NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tirta

Baru saja Angkasa keluar ruang ujian, ponselnya sudah berdering heboh. Angkasa menatap layar ponselnya dengan malas. Nyonya Besar.

"Ya, Ma?"

"Gimana tesnya, Sayang? Bisa? Gampang kan?" suara riang Nyonya Mahendra langsung memenuhi gendang telinga Angkasa.

"Bisa, Ma," jawab Angkasa singkat.

"Oh ya, kamu udah nyari Nia belum? Deket apa jauh fakultasnya dia?" tanya Nyonya Mahendra. Angkasa menatap gedung di seberang.

"Nanti Angkasa telepon mama lagi kalo udah ketemu," jawab Angkasa sambil menatap gedung satu FSRD.

"Oke. Mama tunggu yaa,"

Sambungan telepon terputus. Angkasa masih menatap gedung FSRD. Tangan kirinya merogoh saku kiri celananya. Dia menggenggam erat gelang persahabatan di dalam saku celananya.

'Nyonya Besar menunggu,' pikir Angkasa sambil berjalan menuju gedung FSRD.

Begitu menginjakkan kaki di gedung FSRD, Angkasa disuguhi pemandangan yang luar biasa —para mahasiswa dengan gaya eksentriknya, berbagai macam karya seni yang baru separo jadi tergeletak begitu saja, dan bau cat minyak bercampur cat akrilik menguar dari beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya.

Lebih dalam, Angkasa dapat melihat lorong-lorong yang seperti galeri mini. Dinding dipenuhi karya —dari yang realistis hingga abstrak, dari yang indah sampai yang "aneh tapi bermakna". Masing-masing karya membawa identitas pembuatnya, membuat suasana terasa personal dan beragam.

"Aku harus nyari kemana?" gumam Angkasa saat dia tiba di tempat yang sepertinya lobi.

Ponsel Angkasa kembali berdering. Sudah Angkasa duga mamanya akan terus menerornya sampai dia menemukan Nia.

"Angkasa udah di fakultasnya, Ma. Sebentar," kata Angkasa tenang, sudah hafal bagaimana mamanya.

"Bener? Coba mama liat?" tanya Nyonya Mahendra memastikan Angkasa tidak membohonginya. Angkasa mengganti mode panggilan biasa ke mode panggilan video dan menunjukkan suasana Fakultas Seni yang sibuk.

"Kamu coba dong tanya siapa disitu, pasti ada yang kenal Nia. Siapa kemarin nama panjangnya? Dunia Damai Sentosa! Nama yang bagus. Coba tanya," pinta Nyonya Mahendra.

Angkasa menghela napas pelan. Dirinya benar-benar enggan bertemu Nia. Bukan karena tak suka, Angkasa hanya tak ingin menyeret Nia masuk ke dalam dunianya saat ini.

Angkasa menuruti permintaan Nyonya Mahendra. Dia bertanya pada seorang mahasiswi yang kebetulan sedang berjalan ke arahnya.

"Permisi, Kak. Kenal Nia? Anak semester dua," kata Angkasa sopan.

"Nia? Nia siapa ya?" tanya mahasiswi itu, sambil senyam-senyum melihat ada cowok cakep kesasar di FSRD.

"Dunia.."

"Aang?"

Suara Nia dari arah belakang menghentikan kalimat Angkasa. Angkasa berbalik.

"Udah ketemu. Makasih," kata Angkasa pada mahasiswi yang ditanyainya tadi.

"Udah ketemu? Mana-mana?" tanya Nyonya Mahendra tak sabar.

Angkasa berjalan menuju Nia lalu menyodorkan ponselnya.

"Mama mau ngomong," kata Angkasa, datar seperti biasa.

"Eh?"

"Mama?!" tanya Bumi dan Rasi yang berdiri di belakang Nia.

Angkasa lebih menyodorkan ponselnya pada Nia. Nia menerima ponsel Angkasa dengan ragu-ragu. Wajah Nyonya Mahendra yang ceria memenuhi layar ponsel Angkasa.

"Nia cantiiik!!!" sapa Nyonya Mahendra saat Nia menghadapkan ponsel Angkasa ke wajahnya.

"Nyonya," sapa Nia sopan.

"Nyonya?" Rasi dan Bumi saling berhadapan, nada mereka berbisik.

"Panggil 'Tante' aja. Oke?" kata Nyonya Mahendra sedikit merengut.

"Eh? Baik, Tan-te," kata Nia terbata. Angkasa menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding terdekat.

"Eh, gimana lukisan pesenan Tante? Kapan kira-kira jadinya?" tanya Nyonya Mahendra pada Nia.

"Mmm... Hari Minggu nanti Nia selesaiin, Tante," jawab Nia.

