NovelToon NovelToon
"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

"Transmigrasi: Putri Lemah Berhati Bar-Bar!"

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: acep maulana

PENGUMUMAN PENTING!

Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.

Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!

‎"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
‎Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
‎Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Vonis di Ambang Batas Kesabaran

​Suasana di halaman Panti Asuhan Gema Harapan mencapai titik didih yang paling berbahaya. Tekanan dari enam pilar kekuatan kekaisaran bukan lagi sekadar intimidasi psikologis, melainkan gelombang energi yang sanggup meremukkan pertahanan mental siapa pun. Baron Malvin Sandro, yang selama ini dikenal sebagai penguasa kecil yang lalim di wilayah ini, kini tampak seperti tikus yang sedang terjepit di antara cakar elang dan taring singa.

​Namun, pengkhianatan dan kekejaman yang dilakukannya ternyata jauh lebih dalam dari sekadar penggusuran panti. Melihat kehadiran para ksatria Duke dan Pangeran, para warga Desa Grier yang selama ini hidup dalam bayang-bayang ketakutan mulai berani menyuarakan penderitaan mereka.

​"Dia bukan hanya ingin menggusur panti!" teriak seorang petani tua dari barisan warga yang mulai mengepung area tersebut. "Dia menaikkan pajak gandum hingga tujuh puluh persen! Anak-anak kami kelaparan sementara keluarganya berpesta pora setiap malam!"

​"Benar!" sahut seorang ibu dengan suara serak. "Putra sulungnya seringkali berkuda dengan ugal-ugalan di jalanan desa dan mencambuk siapa saja yang tidak sempat menyingkir! Bahkan istrinya menyita perhiasan perak warisan keluarga kami dengan dalih 'sumbangan wajib' untuk keamanan! Mereka adalah keluarga penghisap darah!"

​Mendengar cercaan para warga yang selama ini ia injak-injak, wajah Baron Malvin yang semula pucat pasi mendadak berubah menjadi merah padam. Keangkuhannya yang terluka memicu insting jahat yang paling rendah. Di saat semua orang mengira ia akan menyerah kalah, pria itu melakukan gerakan yang sangat pengecut.

​Dengan kecepatan yang tak terduga untuk tubuh tambunnya, Baron menyambar leher Lily yang berdiri paling dekat dengannya. Ia menarik gadis kecil itu ke dalam dekapannya, sebuah belati kecil yang disembunyikan di balik lengan bajunya kini menempel tepat di nadi leher Lily yang tipis.

​"Mundur! Semuanya mundur!" teriak Baron Malvin dengan suara yang pecah oleh histeria. "Kalian pikir kalian bisa menghakimiku begitu saja? Aku punya izin resmi! Aku punya kekuasaan hukum di tanah ini!"

​Lily membeku. Dinginnya logam belati itu menyentuh kulit lehernya, namun matanya tetap menatap lurus ke arah Xander. Ia tidak menangis, meskipun tubuhnya bergetar hebat. Ibu Sarah menjerit histeris dan hampir pingsan, ditahan oleh para warga.

​Baron Malvin tertawa dengan nada gila, matanya yang liar menatap ke arah Xander, Julian, dan Pangeran Riski secara bergantian.

​"Kalian... kalian hanya anak-anak bangsawan yang tumbuh di istana yang wangi!" ejek Baron Malvin dengan ludah yang memercik. "Kalian tidak tahu dunia sebenarnya! Kalian bicara tentang keadilan, tapi kalian tidak tahu bagaimana rasanya harus bertahan hidup di lumpur! Kalian hanya datang ke sini untuk mencari nama, berakting menjadi pahlawan bagi anak yatim ini agar sejarah mencatat kehebatan kalian! Munafik!"

​Julian Wiraatmadja, yang memiliki temperamen paling berapi-api di antara mereka, merasakan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Matanya berkilat haus darah, dan aura liarnya meledak hingga membuat debu di bawah kakinya beterbangan.

​"Tutup mulut busuk mu, babi!" bentak Julian sambil melangkah maju satu langkah, tangannya sudah menggenggam erat hulu pedangnya. "Kau berani menyentuh adik dari pelayan keluargaku? Aku akan memastikan kau memohon kematian sebelum belatimu itu bergeser satu milimeter pun!"

​"Satu langkah lagi, Tuan Muda Julian, dan aku akan memastikan mawar kecil ini kehilangan kelopak terakhirnya!" ancam Baron sambil menekan belatinya lebih dalam. Setetes darah merah segar mulai merembes dari leher Lily, membasahi mantel hitam Xander yang masih ia kenakan.

