Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gunawan Wiguna
Mata Gunawan membelalak, dadanya naik turun menahan amarah yang tak tertahankan melihat betapa mudahnya Langit mengklaim gadis itu.
"LEPASKAN DIA! Apa kamu tidak tahu dia sudah kubeli mahal-mahal dari Neni?!" teriak Gunawan tak terima, tangannya terulur seolah ingin merebut paksa.
Langit justru tersenyum miring, tangannya malah semakin erat melingkar di pinggang ramping Gadis, menekan tubuh itu agar semakin menempel padanya. Ia meniup asap rokoknya perlahan tepat ke arah wajah Gunawan.
"Mahal?" tanya Langit pelan namun terdengar sangat merendahkan. "Sejak kapan tempat sampah sepertimu punya uang sebanyak itu untuk membeli sesuatu yang bernilai?"
"Jangan cari masalah Langit! Aku serius!" bentak Gunawan.
"Dan aku juga tidak main-main," potong Langit dingin, tatapannya berubah tajam dan membunuh. "Karena mulai detik ini, dia milikku. Dan tidak ada siapa-siapa, termasuk kau Gunawan, yang berani menyentuhnya."
"Tapi..." Gunawan masih mencoba membantah.
BRAK!
Tiba-tiba Langit menghentakkan kakinya, meja kaca di depannya berguncang hebat.
"Cukup alasanmu! Atau kau ingin kubuat tempat ini menjadi kuburan massal untukmu dan anak buahmu?!" ancam Langit dengan aura yang begitu mengerikan, membuat suhu ruangan seakan turun drastis.
Gunawan terhenyak, napasnya tertahan. Ia tahu, Langit bukan orang yang suka bicara banyak, tapi apa yang dikatakan pria itu selalu menjadi kenyataan. Meski hatinya mendidih, ia terpaksa menelan ludah sendiri, sadar bahwa kali ini ia benar-benar kalah telak.
Dengan geram, Gunawan memukul dinding sampingnya lalu berbalik badan pergi membanting pintu dengan keras.
Brakk!
Suasana kembali hening. Hanya tersisa suara detak jam dinding dan napas Gadis yang masih memburu di pangkuan Langit. Gadis menunduk, wajahnya memerah, jantungnya berdegup kencang bukan main karena rasa malu dan takut yang bercampur menjadi satu.
Langit membuang puntung rokoknya, lalu perlahan mengangkat dagu Gadis dengan jarinya, memaksa gadis itu menatap manik mata hitamnya yang dalam.
"Tenang... sekarang kau aman," bisik Langit pelan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dibandingkan saat ia berhadapan dengan Gunawan tadi.
****
Gunawan Wiguna.
Ia adalah anak sulung laki-laki dari keluarga besar Wiguna, dan juga merupakan kakak kandung dari Anin Wiguna. Di mata dunia, ia adalah pewaris tahta yang sukses, namun di balik itu, Gunawan adalah tipe pria yang haus akan kesenangan duniawi.
Meski sudah memiliki istri sah bernama Nita, nafsunya tak pernah terpuaskan. Baginya, bermain cinta dengan wanita lain hanyalah hiburan, sebuah kebutuhan biologis yang tak bisa ia tinggalkan.
Nita tahu betul sifat suaminya itu. Berkali-kali ia mencoba mengadu dan meminta perlindungan pada ayah mertuanya, Wiguna Adiyaksa, sang kepala keluarga yang sangat dihormati. Namun, jawaban yang selalu ia dapatkan hanyalah kalimat menyakitkan:
"Sabarlah, Nak. Itu hanya cara Gunawan bersenang-senang. Dia tidak pernah serius dengan mereka. Hanya kamu, Nita, yang menjadi satu-satunya wanita yang ia anggap serius dan istri sahnya."
Kata-kata itu bagaikan garam yang ditaburkan di luka hati Nita. Bagaimana bisa ia tidak sakit? Hampir setiap malam, suaminya pulang membawa bukan hanya satu, tapi dua bahkan tiga wanita sekaligus ke dalam rumah mereka sendiri.
