NovelToon NovelToon
Shan Luo

Shan Luo

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”

Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.

Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.

Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Informasi penting

Gerbang Kota Awan Merah berdiri kokoh dengan ukiran naga tanah di sisinya.

Suasana di dalam jauh lebih bising daripada ketenangan Federasi Lin yang pernah mereka tinggalkan.

Bau rempah-rempah, aroma pandai besi, dan hiruk-pikuk pedagang kaki lima menyambut indra penciuman mereka.

​Mo Huang akhirnya meletakkan bungkusan daging dan sayuran di atas meja kayu sebuah kedai terbuka dengan bantingan pelan. "Akhirnya! Tanganku yang agung ini hampir mati rasa karena membawa kubis dan lobak!"

​"Haha! Jangan begitu, Paman Transparan. Anggap saja itu latihan otot halus!" Han Xiao menyambar kursi, duduk dengan posisi terbalik dengan dagu bertumpu pada sandaran kursi. "Pelayan! Bawa bakpao daging paling besar sepuluh piring! Dan arak terbaik untuk temanku yang berambut unik ini!"

​Shan Luo duduk dengan tenang, menyandarkan pedang cendana hitamnya di meja. Tatapannya menyapu sekeliling kedai, mengamati setiap orang yang lewat. "Han Xiao, kau punya uang untuk membayar semua itu?"

​"Uang? Bukankah kau tadi baru saja 'meminjam' dari para perampok baik hati di jalan?" Han Xiao nyengir lebar, mengedipkan sebelah mata.

​Baru saja bakpao panas mengepul dihidangkan, suasana kedai mendadak sunyi. Sekelompok pemuda dengan seragam biru mewah, lambang Sekte Pedang Langit masuk ke dalam kedai.

Pemimpin mereka, seorang pria dengan dagu terangkat tinggi dan pedang berhias permata di pinggangnya, berjalan dengan langkah yang disengaja berat.

​Ia berhenti tepat di samping meja Shan Luo, menatap jijik ke arah Mo Huang yang sedang asyik meminum aroma arak (karena ia tidak bisa menelan cairan fisik dengan mudah).

​"Kedai ini terlalu sempit untuk orang-orang kumal seperti kalian," ucap pendekar sombong itu. Ia menendang salah satu kursi di meja Shan Luo. "Minggir. Meja ini adalah posisi terbaik untuk melihat jalanan. Aku, Liu Feng, tidak suka berbagi ruang dengan pengemis berambut aneh dan orang gila berbaju kuning."

​Shan Luo bahkan tidak mendongak. Ia sibuk mengupas kulit bakpao. "Meja lain masih kosong. Gunakan matamu, bukan kakimu."

​Liu Feng tertawa sinis, tangannya mencengkeram gagang pedangnya. "Kau tahu siapa aku? Ayahku adalah tetua di kota ini! Satu kata dariku, dan kau akan diseret keluar dengan kaki patah!"

​Han Xiao tiba-tiba berdiri, berpose seperti burung bangau di atas kursi. "Wah, Tuan Muda Liu! Kau tampak sangat hebat! Tapi bisakah kau menunggu sampai aku menghabiskan bakpao ini? Perut kosong membuatku sulit untuk merasa takut."

​"CARI MATI!" Liu Feng mencabut pedangnya, memancarkan Qi perak yang cukup tajam. Ia mengayunkan pedangnya ke arah meja, berniat menghancurkan makanan mereka.

​TING!

​Hanya dengan menggunakan sumpit bambu, Shan Luo menahan bilah pedang perak tersebut. Getaran energinya membuat lantai di bawah kaki Liu Feng retak.

​"Jangan tumpahkan makananku," desis Shan Luo. Matanya berkilat dingin, membuat Liu Feng tiba-tiba merasa seolah-olah ia sedang menatap lubang hitam yang siap menelannya hidup-hidup.

​Shan Luo menggerakkan sumpitnya sedikit. Dengan teknik aliran energi yang sangat halus, ia memutar arah pedang Liu Feng.

Pemuda sombong itu terhuyung, kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat bereaksi, Shan Luo sudah berdiri di belakangnya.

​"Mo Huang, dia punya kantung uang yang bagus," ucap Shan Luo malas.

​"Dengan senang hati," jawab Mo Huang. Roh itu melesat secepat bayangan, dan dalam sekejap, ia sudah menjinjing Liu Feng di udara hanya dengan memegang kerah bajunya.