​Melihat darah itu, Xander Wiraatmadja seolah meledak di dalam diam. Matanya yang ungu—sama dengan mata Rosalind—berubah menjadi gelap total. Aura dingin yang ia pancarkan bukan lagi sekadar intimidasi, melainkan sebuah niat membunuh yang murni dan absolut. Namun, Arga Wicaksana dengan cepat menaruh tangannya di bahu Julian dan memberikan kode mata kepada Xander untuk tetap tenang.

​"Julian, tahan dirimu," bisik Rosalind Arga dengan nada datar namun penuh peringatan. "Emosimu hanya akan mempercepat kematian anak itu. Dia sedang memancing kita."

​Di tengah kekacauan emosi itu, Pangeran Pertama, Riski Pratama, melangkah maju dengan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak menghunuskan senjata. Ia tidak berteriak. Ia hanya berjalan perlahan dengan martabat seorang penguasa yang tidak tergoyahkan. Setiap langkahnya seolah-olah memberikan beban berat pada mental Baron Malvin.

​"Baron Malvin Sandro," suara Riski terdengar sangat tenang, namun mengandung wibawa yang membuat para ksatria bayaran di belakang Baron menjatuhkan senjata mereka ke tanah karena ketakutan. "Kau bicara tentang dunia yang sebenarnya? Dunia yang kau maksud adalah dunia di mana yang kuat menindas yang lemah? Jika itu duniamu, maka kau sedang berdiri di hadapan 'kekuatan' yang sesungguhnya."

​Riski berhenti tepat di batas jangkauan serang. "Kau menyebut kami anak-anak bangsawan yang tidak tahu apa-apa. Tapi kau lupa satu hal... kamilah yang membuat hukum yang kau gunakan untuk menindas. Dan kamilah yang bisa menghapusnya secepat embusan napas. Dengan melukai anak itu, kau bukan lagi sekadar pelanggar hukum tanah... kau adalah musuh pribadi mahkota kekaisaran."

​Baron Malvin gemetar hebat. Cekikannya pada Lily sedikit melonggar karena tangannya yang berkeringat. "Aku... aku tidak takut mati! Jika aku hancur, anak ini hancur bersamaku!"

​Tiba-tiba, Baron melakukan gerakan gegabah. Karena panik melihat aura Riski, ia mengayunkan belatinya dengan liar.

​"JAUH-JAUH!"

​Sreett!

​Belati itu menyayat lengan seorang warga desa yang mencoba mendekat dari arah samping untuk menolong Lily. Pria itu jatuh tersungkur sambil memegangi lengannya yang mengucurkan darah. Suasana semakin kacau. Baron Malvin semakin kehilangan kendali, ia menarik Lily dengan kasar hingga gadis kecil itu hampir terjatuh. Ujung belati itu kini mengarah tepat ke arah wajah Lily.

​Saat itulah, batas kesabaran Xander Wiraatmadja runtuh.

​Ia tidak lagi peduli pada protokol. Ia tidak lagi peduli pada pandangan publik. Yang ia lihat hanyalah seorang anak kecil yang sedang terancam nyawanya—anak yang batin Rosalind percayakan padanya untuk diselamatkan.

​"CUKUP!"

​Xander bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga mata manusia biasa hanya bisa melihat bayangan perak yang melesat.

​Baron Malvin bahkan belum sempat mengedipkan mata ketika sebuah tekanan udara yang sangat kuat menghantam pergelangan tangannya.

​KRETEK!

​Suara patah tulang terdengar begitu renyah di tengah kesunyian. Baron Malvin menjerit kesakitan saat pergelangan tangannya dipelintir dengan kecepatan yang mustahil. Belati itu jatuh ke tanah sebelum sempat menyentuh wajah Lily.

​Dalam hitungan detik, Xander sudah berada di antara Lily dan Baron. Dengan satu tangan, ia menarik Lily ke belakang punggungnya dengan gerakan yang sangat protektif, sementara tangan lainnya mencengkeram leher Baron Malvin dan mengangkat pria tambun itu ke udara seolah-olah beratnya tidak lebih dari selembar kertas.

​"Kau..." desis Xander tepat di depan wajah Baron yang membiru karena kehabisan napas. "Kau berani menumpahkan darah di depan mataku? Kau berani membuat anak ini ketakutan?"

