NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

***

Malam di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, selalu memiliki aura yang berbeda. Di balik pagar-pagar tinggi dan rimbunnya pepohonan, tersimpan konsentrasi kekayaan yang mampu menggerakkan roda ekonomi negara.

Suasananya begitu tenang, namun mencekam bagi siapa pun yang merasa asing di sana.

Di dalam kabin belakang mobil Lexus hitam yang melaju pelan, Karina Dyah Pramesti atau kini ia lebih suka dipanggil Ayin duduk dengan gelisah. Ia terus meremas jemarinya yang dingin. Di kursi depan, ayahnya, Jenderal Agus Subiyanto, tampak tenang dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara ibunya sesekali memeriksa penampilan melalui cermin kecil.

Ya Tuhan, apa memang ini jalan hidupku? batin Karina berteriak. Pernikahan politik hasil perjodohan? Drama banget! Bahkan drama Korea yang aku bintangi juga kalah alurnya kalau kayak gini. Tapi kenapa sih Papah tiba-tiba mau jodohin aku secepat ini? Kayak aku nggak laku aja!

Ia melirik pantulan dirinya di jendela. Ia adalah Karina. Idol top global. Pemilik followers terbanyak. Wajahnya menghiasi papan reklame dari Seoul hingga New York. Cantik, pintar, kaya.

Aku ini aset negara, tahu! Kok nasibnya malah kayak Siti Nurbaya versi Old Money? Terus kalau aku nggak cinta gimana? Mana gosip di Twitter bilang dia itu kaku, dingin, dan... ya ampun banyak cewe juga, masa depanku benar-benar di ujung tanduk!

Karina bergumam sendiri, tubuhnya menggeliat kecil seperti cacing kepanasan di atas jok kulit yang dingin.

"Sayang, kamu kenapa? Kok gelisah begitu?" tanya ibunya, menoleh ke belakang dengan tatapan lembut namun menyelidik.

"Ehh, nggak apa-apa kok, Mah. Cuma... AC-nya terlalu dingin ya? Atau aku yang kurang minum?" sahut Karina asal, memberikan cengiran kaku yang jauh dari citra Chic Idol-nya.

"Kamu tenang saja. Semua sudah Papah atur secara presisi," sahut sang Jenderal tanpa menoleh, suaranya berat dan mutlak seperti komando perang.

Atur sih atur, Pah. Tapi nggak sama Pewaris Cendana juga kali! gerutu Karina dalam hati. Dia itu legenda hidup di dunia bisnis. Dinginnya melebihi kulkas dua pintu. Aku cuma pernah lihat dia di majalah bisnis, itu pun fotonya selalu formal. Kalau tampangnya zonk gimana? Aduh, Ayin... kamu dalam masalah besar.

Mobil akhirnya melambat dan memasuki sebuah gerbang besar yang dijaga ketat. Begitu ban mobil menyentuh paving block halaman luas hunian mewah milik keluarga Hutomo, Karina merasa oksigen di sekitarnya menipis.

"Sayang, yuk turun. Kita sudah sampai," ajak sang ibu.

Karina tersentak dari lamunannya. Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali kepercayaan dirinya sebagai seorang bintang.

Huuuh... ayo, Rin! Kamu pasti bisa. Kamu sudah biasa menghadapi puluhan ribu penggemar di Tokyo Dome. Menghadapi satu CEO dingin nggak akan membunuhmu.

 Taklukkan dia dengan aura idol-mu!

Ia turun dari mobil dengan anggun. Malam itu, ia mengenakan dress selutut berwarna broken white dengan potongan sederhana namun berkelas, memamerkan kaki jenjangnya yang legendaris. Rambutnya dibiarkan tergerai alami. Meskipun tanpa riasan panggung yang tebal, kecantikannya justru terpancar lebih murni seperti putri bangsawan yang baru kembali dari pengasingan.

Di depan pintu utama yang menjulang tinggi, mereka sudah disambut langsung oleh sosok yang sangat disegani, Tommy Soeharto. Pria itu tersenyum bersahaja, menyalami sang Jenderal layaknya kawan lama yang sedang merencanakan koalisi besar.

**

Ruang tamu itu bukan sekadar ruangan; itu adalah galeri kekuasaan. Perabotan kayu jati ukiran Jepara kelas satu, karpet Persia yang meredam setiap langkah kaki, hingga aroma melati dan kayu cendana yang mahal tercium di setiap sudut.

"Silakan duduk, Jenderal. Suatu kehormatan bisa menjamu keluarga Anda di sini," ucap Pak Tommy dengan nada tenang namun penuh penekanan.

Karina duduk dengan punggung tegak di samping ibunya. Ia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap poker face, meskipun matanya tidak bisa berhenti mengagumi detail kemewahan rumah ini. Benar-benar definisi 'Old Money' Indonesia, batinnya kagum.

Percakapan dimulai dengan basa-basi tingkat tinggi. Mereka berbicara tentang proyek pembangunan, situasi militer terkini, hingga sejarah keluarga Yani yang melegenda. Karina hanya tersenyum canggung setiap kali namanya disebut, sesekali mengangguk sopan.

"Lalu, di mana putra mahkotamu, Pak Tomy?" tanya sang Jenderal dengan nada santai namun tegas.

"Darma masih dalam perjalanan dari kantor. Ada rapat darurat dengan investor asing tadi sore. Biasalah, anak muda sekarang kalau sudah kerja suka lupa waktu," Pak Tommy terkekeh pelan. "Tapi dia sudah berjanji tidak akan terlambat lebih dari sepuluh menit."

