NovelToon NovelToon
Suami Penjudi, Istri Terbeli

Suami Penjudi, Istri Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.



Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.

Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".

Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara Meja Tamu

Pagi di Desa Sukamulya biasanya membawa kesegaran yang membasuh jiwa. Namun bagi Larasati, sinar matahari yang menerobos celah ventilasi rumahnya. Terasa seperti lampu sorot yang mengintimidasi.

Harum kopi tubruk dan aroma penganan pasar yang disiapkan ibunya sejak subuh memenuhi ruangan. Namun perut Laras terasa mual. Ia duduk bersimpuh di samping Bu Rahayu. Jemarinya tak henti meremas ujung kebaya batiknya.

Hari ini adalah hari yang ditentukan. Hari di mana nasibnya akan dikunci dalam. Sebuah kesepakatan yang disebut lamaran. Sebuah penentu nasib baik atau malah buruk di masa yang teramat akan datang.

Suara deru mobil sewaan yang berhenti di depan pagar kayu rumah mereka. Membuat jantung Laras berdegup kencang. Dari jendela, ia melihat Bagaskara turun dengan kemeja batik sutra yang tampak sangat mewah untuk ukuran pemuda yang mengaku sederhana.

Tak lama kemudian, dua orang paruh baya turun menyusulnya. Seorang pria dengan peci hitam dan kacamata berbingkai emas. Serta seorang wanita dengan sanggul rapi dan kebaya brokat yang anggun.

Mereka adalah orang tua Bagas. Setidaknya, itulah yang dipercayai oleh Pak Tarno dan Bu Rahayu. Setidaknya itulah kelihatan dari keakraban dari luar jendela Laras.

Laras tidak tahu bahwa kedua orang itu adalah aktor bayaran yang disewa Bagas dari pinggiran kota Jakarta. Uang untuk menyewa mereka, menyewa mobil, hingga membeli seserahan yang tampak mentereng itu.

Berasal dari lubang utang baru yang digali Bagas pada seorang bos rentenir lain. Saingan berat Pak Permadi. Bagas sedang berjudi dengan nasib. Ia mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan Laras dan tanah Sukamulya sebagai modal pelariannya.

Manisnya Racun di Ruang Tamu

"Silakan masuk, Bapak... Ibu... Nak Bagas," sambut Pak Tarno dengan suara yang penuh wibawa namun terselip nada haru. Ia mempersilakan tamu-tamunya duduk di kursi kayu jati ukiran yang biasanya hanya dikeluarkan saat lebaran.

Pria tua sewaan itu, yang memperkenalkan diri sebagai Pak Broto, berdeham pelan dengan gaya yang sangat meyakinkan, "Terima kasih, Pak Tarno kedatangan kami kemari, selain untuk bersilaturahmi, tentu saja untuk menepati janji putra tunggal kami, Bagaskara."

Wanita di sampingnya Ibu Broto, tersenyum manis ke arah Larasati, "Cantik sekali Nak Laras ini. Pantas saja Bagas tidak henti-hentinya bercerita tentang kebaikan hati dan kecantikan bunga dari Sukamulya ini. Kami merasa sangat terhormat jika Nak Laras bersedia menjadi bagian dari keluarga kami di kota nanti."

Bagas duduk di antara kedua orang tua palsunya dengan wajah yang tertata rapi. Tidak ada jejak pria mabuk yang semalam bergumul dengan Maya. Ia tampak seperti pemuda dambaan. Santun, menunduk saat bicara dan sesekali mencuri pandang ke arah Laras dengan tatapan yang seolah penuh cinta.

"Pak Tarno, Bu Rahayu," Bagas mulai bicara, suaranya dibuat serak seolah sedang menahan emosi haru.

"Kejadian di sungai kemarin menyadarkan saya. Bahwa saya tidak bisa membiarkan Laras tanpa perlindungan lebih lama lagi. Saya ingin meminang Laras, membawanya ke kota dan menjadikannya ratu di rumah saya. Saya berjanji akan menjaga martabatnya seperti saya menjaga nyawa saya sendiri."