​Aura membunuh Xander meluap ke seluruh halaman panti, membuat pepohonan di sekitar sana bergoyang hebat meskipun tidak ada angin. Yanuar Mahesa dan Liandra Dirgantara segera bergerak mengamankan Lily dan warga desa yang terluka, sementara ksatria Wiraatmadja mengepung sisa anak buah Baron yang kini sudah bersujud memohon ampun.

​Julian mendekati Baron yang sedang meronta-ronta di cengkeraman Xander. "Bener kata adikku, Rosalind... orang sepertimu itu memang sampah yang perlu dibakar sampai ke abu-abunya."

​Xander menatap mata Baron Malvin dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat ke dasar neraka.

​[Batin Xander:]

"Rosalind... kau benar. Kepolosan anak ini hampir saja direnggut oleh kegelapan yang aku abaikan. Aku tidak akan membiarkan hukum manusia biasa menghakimi mu, Baron. Kau akan menghadapi pengadilan keluarga Duke."

​"Xander, turunkan dia," ucap Riski Pratama dengan nada yang tetap tenang namun penuh otoritas. "Biarkan dia melihat bagaimana seluruh kekuasaannya runtuh sebelum dia membusuk di sel bawah tanah."

​Xander melepaskan cengkeramannya. Baron Malvin jatuh tersungkur ke tanah, terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang memar. Seluruh kesombongannya lenyap, digantikan oleh ekspresi hancur seorang pria yang tahu bahwa hidupnya baru saja berakhir.

​Lily, yang kini berada di pelukan hangat Yanuar, menatap Xander dengan mata berkaca-kaca. Mantel hitam besar milik Xander masih menyelimuti tubuhnya, meskipun ada sedikit noda darah di sana.

​"Tuan Ksatria..." bisik Lily pelan.

​Xander berbalik, berlutut di hadapan Lily, dan menghapus setetes darah di leher gadis itu dengan ibu jarinya yang kasar. Gerakannya begitu lembut, berbanding terbalik dengan kekejaman yang ia tunjukkan pada Baron tadi.

​"Semuanya sudah berakhir, Lily," ucap Xander lirih. "Rumahmu tidak akan pernah digusur. Dan orang jahat ini... dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Aku berjanji atas nama klan Wiraatmadja."

​Di kejauhan, para warga desa bersorak sorai melihat Baron Malvin diseret oleh para ksatria menuju kereta tahanan. Mereka tidak hanya merayakan selamatnya panti asuhan, tetapi juga jatuhnya tirani yang telah mencekik mereka selama bertahun-tahun.

​Xander dan Julian saling pandang lagi, berbagi satu pemikiran yang sama tentang adik mereka yang sedang duduk manis di paviliun.

​[Batin Julian:]

"Gila... si Rosalind beneran kayak punya mata di mana-mana. Kalau kita nggak dateng hari ini, panti ini beneran bakal jadi abu. Xander, kayaknya kita harus mulai dengerin setiap omelan batin adek kita mulai sekarang."

​[Batin Xander:]

"Bukan sekadar mendengarkan, Julian. Kita harus memastikan dia tetap bisa menghujat kita di dalam hatinya, karena itu adalah tanda bahwa dia masih peduli pada kita. Dan bagi anak ini... Lily... dia akan menjadi tanggung jawab pertama dari janji baruku sebagai pelindung sejati."

​Sinar bulan kini sepenuhnya menggantikan matahari yang telah tenggelam. Di bawah pohon sakura yang meranggas, sebuah awal yang baru bagi Desa Grier dan Panti Asuhan Gema Harapan telah resmi dimulai. Baron Malvin Sandro telah kalah, bukan oleh pedang, tetapi oleh keberanian seorang anak kecil dan "radar keadilan" dari seorang gadis yang dianggap lemah di kediaman Duke.

1
Manusia Ikan
sistem b like :
Manusia Ikan
ooh ada sistem nya😏👍
Manusia Ikan
bro kena mag :v
Manusia Ikan
jangan remehkan kekuatan dari lantai yang licin di kamar mandi😂
Manusia Ikan
ah biasa ini mah😏
Rina Yuli
celana dalam lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli
urusan celana dalam pakek mau dibongkar segala lagi 🤣🤣🤣🤣🤣
Rina Yuli: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
acep maulana
sama 2 kk maaf kalau cerita sebelumnya saya hapus 🤣🤣🤣🤣
acep maulana: rekomendasi untuk bab berikutnya hehehe
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Manusia Ikan: hadir thor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!