NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Rasa Yang Disebut Cinta

Pagi harinya, Selena bangun dengan perasaan yang lebih baik. Kekesalannya sudah ia lampiaskan ke dalam tulisan.

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden kamar Selena, memberikan nuansa hangat yang asing di rumah baru yang sudah ia tinggali hampir sebulan.

Selena terbangun dengan perasaan yang campur aduk. Meski semalam ia bersikeras bahwa ini hanyalah transaksi, ada naluri kecil di dalam dirinya yang ingin memastikan bahwa "rekan bisnisnya" memulai hari dengan baik.

​Selena turun ke dapur dengan piyama sutra berwarna champagne. Ia menemukan dapur yang masih sangat bersih, hampir seperti di showroom furnitur. Dengan cekatan, ia mulai menyeduh kopi manual—sesuatu yang selalu ia lakukan untuk menjernihkan pikiran sebelum menulis. Aroma kuat biji kopi Arabika mulai memenuhi ruangan.

​Tak lama kemudian, langkah kaki yang teratur terdengar. Biru muncul dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, tampak siap untuk berangkat kerja meski jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi.

​"Selamat pagi," sapa Selena sambil tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang sempat sangat beku sejak kedatangan sang kakek beserta tuntunannya. "Mau kopi? Aku baru saja membuatnya."

​Biru berhenti di ambang pintu dapur, tampak sedikit terkejut melihat kehadiran istrinya yang selalu saja tampak cantik meskipun dengan riasan alami di wilayah pribadinya.

"Pagi. Tidak perlu, Selena. Aku biasanya minum kopi di kantor." Biru sengaja menolak karena ia sedang berusaha menghindari kopi untuk kesehatan jantungnya.

​"Kantor masih jauh, dan jalanan Jakarta tidak pernah ramah. Duduklah sebentar, aku juga sedang membuat roti panggang dengan avocado spread," ujar Selena, tetap menuangkan kopi ke dalam cangkir keramik hitam tanpa menunggu persetujuan Biru.

​Biru menghela napas, namun ia melangkah mendekat dan duduk di kursi bar. "Aku sudah bilang, kau tidak perlu melakukan tugas domestik seperti ini. Kita punya asisten rumah tangga yang akan datang jam delapan."

​"Aku tahu. Tapi ini bukan 'tugas', Biru. Anggap saja ini tanda terima kasih karena kau sudah memberiku kamar yang sangat nyaman," Selena meletakkan cangkir kopi dan sepiring roti panggang di depan Biru. "Coba dulu. Ini resep rahasia penulis novel agar tidak kena writer's block."

​Biru menatap piring itu dengan ragu. Namun, aroma kopi yang harum dan penampilan roti yang menggugah selera akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Ia menyesap kopi itu perlahan. Matanya sedikit melebar.

​"Enak?" tanya Selena, memperhatikan dengan saksama.

​"Lumayan," jawab Biru singkat, meski ia kembali menyesap kopi tersebut untuk kedua kalinya—kali ini dengan tegukan yang lebih mantap.

​Selena tersenyum puas. Ia mengambil tempat di samping Biru, menyesap kopinya sendiri.

"Kau terlihat pucat pagi ini. Apa kau tidak tidur nyenyak?"

​Biru tertegun sejenak. Ia teringat bagaimana semalam ia harus berjuang melawan rasa sesak di dadanya hingga menjelang subuh.

"Hanya banyak pekerjaan yang harus kupikirkan."

​"Jangan terlalu memaksakan diri. Aku setuju untuk tidak memperdulikan tuntutan kakek. Perjanjian kita kan berlaku satu tahun. Aku tidak mau pasanganku tumbang di tahun pertama karena kurang sarapan," canda Selena.

​Biru menoleh, menatap Selena yang tampak sangat segar dan bercahaya di bawah sinar matahari pagi. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dada Biru—bukan rasa sakit akibat penyakitnya, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi rencana "tanpa perasaan" mereka.

​"Kau terlalu banyak bicara, Selena," ucap Biru datar, namun ia tidak beranjak dari kursinya hingga roti di piringnya habis tak tersisa.

​Selena tertawa kecil, suara yang entah mengapa membuat rumah besar itu terasa sedikit lebih hidup. "Itu artinya kau menyukainya. Besok aku akan coba buatkan sesuatu yang lain."

​"Tidak perlu repot-repot," tolak Biru lagi sambil berdiri. Namun, sebelum ia pergi, ia sempat menoleh kembali. "Tapi... kopi tadi memang lebih enak daripada yang ada di kantorku."

​Setelah Biru berangkat, Selena berdiri di dapur dengan senyum yang masih tertinggal. Ia tidak menyadari bahwa perhatian-perhatian kecil yang ia anggap "formalitas" itu mulai mengikis dinding es yang dibangun Biru, sementara di balik kemudi mobilnya, Biru harus berkali-kali mengatur napas agar jantungnya tidak berdegup terlalu kencang—karena kali ini, penyebabnya bukan lagi obat-obatan, melainkan senyuman wanita di rumahnya.