Perang di Dalam Dada

Di sebelah ibunya, Larasati hanya bisa tertunduk. Ia sesekali tersenyum tipis saat orang-orang itu menatapnya. Sebuah senyum mekanis yang tidak mencapai matanya. Hatinya sedang menjadi medan perang yang hebat.

Apakah benar pria ini yang menolongku? batin Laras menjerit.

Ingatannya tentang kejadian di sungai kembali berputar seperti film rusak. Ia ingat rasa sakit, ia ingat cengkeraman tangan preman Permadi dan ia ingat suara tak dari katapel.

Bayangan pemuda tampan dengan ransel besar dan sorot mata teduh itu kembali muncul. Pemuda itu tidak memakai batik mahal. Pemuda itu tidak membawa orang tua untuk pamer kekayaan. Ia hanya datang, menyelamatkan, lalu pergi begitu saja tanpa meminta pengakuan.

Namun, setiap kali Laras ingin membuka mulut untuk bertanya, ia melihat wajah ayahnya. Pak Tarno tampak begitu antusias, matanya berbinar-binar penuh harapan. Bagi Pak Tarno, Bagas adalah jawaban dari segala kekhawatirannya akan masa depan Laras. Seorang menantu yang mapan dan berani.

"Bagaimana, Laras?" tanya Pak Tarno lembut, memecah lamunan putrinya.

"Nak Bagas dan orang tuanya sudah menyampaikan niat baiknya. Bapak dan Ibu sudah memberikan restu, tapi keputusan akhir ada di tanganmu, Nduk."

Laras mendongak. Ia melihat Bagas sedang menatapnya dengan senyum yang terlihat sangat tulus. Lalu ia melihat kedua orang tua palsu itu yang mengangguk-angguk ramah.

Tekanan sosial dan beban utang budi palsu yang ditanamkan Bagas terasa begitu berat. Ia merasa jika ia menolak sekarang, ia akan menghancurkan kebahagiaan ayahnya dan mempermalukan keluarga besarnya di depan tamu terhormat dari kota ini.

"Laras... menurut apa kata Bapak dan Ibu," jawab Larasati akhirnya. Suaranya pelan, namun bergetar hebat.

"Alhamdulillah!" seru Bu Rahayu sembari memeluk pundak Laras. Air mata bahagia menetes di pipi sang ibu.

Jerat yang Semakin Kencang

Bagas mengembuskan napas lega. Jeratannya telah terkunci. Kedua orang tua palsunya kemudian mulai membicarakan detail teknis pernikahan. Mereka meminta agar pernikahan dilaksanakan secepat mungkin. Minggu depan dengan alasan bahwa. Bagas harus segera kembali ke kota untuk mengurus gurita bisnisnya yang tidak bisa ditinggal lama.

"Kami ingin membawa Laras langsung ke Jakarta setelah akad nikah," ujar Pak Broto palsu sembari menyesap kopinya.

"Bagas sudah menyiapkan rumah yang nyaman di sana. Nak Laras tidak perlu bekerja keras lagi, cukup mengurus rumah dan mendampingi suaminya."

Pak Tarno mengangguk setuju. Ia sama sekali tidak curiga mengapa keluarga sekaya itu begitu terburu-buru. Baginya, itu adalah bukti betapa seriusnya mereka.

Sepanjang sisa percakapan, Laras kembali terdiam. Ia merasa seperti penonton dalam drama hidupnya sendiri. Ia melihat ayahnya mulai membicarakan persiapan pesta.

Melihat ibunya yang sudah merencanakan masakan apa yang akan disajikan dan melihat Bagas yang diam-diam menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis. Senyum yang hanya bisa ditangkap oleh mata yang penuh curiga.

Semoga kita berjumpa lagi, nona manis...

Kalimat dari pemuda misterius itu kembali bergema di telinga Laras. Ia memejamkan mata sejenak. Berdoa dalam hati agar keputusannya ini tidak menjadi awal dari penderitaan panjang.

