No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logika di Balik Kematian
Lonceng istana berdentang dua belas kali, namun suaranya terdengar seperti rintihan jiwa yang tersiksa. He Xueyi berdiri di gerbang taman yang mulai tertutup kabut merah. Api lenteranya yang merah padam kini mulai berdenyut—sebuah anomali yang sangat tidak masuk akal bagi seorang Penjaga Paviliun.
"Tuan," suara Bian Zhi terdengar datar, namun ia sudah memposisikan payungnya untuk menangkis kelopak persik yang mulai berjatuhan dari langit. "Api Anda berubah warna. Secara logika, ini berarti frekuensi energi Yin di tempat ini sudah melampaui batas yang bisa ditampung oleh Lentera Abadi."
"Aku tahu, Bian Zhi," He Xueyi menyahut, tangannya yang sepucat pualam menggenggam gagang lentera lebih erat. "Dan secara logika, aku seharusnya merasa takut. Tapi karena aku tidak punya jantung yang bisa berdebar, mari kita anggap ini hanya 'gangguan teknis' pada senjataku."
Tiba-tiba, dari balik singgasana yang hancur, muncul sesosok wanita. Tubuhnya terbentuk dari ribuan kelopak bunga persik, mengenakan jubah permaisuri yang compang-camping. Wajahnya cantik, namun matanya kosong, hanya ada lubang hitam yang memancarkan kebencian murni.
"Penjaga Paviliun..." desis sang Permaisuri Arwah. "Kenapa kau menghalangi penyatuanku dengan Kaisar? Bukankah kau juga tahu rasanya terjebak di antara hidup dan mati?"
He Xueyi melangkah maju, sepatunya beradu dengan lantai marmer tanpa suara. "Secara logika, 'Sayang', ada perbedaan besar antara aku dan kau. Aku memilih untuk tetap mati agar bisa menjaga keseimbangan, sementara kau... kau memilih bangun hanya untuk memuaskan obsesi seorang pria tua yang sudah pikun."
"HABISI DIA!" raung sang Permaisuri.
Seketika, ribuan kelopak bunga persik melesat seperti anak panah menuju He Xueyi.
"Bian Zhi."
Hanya satu kata.
Bian Zhi tidak bergerak untuk melindungi He Xueyi. Sebaliknya, ia melompat ke arah pilar-pilar besar istana. Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, ia menancapkan benang perak ke setiap sudut ruangan, menciptakan jaring raksasa dalam hitungan detik.
TRING! TRING! TRING!
Kelopak-kelopak tajam itu tertahan oleh jaring Bian Zhi, hancur menjadi debu sebelum menyentuh jubah He Xueyi.
"Selesai, Tuan," ucap Bian Zhi, mendarat dengan tenang tepat di samping He Xueyi yang masih terus berjalan mendekati sang Permaisuri.
"Bagus," He Xueyi mengangkat lenteranya yang merah. "Sekarang, mari kita lihat secara logika: Seberapa kuat cintamu saat aku membakar seluruh kenangan yang menyatukan kalian!"
He Xueyi meniup lenteranya, dan bukan api yang keluar, melainkan gelombang kejut energi dingin yang langsung membekukan seluruh kelopak bunga di udara.
Wah, bener banget! Secara logika, kalau He Xueyi sudah masuk mode Jang Man-wol, dia nggak bakal membiarkan sebuah bab berakhir tanpa "panggung" yang dramatis. Penutup bab itu harus terasa seperti ending episode drama Korea premium—penuh gaya, visual mahal, dan bikin penonton (pembaca) teriak "LAGI!". 🗿💅✨
Ayo kita bikin penutup Bab 31 yang menunjukkan kalau He Xueyi adalah mayat hidup paling narsis tapi juga paling berbahaya di Chang'an.
Penutup Bab 31: Cahaya yang Terlalu Silau
Gelombang energi dingin dari tiupan He Xueyi menghantam kabut merah sang Permaisuri Arwah, membekukan setiap kelopak bunga persik menjadi kristal es yang berjatuhan seperti hujan permata di atas lantai marmer. Di tengah kekacauan itu, He Xueyi tetap berdiri tegak, tak sehelai rambut pun bergeser dari tempatnya.
"Secara logika," He Xueyi memulai, suaranya jernih bergema di seluruh aula istana yang kini sunyi senyap, "sebuah adegan puncak seharusnya diakhiri dengan sesuatu yang berkelas. Bukan dengan teriakan histeris yang merusak pita suara, Permaisuri."
Ia mengangkat Lenteranya yang kini perlahan berubah kembali menjadi ungu tajam, menyerap sisa-sisa energi merah yang tadi mencoba menguasainya. He Xueyi menatap bayangan dirinya di atas lantai marmer yang sudah mengkilap karena es, lalu menghela napas pendek.
"Bian Zhi, lihat itu," tunjuk He Xueyi dengan dagunya ke arah sudut jubahnya yang sedikit lembap. "Secara logika, salju abadi ini mulai mencair dan merusak serat sutraku. Ini benar-benar bencana logistik yang lebih besar daripada kebangkitan arwah penasaran."
Bian Zhi muncul di sampingnya, menyarungkan pedang dengan suara klik yang memuaskan. "Tuan, musuh masih berada di balik tabir es itu. Apakah kita harus—"
"Tidak perlu," potong He Xueyi sambil mengeluarkan kipas lipat dari sutra hitam yang baru saja ia ambil dari tabung spasialnya. "Secara logika, dia butuh waktu untuk merenungi betapa buruknya selera busana dan taktiknya tadi. Kita berikan dia waktu untuk merasa malu."
He Xueyi memutar tubuhnya, memunggungi singgasana Kaisar dan sang Permaisuri yang masih membeku. Ia melangkah menuju gerbang keluar dengan langkah yang seirama dengan denting lonceng kecil di lenteranya.
"Bian Zhi, siapkan kereta kencana yang paling nyaman di depan gerbang. Dan pastikan bantalannya dilapisi bulu angsa," perintah He Xueyi tanpa menoleh. "Bertarung dengan hantu narsis seperti dia membuat punggungku terasa pegal secara tidak logis."
Namun, tepat saat mereka akan melewati ambang pintu, suara retakan es yang sangat keras terdengar dari belakang. Bukan suara es pecah karena serangan, melainkan suara es yang hancur karena tekanan energi yang jauh lebih gelap.
He Xueyi menghentikan langkahnya. Ia menutup kipasnya dengan bunyi plak yang keras, lalu menoleh sedikit lewat bahunya. Matanya berkilat dengan kombinasi antara rasa bosan dan ancaman yang mematikan.
"Ah... secara logika, kau memang tidak tahu kapan harus menyerah," bisik He Xueyi, sebuah senyuman narsis yang dingin menghiasi bibirnya. "Baiklah. Jika kau sangat ingin melihat koleksi mantra terlarangku yang paling mahal, aku akan dengan senang hati memperlihatkannya. Tapi ingat... biaya konsultasiku malam ini adalah seluruh sisa esensi nyawamu."
Di tengah aula yang kini mulai kembali menghitam, cahaya ungu dari lentera He Xueyi meledak, menelan bayangan mereka berdua saat gerbang istana tertutup dengan dentuman yang menggetarkan seluruh kota Chang'an.