yang jelas dan tidak bergetar, ia berkata singkat:

"Saya Xin Yi. Salam kenal."

Hanya itu. Tidak ada senyum lebar, tidak ada basa-basi berlebih. Satu kalimat yang padat, dingin, dan langsung pada intinya.

Para gadis saling melirik, begitu juga para pemuda di kelas. Mereka jarang melihat gadis dengan latar belakang seperti Xin Yi.

"Ehm... kalau boleh tahu, Anda berasal dari keluarga mana?" tanya seorang gadis dengan nada manja yang jelas-jelas mengandung nada mengejek. Matanya menyipit, menunggu jawaban yang mungkin bisa dijadikan bahan tertawaan.

Xin Yi menatap gadis itu dengan pandangan datar. "Itu merupakan informasi pribadi. Tidak perlu diketahui oleh semua orang di sini."

Suasana kelas seketika hening total. Mulut banyak siswa yang terbuka sedikit karena terkejut. Tidak ada yang menyangka murid baru sekecil ini berani menjawab dengan tegas seperti itu kepada teman-teman yang jelas-jelas berasal dari kalangan sosial atas.

Sebelum keributan terjadi, seorang pemuda berkacamata yang duduk di barisan depan angkat bicara dengan nada yang terlihat lebih serius dan tenang.

"Kalau begitu, dari mana asal Anda? Sekolah sebelumnya berada di mana?"

Xin Yi memandang pemuda itu sebentar, lalu menjawab singkat, padat, dan tanpa beban:

"Sebuah pulau di wilayah pantai. Apakah ada pertanyaan lain?"

Semua orang terpaku. Pulau di wilayah pantai?

Jawaban macam apa itu?!

Guru Li merasa situasi semakin canggung dan tidak terduga. Ia segera berdeham keras untuk mencairkan suasana.

"Sudah-sudah, kenalan bisa dilakukan nanti saja. Xin Yi, Anda boleh duduk di sana. Kebetulan ada satu tempat kosong di pojok dekat jendela."

"Terima kasih, Guru," jawab Xin Yi dengan sikap santai. Ia berjalan menuju kursi yang ditunjuk, langkahnya tenang dan stabil.

Namun, saat ia melewati salah satu siswa laki-laki yang duduk di pinggir barisan tengah, pemuda itu dengan sengaja menjulurkan kakinya keluar, berniat menjegal agar gadis itu jatuh tersungkur dan menjadi bahan tawa seluruh kelas. Namun...

"AAAAWWWW!!!"

Teriakan nyaring justru keluar dari mulut si pemuda penjegal itu.

Bukan Xin Yi yang jatuh, melainkan pemuda itu yang memegangi pergelangan kakinya sambil meringis kesakitan. Xin Yi, dengan refleks yang luar biasa cepat, seolah tidak sengaja menginjak telapak kaki atau pergelangan kaki pemuda itu dengan cukup kuat saat melangkah melewatinya.

"Maaf..."

Gadis itu bahkan tidak menoleh sedikitpun, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia terus berjalan dan duduk di kursinya dengan tenang.

Seluruh kelas ternganga. Guru Li yang sudah sering melihat kelakuan nakal siswa-siswa manja ini menjahili orang baru, kali ini benar-benar terkejut.

Biasanya korban akan menangis atau merasa malu, tapi kali ini... si pelaku justru yang merasakan kesakitan. Baru kali ini ia melihat trik kotor mereka gagal total melawan murid baru yang aneh ini.

Melihat pemuda itu meringkuk sambil memegangi kakinya dan melolong kesakitan, Guru Li akhirnya tidak bisa pura-pura tidak melihat.

"Kamu, bawa temanmu ke klinik sekolah sekarang!" perintahnya tegas pada teman sebangku si pemuda.

Dengan wajah pucat dan gemetar, dua siswa itu segera membantu temannya yang tertatih-tatih berjalan keluar kelas. Suasana di dalam kelas 12B menjadi hening total. Tidak ada satu pun yang berani bersuara, bahkan untuk bernapas keras pun segan.

Mereka semua kini menatap punggung gadis yang duduk di pojok jendela itu dengan tatapan terkejut.

Gadis itu... bukan orang biasa.

Sementara itu di klinik sekolah.

Tempat ini jauh dari kata sekadar ruang obat biasa. Peralatannya canggih, bersih, dan didukung oleh dokter-dokter profesional.

Dokter pria yang memeriksa memutar pergelangan kaki siswa itu pelan, lalu menekan-nekan titik tertentu dengan jari-jarinya yang ahli.

"Sakit!... Sakit!... SAKIT!" Pemuda itu menjerit lagi saat tulangnya disentuh.

Setelah beberapa saat pemeriksaan, dokter itu mengangkat wajahnya dengan kening berkerut, tampak sangat bingung.

"Hmm... ini aneh. Posisi tulang kering Anda agak bergeser sedikit. Harus segera dipasang kembali agar tidak bengkak parah."

!!

Guru Li dan kedua temannya yang membawa langsung terdiam kaku.

Tulang bergeser?

Hanya karena diinjak? Hanya karena lewat dan kakinya terinjak sedikit oleh gadis mungil itu?

Mereka tahu betul Xin Yi tidak berlari; dia hanya berjalan biasa, bahkan terlihat santai. Tapi bagaimana mungkin kekuatan di kakinya sebesar itu? Seolah-olah yang menginjak bukan kaki manusia biasa, melainkan besi baja atau alat berat!

"Be-benarkah, Dokter? Hanya karena terinjak bisa sampai bergeser?" tanya Guru Li dengan suara terbata-bata, tidak percaya.