"Oh? Oke. Maaf ya kalo Tante buru-buru. Kemarin liat sketsanya bagus. Jadi nggak sabar," kata Nyonya Mahendra.

"Iya, Tante. Hari Minggu Nia selesaiin," kata Nia lagi.

"Eh, kasih nomor kamu ke Angkasa dong. Biar enak kalo mau telpon kamu," pinta Nyonya Mahendra. Nia seketika menatap Angkasa yang ternyata juga menatapnya.

"Jangan lupa ya! Ntar Tante cek Angkasa dapet nomor kamu atau nggak," kata Nyonya Mahendra, memaksa.

"Baik, Tante," kata Nia.

"Oke. Makasih, Nia cantiiik. Tante mau pergi dulu. Daaah,"

Sambungan terputus. Nia berjalan mendekat ke arah Angkasa lalu menyodorkan ponselnya.

"Nomor kamu," kata Angkasa.

"Eh?"

"Mama minta nomor kamu, kan? Kalo pulang aku nggak bawa nomor kamu, aku bisa disuruh balik sini lagi," kata Angkasa.

Nia mengetikkan nomor ponselnya ke layar ponsel Angkasa lalu menyodorkannya pada Angkasa.

"Makasih," kata Angkasa datar lalu pergi setelah menerima kembali ponselnya.

Nia menatap punggung Angkasa yang semakin menjauh.

'Kenapa dia masih dingin?'

***

Angkasa menatap layar ponselnya. Ada nama Nia disana. Angkasa menekan tombol edit lalu mengganti namanya.

"Du-ni-a," gumam Angkasa sambil mengetik nama di layar ponselnya. Sudut bibirnya kembali terangkat sedikit dan tipis.

Angkasa berjalan menuju area parkir Fakultas Sastra. Seperti kemarin, begitu dia menginjakkan kaki disana, kerumunan mahasiswi segera menyerbunya. Angkasa sedikit kewalahan dibuatnya.

"Permisiiii!!!" teriak sebuah suara membelah kerumunan.

"Ini nih, yang bikin fakultas kita sepi peminat. Kelakuan seniornya barbar. Kek nggak pernah liat cogan aja. Bubar!!" kata seorang pria bertubuh tinggi, dengan rambut sedikit gondrong, kulit putih, hidung mancung dan mata sedikit sipit tapi tajam. Kerumunan mahasiswi segera bubar.

"Sorry," kata pria itu.

"Thanks,"

"Tirta,"

"Angkasa,"

"Calon Maba (mahasiswa baru)?"

"Iya, Bang. Baru selesai tes tadi,"

"Ngambil berapa pilihan?" tanya Tirta.

"Tiga, Bang,"

"Wuih! Apa aja?"

"Fotografi, teknik sipil, sama sastra Inggris,"

"Sastra Inggris?!"

Angkasa mengangguk.

"Gue doain lo lolos yang terakhir. Kampus pilihan lo sini kan yang Sasing?" tanya Tirta. Angkasa mengangguk.

"Good. Semoga keterima,"

"Thanks,"

"Ati-ati baliknya,"

Angkasa mengangguk lalu menaiki motornya. Saat Angkasa menyalakan mesin motornya, Angkasa mendengar Tirta memanggil nama yang dia sangat kenal.

"Dunia!"

Angkasa menoleh seketika. Benar saja, Tirta tengah melambaikan tangannya pada Nia yang tersenyum ramah ke arahnya.

"Ck!" rasa kesal merasuki Angkasa.

Angkasa segera meninggalkan area parkir Fakultas Sastra. Meski begitu, matanya masih terpaku pada spion, melihat Tirta yang berjalan menghampiri Nia.

"Sial!" umpatnya.

Entah mengapa Angkasa begitu kesal melihat Nia begitu akrab dengan banyak pria. Harusnya Angkasa tahu, memang seperti itu Nia sedari dulu, mempunyai magnet tersendiri, membuat orang-orang di sekitarnya tak bisa membencinya. Bahkan mamanya yang suka pilih-pilih orang pun langsung terjerat oleh pikat alami Nia.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Angkasa diliputi rasa gelisah. Bayangan Bumi, cowok keren dengan gaya eksentrik khas anak seni, serta Tirta, cowok cakep dengan gaya santai khas anak sastra, dengan Nia sebagai pusat keduanya, terus saja melintas di pikiran Angkasa. Berulang kali Angkasa menghela napas kasar, seolah membuang pikiran itu jauh-jauh. Namun, sia-sia.

'Kemarin Bumi. Sekarang Tirta. Jangan bilang, besok Arka, atau... Bayu? Dia benar-benar Dunia. Semua menyatu bersamanya,'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!