Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 28
Malam di kompleks rumah dinas itu terasa begitu syahdu. Suara jangkrik di kejauhan menjadi latar belakang yang sempurna bagi ketenangan dan kebahagiaan mereka di rumah baru. rumah yang mereka harap bisa memberikan kebahagiaan yang lebih di banding dengan rumah kontrakan kecil mereka sebelumnya. apalagi sekarang Rumi sedang mengandung. Sebentar lagi rumah ini akan ramai dengan suara tangis bayi.
Fathur meletakkan sendoknya, menatap Rumi yang sedang asyik bercerita tentang kegiatannya seharian tadi. Ada binar di mata istrinya yang selama ini redup tertutup kabut kesedihan. Fathur merasa sangat bersalah. Entah kapan terakhir dia melihat keceriaan istrinya ini.
"Dek...," potong Fathur lembut.
Rumi menghentikan ceritanya,
"Iya, Mas? Masakannya kurang garam ya?"
Fathur menggeleng pelan. Ia meraih jemari Rumi yang sedikit kasar karena kerja keras selama ini, lalu menggenggamnya erat di atas meja.
"Terima kasih sudah tidak menyerah pada Mas. Mas baru sadar, selama ini Mas adalah laki-laki paling bo-doh karena membiarkanmu menangis hanya untuk menjaga perasaan orang lain yang bahkan tidak menghargai kita."
Rumi terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca. Padahal dia sudah berusaha untuk tak peduli dengan apapun lagi di luar sana. Dia membulatkan tekad, apalagi mendengar masukan dari teman-teman dan juga Bu Viona di toko roti.
Dia perlu menjaga kewarasannya, apalagi saat ini dia tengah mengandung. Dia tak punya siapa-siapa, jika Fathur memilih ibunya atau Dona. Dia punya anak dalam kandungannya yang akan menemani dia. Bayi di dalam perutnya adalah sumber kekuatannya saat ini. Dia tak peduli dengan apapun, apalagi segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Fathur.
"Mas bicara apa, sih? Kan semua sudah lewat. Yang terpenting sekarang mas juga memikirkan keadaan kami, bagi Rumi itu sudah lebih dari cukup,"
"Belum, Rum. Mas ingin kamu tahu bahwa mulai detik ini, posisi kamu adalah prioritas utama Mas setelah Tuhan. Mas tidak akan membiarkan Ibu atau siapa pun masuk ke sini hanya untuk merusak senyummu lagi. Mas sudah mengganti kunci rumah, dan Mas sudah instruksikan penjaga gerbang depan agar tidak sembarang mengizinkan tamu masuk tanpa izin Mas."
Pernyataan tegas itu seperti beban berat yang diangkat dari bahu Rumi. Selama ini, ia selalu merasa terancam di rumahnya sendiri, merasa bahwa privasinya bisa diterobos kapan saja oleh mertua atau iparnya yang haus akan materi. Belum lagi ada wanita di masa lalu yang berusaha untuk merebut Fathur kembali.
"Mas benar-benar tidak menyesal melakukan itu pada Ibu?" tanya Rumi sangsi, dia tahu bagaimana sifat Fathur.
Dia tak akan pernah tega melawan keluarganya terlalu jauh, apalagi kepada ibunya. Surga yang selalu dia jadikan alasan kepada Rumi selama ini. Rumi yakin tak semudah itu dia merelakan surganya terlu-ka demi dia. Tiga tahun sudah lebih dari cukup dia mengenalnya. Namun, alasan dia tetap bertahan karena melihat usaha Fathur berubah. Berharap jika sifat suaminya akan lebih tegas dan tak kembali memilih diam dan tak berpihak padanya.
"Menghormati orang tua itu wajib, tapi membiarkan mereka mendza-limi istri sendiri itu dosa besar. Mas lebih menyesal karena baru berani bersikap sekarang." Fathur bangkit dari kursinya, berjalan memutar, dan memeluk Rumi dari belakang. Fathur menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rumi, merasakan kedamaian yang tak ternilai harganya.
"Dek, maafkan mas. Beri mas kesempatan untuk membuktikan kesungguhan mas dalam mengambil keputusan kali ini. Percayalah, mas akan melindungi kalian," bisik Fathur, Rumi mengangguk dan meneteskan air mata bahagia.
