NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Arga menyandarkan punggungnya pada pilar beton yang terasa dingin di koridor sayap timur SMA Bina Tunas Bangsa. Suasana lorong mulai meremang seiring matahari yang merayap turun di ufuk barat. Di hadapannya, Tania baru saja melangkah pergi dengan bahu yang sedikit bergetar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara deretan loker kayu yang berjajar bisu.

Arga menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, bukan karena dia menyesal, melainkan karena dia baru saja menyadari betapa kejamnya sebuah kejujuran. Dia telah menghancurkan harapan seorang gadis baik hanya demi sebuah janji yang bahkan pemiliknya tidak lagi ingat.

Di balik partisi ruang klub fotografi yang hanya berjarak beberapa meter dari posisi Arga, Rara menahan napasnya kuat-kuat. Gadis itu mematung dengan buku catatan di pelukannya. Niat awalnya hanya ingin mengambil lensa kamera yang tertinggal, namun dia justru terjebak dalam momen yang sangat pribadi itu.

Rara mengerjapkan mata berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang. Kalimat Arga tadi terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak. Delapan tahun. Arga baru saja mengatakan dengan suara rendah yang bergetar bahwa dia telah menyukai seseorang selama delapan tahun.

Arga menyugar rambutnya dengan kasar ke belakang. Dia bergumam pelan pada kesunyian yang ada di sana.

"Maaf, Tania. Aku benar-benar tidak bisa," bisik Arga lirih.

Suara langkah kaki Arga perlahan menjauh, bergema di sepanjang koridor yang sepi sebelum akhirnya menghilang ditelan jarak. Setelah memastikan suasana benar-benar aman, Rara keluar dari persembunyiannya dengan raut wajah yang dipenuhi tanda tanya besar.

"Delapan tahun?" Rara bergumam pada dirinya sendiri sambil menatap ujung koridor tempat Arga menghilang.

Dia mencoba memutar kembali memori jangka pendeknya. Sejak kelas sepuluh, Arga memang selalu terlihat seperti bayangan. Cowok itu tidak banyak bicara, tidak ikut tawuran, dan tidak pernah terlihat mengejar siswi mana pun di sekolah. Namun, Rara yang selama ini memiliki insting tajam selalu merasa ada sesuatu yang aneh dengan cara Arga menatap Nala.

Rara melangkah perlahan menuju jendela koridor, menatap lapangan basket yang mulai sepi di bawah sana. Pikirannya bekerja sangat cepat, menyusun kepingan teka-teki yang selama ini terserak tanpa bentuk di depannya. Arga dan Nala adalah teman masa kecil. Fakta itu sudah diketahui banyak orang di angkatan mereka. Namun, Nala selalu bersikap seolah Arga hanyalah bagian dari masa lalu yang berdebu.

"Kalau delapan tahun yang lalu, berarti itu saat mereka masih di bangku sekolah dasar," pikir Rara dengan dahi yang berkerut.

Dia teringat cerita Nala beberapa bulan lalu tentang seorang teman masa kecil yang dulu sering mengajaknya bermain di taman kota lama sebelum Nala pindah ke luar kota. Nala menyebutnya dengan panggilan yang terdengar seperti nama anak kecil, namun Rara tidak pernah benar-benar menaruh perhatian pada detail kecil itu.

Sekarang, segalanya mulai masuk akal bagi Rara. Tatapan Arga yang selalu mengikuti pergerakan Nala dari sudut kelas. Sikap Arga yang mendadak kaku dan dingin setiap kali Satria mendekati Nala. Dan yang paling krusial, penolakan tegas Arga terhadap Tania yang jelas-jelas jauh lebih perhatian daripada Nala saat ini.

"Jadi, selama ini benar-benar kamu, Nal?" tanya Rara pada udara kosong di depannya.

Rara menyandarkan sikunya di bingkai jendela yang dingin. Dia merasa ngeri sekaligus takjub. Bagaimana bisa seorang remaja laki-laki di zaman modern seperti ini sanggup menyimpan perasaan yang begitu besar dalam diam selama hampir satu dekade? Di saat teman-temannya yang lain bergonta-ganti pacar seolah mengganti baju, Arga justru memaku hatinya pada satu titik yang bahkan tidak menoleh padanya sama sekali.

"Ini benar-benar gila," cetus Rara pelan.

Dia membayangkan Nala yang saat ini mungkin sedang tertawa bersama Satria di gerbang sekolah atau sedang fokus mengerjakan soal fisika di rumahnya. Nala adalah tipe gadis yang sangat realistis. Dia tidak percaya pada dongeng atau janji-janji masa kecil yang manis. Bagi Nala, masa lalu adalah sejarah yang sudah selesai, bukan peta untuk masa depan.

Rara merogoh ponsel di saku seragamnya. Dia ingin segera menghubungi Nala sekarang juga, namun jarinya ragu-ragu di atas layar yang menyala. Jika dia memberi tahu Nala tentang apa yang baru saja dia dengar, apakah itu akan mengubah keadaan menjadi lebih baik? Ataukah itu justru akan membuat hubungan Arga dan Nala semakin canggung dari sebelumnya?

"Kamu terlalu setia, Ga. Dan itu bakal sangat menyakitkan buat kamu sendiri," gumam Rara dengan nada prihatin yang tulus.

Dia teringat bagaimana Arga menolak Tania dengan cara yang sangat sopan namun tidak menyisakan sedikit pun celah untuk harapan baru. Arga seolah sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat dan membuang kuncinya ke dasar laut yang paling dalam.

Rara mulai berjalan menyusuri koridor menuju pintu keluar sekolah dengan langkah gontai. Setiap langkahnya terasa lebih berat karena sekarang dia membawa rahasia besar yang bukan miliknya. Dia melihat Satria sedang memasukkan bola basket ke dalam ring di lapangan utama dengan penuh gaya. Satria terlihat begitu bersinar, begitu aktif, dan begitu cocok dengan kriteria lelaki idaman yang pernah diucapkan Nala.

Namun, di sisi lain, ada Arga. Sosok yang selalu berada di pinggiran, yang menyimpan memori delapan tahun dalam sunyi yang mencekam. Rara mendesah pelan. Teka-teki itu sudah terpecahkan sepenuhnya di kepalanya, namun dia tahu bahwa masalah yang sebenarnya baru saja dimulai bagi mereka bertiga.

"Siapa yang sangka, di balik wajah datarnya itu, Arga adalah cowok paling romantis sekaligus paling tragis di sekolah ini," batin Rara sambil melangkah keluar dari gerbang sekolah yang mulai ditutup oleh petugas keamanan.

Matahari benar-benar telah tenggelam, menyisakan warna jingga keunguan yang tampak seperti luka di langit sore itu. Rara tahu, setelah hari ini, dia tidak akan pernah bisa melihat Arga Baskara dengan cara yang sama lagi. Ada sebuah beban besar yang kini ikut ia rasakan, sebuah rahasia tentang kesetiaan yang hampir mustahil dilakukan oleh remaja seusia mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!