Karina mendengus sangat pelan hingga hampir tak terdengar. Cih, klasik. Biar kelihatan sibuk dan penting ya?

Tak lama kemudian, keheningan ruangan itu pecah oleh suara langkah kaki yang mantap.

Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.

Suara sepatu pantofel mahal yang beradu dengan lantai marmer itu terdengar ritmis dan penuh percaya diri. Karina refleks menoleh ke arah sumber suara, begitu pula dengan semua orang di ruangan itu.

Dari balik lorong, munculah sosok pria tinggi dengan tubuh tegap dan dada bidang. Kulitnya tidak seputih idol Korea, namun bersih dan tampak sangat terawat. Rambutnya tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang berantakan. Rahangnya tegas, dan matanya... matanya sangat tajam, seolah bisa membaca isi kepala siapa pun yang ia tatap.

"Maaf, saya terlambat. Ada pekerjaan di kantor yang benar-benar tidak bisa saya wakilkan," ucap sebuah suara bariton yang dalam dan berwibawa. Pria itu melepas jas mahalnya dan menyerahkannya pada pelayan yang sigap menunggu, menyisakan kemeja putih yang pas di tubuh atletisnya.

"Tidak apa-apa, Nak Darma. Silakan duduk," ucap Jenderal Agus dengan nada yang jarang sekali terdengar ramah.

Darma hanya mengangguk singkat, lalu duduk di sofa tunggal di seberang Karina.

Karina tertegun sesaat. Ia harus mengakui satu hal dalam hati: Sial, dia jauh lebih tampan daripada di foto majalah. Jika idol-idol di Korea memiliki ketampanan yang "cantik", pria di depannya ini memiliki ketampanan yang "maskulin dan berbahaya". Definisi nyata dari CEO dingin di cerita fiksi atau Wattpad yang sering ia baca secara sembunyi-sembunyi saat di dorm.

"Darma," Pak Tommy memulai, "kemarin sudah Papah bicarakan, kan? Ini Pak Agus dan Ibu Evi. Dan itu..." Pak Tommy menatap Karina dengan binar bangga, "...Karina. Putri tunggal Bapak Panglima. Kamu sudah mengenal Karina jauh sebelum ini, bukan? Siapa yang tidak tahu tentang bintang internasional kita ini."

Darma mengalihkan tatapannya pada Karina. Hanya satu detik, namun rasanya seperti di-scan oleh sinar X. "Ya. Siapa yang tidak kenal dia," ucapnya singkat, tanpa senyum, tanpa ekspresi.

Hah? Gitu doang? Karina merasa egonya sedikit tersenggol. Biasanya pria akan gagap atau setidaknya terpukau melihatnya dari dekat, tapi pria ini bersikap seolah Karina hanyalah pajangan dinding yang kebetulan bisa bernapas.

"Jadi, Darma," sang Jenderal langsung ke inti permasalahan, "kamu sudah tahu rencana perjodohan ini adalah untuk mengamankan banyak hal. Bagaimana menurutmu?"

Karina menahan napas, menunggu penolakan atau setidaknya argumen dari pihak Darma. Ia berharap Darma akan bilang, "Maaf, saya punya pacar," atau "Saya tidak tertarik pada pernikahan politik."

Namun, Darma justru menyesap air putihnya dengan sangat tenang, lalu menatap ayahnya dan Jenderal Agus bergantian. "Baiklah. Saya akan mengikuti apa yang sudah diatur oleh Papah dan Jenderal. Saya rasa, ini adalah langkah yang logis secara strategis."

Karina hampir tersedak ludahnya sendiri. Logis secara strategis? Aku ini manusia, bukan merger perusahaan! Kenapa dia main setuju aja sih? Kenapa nggak ada debat dikit kek, atau drama penolakan kek!

"Bagus kalau begitu," Pak Tommy tampak sangat puas. "Pernikahan akan dilaksanakan sesegera mungkin. Kita akan mengatur resepsi yang bisa menunjukkan pada dunia bahwa keluarga kita bersatu."

Suasana di ruangan itu menjadi sangat hangat bagi para orang tua, namun sangat mencekam bagi Karina. Ia merasa seperti domba yang baru saja ditandatangani kontrak penjualannya.

Tiba-tiba, di tengah perundingan tanggal pernikahan, Darma yang sedari tadi bersikap pasif kembali bersuara.

"Jika diperbolehkan, apakah saya boleh mengantar Karina pulang malam ini?" tanyanya datar, namun nadanya tidak menerima penolakan. "Saya rasa, saya perlu mengenal calon istri saya ini lebih jauh secara pribadi."

Karina membelalakkan matanya. Jantungnya berpacu cepat. "Hah? Eh... maksudnya?"

Sang Jenderal tersenyum lebar—pemandangan yang sangat langka. "Tentu saja, Darma. Itu ide yang sangat bagus. Ayin, kamu pulang bersama Darma, ya. Biar supir Papah membawa mobilmu."

Karina menatap ibunya, meminta pertolongan, namun sang ibu justru memberikan kedipan mata "gemas" yang membuat Karina ingin menghilang saat itu juga.

Darma berdiri, lalu menatap Karina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ayo. Mobil saya sudah di depan."

Karina hanya bisa berdiri lemas. Ia melangkah di belakang pria jangkung itu, merasa bahwa malam ini bukanlah akhir dari perjalanannya, melainkan awal dari sebuah "peperangan" baru di dalam labirin kekuasaan klan Cendana.

****

Bersambung...

1
Tika maya Sari
min tolong update yg banyak 🤣🤣
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!