Mereka bersenang-senang di kamar tamu, tepat di sebelah kamar tidur utama tempat ia tidur. Suara-suara erotis dan desahan itu terdengar jelas hingga ke telinganya, menyiksa batinnya setiap malam.
Ironisnya, Gunawan bukanlah suami yang kasar atau pelit. Ia sangat bertanggung jawab, sayang pada anak-anaknya, dan tak pernah menolak satu pun permintaan Nita. Apapun yang Nita dan anak-anak inginkan, akan ia belikan dengan mudah. Namun sebagai seorang wanita, Nita hanya ingin satu hal: menjadi satu-satunya pemilik tubuh dan hati suaminya. Ia tak mau berbagi, walau sedikit pun.
Ada desas-desus wanita yang pernah di bawa Gunawan kerumah keesokan hari tidak kembali dan beberapa bulan kemudian ditemukan sudah tidak bernyawa.
Kabar burung itu pun sampai juga ke telinga Gunawan. Desas-desus bahwa wanita-wanita yang pernah ia bawa pulang seringkali hilang tanpa jejak, dan berbulan-bulan kemudian tubuh tak bernyawa mereka ditemukan di tempat-tempat terpencil.
Namun, bagi Gunawan, hal itu sama sekali tidak penting. Wajahnya tetap datar, tak ada rasa iba ataupun takut sedikitpun.
"Biar saja," pikirnya santai. "Aku sudah bayar mahal, kan? Selama mereka sudah keluar dari pintu rumahku, nasib mereka bukan lagi urusanku. Urusanku selesai saat uang berpindah tangan dan kepuasan didapat."
Baginya, wanita-wanita itu hanyalah barang hiburan sesaat. Sekali pakai, lalu buang. Jika mereka mati atau hilang, itu adalah risiko mereka sendiri, bukan tanggung jawabnya. Hati dan nurani pria itu seolah sudah tertutup rapat oleh dinginnya uang dan nafsu.
Ada yang bisa tebak siapa pelakunya? Yups... Nita sendiri.
Siapa sangka, dalang di balik semua kematian misterius itu tak lain dan tak bukan adalah Nita sendiri.
Ia memanfaatkan harta berlimpah yang diberikan suaminya untuk membayar jasa pembunuh bayaran, membalas rasa sakit hati dan cemburu yang membara di dadanya setiap kali Gunawan membawa wanita lain pulang. Baginya, membunuh adalah satu-satunya cara untuk membersihkan noda yang membandel pada suaminya, dan memastikan tidak ada wanita lain yang berani mengganggunya lagi.
Namun, ada fakta yang lebih mengejutkan. Orang kepercayaan yang menjalankan perintah pembunuhan itu bukan sembarangan orang. Dia adalah Bagas, kekasih masa lalu Nita.
Bagas adalah pria tampan blasteran Indonesia-Belanda, cinta pertama Nita saat mereka masih kuliah. Hubungan mereka harus kandas karena Nita dipaksa menikah dengan Gunawan demi alasan bisnis keluarga.
Saat Nita memilih menikah dengan orang lain, Bagas memang sempat terluka, tapi rasa kecewanya tidak terlalu dalam. Ada alasan khusus yang membuatnya merasa sedikit menang.
"Sudahlah, biarlah dia menikah dengan orang kaya itu," batin Bagas sering menghibur diri. "Lagipula, aku yang pertama kali memiliki tubuhnya. Kami sudah lebih dulu bermain ranjang sebelum dia menikah. Jadi, seberapapun kaya Gunawan, pada akhirnya dia hanya akan mendapatkan bekas dariku."
Pemikiran itulah yang membuat Bagas rela tetap berada di sisi Nita, menjadi tangan kanan dan kekasih gelapnya, bahkan rela menjadi algojo bagi wanita-wanita malang yang berani mendekati suaminya. Selama mereka bisa bersama, Bagas tak peduli berapa banyak nyawa yang harus melayang demi memuaskan dendam sang kekasih.