"Terinjak? Tapi lihat ini, posisinya sudah tidak pada tempatnya. Orang yang menginjak pasti memiliki kekuatan fisik yang sangat luar biasa, atau dia tahu persis di mana letak titik lemah tulang dan sendi," jawab dokter terkejut itu sambil menyiapkan alat untuk mengembalikan posisi tulang.

Guru Li menelan ludah dengan susah payah.

Murid baru macam apa ini... batinnya bergumam dengan rasa takjub yang bercampur dengan kekhawatiran. Sepertinya mulai hari ini, lebih baik tidak ada yang berani mencari masalah dengannya.

Siswa yang terbaring itu wajahnya pucat pucat, hampir pingsan bukan hanya karena sakit, tapi karena syok. Ia hanya bermaksud bercanda dan ingin melihat gadis itu jatuh malu; siapa sangka balasannya sedahsyat ini.

Tulang bergeser hanya karena diinjak? Ia benar-benar menyesal telah mencari masalah dengan orang yang salah.

Di dalam kelas, suasana kembali berjalan seperti biasa. Guru menerangkan materi pelajaran di depan dengan nada datar, sementara sebagian siswa sibuk dengan dunianya sendiri—ada yang bermain ponsel, ada yang mengobrol, bahkan beberapa berani tidur terang-terangan menyandar di meja.

Anehnya, guru tersebut sepertinya sudah terbiasa dan pura-pura tidak melihat.

Namun hal itu tidak mengganggu Xin Yi. Ia duduk tegak, matanya fokus mendengarkan dan mencatat pelajaran dengan rapi. Baginya, sekolah adalah tempat belajar, bukan tempat bermain-main.

Bel istirahat berbunyi.

Para siswa berhamburan keluar menuju kantin yang mewah, berniat makan makanan lezat atau sekadar bergosip. Xin Yi tidak ikut keramaian. Ia lebih suka tempat yang tenang.

Ingatannya tertuju pada bangunan sekolah yang tinggi. Pasti ada tempat dengan pemandangan bagus di atas.

Tanpa banyak bicara, Xin Yi berjalan menuju tangga darurat dan memanjat naik hingga sampai ke atap sekolah.

Benar saja. Atap itu luas, lantainya dilapisi rumput sintetis berwarna hijau yang empuk. Angin berhembus kencang dan sejuk, jauh dari kebisingan di bawah.

Matanya menangkap sebuah bangunan kecil seperti gudang penyimpanan di sudut atap; ada tangga kecil besi yang menuju ke atap gudang tersebut. Penasaran, Xin Yi memanjat naik.

Saat kepalanya muncul di atas permukaan atap gudang, ia tersenyum tipis.

Pemandangannya luar biasa. Seluruh kota terhampar luas di bawah sana, gedung-gedung pencakar langit terlihat jelas. Matahari memang terik, tapi untungnya ada gedung tinggi di sebelahnya yang menaungi area ini, sehingga tidak terlalu panas.

Gadis itu duduk bersila di atas lantai yang bersih, mengeluarkan bekal berupa sosis kecil, roti, dan buah yang ia ambil dari dapur rumah tadi.

Ia menggigit makanannya dengan tenang dan puas, menikmati kesendirian di tempat tinggi ini, jauh dari tatapan aneh dan sinis teman-teman sekelasnya.

Di sini, ia merasa sedikit lebih bebas.

Saat Xin Yi sedang meneguk air putih dari botolnya, tiba-tiba terdengar suara besi berdecit. Pintu besi yang menuju ke area atap terbuka didorong lebar, diikuti oleh langkah kaki berat yang tidak beraturan.

Xin Yi menoleh sedikit dari posisinya yang tinggi di atas atap gudang. Dua orang pemuda masuk. Seragam mereka tidak rapi seperti siswa pada umumnya—kemeja dikeluarkan dari celana, dasi longgar atau bahkan tidak dipakai, dan aura mereka terlihat liar.

Oh, ternyata ada orang lain juga. batin Xin Yi. Sepertinya jenis para berandalan.

Ia tidak peduli. Segera ia memalingkan wajah kembali, melanjutkan makannya seolah tidak melihat apa-apa. Di bawah sana, kedua pemuda itu berjalan santai menuju pagar pembatas besi.

Salah satu dari mereka, Zhang Yui, mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakannya. Asap putih mengepul saat ia menghisap dalam-dalam.

"Ming Juan, Lapangan basket di Gedung Dua malah jadi rebutan anak-anak kelas A," keluh Zhang Yui.

"Rebut saja kembali! Kenapa banyak tanya?" jawab temannya, Ming Juan, dengan suara serak sambil menghembuskan asap tebal ke udara.

Mereka berdua adalah anggota tim basket, tapi berasal dari kelas yang berbeda dengan Xin Yi. Mereka dari kelas 12-F, kelas yang berada di Gedung C.

Di sekolah elit ini, sistem pembagian kelas sangatlah ketat dan tidak adil.

- Gedung A: Untuk siswa jenius dan berprestasi tinggi.

- Gedung B: Untuk siswa biasa atau mereka yang berasal dari keluarga kaya dengan status menengah ke atas.

- Gedung C: Dijuluki kelas pembuangan. Isinya adalah anak-anak yang dianggap kurang mampu akademik, bermasalah, atau benar-benar anak nakal yang sulit diatur.

Dan aturan main di sini sederhana: Siapa yang kuat, dia yang menang. Yang lemah, hanya bisa ditindas.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!