Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Malam telah larut.
Suara kota perlahan mereda.
Di pinggiran Kota Heimdall—
sebuah lumbung berdiri sederhana.
Di dalamnya—
sunyi.
Hanya suara angin yang masuk dari celah kayu.
Dan gesekan jerami saat seseorang bergerak.
Grachius duduk sendiri.
Punggungnya bersandar pada dinding kayu.
Pedang Enjin terletak di sampingnya.
Matanya terbuka.
Namun tidak fokus.
Pikirannya…
jauh.
Hari itu terulang.
Gadis yang diambil.
Cahaya yang menelan.
Patung yang ia tebas.
Suara pecahnya batu.
Teriakan.
Kepanikan.
Semua masih jelas.
Namun—
yang paling tertinggal…
adalah perasaan itu.
Grachius menunduk sedikit.
“…ini benar?”
Suara itu pelan.
Hampir tidak terdengar.
Angin masuk.
Menyentuh wajahnya.
Ia menutup matanya.
Dan untuk pertama kalinya—
ia mencoba membayangkan mereka.
Ayahnya.
Sonne.
Dan ibunya.
Rosalia.
Namun—
tidak ada wajah.
Tidak ada suara.
Hanya… bayangan kosong.
“…aku bahkan tidak tahu seperti apa kalian.”
Sunyi.
Tangannya sedikit mengepal.
“…tapi aku membawa nama kalian.”
Napasnya pelan.
“…dan kebencian kalian.”
Ia membuka matanya.
Menatap kegelapan di depannya.
“…atau… ini hanya milikku?”
Pertanyaan itu menggantung.
Tidak ada jawaban.
Ia mengingat kata-kata Purus.
“Pikirkan akhir dari pembalasan dendammu.”
Ia mengingat kata-kata Vita.
“Tidak semua yang kau bunuh… akan membuatmu merasa benar.”
Sunyi.
Grachius menunduk lebih dalam.
“…kalau aku terus berjalan…”
“…aku akan jadi apa?”
Angin berhembus lebih pelan.
Tidak ada suara lain.
Hanya dirinya.
Dan pikirannya.
Ia melirik pedangnya.
Enjin.
Senjata yang akan ia gunakan.
Untuk membunuh.
Untuk membalas.
Atau—
untuk sesuatu yang lain.
Ia mengambilnya.
Memegang gagangnya.
“…jalan…”
Kata itu keluar pelan.
“…ini jalan yang kupilih.”
Bukan takdir.
Bukan paksaan.
Pilihan.
Namun—
pilihan itu…
tidak ringan.
Ia menarik napas panjang.
“…kalau aku berhenti sekarang…”
Ia terdiam.
Lalu—
menggeleng pelan.
“…tidak.”
Matanya kembali terbuka penuh.
Lebih tenang.
Namun lebih dalam.
“…aku sudah terlalu jauh untuk berhenti.”
Sunyi.
Namun kali ini—
bukan sunyi yang kosong.
Melainkan sunyi yang… pasti.
Grachius bersandar kembali.
Menatap ke atas.
Atap kayu.
Langit yang tidak terlihat.
“…ayah…”
“…ibu…”
Ia berhenti sejenak.
“…aku tidak tahu apakah ini yang kalian inginkan.”
Angin masuk.
Lebih dingin.
“…tapi ini yang akan kulakukan.”
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Namun untuk pertama kalinya—
Grachius tidak menunggu.
Ia menutup matanya perlahan.
Bukan untuk melupakan.
Namun untuk menerima.
Bahwa jalan ini—
adalah miliknya.
Dan apapun yang ada di ujungnya—
ia akan mencapainya.
Sendiri—
atau tidak.
Malam terus berjalan.
Dan di dalam lumbung kecil itu—
seorang pemuda…
memutuskan untuk terus melangkah.
...----------------...
...----------------...
Malam belum benar-benar berakhir.
Namun Kota Heimdall tidak lagi setenang sebelumnya.
Di pusat kota—
di dalam kuil—
suasana berubah.
Tidak lagi panik.
Namun… tegang.
Di ruang utama—
patung itu masih berdiri.
Tanpa kepala.
Retakan menjalar di lehernya.
Debu batu masih tersisa di lantai.
Di hadapannya—
berdiri seseorang.
Sebastian.
Jubahnya lebih panjang.
Lebih berat.
Matanya menatap patung itu tanpa berkedip.
Sunyi.
Tidak ada yang berani berbicara di belakangnya.
Para Hiereus hanya menunggu.
Lalu—
udara berubah.
Seolah sesuatu menekan dari atas.
Mata Sebastian sedikit melebar.
Tubuhnya kaku.
Penglihatannya… terguncang.
Kilasan.
Rambut putih.
Cahaya—
kuning…
merah…
Tatapan—
seperti matahari.
Dan—
kegelapan di sekitarnya.
Napasnya tertahan.
Lalu—
semuanya hilang.
Sunyi kembali.
Sebastian terhuyung setengah langkah.
“…dia…”
Suaranya pelan.
Namun terdengar jelas.
Ia berbalik.
“Semua—”
Para Hiereus langsung menegakkan tubuh.
“Pelakunya…”
Sebastian menarik napas dalam.
“…masih di kota ini.”
Suasana langsung berubah.
Bisikan muncul.
“Di kota…?”
“Siapa dia…?”
Sebastian mengangkat tangannya.
Sunyi kembali.
“Rambut putih.”
Semua terdiam.
Matanya menyipit.
“…dan mata seperti matahari.”
Beberapa orang langsung saling berpandangan.
Ciri yang terlalu… mencolok.
“Temukan dia.”
Nada suaranya berubah.
Lebih tegas.
Lebih dingin.
“Segera.”
Ia melangkah maju sedikit.
“…tangkap.”
Sunyi.
“…atau bunuh jika perlu.”
Perintah itu jatuh tanpa ragu.
Para Hiereus langsung bergerak.
“Sebarkan!”
“Periksa setiap sudut kota!”
“Tidak ada yang boleh lolos!”
Prajurit ikut bergerak.
Pintu kuil terbuka lebar.
Dan malam—
kembali pecah.
Di jalan-jalan—
langkah kaki berlari.
Obor dinyalakan.
Orang-orang dibangunkan.
“Ada apa ini?!”
“Pemeriksaan!”
Para prajurit mulai menghentikan orang-orang.
Menarik tudung.
Memeriksa rambut.
“Buka!”
“Angkat kepalamu!”
Beberapa orang ketakutan.
Beberapa marah.
Namun tidak ada yang berani melawan.
Karena ini—
perintah kuil.
Di gang sempit—
dua pria ditahan.
“Bukan dia!”
“Lepaskan kami!”
Namun tetap diperiksa.
Setiap helai rambut.
Setiap wajah.
Di sisi lain kota—
pencarian terus meluas.
Tidak ada tempat yang dilewatkan.
Bahkan daerah kumuh.
Bahkan tempat yang jarang dilihat.
Dan di tengah semua itu—
satu ciri terus disebut.
“Rambut putih…”
“…mata seperti matahari…”
Kota Heimdall—
yang sebelumnya ramai—
kini berubah menjadi medan pencarian.
Tegang.
Mencekam.
Dan di suatu tempat—
target mereka—
masih berada di dalam kota.
Tanpa mereka tahu—
bahwa yang mereka cari…
bukan seseorang yang akan bersembunyi selamanya.
Melainkan—
seseorang yang akan datang sendiri.