Rumi menyandarkan kepalanya ke lengan Fathur, memejamkan mata dengan perasaan lega yang membuncah. Di luar sana, rencana licik mungkin sedang disusun, namun di dalam dinding rumah dinas itu, benteng pertahanan Fathur telah berdiri kokoh. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Fathur merasa benar-benar menjadi seorang suami sejati.
"Mulai besok," lanjut Fathur dengan nada ceria untuk mencairkan suasana.
"Kita tabung uang yang biasanya habis untuk mereka untuk masa depan anak kita nanti. Mas ingin kita punya kehidupan yang jauh lebih baik dari ini." Rumi tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Dia tak tahu harus berbicara apa, terlalu bahagia mendengar ucapan suaminya. Rumah tangga yang dia impikan, rumah tangga yang tanpa ada campur tangan orang lain, termasuk keluarga.
Sesaat kemudian, Fathur bangkit dan mengambil sebuah kotak kecil dari dalam laci buffet yang biasanya terkunci rapat. Ia membawanya ke hadapan Rumi dan membukanya perlahan. Di dalamnya, terdapat sebuah buku tabungan baru lengkap dengan atmnya.
"Ini apa, Mas?" tanya Rumi bingung.
"Ini tabungan khusus atas namamu, Rum. Selama ini, Mas selalu menyerahkan hampir seluruh gaji ke Ibu sampai kita sendiri kesulitan. Mulai bulan ini, Mas sudah mengatur autodebet. Sebagian besar gaji Mas akan masuk ke sini untuk peganganmu," jelas Fathur dengan nada rendah namun mantap.
Rumi menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya.
"Tapi Mas... Ibu pasti akan mengamuk kalau tahu Mas memotong jatahnya."
Fathur tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan ketegasan yang belum pernah Rumi lihat sebelumnya.
"Biarkan saja. Mas sudah cukup dewasa untuk menentukan mana kewajiban dan mana sedekah. Kewajiban Mas adalah menafkahimu secara layak. Selama ini Mas lalai karena merasa bersalah pada keluarga, padahal mereka hanya memanfaatkan rasa bersalah itu."
Rumi memeluk suaminya dengan erat, air matanya jatuh. Kali ini bukan karena sedih, melainkan karena merasa akhirnya ia memiliki pelindung. Di pelukan Fathur, ia merasa aman dari badai yang sedang disiapkan oleh mertuanya di luar sana.
"Mas," bisik Rumi di dada Fathur.
"Rumi tidak butuh harta yang banyak. Rumi cuma butuh Mas yang seperti ini. Mas yang berani berdiri di depan Rumi."
"Mas akan selalu di sini, Rum. Selalu."
Suasana di toko roti tempat Rumi dan Asti bekerja awalnya sangat tenang. Harum roti yang baru keluar dari oven memenuhi ruangan. Rumi sedang menata beberapa croissant di dalam etalase kaca saat pintu toko berdenting nyaring, tanda pelanggan masuk.
Rumi mendongak, bersiap memberikan salam ramah, namun senyumnya langsung membeku. Di ambang pintu, berdiri Dona dengan penampilan yang sangat mencolok, didampingi oleh seorang wanita paruh baya dengan gaya bicara yang nyaring, Bu Siti, ibunya.
"Oh, jadi di sini tempatnya?" suara Bu Siti menggema, membuat beberapa pelanggan yang sedang duduk menoleh terganggu.
"Tempat istri seorang Wakil Manager mengemis recehan? Duh, memalukan sekali! Kamu menjatuhkan harga diri suami kamu!" ketusnya lagi.
Dona melipat tangan di dada, menatap Rumi dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Tapi memang kamu pantas sih berada di sini! Apalagi dengan penampilan lus-suh kamu! Kamu tak pantas bersanding dengan Mas Fathur! Harusnya kamu sadar diri dan mundur dari pada mempermalukan dirimu sendiri!." ucapan Dona, Rumi tahu arahnya kemana.
Sejujurnya dia ingin marah dan menam-par mereka berdua. Namun Rumi ingat saat ini dia masih bekerja dan tak mau membaut tempat usahanya terkena imbas.
Asti yang berdiri di samping Rumi mulai terpancing emosinya. Ia hendak maju, namun Rumi menahan lengan sahabatnya itu. Rumi menarik napas panjang, mencoba tetap profesional.
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/