​"LEPASKAN AKU! DASAR HANTU!" Liu Feng meronta-ronta, namun kekuatan Mo Huang tidak tertandingi.

​"Berisik sekali," Mo Huang menjentikkan jarinya ke dahi Liu Feng hingga pemuda itu pingsan seketika. "Shan Luo, lihat ini. Dia punya lencana emas."

​Shan Luo mengambil lencana itu, namun matanya terpaku pada ukiran di balik lencana tersebut. Ada sebuah simbol kecil yang sangat ia kenali: Lambang Cabang Keluarga Shan.

​Melihat keributan itu, pemilik kedai mendekat dengan gemetar. "Tuan-tuan ... tolong, jangan buat keributan lebih besar. Tuan Muda Liu Feng itu bekerja untuk tamu agung yang sedang berada di kediaman walikota."

​Shan Luo menatap pemilik kedai itu tajam. "Tamu agung? Siapa?"

​Pemilik kedai berbisik ketakutan, "Namanya adalah Tuan Muda Shan Hei. Kabarnya, dia adalah putra ketiga dari pemimpin besar Keluarga Shan, Shan Feng. Dia datang ke sini untuk mencari 'barang hilang' dan mengumpulkan upeti dari sekte-sekte lokal."

​Tubuh Shan Luo menegang. Shan Hei. Adik tirinya.

​Ingatan masa lalu kembali berputar di benaknya. Shan Hei adalah anak yang selalu mengejeknya "sampah tak berbakat" saat mereka masih kecil. Shan Hei adalah orang yang pernah membakar buku-buku lama milik ibunya hanya untuk hiburan.

​"Oh ho? Shan Hei?" Han Xiao melompat turun dari kursi, wajahnya yang tadi konyol kini berubah menjadi penuh minat. "Jadi adik tirimu yang sombong itu ada di sini? Dunia ini benar-benar sempit ya, seperti ukuran otak pendekar tadi."

​Mo Huang melepaskan tubuh pingsan Liu Feng ke lantai. "Anak ketiga Shan Feng ... jiwanya pasti terasa lebih lezat daripada kroco-kroco ini. Apa kita akan langsung membantainya sekarang, Shan Luo?"

​Shan Luo terdiam sejenak, menatap lencana emas di tangannya. Kebencian yang dingin mengalir di nadinya, namun ia menahannya.

​"Tidak. Shan Hei tidak pernah bergerak sendirian. Jika dia ada di sini, artinya dia membawa pasukan pengawal klan utama," ucap Shan Luo. "Kita akan mencari tahu apa 'barang hilang' yang dia cari. Aku ingin melihat wajahnya saat dia menyadari bahwa 'sampah' yang dia buang dulu sekarang adalah orang yang akan mencabut nyawanya."

​Shan Luo kembali duduk dan melanjutkan makannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun, aura di sekitarnya telah berubah.

Pedang cendana hitam di sampingnya bergetar pelan, seolah merespons haus darah tuannya yang mulai bangkit kembali.

​Di sudut kedai, orang-orang mulai berbisik, tidak menyadari bahwa di hadapan mereka sedang duduk seorang pria yang akan mengubah sejarah kota ini dalam satu malam.

Perburuan terhadap keluarga Shan telah resmi berpindah ke babak yang lebih personal.

1
Ajipengestu
lanjut thor👍
Iwa Kakap
ribet amat thor
Beni: itu cuma penjelasan naik ranah sama kesulitannya aja. gak perlu di pikirin hehe. /Pray/
total 1 replies
angin kelana
ayooooo jdi juara💪💪💪
Beni
oke... 😐
Beni
😛
Beni
/Hunger//Sweat/
Beni
😐
Beni
oke... 😐
angin kelana
semangat bertarung💪💪💪
angin kelana
anak baik👍
angin kelana
semangaaat menjadi kuat..
angin kelana
ayo buktikan kekuatanmu💪💪💪
angin kelana
ayoooo lebih kuat lg
angin kelana
lanjuuuttt...
angin kelana
kalo untuk pengenalan bole lah pake english tpi ke depannya gak usah ajah ini kan fantasi timur bukan barat..lanjut👍
Beni: nanti di revisi ya, terima kasih/Pray/
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuttt..
angin kelana
dunia yg kejam.😬
Beni
😐
Jade Meamoure
bagus 🤣🤣🤣
Jade Meamoure
Yan Bingchen bukankah itu patriarki sekte es ya
Beni: Pendekar es dan api
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!