Suasana hati Biru pagi ini memang terasa berbeda. Di dalam kursi belakang mobil sedan mewahnya, ia tidak langsung membuka dokumen laporan keuangan atau memeriksa pergerakan bursa saham seperti ritual biasanya. Sebaliknya, ia menyandarkan punggungnya, memejamkan mata, dan membiarkan sisa aroma kopi Arabika racikan Selena masih menempel di indra penciumannya.

Ada kehangatan yang tertinggal di perutnya—sesuatu yang jauh lebih baik daripada rasa dingin yang biasanya ia rasakan akibat konsumsi obat-obatan berdosis tinggi.

"Tuan, jadwal Anda hari ini adalah rapat koordinasi dengan divisi pengembangan, lalu makan siang dengan investor dari Singapura," suara Cakra memecah keheningan dari kursi kemudi. Asisten setia itu melirik melalui spion tengah, sedikit terkejut melihat sudut bibir tuannya yang tidak sekaku biasanya.

"Anda terlihat... lebih segar hari ini."

Biru membuka matanya, kembali memasang wajah datar meski binar matanya tidak bisa berbohong. "Hanya karena sarapan yang layak, Cakra. Tidak lebih."

"Ah, Nyonya Selena sepertinya punya bakat memasak yang bagus," sahut Cakra dengan senyum tipis yang penuh arti.

"Jangan mulai, Cakra," potong Biru cepat, meski nadanya tidak setajam biasanya.

"Lupakan soal kakek dan tuntutannya semalam. Aku tidak ingin membahas soal ahli waris atau cicit. Fokus kita tetap pada ekspansi ke pasar Asia Tenggara."

Biru berusaha keras menghapus bayangan wajah kakeknya yang menuntut. Baginya, kebahagiaan kecil pagi ini adalah kemewahan yang langka. Ia ingin menikmati perasaan "normal" ini sedikit lebih lama, tanpa bayang-bayang kematian yang selalu membuntutinya di setiap detak jantung.

Sementara itu, di kantor pusat Hermawan Group, Biru melangkah dengan aura yang lebih ringan namun tetap berwibawa.

Karyawan yang berpapasan dengannya merasa ada yang aneh; biasanya Biru hanya akan memberikan tatapan dingin yang membuat orang ingin menghilang, tapi kali ini, ia bahkan sempat mengangguk tipis saat menyapa kepala divisi keamanan di lobi.

"Pak Biru hari ini sedang jatuh cinta atau bagaimana?" bisik seorang staf administrasi saat Biru sudah masuk ke lift.

Di dalam lift—tempat yang sama di mana ia pertama kali bertemu Selena—Biru berdiri sendirian sejenak. Ia menyentuh dadanya. Ritme jantungnya stabil. Tidak ada nyeri, tidak ada sesak. Ia merasa seolah-olah kopi dan roti alpukat tadi adalah ramuan ajaib yang memberinya kekuatan tambahan.

Namun, suasana hati yang baik itu sedikit terusik saat ia masuk ke ruang kerjanya dan menemukan sebuah bingkisan kecil di atas mejanya. Sebuah kotak beludru merah dengan kartu ucapan bertuliskan: “Untuk calon ayah hebat. Dari Kakek.”

Rahang Biru mengeras seketika. Ia melempar kartu itu ke tempat sampah.

"Cakra!" panggilnya keras.

Cakra segera masuk. "Ya, Tuan?"

"Ambil kotak ini. Simpan di gudang atau buang, aku tidak peduli," perintah Biru dingin.

"Dan pastikan jangan ada orang rumah yang tahu soal kiriman ini, terutama Selena."

"Tapi Tuan, Nyonya Selena mungkin akan bertanya-tanya jika kakek mengirimkan sesuatu ke rumah nantinya," ujar Cakra hati-hati.

"Maka pastikan dia tidak tahu," tegas Biru. Ia kembali duduk, mencoba memanggil kembali ketenangan yang ia rasakan pagi tadi di dapur.

Biru menarik napas panjang. Ia tidak boleh goyah. Suasana hatinya yang baik tidak boleh hancur karena obsesi kakeknya. Ia harus tetap menjaga jarak dengan Selena. Tapi entah kenapa, saat ia mulai menatap layar komputernya, yang muncul di benaknya bukanlah angka-angka, melainkan bayangan Selena yang tertawa kecil sambil menuangkan kopi untuknya.

"Sial," umpat Biru pelan, mencoba fokus. "Wanita itu benar-benar gangguan yang menyenangkan."

Tanpa disadari Biru, di rumah, Selena sedang merencanakan sesuatu yang lebih "berbahaya" untuk sarapan besok pagi, sama sekali tidak tahu bahwa suaminya sedang mati-matian menjaga benteng hatinya agar tidak runtuh oleh rasa yang disebut cinta.

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!