Ia tidak tahu bahwa saat itu. Bagas sedang menghitung berapa banyak uang yang bisa ia dapatkan dari menjual aset tanah Pak Tarno untuk membayar bunga utangnya yang mulai mencekik leher.

Lamaran itu pun ditutup dengan penyerahan seserahan yang mewah. Emas murni, kain sutra, dan tumpukan uang tunai yang semuanya adalah uang pinjaman dari rentenir.

Diletakkan di atas meja tamu. Pak Tarno dan Bu Rahayu merasa telah mendapatkan menantu malaikat. Tanpa menyadari bahwa mereka baru saja mengundang iblis paling licik untuk masuk dan menghancurkan seluruh garis keturunan mereka.

Di sudut ruangan, Larasati menatap seserahan itu dengan pandangan kosong. Ia merasa bukan sedang dilamar. Melainkan sedang dibeli dan pembelinya adalah seorang pria yang identitas aslinya tersembunyi rapat di balik topeng pahlawan palsu.

Sementara itu Pak Tarno bercakap-cakap dengan Bu Rahayu sambil berbisik pelan. Bahwa ia akan tetap pergi ke rumah orang pintar di desa tetangga. Hanya untuk memuaskan rasa penasaran akan adat istiadat leluhur yang janggal bila ditinggalkan. Hanya untuk sekedar bertanya tanggal lahir Laras dan Bagas bila ditambahkan. Apakah akan menghasilkan nasib baik? Untuk mereka kedepannya.

1
Surti
ini baru seru👍
Bagus Effendik: terima kasih ya kak
total 1 replies
Surti
yang ini lebih menegangkan
Bagus Effendik: wkwkwkkwk seru dong kak🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
asyik sih jadi betah baca💪👍
Bagus Effendik: hehe harus dong🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
ngeri juga bab yang ini👍🤣
Bagus Effendik: hehe 🤭
total 1 replies
Anik Makfuroh
dasar permuda tua-tua mupeng🙏 wkwkkwk👍 mantap
Bagus Effendik: hehe ia tuh Permadi
total 1 replies
Anik Makfuroh
mantap nih penuh ketegangan dan air mata
Anik Makfuroh
siap baru lagi kayaknya seru nih penuh ketegangan👍
Bagus Effendik: benar kak👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
sangat suka 👍👍👍
Bagus Effendik: terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
wow 👍 menegangkan😄🤭
Bagus Effendik: hehe awas baper
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
mantap nih baru
Bagus Effendik: asyiap🤭
total 1 replies
Larasz Ati
walah thor mantap bacaan khusus sebelum bobok ini🤭
Bagus Effendik: hehehe jangan baper tapi kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
menang banyak dong si bagas nih
Bagus Effendik: beneran menang banyak
total 1 replies
Larasz Ati
up terus thor👍👍👍
Bagus Effendik: siap kak
total 1 replies
Larasz Ati
keren si Rizki ini👍
Bagus Effendik: bener cowok sejati👍😄
total 1 replies
Larasz Ati
jadi bingung mau baca yang mana dulu dari novel-novelmu keren-keren sih👍 mantap
Bagus Effendik: baca satu satu kak🤭
total 1 replies
Larasz Ati
luh kok merinding bacanya kasihan laras lah namanya sama aku thor kamu terinspirasi aku ya hayo ngaku😄😄😄😄 👍
Bagus Effendik: awas baper kak hehe🤭
total 1 replies
Larasz Ati
kayaknya lebih seru lagi yang ini
Bagus Effendik: siap kak makasih
total 2 replies
Larasz Ati
wanjay baru lagi nih gerak cepat ya thor🤭
Bagus Effendik: hehe ia kak mumpung ada ide
total 1 replies
Setyo Nugroho
yah jadinya laras sama bagas dong
Bagus Effendik: hehehe kayaknya sih begitu🤭
total 1 replies
Setyo Nugroho
semakin merinding 🤭😄👍
Bagus Effendik: pegangan kak biar nggak jatuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!