Pertemuan mereka terjadi secara tak terduga saat Nita ikut mendampingi Gunawan menghadiri sebuah acara arisan eksklusif para kolektor batu giok. Di sanalah mereka dipertemukan kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
Awalnya, Nita berusaha bersikap waras dan menjaga jarak. Ia sudah bersuami, memiliki tiga orang anak yang lucu, dan hidup bergelimang harta. Baginya, perselingkuhan adalah hal yang tak perlu ada dalam kamus hidupnya. Ia sangat menjaga nama baik dan keutuhan rumah tangganya, berusaha menjadi istri yang sempurna di mata orang lain.
Namun, sayangnya kesetiaan itu hanya berjalan searah. Sementara Nita bagaikan punguk merindukan bulan, suaminya justru terus saja bermain api.
Hingga akhirnya, Bagas datang kembali. Pria itu menawarkan diri bukan hanya sebagai teman mengobrol, tapi juga sebagai pelipur lara yang siap melakukan apa saja demi melihat senyum kekasihnya.
Dari sekadar curhat, perlahan Bagas melontarkan ide gila yang mengerikan.
"Biarkan aku yang urus mereka, Nit. Mereka yang berani menyakiti hatimu, mereka yang berani masuk ke rumahmu... harus dihabisi."
Awalnya Nita syok dan menolak keras. Wajahnya pucat pasi membayangkan hal sekejam itu.
"Jangan gila! Nanti kamu ketahuan! Kamu bisa mati!" teriaknya dalam hati.
Namun Bagas justru tersenyum santai dan meyakinkannya dengan logika yang dingin.
"Gampang kok, Sayang. Asal kamu mau keluarkan uangnya. Dengan uang, semua jalan bisa dibeli, semua mata bisa dibutakan."
Nita akhirnya luluh. Dan benar saja, tebakan Bagas tepat sasaran. Dengan modal uang berlimpah dari dompet Gunawan, mereka menjalankan aksi demi aksi.
Satu per satu wanita yang dibawa pulang suaminya lenyap begitu saja. Dan yang membuat Nita semakin berani, setiap kali Bagas turun tangan, pria itu selalu kembali dengan selamat tanpa ada satu pun bukti yang tertinggal. Rasa takut perlahan berganti menjadi rasa puas dan dendam yang terobati.
"Kamu puas dengan hasil kerjaku, Sayang?" tanya Bagas sambil mengelus punggung Nita dengan lembut, tatapannya penuh hasrat.
Nita tersenyum puas, matanya berbinar penuh kemenangan. "Ya, aku puas. Sangat puas. Kamu memang yang terbaik, Bagas..." bisiknya lembut, lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir pria itu dengan penuh hasrat.
"Kalau begitu... berikan bagianku malam ini," ucap Bagas parau, tangannya mulai merambah bebas ke seluruh tubuh istrinya orang itu.
Malam itu pun menjadi milik mereka berdua. Tanpa rasa takut, tanpa rasa bersalah. Mereka bercinta dengan bebas di kamar yang sama, di ranjang yang sama, seolah mereka adalah pasangan suami istri yang sah.
Keamanan bukan masalah. Seluruh pelayan dan staf di rumah megah itu tunduk patuh pada Nita. Bahkan para pengawal sekalipun, mereka lebih segan dan menuruti perintah Nita daripada tuannya sendiri, Gunawan. Jadi rahasia ini aman terkubur rapat.
Lalu bagaimana dengan Gunawan?
Ah, pria itu tak akan pernah pulang ke rumah jika bukan karena dua alasan membawa wanita baru untuk dimainkan, atau ia datang hanya untuk menuntut jatah dari Nita saat nafsunya memuncak.
Biarlah semua berjalan seperti ini, pikir Nita dalam hati sambil memeluk erat tubuh Bagas.
Dia dapat kesenangannya, aku dapat kebahagiaanku bersama orang yang benar-benar aku cintai. Dan siapa saja yang berani mengganggu... akan berakhir sama dengan yang lain.
Tau nggak kalian? Ini novel tergila yang pernah aku buat, semua alurnya berjalan sendiri.
Aku memang menimbang setiap bab, tapi anehnya plotnya, alurnya seakan sudah tertata sendiri di dalam otak dan jemariku hanya melampiaskan di tulisan.
Semoga Novel ini aman sampai di kalian para pembaca terzeng. ❤️